Cantiknya Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong a Fie by Shita R

Rumah Tjong A Fie berdiri megah di Jl. Ahmad Yani Kesawan, Medan. Berlantai dua didominasi jendela-jendela lebar jalusi dan bergaya colonial. Halamannya luas dihias taman. Membayangkan di masa lalu, beberapa kereta kuda pasti pernah berteduh di bawah pohonnya yang rindang. Yang unik, meski keturunan Tionghoa, cat rumah tidak didominasi warna merah dan keemasan khas China, tapi justru krem dan hijau yang mengingatkan pada warna keraton Yogyakarta.

Tjong A Fie, kelahiran Guangdong pada tahun 1860 menjejakkan kaki di Medan pada usia 18 tahun mengikuti jejak kakaknya yang telah diangkat menjadi Kapitan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tjong A Fie meniti karirnya dengan bekerja di took teman kakaknya, yang membuatnya belajar cara mengelola bisnis dan berinteraksi dengan warga Medan yang multiras dan multikultural. Ia menjalin hubungan baik dengan para pejabat tinggi Belanda yang mengangkatnya menjadi Kapitan pemimpin China menggantikan kakaknya yang meninggal. Posisi ini sangat strategis dan dihormati.

Ia memiliki hubungan baik dengan Sultan Deli Sultan Makmoen Al Rasjid dan membantu pembangunan Istana Maimoon, Masjid Sultan Maksum dan Masjid Gang Bengkok. Ia juga membantu pembangunan lonceng kota, gereja bagi umat Kristiani, kuil bagi pemeluk Hindu dan Budha. Juga rumah sakit Tionghoa, jembatan dan banyak lainnya.

Bisnisnya berkembang besar di bidang perkebunan tembakau, kelapa, dan membangun pabrik minyak kelapa. Bahkan Tjong A Fie lah yang membangun jalur kereta api pertama dari Medan ke Belawan. Jumlah pekerjanya 10.000 orang dan membagikan 5% keuntungan perusahaannya bagi karyawan.

Sebagai konglomerat beesar di jamannya, tentu Tjong A Fie memiliki banyak hubungan baik dengan masyarakat dari berbagai kalangan termasuk ulama dan para pembesar istna. Ia juga menyumbang pembangunan masjid raya medan yang kini masih berdiri megah, menyantuni para anak yatim dan janda-janda miskin di sekitar wilayah tinggalnya. Tjong A Fie juga membantu Raja Melayu untuk membangun kembali istananya yang telah terbakar.

Ia memiliki hubungan yang baik dari rakyat jelata sampai pemimpin China modern, Sun Yat Sen yang menuliskan kaligrafi untuknya, yang berjudul “ yang dermawan dan menebar kebajikan” untuk melambangkan kepribadiannya yang menawan.

Foto Tjong A Fie by Shita Rahutomo

Rumah berlantai kayu dan penuh jendela yang mengalirkan udara sejuk ini memiliki 40 kamar tidur,yang dihuni oleh Tjong A Fie, istri, anak-anaknya dan para teman dan saudara. Masing-masing penghuni memiliki pelayan pribadi. Bayangkanlah,.. betapa riuhnya rumah ini dulu. Di lantai atas, terdapat sebuah ballroom yang digunakan untuk menyelenggarkan pesta dansa di akhir pekan. Sementara kamar pribadi Tjong A Fie terdapat di lantai bawah setelah ruang sembahyang arwah. Perabotnya didatangkan khusus dari Yunani. Tempat tidur dan lemarinya bergaya Roman. Kelambu tempat tidurnya adalah renda cantik transparan yang dirajut tangan. Indah sekali. Ada juga timbangan berat badan (paling modern pada jamannya)  yang menunjukkan penghuni kamar ini memperhatikan kesehatan karena Tjong A Fie juga tidak madat, sesuatu yang wajar dilakukan para Tionghoa kaya pada masa itu. Ada juga vacuum cleaner yang didatangkan khusus dari Italia.

Mari kita beralih ke ruang makan. Ruang makan terletak di ruangan belakang, dalam bidang persgi panjang. Dihiasi keramik-keramik kuno dan foto keluarga di dinding. Menariknya meja makannya bisa ditarik dan diperpanjang dua kali lipat jika yang hadir untuk makan jumlahnya banyak. Tjong A Fie seorang  penyayang keluarga. Ia bukan orang yang suka keluyuran mencari hiburan malam dan perempuan. Ia menyayangi istri ketiganya, menjadi ayah dan suami yang baik.

Istri Tjong A Fie by shita rahutomo

Saat di China ia memang sudah menikah namun istri pertamanya ini tidak memiliki anak. Mereka terpisah ketika ia memutuskan merantau mengikuti jejak kakaknya. Ketika merantau ke Medan, ia menikah lagi namun sayang istrinya meninggal tak lama kemudian. Anak-anaknya dari istri ke dua diasuh oleh istri pertamanya yang memilih tinggal di China.  Bersama istri ke tiga ia memiliki 7 anak. Saat ini salah satu keluarga buyutnya masih menempati sisi kanan rumah ini, terpisah dari ruang public yang ditunjukkan sebagai museum.

Tjong A Fie sangat peduli pendidikan. Ia memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya dan koleksi buku-bukunya saat ini diamankan. Sebelum meninggal akibat penyakit apopleksia yang mengakibatkan perdarahan otak, ia telah menuliskan surat wasiat agar kekayaannya diwariskan untuk membentuk sebuah  yayasan   Toen Moek Tong yang ditugaskan memberikan bantuan pendidikan pada anak-anak yang cerdas dan punya keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan. Tjong A Fie seorang yang pluralis, karena ia pesankan dalam wasiatnya, bahwa yayasannya tidak boleh menolak kandidat beasiswa yang potensial hanya karena perbedaan ras, agama dan latar belakang.

Ia juga mengingatkan para penerus kekayaannya untuk memberikan bantuan hidup bagi orang yang cacat dan mereka yang menderita akibat bencana alam.

Orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup pada segala yang dimilikinya dan senang berbagi pada sesama tanpa khawatir kehilangan harta dan rasa iklash dalam memberi, tanpa memandang latar belakang penerimanya. Tjong A Fie adalah juga seorang universalis, yang kita butuhkan hingga saat ini, di negara kita yang kaya dengan perbedaan agama, budaya, dan ras.

Tjong A Fie telah mengajarkan nilai-nilai universal itu pada kita selama hidupnya. Ia, manusia yang berhasil mengalahkan ego diri dan kepicikan berpikir. Andai semua orang Indonesia saat ini bisa belajar banyak pada apa yang dilakukan Tjong A Fie maka Indonesia yang damai akan terus terwujud.

Saat ia meninggal di usia 62 tahun, ribuan pelayat datang dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang, memberikan penghormatan terakhir pada salah satu manusia berhati besar.   Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang menghargai jasa-jasanya dalam menyejahterakan masyarakat Medan dan sekitarnya.

Baca juga yang ini....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *