Part 6 : Trick Or Treat?

My Elysium part 6

cerita sebelumnya ada di sini

Untunglah Fatih bukan anak picky eater, apapun yang diberikan ia tak pernah menolak tapi kalau makan lamaaaaaa……. Karena makanannya diemut. Terkadang sampai ketiduran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan jadi terpaksa makanan itu harus dikolokin dari mulutnya agar tak merusak giginya. Tapi tetap saja, kerusakan giginya semakin parah. Kadang tak tega melihatnya ketika menguyah, ingin sekali bisa membantunya tapi apa yang bisa kulakukan, selain untuk sementara memberikan makanan yang agak lunak, tapi dokter gigi menganjurkan ia harus makan makanan orang dewasa pada umumnya agar giginya terangsang untuk cepat tumbuh.

“Fatih kamu apain Bund?…..” Tanya Si Ayah kepo.

“Ini,…ngorek-ngorek makanan yang masih penuh di mulutnya. Gimana giginya ga rusak ya Yah, kalau kebiasaan ngemut makanannya ini tak berubah.” Aku menyeringai, agak putus asa. Lalu tiba-tiba ide gila itu muncul ya…. Aku tahu sepertinya apa yang harus aku lakukan. Hm…. Semoga berhasil!

Esok paginya, ketika Fatih mau makan pagi, aku perlihatkan permen.

Permen???? Ya permen!!

Continue Reading

Part 5 : Kau Yang Terindah

pantai

Suara riuh di luar, tapi di dalam ruang terapi sepiiii sekali. Ibu merengut tak jauh dari tempatku. Aku tahu ia kuatir dengan perkembanganku. Putus asa mungkin tepatnya. Aku memilih diam tak bergerak, seperti boneka tanpa batere. Bosaaaan…. Kenapa aku harus terperangkap pada kursi pesakitan ini? Tak bisa bergerak, Huh! Huuuh…!!!

“Fatiiih…. Katakan  m-e-r-a-h…!”

Bu Marni memonyongkan bibirnya lima senti demi membentuk kata itu sambil tangannya menyentuh daguku agar mau menghadapnya.

Aku hanya menyeringai seperti anak singa baru bangun di pagi hari. Biarpun yang ini singa ompong hehe..

“F-a-t-i-h….katakan… m-e-r-a-h…. “ , sambil tangannya menggenggam sebuah bangun segitiga sekarang. Aku tahu itu warnanya m-e-r-a-h. Dan aku tahu harus memasukkan ke mana bangun itu. Mencocokkan kan? Keciil..!

Tapi aku tak bisa mengucapkan kata merah! Lidahku kaku!

Bu Marni putus asa. “Ok..sekarang masukkan bangun ini ke tempat yang sesuai.

Aku bergerak cepat. Kusambar segitiga merah itu dan memasukkannya ke rumahnya. Begitupun bangun yang lain, segi empat, limas, belah ketupat…

“Fatih…satu..satu sambil kita berlatih bicara….” Mulai naik intonasi suaranya. “Ibu tahu,…Fatih pintar tapi …ibu ingin dengar Fatih bicara. Bisa kan?”

Eh…kenapa papan menyamakan ini tak ada lingkarannya ya? Aku ingin lingkaran! Mereka juga tak memberiku bola untuk dipantukan. Huh..bosan..bosan..aku ingin ke pinggir jalan lagi melihat roda-roda mobil berputar di jalanan. Sekarang Bunda menjagaku dengan ketat kalau di rumah. Aku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan karena pintu pagar selalu terkunci. Kata Bunda berbahaya kalau aku bisa menelusup sendiri. Huh… Menyebalkan! Dan semua sesi terapi ini terasa melelahkan.  Aku lelaaaah…!

Brak…!

Kakiku menendang meja dari kayu tebak ini, meninggalkan rasa lega di dada. Aku tak mau dikurung. Aku ingin mencari lingkaran. Tempat ini membosankan! Aku tak melihat lingkaran, bola atau sesutu dengan gerakan berulang-ulang.  Aku benci tempat ini….!!!

Aarrghh….!

Aku bergulung-gulung di lantai, membuat gerakan berputar-putar, bergulung-gulung dalam ritme yang aneh. Dan aku merasa lepas,…menyenangkan sekali. Dadaku terasa berlubang, membuat seluruh udara masuk memenuhinya dengan keriangan. Aku tertawa lepas. Bangkit berdiri membuat gerakan flapping sambil berlari mengelilingi ruangan tanpa gambar apapun ini. Bu Marni berusaha mengejarku. Tapi aku selau lebih geasit menghindar darinya. Badannya yang berat mengurangi kelincahannya bergerak. Dalam waktu singkat saja ia telah menyerah. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bukan Bunda yang langsing dan bisa bermanuver untuk menangkapku. Meski ada Bunda di ruangan ini tapi ia tak berusaha mengejarku. Aku tak tahu mengapa. Biasanya ia akan berteriak-teriak mengejarku dan aku akan semakin bersemangat untuk berlari, tapi ia memilih mematung. Ada kabut di matanya.

Bunda menghela nafas dari pojok ruangan. Ia sebenarnya tak boleh ikut masuk ruang terapi karena kata Bu Marni bisa merusak konsentrasiku. Tapi bukan Bunda kalau tak bisa melakukan apa yang diyakininya benar. Itulah sebabnya Fatih juga keras kepala.

Sesi terapi itu akhirnya berakhir sudah dengan hasil nihil! Nol besar! Tak satupun yang aku sukai dari tempat belajar ini. Untunglah. Dan Bu Marni tak terlihat penasaran untuk terus mengejarku. Ia memilih diam duduk bersama Bunda membiarkankku jadi burung yang sedang terbang. Mama juga tetap diam. Dan dialog panjang lebar di antara dua perempuan terjadi sambil terus memandangiku bergantian. Yah,..begitulah orang deasa pembicaraannya membosankan.

Pintu diketuk pelan dari luar. Bocah pemilik gasing dan ibunya masuk ke dalam. Rupanya sesi terapiku sudah habis. Yess!

Bunda menggamit tanganku untuk keluar setelah sebelumnya memaksaku untuk bersalaman dengan Bu Marni. Aku pernah melihat adegan seperti ini yang dilakukan di sebuah film. Tapi yang kuingat di film itu, yang dipaksa salaman itu seekor anjing. Aku bukan anjing.

Aku yang tadinya ingin cepat-cepat keluar, jadi mogok membatu di ruangan itu. Tahu penyebabnya? Melisa!

Ya,..aku suka Melisa. Maksudku,… aku sukaaa pada gasing Melissa, begitu Bunda selalu memanggilnya sambil tersenyum ramah pada si bocah. Kata Bunda Melissa imut dan cantik. Aku rasa gasingnya yang warna-warni itulah yang membuatnya disebut cantik. Tak semua anak perempuan punya mainan hebat begitu.

Dan seperti aku, Melissa pun tak peduli jika ada orang yang bilang ia cantik. Ia terus sibuk memainkan gasingnya yang berbunyi wer…wer…setiap kali diputar. Aku ingiiin sekali memainkannya. Tapi aku tahu, Bunda pasti takkan mengijinkanku memainkannya meskipun aku menangis keras. Bunda memang payah. Ia mendekapku yang bau keringat di pojok ruangan sambil membiarkanku memainkan bola kecil yang disimpannya dalam tas.  Tak lama kemudian, lelaki berkaki panjang yang kupanggil ayah  mendekati kami. Merengkuhku dalam pelukannya dan kami keluar dari tempat menyebalkan itu.

___________+++___________

Tidak banyak perkembangan yang dialami faith selama sesi terapi. Ia lebih banyak diam dan bersikap tak peduli, kadang sibuk mengoceh sendiri dalam kalimat-kalimat ngawur tanpa arti. Susah payah kami membawanya ke tempat terapi tapi hasilnya mengecewakan.

Aku rasa ini abad pertengahan atau mungkin abad terbelakang. Tak banyak yang kudapat tentang  informasi seputar autis. Buku-buku tentang itu belum ada di pasaran, jikalau ada kami harus menitip membeli bukunya ke luar negeri tentu saja dalam bentuk dollar bersamaan dengan titipan suplemen-suplemen bagi perkembangan otaknya. Tapi satu artikel di majalah kesehatan Indonesia membuatku terusik. Di situ diceritakan banyak anak-anak penderita penyakit-penyakit seperti faith yang mengalami kemajuan pesat setelah diet casein dan gluten. Apalagi bagi orang Asia, yang memang secara alamiah system pencernaannya lebih tidak toleran terhadap susu sapi.

Sepertinya aku harus mencoba cara self healing ini untuk membantu faith keluar dari dunia gelembung sabun itu. Rupanya susu sapi yang dikonsumsinya telah menjadi racun dalam otaknya, karena ketakmampan saluran cernanya menguraikan protein whey dari susu sapi. Aku paham kini, mengapa Richard, yang suka main bowling tembok tak bisa diam. Kata mamanya dalam sehari ia menghabiskan satu kotak susu bubuk 400 gram! Rupanya otaknya kecanduan mengkonsumsi casein. Jadi…Fatih juga harus berhenti mengkonsumsi susu sapi.

Kuniatkan dengan bulat untuk memberikan diet makanan casein-gluten free pada Fatih dan seluruh penghuni rumah termasuk aku dan ayahnya. Tak boleh lagi ada susu di rumah ini. Aku hanya bisa memberi tajin atau membuat susu kedelai sendiri untuknya. Tak boleh lagi ada konsumsi ayam ras, roti, karena mengandung gluten, protein yang terdapat dalam tepung terigu yang tak bisa dicerna ususnya dan juga karena faktor yeast sebagai pengembang roti. Yeast mengandung jamur, yang akan menyerang system pencernaannya yang sudah lemah. Segala macam tape tentu saja dilarang keras.

Mulai sekarang kami cuma makan nasi, tempe, tahu, rumput laut, susu kedelai yang dibuat sendiri, kalau ingin ayam, ya harus menyembelih ayam kampong yang beli di desa dan hidupnya lepas itu, bukan pejantan. Daging boleh, tapi kami tak bisa terlalu sering mengkonsumsinya karena harganya mahal. Hampir semua sayuran hijau taka da pantangannya, kecuali jagung manis. Untuk buah pun terbatas, hanya buah-buah tertentu yang tak merangsang pengeluaran asam lambung atau yang membuat kondisi ususnya yang berjamur menjadi makin parah.

Buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi Fatih  itu papaya, bengkuang, pisang, salak, sirsak, atau timun. Buah-buahan yang bergetah dilarang dikonsumsi seperti nangka, sawo, cempedak. Atau buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti mangga, jeruk, stroberi, nanas, peach, pear, apel, kiwi masuk daftar larangan keras tapi segala macam berry diperbolehkan.  Untuk makanan ringan faith, harus segala makanan yang berbahan dasar beras atau ubi, singkong dan sagu. Segala tepung terigu dan tepung maizena dilarang.  Jadilah segala stok makanan kecil Fatih adalah makanan tradisional Indonesia yang murah dan gampang didapat seperti membuat bubur sumsum sendiri harus dengan gula palem atau gula nira kelapa, tidak boleh gula pasir, karena manis ternyata merangsang pertumbuhan jamur dan meningkatkan tingkat asam dalam tubuhnya. Untunglah kita tinggal di Indonesia yang mudah mendapatkan bahan-bahan local seperti itu. Ubi diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti direbus, dibakar tapi mengurangi segala goreng2an karena ia dilarang memakai minyak goreng dari minyak sawit dan jagung, jadi kami beralih ke minyak kedelai, karena mahal jadi tidak sering-sering memakainya. Lagipula kukus lebih sehat buat perut Fatih, karena minyak membuat saluran pencernaannya bekerja lebih keras. Sebenarnya anak autis bagus juga sih,..membuat kita jadi hidup sederhana dan biasa hidup lebih murah jadinya hehe…

Continue Reading

Cantiknya Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong a Fie by Shita R

Rumah Tjong A Fie berdiri megah di Jl. Ahmad Yani Kesawan, Medan. Berlantai dua didominasi jendela-jendela lebar jalusi dan bergaya colonial. Halamannya luas dihias taman. Membayangkan di masa lalu, beberapa kereta kuda pasti pernah berteduh di bawah pohonnya yang rindang. Yang unik, meski keturunan Tionghoa, cat rumah tidak didominasi warna merah dan keemasan khas China, tapi justru krem dan hijau yang mengingatkan pada warna keraton Yogyakarta.

Tjong A Fie, kelahiran Guangdong pada tahun 1860 menjejakkan kaki di Medan pada usia 18 tahun mengikuti jejak kakaknya yang telah diangkat menjadi Kapitan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tjong A Fie meniti karirnya dengan bekerja di took teman kakaknya, yang membuatnya belajar cara mengelola bisnis dan berinteraksi dengan warga Medan yang multiras dan multikultural. Ia menjalin hubungan baik dengan para pejabat tinggi Belanda yang mengangkatnya menjadi Kapitan pemimpin China menggantikan kakaknya yang meninggal. Posisi ini sangat strategis dan dihormati.

Ia memiliki hubungan baik dengan Sultan Deli Sultan Makmoen Al Rasjid dan membantu pembangunan Istana Maimoon, Masjid Sultan Maksum dan Masjid Gang Bengkok. Ia juga membantu pembangunan lonceng kota, gereja bagi umat Kristiani, kuil bagi pemeluk Hindu dan Budha. Juga rumah sakit Tionghoa, jembatan dan banyak lainnya.

Bisnisnya berkembang besar di bidang perkebunan tembakau, kelapa, dan membangun pabrik minyak kelapa. Bahkan Tjong A Fie lah yang membangun jalur kereta api pertama dari Medan ke Belawan. Jumlah pekerjanya 10.000 orang dan membagikan 5% keuntungan perusahaannya bagi karyawan.

Sebagai konglomerat beesar di jamannya, tentu Tjong A Fie memiliki banyak hubungan baik dengan masyarakat dari berbagai kalangan termasuk ulama dan para pembesar istna. Ia juga menyumbang pembangunan masjid raya medan yang kini masih berdiri megah, menyantuni para anak yatim dan janda-janda miskin di sekitar wilayah tinggalnya. Tjong A Fie juga membantu Raja Melayu untuk membangun kembali istananya yang telah terbakar.

Ia memiliki hubungan yang baik dari rakyat jelata sampai pemimpin China modern, Sun Yat Sen yang menuliskan kaligrafi untuknya, yang berjudul “ yang dermawan dan menebar kebajikan” untuk melambangkan kepribadiannya yang menawan.

Foto Tjong A Fie by Shita Rahutomo

Rumah berlantai kayu dan penuh jendela yang mengalirkan udara sejuk ini memiliki 40 kamar tidur,yang dihuni oleh Tjong A Fie, istri, anak-anaknya dan para teman dan saudara. Masing-masing penghuni memiliki pelayan pribadi. Bayangkanlah,.. betapa riuhnya rumah ini dulu. Di lantai atas, terdapat sebuah ballroom yang digunakan untuk menyelenggarkan pesta dansa di akhir pekan. Sementara kamar pribadi Tjong A Fie terdapat di lantai bawah setelah ruang sembahyang arwah. Perabotnya didatangkan khusus dari Yunani. Tempat tidur dan lemarinya bergaya Roman. Kelambu tempat tidurnya adalah renda cantik transparan yang dirajut tangan. Indah sekali. Ada juga timbangan berat badan (paling modern pada jamannya)  yang menunjukkan penghuni kamar ini memperhatikan kesehatan karena Tjong A Fie juga tidak madat, sesuatu yang wajar dilakukan para Tionghoa kaya pada masa itu. Ada juga vacuum cleaner yang didatangkan khusus dari Italia.

Mari kita beralih ke ruang makan. Ruang makan terletak di ruangan belakang, dalam bidang persgi panjang. Dihiasi keramik-keramik kuno dan foto keluarga di dinding. Menariknya meja makannya bisa ditarik dan diperpanjang dua kali lipat jika yang hadir untuk makan jumlahnya banyak. Tjong A Fie seorang  penyayang keluarga. Ia bukan orang yang suka keluyuran mencari hiburan malam dan perempuan. Ia menyayangi istri ketiganya, menjadi ayah dan suami yang baik.

Istri Tjong A Fie by shita rahutomo

Saat di China ia memang sudah menikah namun istri pertamanya ini tidak memiliki anak. Mereka terpisah ketika ia memutuskan merantau mengikuti jejak kakaknya. Ketika merantau ke Medan, ia menikah lagi namun sayang istrinya meninggal tak lama kemudian. Anak-anaknya dari istri ke dua diasuh oleh istri pertamanya yang memilih tinggal di China.  Bersama istri ke tiga ia memiliki 7 anak. Saat ini salah satu keluarga buyutnya masih menempati sisi kanan rumah ini, terpisah dari ruang public yang ditunjukkan sebagai museum.

Tjong A Fie sangat peduli pendidikan. Ia memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya dan koleksi buku-bukunya saat ini diamankan. Sebelum meninggal akibat penyakit apopleksia yang mengakibatkan perdarahan otak, ia telah menuliskan surat wasiat agar kekayaannya diwariskan untuk membentuk sebuah  yayasan   Toen Moek Tong yang ditugaskan memberikan bantuan pendidikan pada anak-anak yang cerdas dan punya keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan. Tjong A Fie seorang yang pluralis, karena ia pesankan dalam wasiatnya, bahwa yayasannya tidak boleh menolak kandidat beasiswa yang potensial hanya karena perbedaan ras, agama dan latar belakang.

Ia juga mengingatkan para penerus kekayaannya untuk memberikan bantuan hidup bagi orang yang cacat dan mereka yang menderita akibat bencana alam.

Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup pada segala yang dimilikinya dan senang berbagi pada sesama tanpa khawatir kehilangan harta dan rasa iklash dalam memberi, tanpa memandang latar belakang penerimanya. Tjong A Fie adalah juga seorang universalis, yang kita butuhkan hingga saat ini, di negara kita yang kaya dengan perbedaan agama, budaya, dan ras.

Tjong A Fie telah mengajarkan nilai-nilai universal itu pada kita selama hidupnya. Ia, manusia yang berhasil mengalahkan ego diri dan kepicikan berpikir. Andai semua orang Indonesia saat ini bisa belajar banyak pada apa yang dilakukan Tjong A Fie maka Indonesia yang damai akan terus terwujud.

Saat ia meninggal di usia 62 tahun, ribuan pelayat datang dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang, memberikan penghormatan terakhir pada salah satu manusia berhati besar.   Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang menghargai jasa-jasanya dalam menyejahterakan masyarakat Medan dan sekitarnya.

Continue Reading