Menyusuri Air Terjun Sikulikap, Taman Nasional Leuser dan Wihara Lumbini Dalam Sehari (1)

 

sikulikap-shita-rahutomo

Sebuah undangan berkunjung ke Medan dari seorang teman tiba. Sudah lama sebenarnya bercita-cita ke Medan tapi baru kali inilah bisa kesampaian. Naik Batik Air saat berangkat dan pulang menggunakan Citylink, menghabiskan IDR 1.200.000 untuk tiket pp. Lumayan,…di Batik Air dapat makan yang menurut saya enak kok. Dan asiknya Batik Air punya fitur film dan musik di kursi penumpang. sayangnya tanpa headset. Untuk meminjam headset dikenakan charge IDR 25.000 yaah…kalau menurut saya ya mending ga usah pake headset biar hemat hehe…

Berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma pda pukul 18.15 WIB dan sampai pada pukul 20.00 WIB dijemput sang pengundang. Lumayan juga jarak perjalanan dari Bandara Kualanamu ke rumahnya di Citra Grand Medan sekitar satu jam lebih. Naik taxi kami menghabiskan IDR 150.000 an. Yaa,..lumayan lah sama seperti naik taxy dari Kuningan ke Cengkareng, segitu juga.

Begitu sampai rumahnya, kami mengobrol ngalor ngidul mengingat sudah bertahun-tahun tak pernah bersua. Dan sang teman yang coffe addict, menyiapkan secangkir caffe latte yang enyaaak banget!! Legit, harum kopi yang semerbak dan susu yang lembut berkrim bercampur dalam seduhan kopi. Nikmat. Akibatnya? Saya pun terjaga sampai larut dan tertidur setelah salat Subuh. Resiko minum kopi selalu begitu.

Paginya, teman menanyakan daerah mana saja yang ingin saya kunjungi. Sudah menyiapkan list hasil tanya mbah Google, saya sodorkan daftar “wish list” saya padanya dan dia ngakak habis. “Yakin dalam waktu dua hari kau bisa selesaikan ini semua?”

Akhirnya diputuskan jika dua hari yang ada akan dibagi dalam dua kategori kegiatan, ceileh…. Satu hari ke luar kota dan satu hari putar-putar dalam kota. Deal? Deal lah wong yang mutusin sang  guide a.k.a sopir a.k.a pemilik penginapan hehe…

Sampailah kita ke tempat ngetem angkot ke  danau Toba. Entah saya yang salah browsing atau memang perjalanan ke Danau Toba memakan waktu lama,setelah berdiskusi akhirnya kami putuskan  Kota Brastagi yang sejuk menjadi pilihan. Hanya membayar Rp 10,000 kita tinggal duduk manis di dalam Sutra,(angkutan Sumatra Utara). Medan-Brastagi berjarak 66 KM, butuh 1 hingga 1,5 jam menuju lokasi, tergantung ‘kegilaan’ sopir membawakan kendaraan yang dikendarainya. jangan membayangkan kendaraan ini memakai AC yang berhembus dari blower ya,…kami cukup buka jendela dan AC (Angin Cepoi-Cepoi) pun berhembus semilir masuk minibus yang suaranya berisik ini.

Sepanjang perjalanan, pemandangan hijau membentang. Lapo babi panggang, toko aneka buah, sampai lapak durian Medan yang terkenal itu bersaling-silang terlihat di pinggir jalan. Sejam kemudian sampailah di lokasi, pas perbatasan wilayah dengan Kabupaten Deli Serdang, Sutra berhenti menurunkan saya di Air Terjun Sikulikap yang hanya butuh 10 menit menuju air terjun dari hutan. Seekor monyet Gibon mengintip dengan rasa ingin tahu dari kejauhan. Mungkin ia berharap sedikit makanan. Hidungnya yang panjang seperti Bekantan mengendus-endus dari jauh, sikapnya terlihat jinak.

Tak ada retribusi, jalan setapak masih seadanya, beberapa jalan longsor akibat hujan. Pagar pembatas seadanya yang dipasang juga rubuh. Mungkin Kepala Daerah tidak tahu jika ada air terjun yang cantik di wilayahnya. Beny, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Sumatra Utara sedang melakukan survey untuk menulis skripsi. “Saya ingin sekali membangun tempat ini menjadi tujuan wisata yang bagus, agar banyak wisatawan dating berkunjung. Pasti masyarakat sekitar juga ikut sejahtera,” ia berbagi mimpi sambil menemani perjalanan menuju air terjun. “Tapi Bapak-bapak pejabat di atas sana bergerak lamban. Padahal saya mau melakukannya, tapi Cuma mahasiswa begini, manalah dipercaya,’ katanya. Hari itu, 50 orang wisatawan telah datang dan telah disurveynya.

Dari jauh gemuruh air sudah terdengar. Sumber airnya berasal dari Taman Hutan Rakyat  bagian dari Taman Nasional Leuser. Udara sejuk. Air terjun Sikulikap termasuk besar arusnya. Airnya yang jernih turun bergemuruh menimbulkan kabut air yang terlihat mistis. Bunga-bunga bermekaran. Sayang, saya tak menemukan jalan setapak menuju hulu. Alangkah cantiknya jika bisa mengabadikannya dari batu-batuan besar di bawah sana. tapi hati-hati batu-batu besar ini tajam dan licin berlumut. Jangan sampai jatuh dan terpeleset ya! Air jernih turun deras dari atas mengalir di antara batu-batu. Monyet-monyet jantan meraung-raung dari kejauhan menebarkan rayuan maut pada betina untuk diajak kawin. Musim bercinta di depan mata.

Meskipun terlihat jinak dan tak takut pada pengunjung, tapi monyet-monyet ini tahu sopan santun. Mereka tidak kurang ajar menrebut makanan dari tangan kita atau mengambil kacamata di kepala. Mereka cukup anteng. dan warna merah di bokongnya itu…sungguh lucu dilihat.

 

Kembali dari Sikulikap, sejenak menikmati kopi di lapak pinggir jalan. Bu Santa belum lama mendirikan kedai, tapi sudah bisa membangun tiga lantai. “Saya betah tinggal di sini. Aman, tenang. Saya dulu bekerja di Batam. Bapak (suami) bekerja di Bogor. Bertahun-tahun nasib tak berubah, kami memutuskan pulang. Ingin punya rumah dan hidup yang lebih baik di sini.” Mimpinya mulai menjadi kenyataan. Pemda Deli Serdang memberi ijin pada warga menggunakan lokasi sepanjang jalan untuk berdagang.

Sambil makan jagung bakar, susu coklat hangat dan mie rebus yang terasa nikmat mungkin karena lapar dan hawa dingin hutan ini yang hijau dan sungguh menyejukkan mata, semua makanan habis tandas dalam sekejap dan murah. Berdua habis 30.000 lumayan banget lah. Setelah numpang salat dan sejenak melepas penat kunjungan kami lanjutkan ke Wihara Lumbini, mumpung hari belum petang.

Mau tahu cantiknya Wihara Lumbini? Tunggu di bagian 2 ya!

Baca juga yang ini....

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *