The Gift of Music, Kado Cinta Batavia Madrigal Singers di Perayaan 20 tahun Anniversary

batavia-madrigal-singers-2

Tak terasa ternyata sudah 20 tahun Batavia Madrigal Singers berdiri dan semakin eksis saat ini. Avip Priyatna sebagai founder konsisten memperjuangkan mimpinya menjadikan Batavia Madrigal Singers menjadi choir kelas dunia. Dengan kerja keras dan berpegang teguh pada komitmen. Avip juga telah membawa BMS memenangkan 4 penghargaan dan menjadikannya konduktor Terbaik dalam kompetisi paduan suara International di Spanyol tahun 2011, dan sampai sekarang merupakan capaian terbaik yang pernah dicapai sebuah paduan suara di kompetisi yang diselenggarakan sejak 1955 itu. Pada tahun 2012 di Bulgaria Avip membawa BMS menjadi juara umum dalam kompetisi seri Grand Prix for Choral Singing dan menahbiskannya sebagai best conductor juga . BMS juga berhasil menjadi paduan suara terbaik (best choir) seri European Grand Prix 2013. Pertama kalinya bagi paduan suara dari Indonesia.

Batavia Madrigal Singers dicikalbakali oleh kelompok paduan suara mahasiswa Universitas Parahyangan Bandung. Saat itu, paduan suara professional tak pernah terbayangkan bakalan ada di Indonesia. Tapi Avip Priatna dan rekan-rekannya tanpa kenal menyerah, bekerja keras membangun BMS menjadi terkenal karena kualitas penampilannya.
Orang-orang yang bertekad menghidupkan seni dalam kehidupannya memang sering tak bisa menjadikan lahan seni sebagai pegangan hidup di Indonesia ini. Tapi Avip mampu membuktikan eksistensinya di bidang seni hingga saat ini. Jadi, hanya orang-orang yang punya jiwa dan cinta seni yang kuatlah yang akan merelakan hidupnya memperoleh konsekuensi dari pilihan hidup yang dijalaninya. Dan Avip serta BMS mampu melakukannya. Dengan kecerdasannya di bidang seni dan manajemen, ia mampu mengawinkan idealism dan realitas. Kini Avip Priatna adalah pendiri Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers, The Resonanz Children Choir dan The Resonanz Music Studio.
Dan tak terasa, sudah 20 tahun Batavia Madrigal Singers berkarya dan menghasilkan prestasi cemerlang. Pada Minggu, 9 Oktober 2016 Batavia Madrigal Singers memberikan ‘hadiah’ bagi penggemarnya. Bertempat di Aula Simfonia Jakarta yang megah dan mewah dalam konser bertajuk “The Gift Of Music” yang dimotori Avip Priatna, dan didukung oleh Adelaide Simbolon (pianis), Iswargia R. Sudarno (pianis) dan JCO Chambers Players mereka memainkan karya-karya klasik dan kontemporer dengan menawan.

Acara dimulai tepat pada pukul 16.00 WIB. Term pertama diawali dengan nomer-nomer klasik sebanyak 18 lagu yang semuanya Bahasa Jerman , BMS tampil dalam komposisi yang rapi, klasik dan tanpa cela. Berjalan smooth dalam nomer-nomer pendek. Penonton larut dalam pertunjukan, suasana hening masing-masing terlihat larut dalam alunan suara. Lalu istirahat.

Penampilan ke dua lebih memukau buat saya , karena sudah lebih dinamis dan melakukan berbagai improvisasi baik dari olah vocal maupun gerakan. Memainkan tujuh lagu, dalam berbagai bahasa di antaranya bahasa Indonesia dalam nomer berjudul “Hentakan Jiwa”. Karena ini merupakan interpretasi seni, mungkin kita tak begitu bisa menangkap kalimat yang diucapkan, meski dalam bahasa Indonesia tapi menikmati musik tentang rasa, bukan? Nomer Hentak Jiwa dibawakan dengan penuh energy diselingi dengan hentakan kaki, dan gerakan tangan,untuk menggambarkan semangat yang meluap-luap dalam berkarya. Saya juga suka nomer “Wade in de Water” yang dibawakan secara energik dengan sentuhan jazz yang enak banget untuk didengar. Tepuk tangan meriah berkumandang di seluruh area pertunjukan. Pada term ke dua ini Avip memberikan beberapa penghargaan kepada orang-orang yang dianggap berjasa dalam perjalanan BMS. Salah satunya adalah Ibu Giok Hartono (istri konglomerat grup Djarum) yang selalu memberi support pada kegiatan BMS melalui Bakti Budaya Djarum Foundation.

Rupanya Avip menggunakan konsep save the best for last. Inilah puncak pertunjukan BMS yang semakin menunjukkan kualitasnya sebagai choir kelas international. Dikawal Jakarta Concert Orcherstra (JCO) Nomer “Circle of Life” dari soundtrack The Lion King menjadi pembuka konser term ke tiga. Menjadi nomer yang memancing penonton bernostalgia dan membayangkan lagi Shima Sang raja, berdiri dengan gagahnya di singgasana pegunungan batu belantara Afrika. Ini nomer favorit saya. Ditingkahi suara-suara binatang penghuni hutan seperti monyet, kukang, dan cuitan berbagai burung, nomer Circle of Life dengan sentuhan blues yang menawan membawa suasana hutan belantara dan sungguh memanjakan telinga sampai saya merinding mendengarnya karena lirik lagu inipun sarat dengan makna kehidupan.
Dilanjutkan nomer “Karena Kau Ada” yang merupakan karya Farman Purnama, salah satu anggota BMS yang menceritakan kasih sayang seorang ibu, kalau tak salah. Dibawakan dengan syahdu. Lalu dilanjutkan nomer “Sure on The Shining Night” yang syahdu membelai rasa. Lalu sebuah lagu tribute dipersembahkan bagi para anggota BMS yang telah meninggalkan dunia fana dalam nomer “Remembrance” hingga salah satu anggotanya menitikkan air mata, mungkin mengingat para teman yang telah berpulang. Dilanjutkan dengan “The Gift of Music” yang juga merupakan nama acara ini. Dilanjutkan dua nomer pop yang ditampilkan secara bersamaan yaitu “Love” dan “What a Wonderful Life” yang di awal dinyanyikan Nat King Cole. Seorang vocalist yang kebetulan ganteng (ehem…) sayang tidak tahunamanya…membawakan lagu “Love” dengan suara baritonnya yang mempesona dikuatkan dengan ekspresi wajah yang penuh cinta, menatap penonton . Pasti para pendengar perempuan meleleh mendengarnya. Lalu diselingi lagu What a Wonderful Life membuat nomer ini benar-benar terdengar wonderful. Konser diakhiri dengan nomer “Pal So Sung” karya Hyowan Woo dari Korea Selatan. Yang unik dari nomer ini adalah tanpa lirik sekalipun kita bisa menginterpretasikan pikiran sang composer karena nomer ini dipenuhi dengan gumaman-gumaman tak jelas namun ekpspresif lalu ditingkahi suara tawa dari beberapa orang. Bahkan beberapa penyanyi maju, membuat berbagai ekspresi bocah yang bosan, lalu merengek dan mengganggu Avip yang sedang memimpin orkes. Penonton pun tak bisa menahan diri untuk tertawa. Memang beberapa adegan konyol dimainkan untuk menguatkan pesan yang ingin disampaikan, jika kita perlu tertawa untuk membuat hidup tetap indah di tengah berbagai himpitan persalan. Bahwa ada baiknya juga kita sesekali menertawakan hidup yang sebenarnya sunguh tak lucu. Pesan yang indah, bukan?
Avip memperlihatkan kelasnya sebagai konduktor berkelas international. Gerakan-gerakan tubuhnya begitu liat, menyatu dengan irama. Gerakan tangan yang kadang begitu kuat penuh energy menghentak-hentak, di saat yang lain begitu lembut mengarahkan anggotanya yang kompak sekali di ataspanggung. Ia juga memiliki sense of humor yang baik, yang diinterpretasikannya dalam nomer Pal So Sung di atas.
Standing ovation bergema di seluruh penjuru gedung saat seluruh nomer telah ditampilkan. Dan Avip memberikan satu bonus lagu berbahasa Spanyol yang berirama riang dan hangat, dilengkapi dengan hentakan-hentakan yang dinamis lengkap dengan koreografi ala penari flamenco yang seksi. Sungguh penampilan yang mempesona.

Akhir kata semoga Batavia Madrigal Singers tetap mampu mempertahankan eksistensinya, konsisten berkarya dan makin berkontribusi dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah musik dunia. Happy 20th anniversary Batavia Madrigal Singers!

Baca juga yang ini....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *