Part 6 : Trick Or Treat?

My Elysium part 6

cerita sebelumnya ada di sini

Untunglah Fatih bukan anak picky eater, apapun yang diberikan ia tak pernah menolak tapi kalau makan lamaaaaaa……. Karena makanannya diemut. Terkadang sampai ketiduran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan jadi terpaksa makanan itu harus dikolokin dari mulutnya agar tak merusak giginya. Tapi tetap saja, kerusakan giginya semakin parah. Kadang tak tega melihatnya ketika menguyah, ingin sekali bisa membantunya tapi apa yang bisa kulakukan, selain untuk sementara memberikan makanan yang agak lunak, tapi dokter gigi menganjurkan ia harus makan makanan orang dewasa pada umumnya agar giginya terangsang untuk cepat tumbuh.

“Fatih kamu apain Bund?…..” Tanya Si Ayah kepo.

“Ini,…ngorek-ngorek makanan yang masih penuh di mulutnya. Gimana giginya ga rusak ya Yah, kalau kebiasaan ngemut makanannya ini tak berubah.” Aku menyeringai, agak putus asa. Lalu tiba-tiba ide gila itu muncul ya…. Aku tahu sepertinya apa yang harus aku lakukan. Hm…. Semoga berhasil!

Esok paginya, ketika Fatih mau makan pagi, aku perlihatkan permen.

Permen???? Ya permen!!

Continue Reading

Part 5 : Kau Yang Terindah

pantai

Suara riuh di luar, tapi di dalam ruang terapi sepiiii sekali. Ibu merengut tak jauh dari tempatku. Aku tahu ia kuatir dengan perkembanganku. Putus asa mungkin tepatnya. Aku memilih diam tak bergerak, seperti boneka tanpa batere. Bosaaaan…. Kenapa aku harus terperangkap pada kursi pesakitan ini? Tak bisa bergerak, Huh! Huuuh…!!!

“Fatiiih…. Katakan  m-e-r-a-h…!”

Bu Marni memonyongkan bibirnya lima senti demi membentuk kata itu sambil tangannya menyentuh daguku agar mau menghadapnya.

Aku hanya menyeringai seperti anak singa baru bangun di pagi hari. Biarpun yang ini singa ompong hehe..

“F-a-t-i-h….katakan… m-e-r-a-h…. “ , sambil tangannya menggenggam sebuah bangun segitiga sekarang. Aku tahu itu warnanya m-e-r-a-h. Dan aku tahu harus memasukkan ke mana bangun itu. Mencocokkan kan? Keciil..!

Tapi aku tak bisa mengucapkan kata merah! Lidahku kaku!

Bu Marni putus asa. “Ok..sekarang masukkan bangun ini ke tempat yang sesuai.

Aku bergerak cepat. Kusambar segitiga merah itu dan memasukkannya ke rumahnya. Begitupun bangun yang lain, segi empat, limas, belah ketupat…

“Fatih…satu..satu sambil kita berlatih bicara….” Mulai naik intonasi suaranya. “Ibu tahu,…Fatih pintar tapi …ibu ingin dengar Fatih bicara. Bisa kan?”

Eh…kenapa papan menyamakan ini tak ada lingkarannya ya? Aku ingin lingkaran! Mereka juga tak memberiku bola untuk dipantukan. Huh..bosan..bosan..aku ingin ke pinggir jalan lagi melihat roda-roda mobil berputar di jalanan. Sekarang Bunda menjagaku dengan ketat kalau di rumah. Aku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan karena pintu pagar selalu terkunci. Kata Bunda berbahaya kalau aku bisa menelusup sendiri. Huh… Menyebalkan! Dan semua sesi terapi ini terasa melelahkan.  Aku lelaaaah…!

Brak…!

Kakiku menendang meja dari kayu tebak ini, meninggalkan rasa lega di dada. Aku tak mau dikurung. Aku ingin mencari lingkaran. Tempat ini membosankan! Aku tak melihat lingkaran, bola atau sesutu dengan gerakan berulang-ulang.  Aku benci tempat ini….!!!

Aarrghh….!

Aku bergulung-gulung di lantai, membuat gerakan berputar-putar, bergulung-gulung dalam ritme yang aneh. Dan aku merasa lepas,…menyenangkan sekali. Dadaku terasa berlubang, membuat seluruh udara masuk memenuhinya dengan keriangan. Aku tertawa lepas. Bangkit berdiri membuat gerakan flapping sambil berlari mengelilingi ruangan tanpa gambar apapun ini. Bu Marni berusaha mengejarku. Tapi aku selau lebih geasit menghindar darinya. Badannya yang berat mengurangi kelincahannya bergerak. Dalam waktu singkat saja ia telah menyerah. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bukan Bunda yang langsing dan bisa bermanuver untuk menangkapku. Meski ada Bunda di ruangan ini tapi ia tak berusaha mengejarku. Aku tak tahu mengapa. Biasanya ia akan berteriak-teriak mengejarku dan aku akan semakin bersemangat untuk berlari, tapi ia memilih mematung. Ada kabut di matanya.

Bunda menghela nafas dari pojok ruangan. Ia sebenarnya tak boleh ikut masuk ruang terapi karena kata Bu Marni bisa merusak konsentrasiku. Tapi bukan Bunda kalau tak bisa melakukan apa yang diyakininya benar. Itulah sebabnya Fatih juga keras kepala.

Sesi terapi itu akhirnya berakhir sudah dengan hasil nihil! Nol besar! Tak satupun yang aku sukai dari tempat belajar ini. Untunglah. Dan Bu Marni tak terlihat penasaran untuk terus mengejarku. Ia memilih diam duduk bersama Bunda membiarkankku jadi burung yang sedang terbang. Mama juga tetap diam. Dan dialog panjang lebar di antara dua perempuan terjadi sambil terus memandangiku bergantian. Yah,..begitulah orang deasa pembicaraannya membosankan.

Pintu diketuk pelan dari luar. Bocah pemilik gasing dan ibunya masuk ke dalam. Rupanya sesi terapiku sudah habis. Yess!

Bunda menggamit tanganku untuk keluar setelah sebelumnya memaksaku untuk bersalaman dengan Bu Marni. Aku pernah melihat adegan seperti ini yang dilakukan di sebuah film. Tapi yang kuingat di film itu, yang dipaksa salaman itu seekor anjing. Aku bukan anjing.

Aku yang tadinya ingin cepat-cepat keluar, jadi mogok membatu di ruangan itu. Tahu penyebabnya? Melisa!

Ya,..aku suka Melisa. Maksudku,… aku sukaaa pada gasing Melissa, begitu Bunda selalu memanggilnya sambil tersenyum ramah pada si bocah. Kata Bunda Melissa imut dan cantik. Aku rasa gasingnya yang warna-warni itulah yang membuatnya disebut cantik. Tak semua anak perempuan punya mainan hebat begitu.

Dan seperti aku, Melissa pun tak peduli jika ada orang yang bilang ia cantik. Ia terus sibuk memainkan gasingnya yang berbunyi wer…wer…setiap kali diputar. Aku ingiiin sekali memainkannya. Tapi aku tahu, Bunda pasti takkan mengijinkanku memainkannya meskipun aku menangis keras. Bunda memang payah. Ia mendekapku yang bau keringat di pojok ruangan sambil membiarkanku memainkan bola kecil yang disimpannya dalam tas.  Tak lama kemudian, lelaki berkaki panjang yang kupanggil ayah  mendekati kami. Merengkuhku dalam pelukannya dan kami keluar dari tempat menyebalkan itu.

___________+++___________

Tidak banyak perkembangan yang dialami faith selama sesi terapi. Ia lebih banyak diam dan bersikap tak peduli, kadang sibuk mengoceh sendiri dalam kalimat-kalimat ngawur tanpa arti. Susah payah kami membawanya ke tempat terapi tapi hasilnya mengecewakan.

Aku rasa ini abad pertengahan atau mungkin abad terbelakang. Tak banyak yang kudapat tentang  informasi seputar autis. Buku-buku tentang itu belum ada di pasaran, jikalau ada kami harus menitip membeli bukunya ke luar negeri tentu saja dalam bentuk dollar bersamaan dengan titipan suplemen-suplemen bagi perkembangan otaknya. Tapi satu artikel di majalah kesehatan Indonesia membuatku terusik. Di situ diceritakan banyak anak-anak penderita penyakit-penyakit seperti faith yang mengalami kemajuan pesat setelah diet casein dan gluten. Apalagi bagi orang Asia, yang memang secara alamiah system pencernaannya lebih tidak toleran terhadap susu sapi.

Sepertinya aku harus mencoba cara self healing ini untuk membantu faith keluar dari dunia gelembung sabun itu. Rupanya susu sapi yang dikonsumsinya telah menjadi racun dalam otaknya, karena ketakmampan saluran cernanya menguraikan protein whey dari susu sapi. Aku paham kini, mengapa Richard, yang suka main bowling tembok tak bisa diam. Kata mamanya dalam sehari ia menghabiskan satu kotak susu bubuk 400 gram! Rupanya otaknya kecanduan mengkonsumsi casein. Jadi…Fatih juga harus berhenti mengkonsumsi susu sapi.

Kuniatkan dengan bulat untuk memberikan diet makanan casein-gluten free pada Fatih dan seluruh penghuni rumah termasuk aku dan ayahnya. Tak boleh lagi ada susu di rumah ini. Aku hanya bisa memberi tajin atau membuat susu kedelai sendiri untuknya. Tak boleh lagi ada konsumsi ayam ras, roti, karena mengandung gluten, protein yang terdapat dalam tepung terigu yang tak bisa dicerna ususnya dan juga karena faktor yeast sebagai pengembang roti. Yeast mengandung jamur, yang akan menyerang system pencernaannya yang sudah lemah. Segala macam tape tentu saja dilarang keras.

Mulai sekarang kami cuma makan nasi, tempe, tahu, rumput laut, susu kedelai yang dibuat sendiri, kalau ingin ayam, ya harus menyembelih ayam kampong yang beli di desa dan hidupnya lepas itu, bukan pejantan. Daging boleh, tapi kami tak bisa terlalu sering mengkonsumsinya karena harganya mahal. Hampir semua sayuran hijau taka da pantangannya, kecuali jagung manis. Untuk buah pun terbatas, hanya buah-buah tertentu yang tak merangsang pengeluaran asam lambung atau yang membuat kondisi ususnya yang berjamur menjadi makin parah.

Buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi Fatih  itu papaya, bengkuang, pisang, salak, sirsak, atau timun. Buah-buahan yang bergetah dilarang dikonsumsi seperti nangka, sawo, cempedak. Atau buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti mangga, jeruk, stroberi, nanas, peach, pear, apel, kiwi masuk daftar larangan keras tapi segala macam berry diperbolehkan.  Untuk makanan ringan faith, harus segala makanan yang berbahan dasar beras atau ubi, singkong dan sagu. Segala tepung terigu dan tepung maizena dilarang.  Jadilah segala stok makanan kecil Fatih adalah makanan tradisional Indonesia yang murah dan gampang didapat seperti membuat bubur sumsum sendiri harus dengan gula palem atau gula nira kelapa, tidak boleh gula pasir, karena manis ternyata merangsang pertumbuhan jamur dan meningkatkan tingkat asam dalam tubuhnya. Untunglah kita tinggal di Indonesia yang mudah mendapatkan bahan-bahan local seperti itu. Ubi diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti direbus, dibakar tapi mengurangi segala goreng2an karena ia dilarang memakai minyak goreng dari minyak sawit dan jagung, jadi kami beralih ke minyak kedelai, karena mahal jadi tidak sering-sering memakainya. Lagipula kukus lebih sehat buat perut Fatih, karena minyak membuat saluran pencernaannya bekerja lebih keras. Sebenarnya anak autis bagus juga sih,..membuat kita jadi hidup sederhana dan biasa hidup lebih murah jadinya hehe…

Continue Reading

Cantiknya Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong a Fie by Shita R

Rumah Tjong A Fie berdiri megah di Jl. Ahmad Yani Kesawan, Medan. Berlantai dua didominasi jendela-jendela lebar jalusi dan bergaya colonial. Halamannya luas dihias taman. Membayangkan di masa lalu, beberapa kereta kuda pasti pernah berteduh di bawah pohonnya yang rindang. Yang unik, meski keturunan Tionghoa, cat rumah tidak didominasi warna merah dan keemasan khas China, tapi justru krem dan hijau yang mengingatkan pada warna keraton Yogyakarta.

Tjong A Fie, kelahiran Guangdong pada tahun 1860 menjejakkan kaki di Medan pada usia 18 tahun mengikuti jejak kakaknya yang telah diangkat menjadi Kapitan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tjong A Fie meniti karirnya dengan bekerja di took teman kakaknya, yang membuatnya belajar cara mengelola bisnis dan berinteraksi dengan warga Medan yang multiras dan multikultural. Ia menjalin hubungan baik dengan para pejabat tinggi Belanda yang mengangkatnya menjadi Kapitan pemimpin China menggantikan kakaknya yang meninggal. Posisi ini sangat strategis dan dihormati.

Ia memiliki hubungan baik dengan Sultan Deli Sultan Makmoen Al Rasjid dan membantu pembangunan Istana Maimoon, Masjid Sultan Maksum dan Masjid Gang Bengkok. Ia juga membantu pembangunan lonceng kota, gereja bagi umat Kristiani, kuil bagi pemeluk Hindu dan Budha. Juga rumah sakit Tionghoa, jembatan dan banyak lainnya.

Bisnisnya berkembang besar di bidang perkebunan tembakau, kelapa, dan membangun pabrik minyak kelapa. Bahkan Tjong A Fie lah yang membangun jalur kereta api pertama dari Medan ke Belawan. Jumlah pekerjanya 10.000 orang dan membagikan 5% keuntungan perusahaannya bagi karyawan.

Sebagai konglomerat beesar di jamannya, tentu Tjong A Fie memiliki banyak hubungan baik dengan masyarakat dari berbagai kalangan termasuk ulama dan para pembesar istna. Ia juga menyumbang pembangunan masjid raya medan yang kini masih berdiri megah, menyantuni para anak yatim dan janda-janda miskin di sekitar wilayah tinggalnya. Tjong A Fie juga membantu Raja Melayu untuk membangun kembali istananya yang telah terbakar.

Ia memiliki hubungan yang baik dari rakyat jelata sampai pemimpin China modern, Sun Yat Sen yang menuliskan kaligrafi untuknya, yang berjudul “ yang dermawan dan menebar kebajikan” untuk melambangkan kepribadiannya yang menawan.

Foto Tjong A Fie by Shita Rahutomo

Rumah berlantai kayu dan penuh jendela yang mengalirkan udara sejuk ini memiliki 40 kamar tidur,yang dihuni oleh Tjong A Fie, istri, anak-anaknya dan para teman dan saudara. Masing-masing penghuni memiliki pelayan pribadi. Bayangkanlah,.. betapa riuhnya rumah ini dulu. Di lantai atas, terdapat sebuah ballroom yang digunakan untuk menyelenggarkan pesta dansa di akhir pekan. Sementara kamar pribadi Tjong A Fie terdapat di lantai bawah setelah ruang sembahyang arwah. Perabotnya didatangkan khusus dari Yunani. Tempat tidur dan lemarinya bergaya Roman. Kelambu tempat tidurnya adalah renda cantik transparan yang dirajut tangan. Indah sekali. Ada juga timbangan berat badan (paling modern pada jamannya)  yang menunjukkan penghuni kamar ini memperhatikan kesehatan karena Tjong A Fie juga tidak madat, sesuatu yang wajar dilakukan para Tionghoa kaya pada masa itu. Ada juga vacuum cleaner yang didatangkan khusus dari Italia.

Mari kita beralih ke ruang makan. Ruang makan terletak di ruangan belakang, dalam bidang persgi panjang. Dihiasi keramik-keramik kuno dan foto keluarga di dinding. Menariknya meja makannya bisa ditarik dan diperpanjang dua kali lipat jika yang hadir untuk makan jumlahnya banyak. Tjong A Fie seorang  penyayang keluarga. Ia bukan orang yang suka keluyuran mencari hiburan malam dan perempuan. Ia menyayangi istri ketiganya, menjadi ayah dan suami yang baik.

Istri Tjong A Fie by shita rahutomo

Saat di China ia memang sudah menikah namun istri pertamanya ini tidak memiliki anak. Mereka terpisah ketika ia memutuskan merantau mengikuti jejak kakaknya. Ketika merantau ke Medan, ia menikah lagi namun sayang istrinya meninggal tak lama kemudian. Anak-anaknya dari istri ke dua diasuh oleh istri pertamanya yang memilih tinggal di China.  Bersama istri ke tiga ia memiliki 7 anak. Saat ini salah satu keluarga buyutnya masih menempati sisi kanan rumah ini, terpisah dari ruang public yang ditunjukkan sebagai museum.

Tjong A Fie sangat peduli pendidikan. Ia memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya dan koleksi buku-bukunya saat ini diamankan. Sebelum meninggal akibat penyakit apopleksia yang mengakibatkan perdarahan otak, ia telah menuliskan surat wasiat agar kekayaannya diwariskan untuk membentuk sebuah  yayasan   Toen Moek Tong yang ditugaskan memberikan bantuan pendidikan pada anak-anak yang cerdas dan punya keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan. Tjong A Fie seorang yang pluralis, karena ia pesankan dalam wasiatnya, bahwa yayasannya tidak boleh menolak kandidat beasiswa yang potensial hanya karena perbedaan ras, agama dan latar belakang.

Ia juga mengingatkan para penerus kekayaannya untuk memberikan bantuan hidup bagi orang yang cacat dan mereka yang menderita akibat bencana alam.

Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup pada segala yang dimilikinya dan senang berbagi pada sesama tanpa khawatir kehilangan harta dan rasa iklash dalam memberi, tanpa memandang latar belakang penerimanya. Tjong A Fie adalah juga seorang universalis, yang kita butuhkan hingga saat ini, di negara kita yang kaya dengan perbedaan agama, budaya, dan ras.

Tjong A Fie telah mengajarkan nilai-nilai universal itu pada kita selama hidupnya. Ia, manusia yang berhasil mengalahkan ego diri dan kepicikan berpikir. Andai semua orang Indonesia saat ini bisa belajar banyak pada apa yang dilakukan Tjong A Fie maka Indonesia yang damai akan terus terwujud.

Saat ia meninggal di usia 62 tahun, ribuan pelayat datang dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang, memberikan penghormatan terakhir pada salah satu manusia berhati besar.   Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang menghargai jasa-jasanya dalam menyejahterakan masyarakat Medan dan sekitarnya.

Continue Reading

Part 4. My Oxygen

quote cinta by Shita Rahutomo
quote cinta by Shita Rahutomo

Cerita sebelumnya ada di sini

Ruang tunggu itu penuh sesak dengan beragam bocah dan para pengantar. Dari usia balita sampai remaja, dengan wajah bertanda “tolooong….ada puzzle yang hilang dariku…!!” tergambar jelas di tiap anak. Aku bisa melihat raut wajah dengan pancaran mata yang sama, ekspresi yang hampir mirip satu dan lainnya, seperti kumpulan boneka matroska dari Rusia, yang dijajar rapi, dengan bentuk yang mirip hanya berbeda di ukuran. Dengan cepat aku bisa mengenali benang merah itu.

Membayangkan seperti saat proses penciptaan manusia, ketika semua bagian tubuh sudah lengkap, tinggal proses wrapping, agar mudah dipantau, dilengkapi dengan program operasi yang disimpan dalam microchip. Tertulis dalam bentuk  barcode di tengkuk tiap orang untuk memantau kadar kebaikan, keburukan, apapun itu selama masa expirenya belum berakhir.  Tapi bocah-bocah dengan tanda “Ada puzzle yang hilang dariku” ini mengalami satu kegagalan system yang membuat satu nomer seri  menghilang atau terselip entah di mana dan system computer menggantikannya dengan satu karakter acak dan ganjil, yang ditempelnya begitu saja.  Itu membuat ada bagian yang hilang dari binar mata mereka karena proses pengkodean yang sembrono itu. Dan Fatih, sayangnya,… termasuk dalam bagian acak itu.

Continue Reading

Tua,…Lu!

menghadiahi diri sendiri di usia cantik jalan-jalan keliling Eropa

Kalimat itu diucapkannya keras-keras dalam intonasi yang sangat mantap dan bergaung di seluruh ruangan kantor. Seluruh mata menatap kami. Mungkin menungguku bereaksi. Atau lebih tepatnya menunggu kami berdua bereaksi setelah kata-kata yang menurut saya sangat kasar tapi mungkin menurutnya sewajar bilang, Mbak, boleh pinjem pulpen?

Ia tertawa tanpa merasa bersalah setelah mengucapkan kalimat itu. Aku heran,..apakah mengata-ngatai orang yang lebih tua darinya dengan kata itu termasuk sopan atau biasa saja? Walau secara harafiah,…aku mungkin salah satu yang lebih senior dari segi usia dan lama kerja dibanding lainnya yang rata-rata masih berkepala 2+ di kantor ini.

Ia mengatakan kalimat itu setelah melihat betapa antusiasnya aku bercerita pada teman sebelah setelah habis mendaki gunung bersama anak-anakku. Minggu sebelumnya ikut camping ke pegunungan, Beberapa minggu sebelumnya jalan sendiri ke luar kota, atau kumpul dengan teman-temanku buat acara hang out bersama. Mungkin aku di mata temanku yang satu ini sudah bukan waktunya untuk masih bersenang-senang menikmati hidup. Mungkin maksudnya hanya menggoda,  tapi jujur rasanya sakit diomongin kasar begitu.

Lalu apa yang salah jika kita menua? Itu hukum alam yang pasti. Apakah tua sebuah hal yang tabu? Apakah menjadi tua membuat kita tak boleh melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, yang menyatakan ekspresi diri, masih tampil modis, masih suka dandan dan mencoba hal-hal baru? Apa yang salah dari itu? Toh aku membiayai sendiri semua kegiatanku dengan kemampuanku sendiri. Tak merugikan orang lain.

Di Indonesia, dan negara Asia pada umumnya, saat perempuan mulai memasuki kepala 3 kita sudah dikategorikan tua. Duh..duh… padahal lihatlah di Amerika atau negara maju di Eropa sana, meski berumur tiga puluhan kita-kita masih sering dipanggil “girl’… bukan lady. Apalagi muka dan wajah Asia yang mungil-mungil kadang membuat kita terdiskon beberapa tahun dari umur sebenarnya. Dan di Eropa, teman-teman di usia cantik tak canggung untuk tampil maksimal. Bermake-up cantik, memakai pakaian yang modis, masih bersepatu kets, melakukan kegiatan-kegiatan yang merangsang adrenalin, menyenangkan sekali melihatnya.

Apa yang salah dengan bertambahnya usia?

Tak ada yang memalukan dengan bertambahnya usia, menjadi semakin tua. Lalu kenapa hal itu sering menjadi bahan bully-an di Indonesia? Entahlah… mungkin karena sebagian yang muda-muda ini begitu pedenya dengan angkanya yang baru kepala dua, atau mungkin kurang piknik, atau kurang wawasan, kurang pergaulan internasional, atau kurang didikan bagaimana seharusnya berlaku sesuai norma yang patut pada orang lain?

Usia muda memang menyenangkan. Seperti Bang Rhoma bilang, darah muda,..darahnya para remaja. Tenaga masih maksimal, kesehatan prima, kesibukan sedikit, tanggung jawab belum ada kecuali pada diri sendiri. Bisa pergi kemanapun. Hati senang walaupun tak punya uang kata Koes Plus. Eh itu kan lagu bujangan ya? Yah,..muda kan berkaitan erat dengan status bujangan.

Menjadi tua,..mengapa harus takut? Diskriminasi usia itu memang ada dan nyata. Apalagi di negara-negara Asia. Mungkin di negara maju, kita bisa mulai kuliah di usia berapapun, tanpa batasan beda dengan di Indonesia. Pernah menonton film tentang seorang dokter yang diperankan mendiang Robin William berjudul Patch Adam? Dokter ini menggunakan tawa dan unsur komedi sebagai salah satu terapi penyembuhan. Ia bahkan baru mulai masuk Fakultas  Kedokteran di usia lebih dari 40 tahun! Tapi pengalaman hidup yang panjang, membuatnya jadi manusia bijak akhirnya mengantarkannya menjadi dokter berdedikasi yang dicintai para pasiennya dan disegani rekan sejawatnya.

Diskriminasi usia juga berlaku ketika mencari pekerjaan, ketika mau apply beasiswa (curcoooll..hehe..) ketika ada kesempatan kegiatan ini itu, atau lomba-lomba sekalipun kadang memang ada diskriminasi usia. Bahkan saat memilih pasangan! Banyak orang diam dan merasa wajar saja seorang lelaki menikahi perempuan berusia puluhan tahun lebih muda darinya. Coba kalau perempuan menikahi lelaki lebih muda 5 tahun saja darinya…berapa banyak orang (terutama sesama perempuan), yang tak ada hbungan teman dan keluarga dengan keduanya mengeluarkkan kata-kata merendahkan pada si wanita di medsos. Tak percaya? Lihat saja instagram para artis perempuan yang menjalin hubungan dengan lelaki yang jauh lebih muda pasti banyak yang tak rela. Malah justru perempuan yang lebih sadis berkomentar pada sesama perempuan daripada lawan jenisnya. Kok bisa ya? Entahlah. Ok,..diskriminasi usia itu ada dan banyak, terutama di Indonesia tapi apa aku harus menggerutu? Ah tak perlu. Nikmati saja hidup tanpa banyak bicara kasar yang menyakitkan orang.

Jadi merasa tersanjung juga waktu L’oreal Revitalift bilang perempuan usia 35-45 tahun itu masuk kategori usia cantik bukan usia tua. Ceileeeh… benarkah?

Tapi kurasa L’oreal benar. Kenapa?

Karena di usia itu perempuan, sudah belajar banyak tentang kehidupan dari pengalaman hidupnya sendiri maupun belajar dari pengalaman  orang lain. Di usia cantik ini,biasanya secara karier kita sudah lebih bagus posisinya, anak-anak sudah mulai besar, sehingga waktu dan tenaga tak lagi habis mengurus si kecil  tapi sudah bisa lebih santai menjalani hidup, punya uang yang jumlahnya lumayan, punya posisi di masyarakat,  badan kita masih sehat, bentuk tubuh masih enak dilihat meskipun,..ya,..namanya hukum alam, wajah mulai menampakkan kerutannya. Kulit wajah tak lagi mulus kencang seperti usia 20-an dulu. Tapi tak perlu ngeluh terus dong. Usaha…usaha…Lalu aku harus bagaimana?

Jadi,… ketika temanku yang lebih muda dan sangat bangga dengan kemudaannya di atas,  mengatakan kata-kata kasar membully, aku evaluasi diri. Aku bercermin di depan kaca, dan melihat kerut halus yang mulai menghiasi wajah terutama seputar mata. Jadi kuputuskan mulai malam itu aku gunakan L’oreal Revitalif dermalift secara teratur setiap malam agar kecantikan yang matang ini tetap terpelihara.

Kuncinya cuma satu! Disiplin merawat wajah dan memiliki gaya hidup yang sehat. Kita tinggal pakai cream Revitalift Dermalift Night dari L’oreal setiap malam menjelang tidur, agar selama masa istirahat, tubuh kita melakukan proses detoksifikasi terhadap zat-zat tak berguna dan melakukan proses regenerasi sel, saat yang tepat untuk menggunakan serum Loreal agar lebih efektif penyerapan zat-zat gizinya. Sedangkan di siang hari agar terlindung dari paparan sinar matahari, guakan Revitalift Dermalift Day.

Kenapa aku memilih L’oreal Paris Revitalift Dermalift dibanding produk kecantikan dari produsen kosmetik lain? Itu karena aku percaya, kalau L’oreal dengan pengalamannya selama puluhan tahun di bidang perawatan kecantikan terkemuka mampu memberikan hasil terbaik untuk kulitku. Apalagi slogannya sudah bilang, “Karena kita (perempuan) begitu berharga.” Lihatlah baru beberapa hari menggunakannya, bercak-bercak di kulit wajahku mulai memudar banyak. Karena L’oreal Paris Revitalift Dermalift mengandung formula Baru Dermalift yang berperforma tinggi ketika dikombinasikan dengan Pro Retinol A memiliki aksi intensif untuk merawat kekencangan kulit & anti-kerut secara efektif, dan memberikan perlindungan terhadap UVA & UVB untuk mencegah penuaan dini. Teksturnya lembut dan ringan meresap dengan cepat ke dalam kulit.

Jadi,..jangan takut untuk bertambah usia. Karena cantik tidak hanya diukur dari seberapa belianya seorang perempuan tapi dari isi kepala dan kepribadiannya. Kecantikan lahiriah hanya akan menyisakan pesona fisik yang semakin lama akan semakin memudar jika isi kepalanya tak ikut cantik juga. Tapi isi kepala dan kepribadian yang cantik akan membuat seorang perempuan makin berkharisma di usia matang. Cantik yang berkarakter. Jiah,…dengarnya saja keren kan? Apalagi kalau dipraktekkan!

Ilmu, pengalaman hidup, kemampuan memanage diri dan emosi, kematangan jiwa, wawasan yang luas akan membuat perempuan usia cantik itu justru makin menarik. Loh..kok bisa? Ya lah… kan lebih percaya diri dan tahu apa yang ia mau dalam hidup itu menjadi magnet daya tarik.

 

Aku termasuk orang yang optimis menatap hidup dan belajar untuk selalu berpikir positif. Jika ada ungkapan terlambat melakukan suatu hal yang kita inginkan karena alasan usia, aku memilih menolak ungkapan bodoh seperti ini. Kolonel Sanders, Bapak ayam goreng paling terkenal sedunia itu jadi milyader di usia 88 tahun! Ia menolak gagal dan berhenti berusaha dari apa yang diyakininya benar. Hidup memang tak boleh setengah-setengah menjalaninya bukan?

Maka ketika aku akan berulang tahun di usia cantik di bulan September kemarin, jauh-jauh hari aku berdialog dengan diri sendiri, apa yang harus kuperbaiki dari hidup, apa yang harus kuprioritaskan sekarang, dan apa hal yang paling ingin aku lakukan.

di usia cantik, kita sudah tahu yang kita mau dalam hidup

Setelah proses merenung yang panjang itu, akhirnya aku mantap memutuskan keluar dari pekerjaan lamaku. Meskipun aku cinta mengajar dan cinta murid-muridku tapi aku juga tak melihat kemungkinan aku bisa berkembang lebih besar lagi di sana. Akuariumku sudah sesak dengan mimpi-mimpi yang tak terealisasi. Maka mantap, aku mengundurkan diri dan memutuskan menghadiahi diri sendiri keliling Eropa seorang diri. Mimpi besarku selama bertahun-tahun akhirnya terwujud juga.  Ya,..jangan takut menjadi perempuan di #usiacantik karena kita begitu berharga!

Tulisan ini disertakan dalam “Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Continue Reading

Part 3. Keping Puzzle Yang Hilang

Novel elysium part 3

Part 2 ada di sini

Derum mobil berhenti. Ayah turun membuka pintu mobil dan membantuku turun yang menggendong Fatih. Badan lunglai dan pikiran..sepertinya lari entah ke mana menjauhi tubuh. Seluruh tubuh berasa dilolosi. Aku lelah. Entahlah….

Aku turun dengan hati-hati. Memegangi Fatih erat-erat karena merasa kuatir dan berjaga-jaga takut Fatih berlari ke luar ke jalan raya di depan sana yang padat. Ia tak tahu bahaya. Tak paham bahwa benda keras dalam kecepatan tinggi bisa melukai tubuh dan membuat hancur cerai berai. Ayah menggenggam tanganku…memutuskan lamunan panjang, membuatku kembali fokus mengapa kami harus ke sini.

Autis…. Terbayang lagi kata-kata itu.

Tuhan,…autis…mahluk apa ini? Ia bahkan tak  ada obatnya. Ia bahkan bukan organisme tapi merenggut hatiku tanpa sisa. Merenggut masa depan Fatihku tanpa bicara terlebih dulu. Tanpa memberiku tanda supaya bersiap-siap dulu. Autis….??

Aku sudah lelah menangis berhari-hari selama beberapa malam ini. Sajadah sudah basah oleh air mata. Terendam rasa putus asa yang mengaliri tiap serat kainnya.  Ada kemarahan pada Tuhan yang ingin kutumpahkan. Aku ingin protes keras! Kalau saja ada TOA yang bisa membuat suaraku lantang membelah langit.

WHY?….. WHY me?…… WHY???!!!

Kenapa harus aku?

Apa aku punya dosa begitu besar hingga harus menerima peer begitu besar? Mao Zedong yang membunuh 30 juta rakyatnya saja pasti tak kauhadiahi anak autis! Kenapa aku! Kenapa….

Kenapa bukan anak para penjahat yang mengidap keanehan seperti ini? Kenapa Fatih? Fatihku? Fatihku yang manis…..Yang tak pernah merepotkanku sejak lahir? Yang tak pernah menangis merepotkan di masa bayinya? Yang tak pernah bersuara saat ia jatuh atau terluka? Hingga kadang harus kugelitik dia karena aku merindukan suara tangis bayi dulu di rumah kami.

Jadi ternyata ini penyebabnya…anakku AUTIS! Ya,…ia dihukum dengan menjadi AUTIS! Ia dipaksa hidup di alamnya tersendiri. Hidup di akuarium. Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya. Itu sebabnya semua buku teori memaksimalkan potensi anak yang kubeli jauh-jauh hari hanya menumpuk di pojok kamar tak terpakai. Aku putus asa!  Segala teori yang kubaca dan ingin kupraktekkan untuk menjadikan Fatih menjadi hebat sebagai penerus nama kami mentah semua. Tak ada yang terpakai!!!

Golden age yang harusnya membuatku bisa membentuk karakter Fatih sebagai calon khalifah terhebat di muka bumi sirna. Itulah sebabnya aku begitu bersemangat memberinya nama Fatih begitu dokter kandungan mengintipnya lewat USG. Anak lelakiku yang harusnya hebat. Anak lelakiki yang harusnya menjadi manusia hebat yang mencetak sejarah emas seperti Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia belasan tahun!

Ya,..aku yakin bisa mencetak Fatih al mehmet ke dua. Dengan bekal pendidikan terbaik yang diberikan oleh guru terbaik. Dan aku…. telah siap menjadi guru terbaik Fatihku! Dengan merelakan karier cemerlang begitu ia lahir. Aku siap menjadi guru terhebat anakku. Tapi rencana-rencana hebat itu sirna seketika oleh satu organisme abstrak tanpa nama, bahkan tanpa nyawa, dan tanpa rupa bernama AUTIS! Ia mencabik-cabik mimpi besarku.

Autis ternyata yang membuat Fatih terputus dari dunia kami. Ia terperangkap dalam gelembung sabun raksasa. Gelembung raksasa yang tak bisa dipecahkan jarum setajam apapun. Taka da satu senjata pun yang bisa merobeknya untuk mengeluarkan anakku dari penjara gelembung itu. Ia nyata, ia dekat tapi begitu jauh dariku. Aku bahkan tak bisa bicara padanya! Aku bisa melihatnya, tapi tak bisa menyentuh hati dan pikirannya. Autis sialan……! Autis kurang ajar! Pengecut tanpa rupa, menyerang diam-diam tanpa berai menampakkan diri.

Kudekap ia, kuciumi berkali-kali. Kutatap lama sosoknya yang tak pernah menatap mataku penuh cinta sambil bilang “Bunda….” Seperti bocah-bocah lainnya. Jadi  AUTIS sialan itu telah mengunci mulutnya rapat-rapat untuk tak membuat hatiku dan hati ayahnya berbunga oleh kata pertama.

Ah……Fatih pasti lebih menderita di dunia sunyinya dibanding aku dan ayahnya. Bocah yang tak pernah merengek minta beli apapun kecuali suka secara sembrono berlari ke jalan raya untuk melihat mobil berlalu lalang. Sedikit lengah saja ia sudah keluar ke jalan dengan dua kaki mungilnya yang lincah, membuat jantungku hampir copot meski akhirnya selalu menemukannya hanya berdiri di pinggir jalan sambil memperhatikan roda-roda berputar dalam aneka rupa. Dan ia terlihat sangat bahagia saat-saat seperti itu.  Ia terpesona. Terperangkap dalam magisnya gerakan putaran roda. Ia terkesima, seperti jejaka lugu bertemu bidadari khayangan nan jelita. Ya,..anakku terpana pada setiap bentuk roda, lingkaran dan gerakan memutar yang teratur. Apa itu….kerja si AUTIS juga ternyata….

Mataku masih bengkak. Seluruh airmata terperas berliter-liter selama berhari-hari ini setelah keterangan tanpa basa-basi dokter Melly beberapa hari lalu. Aku ingin marah…marah yang sebesar-besarnya. Murka yang sedalam-dalamnya. Teriak yang sekencang-kencangnya. Menangis, meraung  sehebat-hebatnya hingga aku ingin mati. Mati kelelahan karena menangis. Tapi jika aku mati,…lalu Fatihku.. siapa yang akan menemani? Adakah orang yang akan lebih mengerti betapa tak berdayanya anakku selain aku sendiri?

Jadi,…setelah berhari-hari diam di atas pembaringan, melalaikan semua kewajibanku sebagai ibu dan istri….tidur dengan gelisah untuk melarikan diri, kelelahan berharap segera mati tanpa harus bunuh diri,…… akhirnya semalam aku bangkit, merasa lapar setelah berhari-hari hanya minum air putih.

Pelan ke luar kamar, mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut yang sudah berhari-hari kuabaikan alarm biologisnya. Lalu membuat secangkir teh hangat dan ke kamar mandi membasuh diri bersuci,  dan kembali larut dalam sujud panjang yang penuh derai air mata. Kali ini tanpa kemarahan lagi. Mungkin sudah terlalu lelah untuk marah.  Pintu kamar berwarna putih itu sedikit membuka membuat cahaya temaram di dalamnya terlihat samar. Fatih selalu suka cahaya yang menerobos celah-celah sempit begitu. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu pada matanya yang kadang bersinar aneh itu.

Pelan aku melangkah, tergerak ke kamar Fatih karena aku ingin menciumnya. Ingin menghirup bau badannya. Mendekati tempat tidur dan kulihat ia tertidur di samping ayahnya yang bahkan tak sempat mengganti baju seragam kantor karena kelelahan. Biasanya aku yang mengurus lelaki ini. Mengambilkan baju ganti dan menyiapkan makan malam. Tapi beberapa hari ini ia tahu, aku butuh sendiri. Membiarkanku terkubur dalam gelap di kamar,…hanya sendiri. Ia tahu aku tak butuh kata-kata hiburan. Ia tahu aku tak butuh diajak bicara data dan fakta. Ia tahu aku butuh waktu untuk pulih dengan kekuatanku sendiri.

Melihat wajah damai keduanya saat tertidur. Dengkuran halus ayahnya dan deru nafas Fatih yang teratur. Segala perjuangan yang kami lakukan agar ia mau makan, segala hal yang kami bisa untuk menyembuhkan saat ia sakit tapi tak merengek seperti bocah lainnya, hanya diam terkulai lemas. Wajahnya yang damai. Ia begitu mempesona dalam tidurnya yang lelap. Bocah yang dulu sangat kurindukan kehadirannya siang malam itu, yang kuminta dalam pinta sepenuh hati di atas sajadah panjang dulu. Apa aku akan menyia-nyiakan karuniaNya meski pada kenyataannya hadiah yang kuinginkan bunga mawar tapi ia berikan aku bunga lily. Apa bedanya? Keduanya bunga. Sama-sama cantik. Meski orang lebih banyak melihat mawar, dan tahu mawar punya banyak warna, tapi lily tak kalah cantik mesti lebih butuh perawatan. Cuma itu mungkin.

“Ya Allah…ampuni aku….”

Sesak dada karena gemuruh. Tak ada lagi air mata yang mengalir. Sudah habis terkuras. Kupandangi wajah Fatih lebih seksama. Matanya yang terpejam, alisnya yang lebat, hidung mungilnya dan mulutnya yang kadang menyeringai aneh… tapi dia anakku. Anak autis ini anakku…. Dan ia lebih butuh aku sekarang daripada sebelumnya.

…….Aku tak boleh mati. Tak boleh…

Aku harus hidup, aku harus waras, aku harus realistis. Membuang semua impian tentang mencetak anak ideal. Aku harus menerima kenyataan ia tak sempurna. Tapi ia tetap anakku. Dan ia,..sangat pantas untuk dicintai sepenuh hati…

“Tuuh kan Fatih,…Bunda melamun lagi…” kata si Ayah membuyarkan lamunan. Kupaksa tersenyum meski lelakiku pasti tahu itu bukan senyuman lebih pada seringai.

Fatih anteng dalam gendonganku. Aku memeluknya erat dan terus mengelus punggungnya agar ia tenang memasuki tempat baru ini. Biasanya ia gelisah. Kulirik Ayah yang menggenggam erat tanganku.

Dari jauh pintu besarnya terbuka lebar, menandakan siap menerima siapa saja untuk datang. Gedung bercat putih bersih dari luar yang sangat terawat dan dihiasi pohon-pohons buah seperti sawo kecik, belimbing dan rambutan yang membuatnya rindang dan terasa menenangkan.

Dari luar sudah terdengar betapa riuhnya keributan yang ada di dalam. Dan benar saja. Begitu kami masuk menuju ruangan kecil di pojokan yang di depannya tertulis kata pendaftaran, aku langsung shock. Bukan hanya pada berapa besarnya biaya yang harus kami bayarkan untuk terapi-terapi panjang yang harus dialaui Fatih nanti, tapi lebih pada suasana di ruang lobby yang menyesakkan.  Ayah memilih diam dan berusaha tenang. Tapi aku merasa tempat ini seperti melemparkanku pada malam-malam penggugatan, membuatku bertanya apakah aku akan sanggup menghadapi kepingan-kepingan puzzle yang lebih rumit lagi.

Apa aku akan bisa?

Continue Reading

II. Puzzle Yang Berlubang

elysium-bab-2

Ketinggalan bagian pertama? Klik saja di sini.

Gedung ini juga banyak yang pakai baju putih-putih, tapi aku tak mencium bau aneh menusuk. Banyak bunga di mana-mana. Aku suka warnanya yang ungu magenta dan mawar merah di vas besar menebar harum. Aku suka mengendus-endus bau baru dari apa saja. Juga saat Ayah dan Bunda menggandengku melalui sebuah lorong yang penuh kartun binatang warna-warni. Suasana lebih sepi. Hingga sampai di suatu ruangan. Perempuan berbaju hijau pupus dengan kepala memakai topi kertas persegi membukakan pintu. Seorang perempuan lainnya tapi berambut putih semua, dengan wajah ramah tersenyum menyambut. Ia juga memakai baju putih sebagai luaran dan bermata empat! Kenapa banyak orang berbaju putih bermata empat? Tapi aku suka melihatnya. Aku bisa merasakan hatinya hangat. Ia berjongkok di depanku, tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku. Seperti terhipnotis, aku menyambut tangannya.

“Siapa namanya?” suaranya empuk.

“Fatih..” kata Bunda mewakili. Tapi ia menunggu aku mau membuka mulut dan menengoknya dengan menyentuh tanganku berkali-kali. Aku menengok. “Pinternya…..Fatih mau main puzzle? Coba lihat….Ibu punya apa ya….?”

Diraihnya sekotak besar mainan dari sudut ruangan. Aku antusias mendekat melihat warnanya yang warna warni. Ada satu yang sangat menarik perhatianku.

“Ibu Melly bicara dulu sama Ayah dan Bunda ya….” Tangannya membimbingku menuju karpet plastik empuk dan sekotak mainan itu. Ada banyak benda menarik di sana. Dan aku,…menemukan roda yang berputar dengan gambar abstrak lima gumpalan dan di permukaannya ada tulisan kecil-kecil.  Dan aku bisa memutarnya berkali-kali. Wow….!!!

_______________====_____________________

“Saya sudah baca semua hasil laborat Fatih yang sudah dikirimkan dari Amerika kemarin. Dari analisis rambut dan kuku, memang mengandung banyak toxin. Tak ada cara lain, kita harus kuras racunnya dengan cara detoksifikasi. Dia juga mengalami leaky gut…”

“Apa itu leaky gut dokter?”

“Menurut penelitian, leaky gut itu disebabkan oleh tidak tercernanya makanan yang dikonsumsi si anak akibat alergi makanan. Salah satu cirinya membentuk mosaic feses pada anak berspektru autis. Ibu pernah perhatikan kalau feses Fatih berwarna-warni, bukan?”

“Seperti apa Dok?”

“Kalau ia makan wortel, ada bagian fesesnya yang berwarna oranye dan masih utuh dalam bentuk wortel. Kalau ia makan bayam pun,  ada bagian fesesnya yang tetap hijau segar..”

“Betul dok…” Keduanya membentuk O di mulutnya secara lucu.

Dokter Melly mengambil gambar besar lalu menerangkan dengan gambar itu proses pencernaan yang rumit. Ayah dan Bunda begitu serius mendengarkannya.

“Dan bahan makanan yang tak tercerna itu berubah menjadi racun yang menyebabkan jamur di usus yang menimbulkan luka dan menyebabkan usus si anak mengalami kebocoran. Sayangnya..zat-zat sisa tak tercerna ini mengalir melalui usus yang bocor itu lalu diserap pembuluh darah lalu dibawa ke otak. Zat sisa itu memberi efek seperti si bocah menggunakan narkoba. Itu sebabnya anak-anak seperti Fatih kadang punya tenaga luar biasa yang membuat mereka tak pernah merasa lelah dan tak bisa berhenti bergerak. Efek yang sama dari dopamine, zat yang merangsang syaraf dan otak untuk aktif bergerak jika jumlahnya berlebihan maka syaraf pun terangsang terus bergerak tanpa henti.”

“jadi….otak Fatih teracuni zat sejenis narkoba?” Aku tak sabar mendengar lengkap seluruh penjelasannya.

“Betul Bu. Karena adanya racun seperti narkoba yang tertimbun bertahun-tahun itu membuat Fatih semakin terasing dari dunia luar, ia berasa punya dunia sendiri. Efek ini memang berbeda-beda bagi tiap anak. Bagi sebagian anak yang lain, zat beracun ini membuatnya tak punya semangat hidup dan sangat pasif dalam keseharian. Hanya tidur terus menerus pekerjaannya. Kita menganggapnya malas,…. padahal itu bukan kemauan si anak sendiri.”

“Apa seperti narkoba, zat ini juga menimbulkan efek mati rasa?”

“Batul Pak,..pada banyak kasus memang membuat anak tak memiliki rasa sakit meskipun ia jatuh sampai memar atau berdarah-darah, karena ketika terluka ia tak punya rasa sakit sama sekali. syarafnya tak bisa membaca rasa sakit itu…”

“Oh…itu sebabnya Fatih tak pernah menangis saat ia jatuh, terluka, berdarah dan kemarin saat disuntik waktu imunisasi..” Aku terbayang kejadian kemarin.

“Bisa jadi Bu..”

Ayah dan aku berpandangan. Kulihat kabut di mata Ayah yang berusaha tegar dan berusaha menjalankan tugasnya sebagai suami, menguatkan sang istri, dengan mengusap punggungku. tapi itu tak menimbulkan efek menenangkan kini. Rasanya ribuan jarum ditembakkan ke dadaku menimbulkan sensasi jutaan rasa nyeri yang mematikan. Menyedot seluruh energiku.

“Maaf…apa Fatih suka menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti mau terbang dengan gerakan berputar-putar?”

Ayah dan aku mengangguk cepat, hampir bersamaan.

“Juga tak mau menengok saat dipanggil namanya tapi kalau mendengar suara tertentu, yang bukan suara manusia ia menoleh dan bereaksi dengan cepat?”

“Betul Dok,…..” Jawaban Ayah singkat dan bergetar.

“Dia tak mau menoleh kalau kami panggil dan ajak bicara meski dari jarak pendek. Saya pikir ia punya gangguan telinga. Tapi ketika ia mendengar suara mesin mobil, meski jaraknya masih jauh ia bisa mendengar dan langsung berusaha lari mendekat.”

“Fatih juga sering mengalami konstipasi?”

“Iya Dok,..dia BAB dua hari sampai tiga hari sekali. Karenanya keras sekali. Saya sering kasihan saat melihatnya berusaha mengeluarkan feses, kadang sampai berdarah-darah. Meskipun sudah saya beri buah,..tetap sering seperti itu kejadiannya.”

“Maaf,….apakah fesesnya berbau sangat menyengat?”

“Betul..”

Kami berdua menganga, saling berpandangan dengan wajah menyimpan banyak teka-teki. Apakah Fatih sakit parah? Tapi sakit apa? Kami memang merasa ada misteri besar yang menyelimutinya yang membuat kami tak tahu apa itu. Ia memberi teka-teki yang tak mampu dijawab.

“Dia susah tidur?”

“Iya… dia selalu tidur larut. Apalagi kalau siangnya ketiduran, pasti malamnya jam 2 sampai 3 pagi baru tertidur dan mudah sekali terbangun pada suara yang pelan sekalipun. Dokter ada apa ini…anak kami sakit apa?” Aku tak sabar lagi. Ingin segera menerima jawaban dari semua teka-teki.

“Dia juga kadang mengalami gangguan telinga?”

Ayah mengangguk cepat. Baru dua minggu yang lalu kami ke THT karena telinganya sangat berbau. Dokter bilang fatih terserang infeksi. Dokter Melly menghela nafas panjang. Belum ingin menjawab teka-teki. waktu menjadi sangat lambat dan aku bisa mendengar detak persekonnya. Please…dokter..katakan sekarang juga.

“Apa Fatih menyukai satu benda tertentu, padahal itu bahkan tak bisa disebut mainan anak-anak?”

“Roda dokter…roda…., lingkaran dan segala benda yang bergerak teratur. Bund…biar aku yang jawab”.kata Ayah melihatku yang sudah mulai membuka mulut merasa tak sabar.

“Dia suka semua benda yang berputar dan berbentuk lingkaran……?” Dokter Melly mengulangi kalimat itu.

Kali ini Ayah yang menerangkan melihatku makin gugup. “Ia bisa larut memutar-mutar roda sepedanya berlama-lama. bahkan kadang lebih dari sejam jika tak kami alihkan perhatiannya. Ia, juga suka berjongkok mengamati roda mobil saya.”

Aku tak mau kalah semangat. “Ia juga suka semua yang berbentuk lingkaran lalu memutarnya. Dia bisa main pantul bola berjam-jam. Atau memutar piring makanannya saat makan siang sambil terkekeh-kekeh sendiri. Tapi ia tak pernah tertawa begitu riangnya kalau diajak bercanda, Dok.”

Dokter Melly manggut-manggut. Lama ia diam. Tik..tok..tik…tok…

“Ayah…Ibu….ini memang berat. Tapi saya berharap anda berdua tabah ya,…menurut diagnosis saya, Fatih adalah penyandang autis….”

“Autis?”….. Kedua wajah kami mengandung kalimat tanya yang sangat jelas. Mahluk apa itu, AUTIS?

Suasana hening. Tiba-tiba pertahananku runtuh, tak tahan untuk tak menangis. Jadi … itulah kenapa Fatih aneh selama ini. Ayah memelukku.

“Autis memang bukan penyakit yang ada obatnya, Bapak..Ibu. Dan mungkin seumur hidup takkan pernah bisa hilang dari si anak. Ini tidak seperti sakit disentri atau DB. Tidak juga seperti kanker atau tumor.”

kami berdua berpegangan tangan saling menguatkan.

“Bahkan kalangan kedokteran tak berani menyebutnya sebagai penyakit, tapi syndrome. Tapi berita baiknya Bapak Ibu…Fatih jika saya amati bukan penyandang autis tingkat berat,…masih ada harapan Fatih menjadi normal dan bisa menjalani hidup dengan baik. Saya rasa Fatih masuk kategori Asperger Syndrom, yang kadarnya lebih ringan.”

“Apakah benar-benar tak bisa disembuhkan, Dok?” Suara Ayah terdengar lirih.

“Kita usahakan Pak, bersama-sama, ini akan berat buat Bapak dan Ibu, tapi saya akan berikan semua hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mengeluarkan Fatih dari dunia sendirinya. Tapi harus sabar dan sungguh-sungguh. Sanggup?”

Aku berhenti menangis, kalah oleh rasa penasaran. “Kami akan lakukan apa saja Dok untuk kesembuhan Fatih. Tolong bantu kami.”

“Mau tahu hal pertama yang harus Bapak dan Ibu lakukan untuk proses kesembuhan Fatih?”

“Iya..iya..”

mata kami berdua berbinar penuh harapan. Ada harapan untuk sembuh!

“Pertama…terima kenyataan kalau Fatih autis, itu dulu. Orang tua dimanapun…pasti punya harapan besar terhadap anaknya. Begitupun Bapak dan Ibu. Betul bukan? Ingin punya anak yang hebat?”

Tentu saja, siapa yang takkan bangga punya anak hebat?

“Tapi kenyataannya ada satu hal besar yang membuat impian kita kadang…tak mudah menjadi kenyataan.…bukannya tak bisa ya….”

Suasana hening. hatiku membatu, dingin. Kenyataan pahit sepertinya baru mulai dari sini….

“Bukan tak mungkin Bunda….” Dokter Melly melihat hilangnya sinar harapan di mataku.

Ini adalah bagian yang sama sulitnya buat saya selain menolong si anak. Membantu orang tua menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin harus direvisi….”

Pandanganku mengabur….air bening itu kembali bergulir tanpa putus dari sudut mata. Berasa bongkahan batu besar dipaksa masuk ke rongga dada. menyayat daging di antara tulang rusuk dan mengucurkan darah segar. Aku terguncang. Ayah berusaha menenangkan.

“Biarkan Pak,… biarkan Ibu menangis. Ini memang berat diterima…..dan memang bukan berita bahagia.”

Suasana menjadi semakin hening hingga isakku makin terdengar jelas di ruangan dingin yang kurasa makin dingin. Kutoleh Fatih yang masih terlihat bahagia bermain globe.  Aku bahkan bisa mendengar tarikan nafasnya dari tempatku duduk. Anakku sayang, misteri apa yang kamu bawa?

Penasaran? Part 3 ada di sini

Continue Reading

Joglo, Lambang Kemapanan Masyarakat Jawa

Joglo cantik ini terletak di Jakarta lo

Bayangkanlah, saat  bangun tidur di pagi hari, kita bisa buka jendela lebar-lebar, merasakan segarnya udara pagi yang bersih dan sejuk, lalu suara gemericik air di kolam ditingkahi berkecipaknya puluhan ikan mas koi cantik yang berenang dengan riang. Tanaman dan rumput hijau memanja mata, dan bunga-bunga anggrek mengerling dengan genitnya. Bagaimana rasanya? Ya,..nyaman sekali di hati.

Itulah juga yang kurasakan tiap kali berkesempatan bertandang di rumah tradisional cantik ini. Sambil leyeh-leyeh menyandarkan badan di kursi malas (apalagi kalau kursi goyang wah..lebih enak lagi) sambil kaki merasakan halusnya teras marmer yang dingin. Pagi Minggu itu dilengkapi pisang goreng  kapok yang mak nyus dan segelas the hangat yang mengaliri tenggorokan.

Meskipun matahari kemudian digantikan titik hujan tetap tak mengurangi kenikmatan. Tempias kucuran talang mengalir masuk kolam menggoda para ikan koi yang sibuk mencari makanan.  Mulutnya yang megap-megap itu antusias melumat jari-jari tangan yang dipikirnya makanan. Kalau mereka tambah besar, betapa riuhnya nanti kolam batu ini.

Nah, joglo sendiri adalah rumah tradisional Jawa yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu di Jawa, biasanya keluarga bangsawan dan para pengusaha. Karena joglo membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatan hingga pendiriannya. Jenis joglo sendiri banyak. Ada Joglo Mangkurat, Hageng, Sinom, Semar Tinandhu, Pangrawit, Jompongan yang sebagian besar merupakan tipikal Jawa selatan da nada juga Joglo Kudus, Jepara, Pati,dan Rembang. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Namun pada perkembangan selanjutnya, Joglo kontemporer yang merupakan gabungan banyak aliran banyak diminati karena ia menggabungkan keindahan berbagai aliran.

Namun, biasanya joglo selalu memiliki pembagian tempat yang hampir sama. Biasanya terdapat pendopo, tempat terbuka tanpa sekat yang digunakan untuk mengadakan acara besar. Di Kesultanan Yogyakarta, Siti Hinggil merupakan tempat pisowanan agung, ketika Sultan bersama para nayaka praja mengadakan pertemuan dan membahas masalah penting negara.

Pringgitan adalah tempat menerima tamu yang dianggap lebih akrab hubungannya dengan keluarga, dan penghubung bagian wilayah yang lebih pribadi yaitu gandok kiwa dan gandok tengen. Gandok kiwa dulu merupakan area servis, tempat padusan (kamar mandi), pawon (dapur), dll. Gandok tengen menjadi area privasi, barisan kamar pemilik rumah yang disebut Sentong. Penjaga area privasi yang membatasi pendopo, dan pringgitan biasanya sketsel, sedangkan pembatas pringgitan dan ruangan yang lebih privasi digunakan gebyok.

Pernah mendengar ungkapan soko guru? Nah…soko guru merupakan empat tiang utama penyangga bangunan joglo agar bangunan stabil dan kokoh. Jadi generasi muda yang berkualitas adalah soko guru pembangunan bangsa Indonesia. Lak njih ngoten poro sedherek?

Seperti rumah tradisional Indonesia pada umumnya, joglo juga tak menggunakan paku dalam pembangunannya. Semua bagian rumah Joglo biasanya terbuat dari kayu, karena memiliki sifat kelenturan dibanding bahan solid seperti batu atau semen. Joglo juga menggunakan teknologi precast dalam istilah teknik sipil, yang kini banyak digunakan dalam dunia konstruksi.

Selain itu, Joglo menggunakan pasak, dan teknik penggabungan masing-masing  bagian rumah dari tiang penyangga, blandar, reng, usuk serta dinding-dinding rumah. Kenapa? Karena memberi ruang kelenturan gerak bagi bagian-bagian rumah saat menghadapi guncangan gempa, untuk meminimalisir kerusakan. Ingat! Pulau Jawa merupakan bagian dari barisan “Ring Of Fire” yang memiliki banyak gunung api aktif, titik pertemuan lempeng Pasifik dan Mediterania sehingga rawan terjadinya gempa . Canggih kan teknologi nenek moyang kita?

Nah dalam proses pembuatan joglo tidak main-main. Biasanya sang pembuat akan melakukan lelaku atau tirakat  terlebih dahulu, seperti berpuasa selama 40 hari agar diberi petunjuk Yang Kuasa agar pengerjaan bangunannya berjalan lancar. Proses pendirian bangunan joglo pun tak main-main. Harus dihitung hari weton pasangan suami istri pemilik dan dasar hitungan tersebut digunakan untuk menentukan hari pendirian soko guru, bagian pertama dari Joglo. Dalam hitungan kosmik Jawa, penentuan hari pendirian rumah menentukan nasib pemilik rumah. Rumit, ya? Banget!

Di jaman dahulu, pemilik Joglo akan menanggung seluruh biaya hidup sang maestro pembuat joglo beserta keluarganya, meliputi bahan makanan dan sandang dari awal pengerjaan hingga selesainya bangunan. Dan pengerjaan joglo bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. Lah,…kalau tidak kaya, tak mungkin kan bisa melaksanakannya?

Ada sebuah keyakinan dalam masyarakat Jawa tradisional jika pengerjaan joglo tak boleh main-main. Konon, jika salah tanggal pendirian bangunan atau terjadi salah pasang bagian bangunan dapat menimbulkan memolo (musibah) seperti ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia. Tentang kebenarannya wallahualam bissawab. Karena itulah masyarakat Jawa masih berhati-hati saat ini ketika menentukan kapan waktu yang tepat untuk membangun rumah, pindah rumah, dll.

Ruang pringgitan yang terlihat dramatis di malam hari karena dihiasi lampu gantung yang dipesan khusus dari perajin. Photo by Shita R

Rumah joglo itu penuh dengan falsafah Jawa. Lihat pada bagian tumpang sari yang berbentuk segi empat berundak-undak, makin ke atas semakin kecil yang artinya semakin dirimu mendekatkan diri pada Tuhan, maka sudah semstinya jika harta benda mejadi semakin kecil nilainya dalam kehidupan. Bukan berarti kita jadi menolak hidup yang sejahtera, tetapi semakin banyak bagian harta kita yang disumbangkan pada yang membutuhkan karena memandang harta bukan lagi bagian terpenting dalam hidup. Bentuk bubugan yang makin mengecil itu juga dapat kita lihat pada bentuk Piramid Mesir yang berbentuk limas, yang menunjukkan ketinggian merupakan lambang komunikasi untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Dhodog Wesi merupakan kayu besar yang menghubungkan empat bagian soko guru. Semakin besar ukuran dhodog wesi semakin besar pula rumah yang dibangun artinya juga menentukan semakin mahalnya harga rumah. Bagian ukiran yang menjadi hiasan sketsel dan yang membingkai pinggir jendela yang berbentuk seperti tirai disebut kleweran. Sebagian besar motif kleweran yang digunakan adalah motif flora, dedaunan, bunga dan sulur-suluran. Ini tak lepas dari pengaruh agama Islam, yang tidak menyarankan penggambaran manusia dan binatang sebagai hiasan. Bahkan Sunan Kudus sendiri menciptakan satu motif ukiran joglo yang didasarkan pada bentuk bunga melati. Pernah melihat hiasan pada masjid At Tiin TMII? Nah itulah motif bunga melati yang diciptakan Sunan Kudus.

Sehingga tak heran jika saat ini nilai joglo bisa mencapai ratusan hingga milyaran rupiah, apalagi jika joglo tersebut merupakan warisan turun temurun dan memiliki sejarah penting, seperti dari keluarga terpandang atau karena memiliki nilai sejarah juga akan membuatnya diburu para kolektor.

Nilai  suatu joglo bisa ditentukan oleh banyak variable, diantaranya umur bangunan. Semakin tua umur sebuah joglo semakin tinggi harganya. Begitupun kualitas kayu turut menentukan harga. Joglo kayu jati yang berkualitas Grade A tentu saja beda harga dengan joglo yang terbuat dari jati kualitas grade B atau joglo yang terbuat dari kayu nangka. Kayu jati terbaik berasal dari daerah Blora, karena komposisi tanahnya yang kaya akan kapur dan kering membuat kayu jati dari daerah ini bernilai tinggi. Kerumitan ukiran tentu saja juga menentukan nilai tambah bangunan. Semakin banyak ukiran yang digunakan dan semakin rumit dan detail hiasan yang dipakai tentu saja, berkorelasi positif pada harga joglo. Kayu jati juga bukan kayu yang gampang dikonsumsi rayap dan sudah terbukti mampu bertahan ratusan tahun tanpa rusak asalkan kita mampu merawatnya dengan baik, terutama menghindari kelembapan karena bisa membuatnya berjamur dan mengurangi daya tahan dan kelenturan kayu jati.

pak-tumiyana-dan-ibu

Karena harganya yang mahal dan perawatannya yang rumit, serta syarat tanah yang harus cukup luas membuat joglo hanya dimiliki kalangan elite, sehingga sejak dulu hingga kini joglo merupakan bagian dari supremasi kemakmuran seseorang. Ingat, di Jawa ada 5 hal yang biasanya digunakan sebagai parameter kesuksesan seorang laki-laki. Wanito atau perempuan, istri merupakan salah satu tanda kedewasaan lelaki untuk berani berkeluarga, jika pada jaman dahulu banyak lelaki sukses beristri lebih dari satu, tetapi kini di masa modern justru menilai lelaki sukses itu lelaki yang merasa cukup dengan satu istri dan mampu membuktikan mengelola keluarganya dengan baik. Wisma adalah rumah yang besar dan bagus, tentu saja orang berhasil jaman dulu pasti rumahnya joglo atau limasan yang besar. Turangga , kuda yang bagus sangat dibanggakan di jaman dulu, kini kendaraan roda empat yang mewah atau motor roda dua yang ccnya besar. Curigo  adalah senjata, para raja dan bangsawan biasanya memiliki senjata andalan yang terkenal kesaktiannya. Danang Sutawijaya, Raja pertama Mataram islam memiliki senjata tombak Kyai Plered. Buat orang modern, gadget tercanggihlah kini yang menjadi senjata.  Smartphone yang bisa mengakses pergerakan saham di bursa secara update misalnya. Tolok ukur terakhir adalah Kukilo, yang artinya secara harafiah adalah burung, tetapi yang dimaksud adalah hobby. Burung yang pandai berkicau seperti murai batu, jalak, perkutut menjadi kesenangan lelaki Jawa sukses masa lalu. Nah lelaki sukses masa kini punya hobby yang beragam. Dari traveling, mengoleksi barang antik, koleksi mobil atau jam tangan mewah misalnya, atau memiliki satwa unik yang harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta seperti burung, kuda atau anjing ras tertentu.

Rumah joglo milik Bapak Ir.Tumiyana M.T , seorang pengusaha sukses ini, memiliki rumah joglo yang sangat cantik dan megah di Jakarta loh,bukan luar kota. Sebagai seorang yang menginginkan segala hal harus prima, beliau selalu menekankan hasil terbaik dari pengerjaan rumah joglonya. Joglo yang dibuat pada tahun 1861 dan dibuat ulang dalam versi yang lebih indah dari aslinya. Seluruh bangunan full dengan ukiran Jepara yang terkenal keindahannya. Seluruh bagian rumah dari pintu depan, jendela, gandokan, dhodog wesi full ukiran yang rumit dan halus.

trawangan jenis ukiran yang rumit dalam pengerjaannya. Photo by Shita R

Rumah ini juga memiliki kleweran jenis trawangan, ragam hias yang paling rumit tingkat pengerjaannya karena berbentuk tiga dimensi. Perlu pengukir yang memiliki pengalaman dan keahlian tinggi yang bisa mengerjakannya. Lihatlah cantiknya klewer di jendela saat terkena sinar matahari, membentuk shilloute terawang yang indah bukan?

joglo5

Bangunan semakin cantik dengan lampu susun raksasa di ruang tengah yang dibuat secara khusus oleh para perajin dari Jawa. Begitupun patung Raja Hayam Wuruk, Patih Gadjah Mada dan para punggawa raja yang dipesan dari Muntilan, dekat Magelang dengan material batu gunung Merapi yang terkenal berkualitas. Begitupun burung-burung yang ditempatkan pada kandang raksasa dan sebagian tergantung di teras belakang dan setiap hari mengeluarkan suara merdunya. Favorit saya, memberi makan ikan mas koi yang bagi kepercayaan Tionghoa sebagai lambang kemakmuran dan keberhasilan. Ikan koi yang cantik-cantik itu berada di kolam berkecipak riang saat kita beri makan dan jinak saat kita mengggoda dan mengelus badannya yang licin.

musholla mungil yang full ukiran kaligrafi ayat suci. Photo by Shita R

Di halaman belakang dilengkapi dengan musholla mungil yang penuh dengan ukiran kaligrafi yang indah. Bayangkanlah,..betapa nyamannya salat di ruangan terbuka di antara semilir angin yang membawa kesejukan, di antara cantiknya bunga anggrek dan rumput yang menghampar hijau.Dijamin betah berlama-lama di rumah joglo begini.

Para pembaca pasti pernah melihat Pak SBY beberapa kali berpidato di depan rumah joglo beliau di daerah Cikeas, salah satunya saat terjadi reshuffle cabinet, pak SBY tidak melakukan pidatonya di istana Negara, justru di depan rumah joglo beliau. Begitupun Pak Prabowo Subianto, sering menerima tamu-tamunya di rumah joglonya yang besar dan mewah di daerah pertaniannya di pinggiran Kota Bogor. Pak Anies Baswedan juga dikenal kecintaannya pada budaya Jawa dan memilih rumah joglo sebagai tempat tinggal. Ibu Tien Soeharto juga menempatkan rumah joglo, di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Mereka adalah orang-orang yang punya kedudukan penting di masyarakat. Nah,…jelas bukan jika joglo adalah salah satu supremasi kalangan atas masyarakat Jawa?

anda dapat baca artikel ini juga di http://www.kompasiana.com/amatamorgana/joglo-lambang-supremasi-kemapanan-masyarakat-jawa_582922950123bdbf06617766

 

Continue Reading

Bab I : Keganjilan Edisi Revisi

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Spektrum warna berputar-putar di seluruh tempat. Sinar matahari yang memaksa masuk menerobos celah jendela mobil membuat cahyanya makin cemerlang. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di tiap warnanya yang berpendar. Merah, oranye, biru, magenta……berputar dan berlari, mengerling dan memburai. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang lagi ke kiri, sebentar kemudian hinggap di sebelah kanan lalu membumbung tinggi lagi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di hari yang cerah. 1,2,3,4,5,6,7,15,36,49,50…….102…Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipi, memaksa menoleh ke arah suara.

“Faith sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Bergerak +1..mundur..-1, berputar 360◦…..melompat X₂…

Matanya berlari menjalari pandang mataku yang liar bergerak-gerak. Memeriksa dengan seksama adakah yang salah pada mata ini. Ok..ok…aku tahu maumu!

Terpaksa menetap mata Bunda meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku. Kata dokter ke bunda harus sering-sering membuat kontak mata . Ketika aku sudah mau meleng lagi karena lingkaran yang melayang beberapa pergi, Bunda masih memaksaku menatapnya.

“Sayang,..kalau bunda panggil harus nengok ya. Cape dong bundanya kalau harus mencari wajah Fatih terus. Kita sudah sampai rumah sakit nih! Yuk..jalan!”

Suuaranya lembut, seperti biasa. Tak ada suara keras hardikan atau ungkapan kekecewaan. Ih..dia memang baik banget. Digamit paksa tanganku, memegang kaki telanjangku lalu memakaikan sandalku yang sudah kucel jelek bau, tapi Bunda tahu aku tak mau sandal yang lain. Baunya beda, ketebalannya beda, lembutnya juga beda. Aku tak suka sandal lain. Apalagi kalau baru. Ih….bikin geli!

Bunda mengeluarkanku dari mobil. Aku…? terpaksalah membawa kaki-kaki kecil ini terseret mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan. Apalah yang bisa dilakukan bocah berbadan seuprit begini? Sepanjang jalan sampai ke suatu ruang yang banyak kursi berjejer dan orang-orang duduk di sana. Aku benci keraian. Aku tak suka banyak orang lalu lalang. Mereka membuat gerakan lingkaran tak teratur yang membingungkan! Aku benci.

Bunda menerima kartu dari perempuan berbaju putih da nada angkan di situ. Aku suka angkanya. Besar..tebal..hitam penuh pada sebuah kertas berbentuk segi empat. Lalu membawaku duduk di sudut yang tak banyak orang. Ah…untunglah.  Lalu ia mulai melanjutkan bicara yang membingungkan itu. Menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. Aku tahu ia ingin aku meniru ucapannya. Tapi aku kesal, ia buat aku menjauhi lingkaran-lingkaranku di kaca jendela mobil tadi. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Sebuah papan lumayan tebal bergambar mahluk berkaki empat berjanggut tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi di padang rumput hijau. Juga gambar sikat dan pasta gigi. Apa kambing juga harus sikat gigi? Aku benci iklan sikat gigi karena gigiku habis. Entah kenapa tapi Cuma menyisakan sisa-sisa yang kalau aku tersenyum beberapa orang lalu berkomentar, Ih Fatih ..ompong. Dan mereka tertawa. Apanya yang lucu?? Aku tidak suka!

Aku tahu padang rumput tempat kambing itu seperti di rumah teletubbies. Aku suka teletubbies, mereka tak perlu mengucapkan kata-kata untuk saling bicara. Cukup bunyi-bunyi aneh dan mereka saling tertawa. Terlihat bahagia. Meski aku juga tak suka acara berpelukannya. Ih…jijik! Aneh! Rasanya kulitku jadi meremang kalau ada yang memelukku. Jangan dekat-dekat kaliaaan! Aku benci sentuhan!

Tapi….kecuali pelukan bunda, yang selalu bikin aku nyaman. Tangannya yang halus mengelus-elus punggungku saat aku demam, tak mau makan, ingin muntah, ingin ngamuk tapi tak tahu kenapa. Bunda akan datang, memelukku erat dan mengusap punggungku dalam gerakan memutar yang lembut berulang-ulang. Nyaman sekali rasanya. Bisa kudengar detak jantungnya seperti lullaby, membuatku ngantuk dan tertidur di dadanya. Deg..1…deg..2…deg… 3…deg…8…deg..37….deg..115…

“Fatih…”

Ah, kau membuyarkan lamunanku!

“Kambing…..apa sayang? Kambing…K-a-m-b-i-n-g… “

Mulutnya komat kamit aneh. Kadang bibir monyong ke kiri atau ke kanan sambil mata membuka lebar. Alisnya bergerak ke sana ke mari tak beraturan. Bundaku lucu. Aku tertawa.

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu.

K-a-m-b-i-n-g…..

Kata yang aneh itu dirapalnya sekali lagi. Dan lidahku kenapa kelu? Aku memilih diam. Ah,..kaku banget sih buka mulut saja aku tak bisa! Melihatku diam saja, ia mengganti kata yang sepertinya lebih enak didengar dan diucapkan.

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan kata aneh sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Lebih gampang sih. Mata melotot dan jarinya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, anak-anak seusiaku melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka. Mengajak bocah-bocah itu  menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya bersama. Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku. Aku tak mauuuuuuu…!!

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeh….”

Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah………. sekali aja,aku Cuma ingin kau berhenti menggangguku!  Aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Bocah-bocah itu mengangguk penuh harap.  Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Tapi suaraku aneh. Beda…..Parau seperti suara gagak yang katanya menjadi pertanda ada kematian. Bunda mengajak mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a….”

Aku berusaha lepas, ingin lari,  melihat cahaya terpantul di sudut jendela kaca yang bertekstur abstrak. Ada pantulan warna-warni di sana. Berusaha melepaskan diri dari pegangan Bunda. Tapi ia lebih gesit. Ditangkapnya aku lagi. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Aku diam.

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku diam. Ogah mengulang. Bukan permainan yang menarik.

Sampai perempuan berbaju putih menyebutkan angka dan Bunda menggendongku masuk ke ruangan itu. Bau menusuk, tak tahu apa itu. Bau aneh yang menyebalkan. Selalu bau ini yang menyergap kalau bertemu laki-laki bermata empat berbaju putih. Tapi aku suka benda-benda logam di mejanya yang berkilau. Semua memendarkan cahaya tertimpa nyala lampu listrik di atasnya dan mengeluarkan bunyi “ting….yang jernih saat bergesekan satu sama lain ketika lelaki baju putih itu menyentuh benda-bendanya dalam gerakan tak beraturan.

“Hallo..Fatih. Ih lama tak kelihatan ya…sekarang waktunya imunisasi..”

Aku dengar Bunda bicara padanya tapi aku tak tahu apa. Pembicaraan orang tua selalu membosankan bukan?

Cuma bingung, aku melihat bocah-bocah seusiaku keluar satu persatu dari ruangan dengan gambar balon dan badut berhidung merah tapi berbau tajam aneh itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung.

Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala anak di TV yang suka bawa ransel dan Map dan selalu bilang, “Kemana kita?”…. Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh lelaki setengah baya berbaju putih itu. “Cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih itu memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda bangkit dari duduknya, menggendongku lalu kembali duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Mau diapain sih? Lelaki paruh baya itu tersenyum mendekatiku. Ia membawa benda pipih yang sama, dan berkilat terpantul cahaya. Aih..spektrum warna. Merah..hijau…bitu…magenta.. makin lama benda itu makin mendekat, juga matanya yang ada empat aku melihat lingkaran bertumpuk-tumpuk di matanya. Bagaimana caranya ia punya mata keren begitu ya?

Ia mengusap lenganku dengan kapas bercairan yang terasa dingin di kulit. Lalu menancapkan jarum pipih itu ke lengan. Setitik darah keluar dari lengan. Bunda menahan nafas. Kulihat ia menunjukkan wajah ngeri. Memangnya ada apa? Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu ketika jarum bersinar itu menusuk lengannya?

Perempuan berbaju putih ternganga menatapku tapi tak lama bicara,“Anak pinter,..jagoan sekali….kok ngga nangis ya? Bunda Jagoannya hebat deh”…? Pujinya. Bunda tersenyum tipis mengambang, tapi tak kelihatan happy. Ia melihatku seksama, mencari-cari seolah ada yang salah. Kenapa Bunda?

Apa Bunda bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Meraung-raung seperti bocah beransel dan bawa map? Tapi kenapa aku harus menangis? Aku tak suka meraung-raung jika tak perlu? Aku lega Bunda membawaku keluar dari ruangan bau aneh menusuk itu.

Dua orang orang ibu-ibu yang sepertinya dari tadi duduk di kursi paling depan menunggu giliran, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat. Lalu saling berbisik. Aku bisa mendengar suaranya.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi dan tak melihatku lagi. Hush…hush….Aku baik-baik saja…!

Bunda maju, mendekati keduanya dengan tatapan tak suka, memandang tajam seperti melihat setan yang harus dimusnahkan. Mereka kikuk lalu menjaga jarak satu sama lain. Uh Bundaku memang hebat!

Bunda menggendongku dan duduk lagi di kursi. Ia menelpon Ayah. Sementara aku asik melihat bocah lain sedang bermain bola warna-warni. Bolanya memantul ke lantai berkali-kali dalam gerakan yang zig zag. Ia lari ke sana ke mari mengejar bola dan memantulkannya lagi. 1…, 0,5…, 0,75….1,02….

“Ah..itu Ayah datang! Ayo Nak!”

 

Continue Reading

Bab I Keganjilan

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Aku melihat bocah-bocah keluar satu persatu dari ruangan sempit itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung. Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala ank di TV yang suka bawa ransel dan Map.

Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh seorang lelaki setengah baya berbaju putih. “cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih membawa buku memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda menggendongku lalu duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Lalu ia berbasa-basi dengan lelaki yang dipanggilnya, Dok. Ketika lelaki itu melakukan hal yang sama padaku, aku tak tahu apa rasanya. Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu?

“Anak pinter,..ngga nangis ya/ Jagoan banget sih…? Puji si baju putih.

Tapi…kenapa bunda sepertinya bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Tapi kenapa aku harus menangis?

Sore itu sinar matahari sore menerobos kaca jendela. Spektrum warna-warni berputar-putar di seluruh tempat dekat jendela rumah sakit.ini. Bau aneh sih, orang bilang itu bau obat, tajam menyergap hidung, tapi tak ada artinya buatku. Sinar matahari yang masuk menerobos melewati celah jendela membuat lingkaran-lingkaran maya itu makin cemerlang, membuatnya terdegradasi. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di udara dari tiap warnanya yang berpendar. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang ke kiri, ke kanan lalu membumbung tinggi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di pantai berpasir putih pada hari yang cerah. Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok. Lagi asik.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipiku, memaksa untuk menoleh ke arah suara.

“Fatih sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong Nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Dipaksanya aku menengok dalam gerakan pelan Matanya berlari menjalari pandang mataku. Terpaksa kami beradu pandang meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku.

“Sayang,..kalau Bunda panggil harus nengok ya. Cape dong sayang bundanya kalau harus selalu mencari wajah Fatih dulu. Kamu pinter ya ngga menangis diimunisasi. Bunda tak sabar ingin cerita kalau Ayah nanti datang menjemput!”

Suara lembutnya. Ia gamit paksa tanganku, memakaikan sepatuku dan aku terpaksa membawa kaki-kaki kecil ini mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan di sepanjang koridor rumah sakit berbau aneh. Sepanjang jalan ia menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu. Kata yang aneh. Dan lidahku kenapa kelu? Susah sekali digerakkan?  Ya udah, diam sajalah. Ah,..kaku banget siiiiih buka mulut saja aku tak bisa!

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan lebih keras sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Mata melotot dan kedua jari kiri dan kanannya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, bocah-bocah seusiaku yang barusan lewat melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka sambil melambaikan tangan. Ih..sok imut bocah deh! Ia mengajak mereka menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya serempak. “Mbeee……” Lalu tertawa merasa seolah itu lucu.

Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku.

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya lagi sambil berseru riang. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeaaah….”

“Pinter!” Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi sampai pipi rasanya basah. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah sekali aja, aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya lagi bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Suaraku aneh tak enak didengar. Parau seperti suara gagak yang kata Yangti menjadi pertanda ada berita kematian. Mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a  m-a-t-a-h-a-r-i!”

Aku lari, menggeleng. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Mereka lari! Hey tunggu!”

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku kesal, kusibak tangannya. Dua orang orang ibu-ibu lewat, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi.Hush…hush…. “Aku baik-baik saja…!” jeritku dalam hati.

Bunda maju, mendekati keduanya. “Maaf anak saya bukan tontonan.”

Digamitnya tanganku, menggendongku menciumiku sambil melangkah pergi terburu-buru sambil berbisik, “Tak usah dilihat ya, Sayang. Eh…ayah sudah datang. Yuk!”

Continue Reading

Resensi Bagian Pertama 3 Novel

novel elysium

Saatnya mengerjakan peer di hari ke 4 (bacanya ala Doraemon bacain judul film)

Oke, aku bersemangat sekali mengerjakan peer ini, berasa jadi anak sekolah lagi. Jadi bener kata Renee Soehardono, kalau kamu memgerjakan sesuatu karena passion kamu di situ ya udah jadinya menggebu-gebu kayak gini. Tapi sayangnya ada keterbatasan waktu. Pengennya kasih hasil yang terbaik apalah daya…ga bisa ke toko buku karena kemarin hujan badai melanda susah ke toko bukunya. Akhirnya bongkar-bongkar koleksi sendiri yang sudah banyak dipack dan memilih tiga novel dari genre berbeda untuk dibahas.

Yang tersisa di rak buku tak banyak ternyata (pada pinjem ga balik, sebagian dudah disumbangkan) padahal pinginnya bahas satu triller novelnya Stephen King Carrie yang difilmkan dengan artis Chloe Grace Moretz, satu romans yang aku suka  dari Tere Liye Daun Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin (judulnya aja puitis gitu kan), satu yang lucu ala Raditya Dika gitu. Tapi aku tak menemukannya yah akhirnya dapat tiga buku yang memiliki pembukaan yang menarik. Cekidot di bawah ….!!

elyx1

Petir ( Dewi Lestari)

Genre : science Fiction, alur campuran maju mundur.

Trilogy Supernova, Dewi Lestari,280 halaman, Bentang Pustaka, 2012, best seller juga.

Petir merupakan novel tetralogy Dewi Lestari sejak Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, disambung Partikel dan Intelegensi Embun Pagi.

Aku suka novel Dee karena ia menumbuhkan imajinasi para pembaca, kelihatan kalau penulis ini banyak membaca dan punya pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga karyanya membuat kita sebagai pembaca mendapat sesuatu yang baru.  Bisa belajar hal yang asing kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyisipkan puisi di awal novel (mungkin untuk seseorang yang sangat dicintai), karena kalau dilihat dari isi puisi itu terjadi pergulatan batin antara keinginan bertahan dalam satu hubungan karena orang itu sangat berarti dalam hidupnya tapi ada hal-hal yang tak bisa mereka satukan yang akhirnya membuatnya seseorang ini pergi darinya. Padahal ia ingin bersamanya hingga akhir.

..Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi

Bersiap diri untuk selamanya lelap

Andai kau sadar arti pelitamu

Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu…..

Setelah ini Dee memulainya dengan Bab I.  Dee memakai resep yang sama dengan Shidney Sheldon di If Tomorrow Comes , yaitu menerbitkan rasa curiosity pembacanya. Cerita dimulai ketika Dimas si tokoh kebingungan mencari hadiah ulang tahun untuk kekasihnya. Di awal sempat berpikir kalau seseorang yang dimaksud Dimas adalah perempuan meskipun tak suka bunga tapi suka bunga bank. Tipikal cewe kan?  Hingga ke bagian pisau Swiss aku baru ‘ngeh” kalau ini jenis cinta terlarang. (Please simpan komen itu kan dosa….kita bahas isi buku ya..)

Pisau. Kekasihnya berpendapat kalau pisau Swiss termasuk salah satu temuan paling jenius sepanjang peradaban manusia dan sudah punya sedikitnya dua belas.

Ini clue-nya. Seorang cewe backpacker super macam Trinity sekalipun paling punya satu bukan 12.

Bab satu ini juga langsung menggambarkan karakter tokoh Dimas yang hidupnya mapan, menyukai rutinitas yang sama, pecinta buku, gay pastinya (maaf ya agak risih sebenarnya nulis ini..tapi kenyataannya begitu) setia pada pasangannya, nerimo tapi juga ngambekan ala perempuan. Bab I ini juga berfungsi sebagai penaut kisah Diva Anastasia, tokoh misteri  di novel Dee yang sebelumnya. Karena fungsi Dimas dan Ruben sampai buku ke tiga ini (saya belum baca 2 buku setelahnya) lebih sebagai penyambung, narrator sebuah cerita panjang, bukan tokoh utama di dalam novel.  Penggalan kalimat yang kusuka sih ini …akan lebih mudah bagi mereka jika punya cincin emas tanda pengikat, yang merangkap fungsi sebagai stiker “Awas Anjing galak!”  dan ini ..Barangkali Cuma cinta, dan cinta tak butuh aksara. Dee selalu punya bahasa yang khas dirinya, bukan bahasa pasaran dalam banyak novel. Dia punya imajinasi tinggi juga selera humor yang sama baiknya. Dan kosa kata eskapisme,melatonin dan Rio Tampobata di bab I ini sukses membuat saya googling, apa sih itu?

elyx2

Pulang

Genre : roman mungkin. Ada yang bisa bantu?

Tere Liye, 400 halaman, Republika, cetakan I pada Sept 2015

Tere Liye juga penulis fiksi jempolan. Kalimat-kalimatnya sering membuat pembaca hanyut dalam rasa yang dialami tokoh-tokohnya, dan aku yang memang sentimental dan mata yuyu ini (istilah Jawa buat orang yang gampang terharu untuk hal-hal kecil sekalipun) sukses dibuatnya berhidung merah mengembang seperti tomat dan berlendir (hehe..sorry) plus mata dipaksa mengeluarkan cairannya berliter-liter, coba kalau sama mahalnya dengan air mata duyung yang katanya berkhasiat itu, bisa kaya rayalah aku dari baca novelnya saja. Tapi berhubung novel-novel Tere Liyeku yang lain raib entah kemana  jadi ya pilih Pulang, buku terbaru Tere Liye yang kubeli.

Tere Liye juga punya bahasa yang khas mendayu-dayu tapi tak terkesan cengeng. Membaca karyanya itu seperti membaca dongeng ajaib untuk kita yang kadang sudah apatis menghadapi hidup dan rutinitas. Ceritanya kebanyakan seperti telenovela dan drama korea, membuat kita punya kesempatan bermimpi. Too perfect to be true sih. Kehidupan si tokoh sering selalu mengalami kebetulan-kebetulan yang menakjubkan jadi jalan untuk punya kehidupan yang teramat sempurna,  yang kayaknya cuma 1% manusia bumi bisa mengalaminya. Jadi otakku kadang sudah memberi warning begini, awas anda berada di kawasan surealis, silahkan tetap di aliran realis, padahal aku lebih suka aliran ekspresionis hehe…  jadi berasa lihat rokok dan baca tulisan peringatan, awas merokok bisa menimbulkan kanker, serangan jantung, lemah syahwat dan keguguran. Udah ngeri duluan padahal juga ga doyan rokok. Nah mungkin buat para penduduk 1% dunia itu, karya Tere Liye ya berasa kaya pecandu rokok saja, setelah baca tulisan peringatan cuma bilang halah cemen..…

Nah di bab I buku ini Tere Liye punya resep yang berbeda dengan penulis di atas. Ia mulai dengan mengenalkan karakter tokoh utama secara terperinci dan menjadi dasar dari semua jalinan cerita yang akan terjadi kemudian. Ia menceritakannya ala pendongeng, dengan bahasanya yang imajinatif , deskriptif tapi terkadang terkesan hiperbola juga jalinan ceritanya. Kok berasa aku ini temannya si statusisasi kemakmuran Vicky ya? Wes embuh lah, tapi buku ini kalau secara pribadi kumasukkan buku motivasi, sebelahan sama Anthony Robbins To build A Giant Within, Biografi Steve Jobs dan Merry Riana, Mimpi Sejuta Dollar hehe….

Kalimat-kalimatnya sederhana, dengan kata-kata biasa, tapi mengalir lancar membuat pembaca tak bisa berhenti menghabiskannya dalam sekali baca. Begitulah aku kalau pegang novelnya si pendongeng Tere Liye ini. Harus langsung selesai. Ia menceritakan Si Bujang dengan alur flash back bagaimana ibu bapaknya bertemu, menghadapi tentangan keluarga ibunya yang religious  karena ia memilih seorang centeng yang lekat dengan tindakan kriminalitas, dan sebagai lelaki sejati yang telah menetapkan pilihan, bapaknya Bujang akhirnya memilih keluar dari dunia hitam karena ingin menentramkan hati istrinya, berdua mereka menjauhi hiruk pikuk dunia, tinggal di ladang terpencil dekat hutan dan membesarkan Bujang dalam kesunyian. Ibunya yang pintar dan religious sendirilah yang mendidiknya (homeschooling ala-ala gitu deh). Ibu dan ayahnya yang bagaikan minyak dan air itu karakternya bisa bersanding harmonis karena komitmen mereka terhadap pernikahan. So sweet bukan? Kadang lelaki yang kelihatan keras malah berhati lembut, loh kok curhat,…haha abaikan ini.

Nah,..penggalan kalimat yang kusuka dari novel ini adalah  Semua masa lalu ditutup. Mereka memulai kehidupan baru. Berapa orang yang bisa ekstrim bersikap begini? Karena manusia pada dasarnya suka mengenang sejarah hidupnya. Juga totalitas Bujang saat berhadapan dengan raja babi hutan,  Maka jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik . quote ini menggugah adrenalin kan? Juga ini. Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Kok tidak romantis? Memang. Ini kan roman tanpa kisah percintaan!

novel elysium
novel elysium

If Tomorrow Comes,

genre romance misteri

Shidney Sheldon,689 halaman, terbit pertama 1991, Gramedia, cetakan ke 12 (di tahun 2012)

Kita semua tahulah karya Shidney Sheldon itu sudah mendunia dan jadi best seller beberapa kali. Seperti Mira W nya Indonesia. Karyanya masih laris dan masih diterima pasar hingga sekarang. Novel ini menceritakan perjalanan hidup Tracey Whitney, seorang gadis muda dari kelas bawah yang bekerja di sebuah bank dan mengurus penyaluran uang antar cabang bank. Ia yang betanggungjawab memeriksa apakah uang yang telah ditransfernya  sudah akurat kebenarannya. Tanggung jawab yang berat karena jika ia salah maka jutaan dolar Amerika bisa salah masuk rekening atau beda jumlah dsb. Tracy Whitney melaksanakan tugasnya dengan baik. Sampai akhirnya ia bertemu Charles Stanhope, dari keluarga terkemuka, dan memutuskan untuk menikah. Ternyata pernikahan itu hanya sebuah jebakan (batman?) bagi Tracy. Ia dimanfaatkan Charles untuk kepentingan keluarganya dan akhirnya Tracy yang menjadi kambing hitam. Menjalani kehidupan pahit, Tracy tersadar bahwa untuk tak diabaikan dan diinjak-injak bahkan oleh orang yang dicintainya begitu saja, ia harus menjadi perempuan yang kuat dalam hal apapun. Dan bagaimana caranya, sudah bukan masalah buatnya. Tracy yang manis dan lugu dapat dilihat dari penggalan kalimat …” Aku merasa seperti seorang putri dalam dongeng, Ma”. Kau tak tahu kejamnya dunia di luar sana Tracy (bisikku sebagai pembaca hihi).  Akhirnya ia bertransformasi menjadi Tracy yang ambisius dan penuh taktik. Pelaku kriminal kelas satu demi kekayaan dan kekuasaan.

Alur yang digunakan novel ini merupakan alur gabungan maju mundur. Sidney mengolah novel ini dengan cermat. Terlihat jika ia melakukan riset terlebih dahulu, ia paham bagaimana kinerja perbankan, hingga kode-kode rahasia intern bank yang menyatakan bank aman, dan ia menurut saya riset ke tempat-tempat yang menjadi lokasi cerita.  Sidney membuat pembukaan cerita yang apik di Bab I. Ia langsung meluncurkan cerita seorang ibu yang putus asa, ibu Tracy, Doris melakukan bunuh diri. Sebelum bunuh diri ia menelpon Tracy untuk terakhir kalinya, memastikan bahwa putrinya akan hidup bahagia karena akan menikah dengan keluarga terpandang. Bab I itu singkat, hanya berisi kisah bunuh diri itu akan terjadi dan rasa sedih Doris karena akan meneinggalkan Tracy. Tapi tak dijelaskan apa alasan Doris bunuh diri. Ini yang membuat pembaca jadi penasaran karena di Bab II cerita langsung flashback, tak berkaitan dengan kisah Doris. Mulai memperkenalkan kehidupan Tracy yang sedang bahagia karena akan menikah. Bab I itu digambarkan dengan detail, meskipun singkat membuat pembaca bertanya-tanya motif apa yang membuat Doris bunuh diri?

Nah itulah perbandingan tiga novel yang kubaca kemarin dan baru bisa upload sekarang.

Continue Reading

Kamu Elysiumku Fatih….! Emang Elysium Apaan Sih?

 

 

Elysium adalah sebuah novel yang menceritakan perjalanan hidup seorang anak autis yang sering menjadi korban bully teman=temannya. Yah…kau tahu kan bagaimana rasanya dibully? Kalau kamu pernah kena bully walau sekali saja seumur hidupmu, kamu pasti bisa merasakan betapa sakitnya dibully. Direndahkan dihina-hina. Atau jangan-jangan justru kamu yang menjadi pelaku pembulian? Ckckck…Haduuuh jangan sampai ya..

Nah nanti di cerita ini Si Fatih yang dianggap teman-temannya aneh sejak ia kecil karena ia pengidap Asperger syndrome (masuk spectrum autis tapi masih bisa sembuh)  ini sering jadi korban bully teman-temannya. Ia dejek, dipermalukan diumpetin barang-barangnya biar ngamuk, karena anak autis sangat tertib, jika ada satu saja  barangnya yang hilang, ia bisa panic dan jadi tantrum. Tantrum adalah gejala kemarahan yang bisa membuat anak tersebut berteriak-teriak di luar kendali, terserang panic dan kebingungan yang akan membuat lingkungan di sekitarnya jadi memperhatikan kelakuannya dan ia akan semakin dianggap aneh. Itulah yang diinginkan para pembully.

Elysium dalam bahasa latin mirip dengan istilah shangrilla (opo meneh ikiiii…..) yang diambil dari legenda-legenda Yunani kuno yang artinya surga…..klu anak alay bilangnya Syulga…..kikikik… Sebuah tempat yang indah buat siapa saja, membuat siapapun yang hidup di dalamnya merasa bahagia. Bukankah saat kita merasa sedih atau galau selalu butuh sebuah  tempat memulihkan diri, untuk bersandar melepas penat dan beban berat?

Karena selalu  jadi korban bully, Fatih jadi bersemangat untuk membuktikan pada dunia, kalau dia jauuuh lebih baik dari para pembullynya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa seorang anak autis juga berharga, punya cita-cita yang mulia dan ingin menjadi bagian terhormat dari masyarakat. (soundtrack genderang perang bertalu-talu…Fatih pakai baju besi di depan siap memberi komando…ups salah,..itu film Gladiator)

Karena itu Fatih jadi bersemangat melakukan langkah-langkah perbaikan diri. Dimulai dari menata konsentrasinya agar bisa lebih focus, olah raga untuk memperbaiki system syaraf limbycnya agar ia tak mudah jatuh atau terantuk sesuatu biar jalannya lebih gagah juga, ga asik kan kalau tokoh utama jalannya kayak orang habis diputusin pacarnya atau malah melambayyy…?, ga cucok deh bow!

Ia juga memperbaiki cara bicaranya yang sering mengulang-ulang dan dibantu Bunda Miranti, Fatih melakukan diet ketat gluten dan casein free (opo meneh ikii jilid 2), menjaga makanan yang masuk ke tubuhnya dengan menghindari makanan instant dan yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti coloring food, pengawet atau penyedap rasa. Fatih juga tekun belajar dan selalu ikut berbagai lomba (bahkan lomba panjat pinang sampai bunda tereak-tereak nyuruh Fatih turun) meski ia selalu yakin ia akan kalah tapi ia mencoba terus supaya punya banyak pengalaman. Ia ingin menjadi anak yang membanggakan bagi bundanya, karena ayah Fatih pergi meninggalkan keluarga karena malu punya anak autis dan menyalahkan bunda Fatih lalu menikah dengan perempuan lain. Ini menjadi dendam bagi Fatih, untuk membuktikan pada ayahnya kalau ia anak yang berharga. Kalu ia juga hebat. Yes! Fatih terus berusaha ya.

Yang aku ingat beberapa hari kemudian, Ayah tak pernah lagi pulang ke rumah. Dan kulihat Bunda yang hanya mengurung di dalam kamar.Terbaring menghadap jendela selama berjam-jam. Tak bergerak. Kadang saat aku mengintip, tubuhnya membeku dan tiba-tiba roda-roda yang sedang kuputar dalam spectrum warna-warni pelangi itu menjadi tak menarik lagi. Ada kekuatan yang menuntunku ke sana, ke tempat Bunda.  Itu bukan bundaku, yang biasanya setiap pagi bangun dan menyiapkan sarapan di meja dengan setangkai bunga rumput sebagai penghiasnya.

Bukan bunda yang diam tak bergerak seperti rongsokan tua yang sering kulihat di tempat kuburan mobil di mana kutemukan banyak sekali roda.

Aku mendekat, mengelus-elus  punggung bunda pelan. Itu yang selalu dilakukan Bunda saat aku sakit, atau saat ia melihatku duduk sendiri sementara anak-anak lain berkejaran dengan riangnya. Ia akan datang mendekat lalu mengelus punggungku lembut dan menciumku. Rasanya nyamaaan sekali dan rasa sakitku perlahan jadi hilang. Ajaib ya?  Semoga elusanku juga bermantera ajaib buat Bunda.

Nah,..tokoh bunda Miranti d sini, karena ia seorang ibu, ia sangat mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati. Ia tak peduli bahwa Fatih Autis. Ia ingin Fatih dapat hidup normal seperti adiknya, seperti anak-anak lainnya. Maka Bunda dengan segala upaya berusaha membuat Fatih keluar dari jeratan autism. Bunda memprioritaskan biaya bulanan terbesar untuk Fatih agar ia bisa selalu bisa kontrol pada dokter ahli, melakukan terapi yang diperlukan, minum suplemen obat-obatan yang akan membantu memperbaiki kerusakan di otaknya, melakukan detoksifikasi yaitu pengeluaran racun dari tubuh Fatih dan selalu menyemangati Fatih dengan kata-kata yang menggugah semangat Fatih untuk sembuh, untuk menjadi anak yang sehat, menjadi anak yang “normal”. Sambil mengelus punggung anak kesayangannya di teras kayu mereka yang teduh dengan rimbun daun mangga, Bunda bicara lirih,

“Sayang…tugasmu bukan untuk menjadi hebat! Tapi cukup bagi Bunda jika Fatih bisa merasa hebat! Bunda tak butuh Fatih rangking berapa, berapa nilai yang Fatih dapat, tapi Bunda akan bahagia kalau Fatih mau berusaha sekuat yang Fatih bisa. Bunda tak menuntut Fatih buat jadi yang terbaik, tapi cukuplah Fatih beri usaha yang terbaik. Itu sudah cukup, Nak. “ …

Aku masih menggenggap erat raport yang ingin kusobek karena malu dengan nilai yang tertera. Tapi demi melihat Bunda yang tak marah melihat angka-angka memalukan itu, begitu tenangnya ketika ia bicara, batu besar yang dari kemarin memenuhi rongga dadaku mendadak remuk menjadi serpihan dan jatuh satu persatu.

Karena Bunda menyakini kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya bahagia, melihat anaknya sukses. Bunda bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, karena itu ia sering tidak ada di rumah. Bunda meminta Fatih menjaga adiknya, untuk melatih rasa tanggung jawab, untuk belajar bersosialisasi, untuk belajar mengenal perasaan, hal yang buat Fatih di awal, menjadi sesuatu yang asing baginya. Tapi Ibu bisa melihat Fatih tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, penuh empati, jujur dan punya cita-cita besar untuk melihat ibu dan adiknya bahagia.

Nah kalau si cantik Kinasih ini memang dididik orang tuanya untuk bersikap manis pada siapa saja. Tumbuh dalam keluarga yang harmonis, meskipun tak kaya raya tapi berkecukupan.  Kinasih tak suka melihat ketidak adilan di sekitarnya. Begitu ia melihat Fatih selalu jadi korban bully hatinya tak terima. Bukankah manusia diciptakan sama? Punya hak apa sampai memperlakukan orang lain dengan seenaknya? Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu! Ya…begitulah pembaca, si cantik ini sangat terobsesi dengan berbagai komik dan ia mengumpamakan dirinya sebagai si Sailormoon pahlawan (yang sebenarnya cewe galau) yang nanti akan bertemu Pangeran Tuxedo bertopeng yang ternyata….menurut Kinas adalah Batman yang sedang menyamar. Kok?

Yah begitulah dia. Kinasih suka kalau bisa membuat Faith tertawa, karena Fatih jarang tertawa, kadang kalau tertawa suaranya agak aneh. Pertama ia merasa itu ga bener tapi lama-lama jadi terbiasa. Fatih terlihat bahagia kalau sudah melihat pelangi, menelusuri bintang di malam hari, dan memutar roda dan lingkaran. Lingkaran apa saja. Roda sepeda, roda mobil, roda motor, piring, baju polkadot Kinas, sampai tutup gelas dan dream catcer yang bergerak-gerak di tiup angin pada kaca jendela.  Lalu ia tuliskan angka-angka dari tiap gerakan roda dan lingkaran yang diputarnya. Entahlah apa itu. Menurut Kinas itu pekerjaan membosankan. Tapi Fatih suka. Apalagi kalau ia ada di sampingnya sambil membacakan buku atau majalah apa saja. Fatih memang tak terlihat mendengarkan, sibuk sendiri tapi saat Kinas ngambek merasa diabaikan dan menghentikan buku yang dibaca.

“Ooooh jadi gitu aku dicuekin setelah baca buku sampai berbusa-busa begini? Bahkan air minum segelaspun tak diberi. Sungguh t-e-r-l-a-l-u!”

Sudah kumiripkan dengan suara dan mimic penyanyi dangdut itu tapi ia tak tertawa. Matanya masih jelalatan mengikuti gerak roda dan menulis angka-angka yang sama tak jelasnya. Mending kalau nulis jumlah duit aku pasti paham. Lah ini? Tulisan ruwet macam cacing kepanasan begitu?

“Oke aku pergi…!”

“”Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada. Dan setiap orang terhangati karenanya. Meskipun begitu karena matahari tak selalu terlihat, manusia tak mengetahui bahwa kehangatan dan kehidupannya berasal darinya.” ①

Ia menyerocos dengan tangan masih mencoret-coret seperti sandi yang ingin dipecahkan. Kinas tertegun. “Coba ulang!” tantangnya.

Fatih mengulang sekali lagi. Sama persis seperti yang di buku!!! Siapa sebenarnya anak ini? Mahluk apa dia? Tapi dia pasti mahluk ajaib yang kalau tak kujaga baik-baik bisa rusak oleh tangan-tangan bodoh yang cuma bisa bicara dengan tangan dan mulut bukan pakai isi kepala. Ibu benar, bocah aneh ini punya entah apalah itu namanya,yang aku harus ikut menjaganya, menjadi pahlawannya. ya, Sailormoon harus siap beraksi!

Jadi pesan dari cerita ini banyaaaak sekali tapi semoga nanti bisa dimasukkan nilai-nilainya tanpa terkesan nyinyir ya, maklum guru gitu loh pasti kebawa mulu bawaannya mau ngajar, lihat siapa saja berasa lihat murid.

Satu hal yang kuinginkan ketika menulis buku ini adalah, seperti kalau kita nonton bioskop dan lihat film yang bagus, kau pulang dengan kepala penuh dengan inspirasi atau pemahaman baru. Atau kau jadi tertarik untuk membaca buku dan tahu asiknya membaca, kau jadi suka puisi Rumi, atau apapun itu.

Semoga nanti begitu. Jadi bantulah aku dengan support kalian supaya otakku ini mau diajak kerjasama menulis cerita, ide mengalir dengan lancarnya, punya alur yang enak buat diikuti dan harus menarik, jadi kalian akan selalu menunggu episode berikutnya, seperti menunggu-nunggu gebetan terlihat melangkah dari gerbang sekolah eaaaaa. dan dadamu mengembang bagai sekoci saking bahagianya. “Terima kasih ya Allah dia masuk hari ini…(lagak ebay ya).

Yah apalagi sih yang diinginkan seorang penulis selain tulisannya bermanfaat bagi pembaca dan laku di pasaran # eh…..  hehehe.

①dicuplik dari “Renungan Kearifan Cinta Rumi, kumpulan puisi Jalaludin Rumi.

Continue Reading

Berapa Saya Harus Bayar Asuransi Perjalanan?

centraal-station-amsterdam

Pertanyaan dari  pembaca tercinta yang sudah membacapostingan saya tentang persiapan membuat visa di sini dan kiat agar visa kita lolos di sini meminta saya menuliskan berapa sih jumlah yang harus dibayarkan untuk asuransi perjalanan ke luar negeri?

Setahu saya ada dua perjalanan yang harus dicover dengan asuransi. Pertama perjalanan ke wilayah Asia dan perjalanan di luar negara-negara Asia. Tentu saja polis untuk perjalanan di luar negara Asia jauh lebih mahal mengingat aturan yang lebih ketat dan biaya untuk perawatan rumah sakit dan biaya hidup misalnya pasti lebih besar.

Continue Reading

Tiga Karakter Utama “Elysium”

Tiga karakter utama di novel ini adalah

blogtobook8Fatih

umur : 16 tahun

ciri badan :tinggi, kurus, suka slebor sama penampilan sering salah mengancingkan baju, rambut ikal awut-awutan, tapi tak pernah lupa pakai parfum karena wangi itu kebutuhan.

hobby : mempelajari astronomi, mengerjakan TTS, suka makan apapun, semua enak menurutnya, juga membuat lego dan menjawab soal-soal latihan matematika di buku pelajaran dan suka lagu-lagu lama seperti penampilannya yang kuno

Continue Reading

Dimatamu Kutemukan Surga

“Eh awas ada alien mau lewat! Kasih jalan…kalian tahu ga cara dia ngomong gimana?”

Seorang bocah mendelik sambil mangap-mangap seperti ikan keluar dari kolam, tak bisa bernafas, “blup..blup…”

Kelompok bocah lelaki itu tertawa. sayangnya aku tak tahu apa yang mereka tertawakan. Hamster yang berlari di roda putar lebih menarik minatku. Kandang hamster itu terletak di atas laci buku kelas. Aku melangkah mendekat. Dan mereka makin tertawa. “Tuuh kan aku bilang juga apa? Bocah kurang setengah!”

Roda itu masih terus berputar di kandang hamster, bagian tengahnya yang dicat warna-warni membuatnya terlihat warna-warni seperti kumparan pelangi. Aku makin mendekati hamster. “Lihat doong ekspresinya!” Tawa masih riuh sampai kudengar suara nyaring yang takkan pernah kulupakan seumur hidup.

“Reno..!  Jangan gangguin Fatih! Kasihan lah. Apa sih untungnya?”

Ia menyebut namaku. Namaku yang tertulis di rapor, Fatih. Bukan Uus, bukan si setengah, bukan alien apalagi orang aneh.

Continue Reading