Bab I Keganjilan

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Aku melihat bocah-bocah keluar satu persatu dari ruangan sempit itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung. Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala ank di TV yang suka bawa ransel dan Map.

Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh seorang lelaki setengah baya berbaju putih. “cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih membawa buku memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda menggendongku lalu duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Lalu ia berbasa-basi dengan lelaki yang dipanggilnya, Dok. Ketika lelaki itu melakukan hal yang sama padaku, aku tak tahu apa rasanya. Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu?

“Anak pinter,..ngga nangis ya/ Jagoan banget sih…? Puji si baju putih.

Tapi…kenapa bunda sepertinya bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Tapi kenapa aku harus menangis?

Sore itu sinar matahari sore menerobos kaca jendela. Spektrum warna-warni berputar-putar di seluruh tempat dekat jendela rumah sakit.ini. Bau aneh sih, orang bilang itu bau obat, tajam menyergap hidung, tapi tak ada artinya buatku. Sinar matahari yang masuk menerobos melewati celah jendela membuat lingkaran-lingkaran maya itu makin cemerlang, membuatnya terdegradasi. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di udara dari tiap warnanya yang berpendar. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang ke kiri, ke kanan lalu membumbung tinggi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di pantai berpasir putih pada hari yang cerah. Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok. Lagi asik.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipiku, memaksa untuk menoleh ke arah suara.

“Fatih sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong Nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Dipaksanya aku menengok dalam gerakan pelan Matanya berlari menjalari pandang mataku. Terpaksa kami beradu pandang meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku.

“Sayang,..kalau Bunda panggil harus nengok ya. Cape dong sayang bundanya kalau harus selalu mencari wajah Fatih dulu. Kamu pinter ya ngga menangis diimunisasi. Bunda tak sabar ingin cerita kalau Ayah nanti datang menjemput!”

Suara lembutnya. Ia gamit paksa tanganku, memakaikan sepatuku dan aku terpaksa membawa kaki-kaki kecil ini mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan di sepanjang koridor rumah sakit berbau aneh. Sepanjang jalan ia menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu. Kata yang aneh. Dan lidahku kenapa kelu? Susah sekali digerakkan?  Ya udah, diam sajalah. Ah,..kaku banget siiiiih buka mulut saja aku tak bisa!

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan lebih keras sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Mata melotot dan kedua jari kiri dan kanannya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, bocah-bocah seusiaku yang barusan lewat melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka sambil melambaikan tangan. Ih..sok imut bocah deh! Ia mengajak mereka menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya serempak. “Mbeee……” Lalu tertawa merasa seolah itu lucu.

Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku.

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya lagi sambil berseru riang. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeaaah….”

“Pinter!” Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi sampai pipi rasanya basah. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah sekali aja, aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya lagi bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Suaraku aneh tak enak didengar. Parau seperti suara gagak yang kata Yangti menjadi pertanda ada berita kematian. Mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a  m-a-t-a-h-a-r-i!”

Aku lari, menggeleng. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Mereka lari! Hey tunggu!”

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku kesal, kusibak tangannya. Dua orang orang ibu-ibu lewat, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi.Hush…hush…. “Aku baik-baik saja…!” jeritku dalam hati.

Bunda maju, mendekati keduanya. “Maaf anak saya bukan tontonan.”

Digamitnya tanganku, menggendongku menciumiku sambil melangkah pergi terburu-buru sambil berbisik, “Tak usah dilihat ya, Sayang. Eh…ayah sudah datang. Yuk!”

Baca juga yang ini....

4 Comments

  1. karena dia tidak terkoneksi dengan lingkungan, hati-hati ketika si ‘aku’ meceritakan orang-orang di luar. Jangan terkesan dia sedang memerhatikan seperti kita-kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *