Ramuan Paten Paul Green Grass dan Matt Damon di Jason Bourne 5

Jason Bourne poster photo by Shita R
Jason Bourne poster photo by Shita R

Judul Film : Jason Bourne
Tahun pembuatan : 2015
Sutradara : Paul Greengrass
Penulis scenario : Paul Greengrass, Christoper Rouse
Rilis : 29 Juli 2016
Artis pendukung : Matt Damon, Tommy Lee Jones, Alicia Vikander,Julia Stiles

Saya adalah penggemar berat Matt Damon, jadi serial terbarunya sudah dittunggu lama. Sejak ia tampil imut sebagai jenius matematika di “Good Will Hunting”, jadi prajurit muda di film brillian “Saving Private Ryan” bersama Tom Hanks, psikopat ganteng yang iri atas keberuntungan nasib temannya dan ingin mengambil kekasih temannya di “The Talented Mr Ripley”, termasuk di film arisan para aktor dan artis ternama di Trilogy Ocean’s Eleven bersama George Clooney.

Juga setelah ia matang, dan mengeksplorasi dunia perfilman tak hanya sebagai pemain di depan layar tapi juga merambah jadi penulis, bagian dari produser dan belajar menyutradarai film, sama seperti sahabat yang juga mengenalkannya pada dunia film Ben Affleck. Sama-sama ganteng, sama-sama jadi hot daddy (walaupun sepertinya rumah tangga Matt Damon lebih adem ayem dibanding Ben) juga sama-sama konsisten di bidang film dan belajar mengeksplorasi dunia yang menjadi passion mereka.

Meski tampil sebagai cameo di “Interstellar” sebagai astronot yang terjebak hidup di luar angkasa hingga diselamatkan Matthew Connaughy dan Jessica Chastain di film bagus Interstellar, tapi penampilannya sangat mencuri perhatian. Ambisinya untuk memajukan ilmu pengetahuan membuatnya memilih membuang hati nurani dan mencoba membunuh semua astronot yang menolongnya dari kapsul keabadian agar tak kembali ke bumi.

Begitupun saat ia menjadi tokoh Mark Watney dari novel laris The Martian karya Andy Weir dimana Matt Damon berusaha untuk survive di angkasa luar saat ia tertinggal pesawat karena dianggap tewas saat terjadi kecelakaan pesawat luar angkasa. Terbangun dan menyadari dirinya sebagai satu-satunya penghuni planet Mars, Mark langsung menggunakan akal sehatnya. Ia segera memperbaiki saluran komunikasi dan menghitung jumlah cadangan yang dimikinya dibagi masa ia menunggu untuk dijemput awak pesawat. Film ini makin mengokohkan eksistensinya sebagai actor karena diganjar sebagai best actor di beberapa ajang perfilman termasuk nominasi best Actor di ajang Oscar meski tak sukses membawa pulang piala tapi ia mempresentasikan Mark Watney dengan sangat bagus.

Tapi Matt Damon memang identik sebagai jagoan spionase yang makar dari tempatnya bekerja CIA karena kehilangan identitas dan diburu untuk dilenyapkan demi keselamatan beberapa pejabat teras CIA. Film sekuel Jason Bourne selalu laris di pasaran. Dari sekuel pertama Jason Bourne, The Bourne Identity, The Bourne Ultimatium, The Bourne Supremacy. Tangan dingin Paul Greengrass membuat film ini berjalan dalam alur modifikasi maju mundur yang dinamis. Membuat mata tak bisa berkedip menatap adegan demi adegan dan kita takkan mau beranjak dari kursi selama 2 jam 15 menit.

Satu-satunya film sekuel Bourne yang kurang greget adalah Bourne Legacy yang dibintangi Jeremy Renner karena Paul Greengrass yang tidak sepaham dengan producer dan memilih out dari projek film ini. Matt Damon yang memiliki pandangan yang sama dengan Paul, memilih hengkang dan menolak membintangi film ini. Terbukti, film ini tak mendapat tanggapan bagus dari penonton.

Jason Bourne sekuel terakhir yang kembali dibintangi oleh Matt Damon ini sudah lama ditunggu-tunggu para penggemarnya. Kembali dengan formasi lama yang digawangi Paul Green Grass dan Matt Damon dengan teknik ramuan yang sama, gerak kamera yang aktif, terkadang mewakili mata pemirsa sehingga gambar bergerak tak beraturan, perpindahan alur yang cepat dan cerita yang ciamik (aduh ini istilah tahun berapa ya)

Adegan dibuka ketika Nicky Parson mencuri data CIA dan menemukan dokumen rahasia tentang proyek yang menjadikan Bourne sebagai bagian dari kelinci percobaan. Dari situ Nicky melihat peran serta ayah Bourne yang juga bekerja untuk CIA. Nicky menghubungi Bourne dan menyerahkan data rahasia itu pada Bourne. Di tengah kekacauan demonstrasi di Yunani akibat ekonomi yang melemah, Bourne dan Niki dihadapkan pada duel dengan agen CIA yang dikomandai bos CIA langsung Dewey yang tak ingin boroknya terbuka. Dalam insiden kejar-kejaran yang membuat kita harus jeli menatap layar, Niki terbunuh. Bourne yang semula menghilang untuk memperpanjang usia dan mencari nafkah dengan menjadi fighter di arena judi akhirnya kembali tergoda untuk menelususri jati dirinya.

Sementara di markas CIA, kepala IT yang baru, HeatherLee (Alicia Vikander) seorang gadis cantik yang jenius penasaran dengan kisah sang legendaris meminta tanggung jawab penuh pada Bos CIA untuk menangkap Boune melalui file yang diberikan Niki untuk mengetahui keberadaan Jason Bourne.

Yang saya suka beberapa Negara Eropa menjadi seting film ini. Yunani, Italia, Jerman, Maroko dan Amerika tentu saja, menjadikan film ini lebih menarik. Pergerakan yang cepat dari satu tempat ke tempat lain mengesankan betapa dinamisnya dunia intelejen. Penuh intrik, haus kekuasaan dan memanfaatkan berbagai elemen yang dianggap bisa membantu memperlancar kinerja mereka termasuk memeras pemilik sebuah perusahaan IT, Aubolli. Yang menurut saya sih seperti representasi Google kah? Dengan isu-isu Google yang menjadi mata-mata bagi warga dunia. Keinginan Aubolli untuk mengaku bahwa selama ini telah menyerang privacy masyarakat, dibayar mahal dengan terancam nyawanya oleh CIA.
Tak ada gadis seksi di film ini seperti sekuel James Bond yang perlente dan selalu tampil klimis tebar pesona sebagai playboy. Bourne dihadirkan sebagai sosok manusia yang punya hati. Yang merindukan ayahnya. Yang merindukan jati dirinya. Yang sedih atas kematian pacarnya hingga belum memiliki pengganti, bahkan tak juga Nicky mampu menggantikan pacarnya yang terbunuh. Nicky sendiri bukanlah si lemah. Meski perempuan, ia memiliki sikap sendiri untuk berjuang menghadirkan dunia yang lebih sehat bagi semua orang. Dan Nicky sadar pilihan hidupnya memiliki resiko tinggi. Ia menolak diselamatkan Bourne.

Film ini penuh adegan kejar-kejaran yang keren banget dan menegangkan antara Asset musuh bebuyutan Bourne dengan James Bourne menggunakan mobil SWAT. Kejar-kejaran di kota judi Las Vegas yang gemerlap ini keren banget. Ga bakalan rugi menonton film ini. Mata tak berkedip, dan saya sampai tak bisa duduk tenang saking terbawa suasananya.
Bourne memberi nuansa kekuatan feminism yang kental. Bahwa perempuan bukan cuma jadi tempelan di film ini dengan pamer dada dan paha ala film James Bond tapi berperan aktif mewarnai film. Diwakilkan oleh Heather Lee si jenius yang penasaran dengan sosok Bourne akhirnya mempelajari file tentang Bourne agar mampu menangkapnya sebagai bagian dari kemampuan dirinya yang memang mumpuni di bidan IT. Meskipun mungil dan pendiam punya langkah sendiri untuk mengegolkan ambisinya. Bukan Robert Dewey yang memperdaya anak buah cantiknya ini, tapi justru Lee yang berhasil memanfaatkan bosnya untuk meraih posisi yang lebih baik lagi termasuk andil dalam menyingkirkan Dewey dengan mengkhianati misi penangkapan Bourne di Jerman. Terbukti, ketika Dewey digantikan wakilnya, ia berusaha untuk menyakinkan bosnya untuk memanggil kembali Bourne dan menjadikannya sebagai asset CIA. Dan tentu saja, ia yang bertanggung jawab atas proyek itu.

Bosnya yang lebih tahu latar belakangnya bertanya, “Bagaimana jika kau gagal membawanya pulang?” Dengan rasa percaya diri yang besar si cantik ini menjawab, dia berhutang padaku, ia pasti percaya padaku.”
Tapi,..jagoan tetaplah jagoan. Ia berhasil mempecundangi si ahli IT. Kok bisa? Ya bisa…. Penasaran? Tonton saja sendiri ya…. Dan nonton di bioskop ya…. Jangan download hehe

Continue Reading

Menyusuri Air Terjun Sikulikap, Taman Nasional Leuser dan Wihara Lumbini Dalam Sehari (1)

 

sikulikap-shita-rahutomo

Sebuah undangan berkunjung ke Medan dari seorang teman tiba. Sudah lama sebenarnya bercita-cita ke Medan tapi baru kali inilah bisa kesampaian. Naik Batik Air saat berangkat dan pulang menggunakan Citylink, menghabiskan IDR 1.200.000 untuk tiket pp. Lumayan,…di Batik Air dapat makan yang menurut saya enak kok. Dan asiknya Batik Air punya fitur film dan musik di kursi penumpang. sayangnya tanpa headset. Untuk meminjam headset dikenakan charge IDR 25.000 yaah…kalau menurut saya ya mending ga usah pake headset biar hemat hehe…

Berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma pda pukul 18.15 WIB dan sampai pada pukul 20.00 WIB dijemput sang pengundang. Lumayan juga jarak perjalanan dari Bandara Kualanamu ke rumahnya di Citra Grand Medan sekitar satu jam lebih. Naik taxi kami menghabiskan IDR 150.000 an. Yaa,..lumayan lah sama seperti naik taxy dari Kuningan ke Cengkareng, segitu juga.

Continue Reading

Anak Yang bahagia dari Ibu Yang Bahagia

pertama mendengar kalimat ini dari Oprah Winfrey saat masih aktif mengelola Oprah Winfrey Show. Saat itu ditayangkan seorang ibu yang membunuh tiga anaknya karena ia depresi, merasa tak mampu memenuhi harapannya sendiri sebagai seorang ibu. karena merasa gagal itu ia membunuh anak-anaknya. Kejadiannya di Amerika. Si Ibu perempuan baik-baik. Serasa tak percaya. Tapi ternyata beberapa tahun kemudian tragedi ini terjadi di Indonesia. Karena hal yang sama. Ibu merasa gagal mencetak anak-anaknya menjadi teladan maka diputuskanlah untuk “menghapus” proyeknya yang gagal itu.

Continue Reading

Menyusuri Air Terjun Sikulikap, Taman Nasional Leuser dan Wihara Lumbini Dalam Sehari (2)

 photo IMG20160116151018_zpsyavqvuo6.jpg

Setelah kenyang ngopi dan ngemil di Sikulikap, kami menunggu angkutan Sutra (Sumatra Utara) lewat. Kebanyakan penuh bawa penumpang dari bawah. Berapa pemuda bahkan memilih duduk di atas atap mobil. Buat saya sih ngeri lihatnya sperti tak sayang nyawa saja. Mungkin karena anak muda jadi mereka tak punya banyak tanggungan beda sama emak-emak hehe kalau pergi langsung mikir “kalau ada apa-apa anakku gimana ya?” Tapi pergi sih tetap pergi karena jiwanya memang petualang tapi anak itu jadi rem buat kita hati-hati bertindak.

Tak berapa lama, Sutra yang tak terlalu penuh melintas, kulambaikan tangan Sutra berhenti di depan mata. Saya terselip di depan samping sopir berdesakan dengan ibu-ibu yang membawa dua anak kecil sementara teman duduk di belakang. Mobil melaju cukup kencang berkelak-kelok mengikuti jalanan yang sebelah kirinya penuh pohon-pohon besar rindang bagian dari Taman Nasional Bukit Leuser. Kabut mengambang di antara pepohonan. Udara segar dan terasa dingin, terlihat magis, saya jadi ingat film yang ceritanya absurd tapi pemainnya necis ganteng, si mamas Lara Flynn Boyle di film “The Peak” . Scoring musiknya itu loh unforgettable banget.
Lamunan buyar karena tiba-tiba suara berisik memekak telinga menusuk tanpa permisi. Pak Sopir menyalakan radio dan ikut berdendang dangdut dari radio yang menggema kencang. Ah sudahlah,..nikmati saja. Mo protes gimana wong ini mobil angkutannya. Mau diturunin tengah jalan? Ogaaah… Sepanjang jalan, lapak-lapak jagung bakar, kedai kopi dan indomie berjajar sepanjang jalan. Semoga saja sampahnya dimanange dengan baik ya.

Butuh 20 an menit kami tiba di pertigaan jalan yang kami tuju. Kami hanya membayar Rp 5000,00 perorang sampai di pertigaan jalan berhias gapura dengan buah jeruk raksasa di atasnya untuk menuju Wihara Lumbini. “Cuma 15 meenit kok menuju lokasi. Bisa jalan kaki Cuma sekitar 1 KM an lah…tapi kalau males ya panggil saja ojek atau tunggu angkot yang ke sana tapi agak lama ya adanya bisa setengah jam an.” kata penduduk yang kami tanya. Lah, aripada menunggu jadi patung mending jalan kaki lah. Satu kilo? ..kecillah itu. Let’s go babe!

Si teman agak males jalan, tapi melihat saya bersemangat melangkah sambil memakai kaca mata cengdem ala Rayban kw-kwan, jadilah kami berjalan berdua menyusuri jalan berdua. Sok romantic banget dah. Untuk ga pake acara gendong-gendongan ala drama korea gitu hehe..
Sepanjang jalan lading di kiri kanan jalan menarik mata dan kamera untuk berhenti dan mengabadikannya. Ah salah satu tempat pengembangan penelitian pertanian ada di Brastagi ini dan tempatnya bersih. Senangnya punya kantor di tempat sejuk yang hening begini. Kami terus berjalan. Beberapa pasangan melintas mengendarai motor bergandengan erat seolah mau jatuh. Haduuuh,..anak muda seperti taka da tempat saja buat bermesra-mesraan begitu. Sepertinya tujuan kami sama.

Tapi sudah jalan lebih dari 15 menit kenapa tak ada tanda-tanda keramaian atau pucuk sebuah bangunan dari kejauhan ya? Ketika seorang gadis manis penduduk setempat melintas,saya Tanya dan dia bilang kami keblanjur alias kelewat.”balik lagi Mbak,… nanti di sebelah kiri jalan ada plangnya kecil dari kayu, nah belok saja di situ, ikuti terus jalannya pasti sampai.”
Yah,..terpaksalah balik lagi. Tapi liburan ya gitu, ada adegan ersesatnya segala. Ga asik dong kalau semua sesuai rencana. Akhirnya plang kecil bertulis wihara Lumbini itu terlihat juga. Kecil kaleee…pantesan tak terlihat dari seberang jalan tadi. Kami mengikuti jalan batu itu. Di sisi kiri kanan jalan beberapa kebun buah terhampar. Dua pasang muda-mudi sedang memetik stroberi segar dari ladangnya tinggal ditimbang pada pemilik yang menunggu di pinggir pematang. Ada juga kebun buah apel. Sayang sedang tak buah. Pasti cantik sekali melihat pohon apel berbuah lebat. Beberapa ibu sedang menyiangi ladang agar bebas gulma. Begitupun pohon jeruk. Brastagi terkenal dengan jeruk medannya yang manis dan penuh air. Sebagian dai sinilah jeruk-jeruk itu berasal.

Sekitar sepuluh menitan kemudian sampailah kami ke Wihara Lumbini. Dan Wihara ini melebihi ekspektasi saya. Cantiiik sekali menjelang indah dengan latar langit bitu cerah dan awan putih bergumpal-gumpal. Jadilah saya langsung selfie sementara si teman yang ga hobby foto Cuma geleng-geleng kepala mencoba maklum pada kenarsisan tingkat dewa. “Perjalanan itu untuk disimpan di hati, dipajang dalam kenangan dan diceritakan pada yang bermakna saja dalam hidupku..” begitu katanya pernah bicara. Yo weslah,..saya saja yang jadi banci foto.

http:// photo IMG20160116144921_1_zpsrl6zxlrf.jpg

Wihara berwarna kuning emas ini merupakan tempat ibadah agama Budha yang masih aktif digunakan setiap hari Minggu. Untuk masuk ke wihara ini kita tak dipungut biaya sama sekali. Tapi para pak satpam yang ramah-ramah di pintu masuk meminta kami meninggalkan semua makanan dan bawaaan, kecuali yang berharga untuk ditinggal di pos satpam dan nanti diambil kalau sudah keluar. Okelaah. Dan mengingatkan untuk menempatkan alas kaki di tempat yang disediakan karena dilarang beralas kaki di dalam wihara.

Dalam wihara terasa sejuk dan hening. Empat patung Budha dari batu marmer duduk bersila dan amsing-masing menghadap satu arah mata angina. Sayang taka da guide yang bisakita mintai keterangan di sini. Di dalam kita harus hening, untuk menghormati tempat ibadah ini. Empat menara yang cantik, saya tak tahu namanya berdiri dengan cantik. Bulatan-bulatan kuning yang ditemplkan ternyata berbentuk koin yang berukir patung Budha secara timbul. Mengkilap sekali. Apa mungkin dari emas ya? Entahlah,..tapi memang bersinar kuning emas sih. Indah. Bayangkan jika ini benar-benar terbuat dari emas, wow kayanya kita.

menitipkan doa di pohon willow
menitipkan doa di pohon willow

Keempat pintu wihara sangat tinggi dan besar terbuat dari pohon jati kualitas super dengan urat kayu yang indah dan dipahat dengan cantik. Saya lihat langgam ukirannya dari Jepara. Di depan semua pintu besar itu ada patung Budha berwarna kuning emas (benar-benar mengkilap) dan di sebelahnya terdapat pohon bunga willow berwarna pink yang digantungi beberapa amplop merah untuk uang. Ternyata amplop itu diisi doa lalu digantungkan di ranting-ranting pohon bunga willow agar mimpi dan cita-citanya terwujud. Saya suka sekali melihat interior di dalamnya. Lantainya granit berpola bunga, empat tiang besar berlapis marmer. Beberapa relief dinding dari kayu jati terpahat indah menceritakan Rayana, kisah Hanoman dan perjalanan Sidharta Gautama menjadi Sang Budha.

http:// photo IMG20160116144830_1_zpsd6w2avfq.jpg

Puas berkeliling, kami keluar. Terdapat taman yang mengelilingi bangunan Wihara yang merupakan replica dari Wihara ….di Burma. Semakin siang pengunjung semakin ramai.
Matahari terik di atas kepala, tak lagi asik untuk berjalan kaki. Untung ada angkot ngetem. Dalam perjalanan pulang, perut mulai keroncongan. Angkot berjalan pelan melewati depan kebun cabai setan yang lebat sekali buahnya, siap panen. Beberapa sudah mulai berwarna merah menyala. Terbayang pedasnya.

Sampai di pertigaan jalan sebelumnya, kami berhenti mencari warung. Beberapa warung yang kami datangi dengan jujur mengatakan makanan mereka bercampur juga dengan lauk daging babi, karena melihat tampilan saya yang berjilbab. Seorang pemilik warung terakhir malah memberi petunjuk, “Ke depan saja bu, yang di depan jalan besar. Itu warung yang punya muslim, orang Jawa namanya Pak X (Saya lupa namanya). Lihatlah kami, orang Indonesia itu saling menghargai dan toleransi. Mereka yang mengaku terpelajar dan sering perang keyakinan di media social harusnya malu dengan para rakyat kecil yang berbesar hati menerima perbedaan dan hidup dengan damai.
Sampai di warung yang dituju, segala macam makanan terhidang di meja tinggal pilih. Makanan khas Medan. Saya memilih arsik ikan mas dan sayur gulai daun singkong bertabur cabai utuh. Makan dengan lahap sampai nambah nasi setengah porsi. Si bapak pemilik warung melayani kami dengan ramah. Kami ngobrol cukup lama di warung beliau sambil menunggu nasi turun dari kerongkongan. Puas sekali makan siang kali ini.

Kami hanya sebentar di Pasar Brastagi. Berbagai macam buah dijajakan dalam partai besar dan eceran. Manggis, jeruk, dan markisa berjejalan dengan manis di dalam karung.Tak terasa sore menjelang. Lama menunggu Sutra yang tak datang-datang, sebuah Avanza menghampiri menawarkan tumpangan. Tentu saja kami harus bayar. Setiap orang 15 ribu. Taka pa yang penting sampai Medan sebelum gelap karena saya masih ngeri dengan rute Brastagi Medan yang berkelok-kelok tajam. Eh beneran. Sopir Avanza ngebut tak kepalang. Dua penumpang omprengan yang lain dari tadi “misuh-misuh” menyuruh pelan-pelan. Kepala saya berputar dan keringat dingin mulai bermunculan karena tikungan-tikungan tajam dilalap sopir dengan kasar. Perut yang masih kenyang berasa diaduk-aduk. Kalau sudah begini pasrah sajalah. Jika kita tegang, tidak rileks akan semakin menyiksa. Ikuti saja alurnya goyangan mobil sambil merem. Jurus yang sama kalau saya terpaksa naik roller coaster hehe…

Continue Reading