Part 6 : Trick Or Treat?

My Elysium part 6

cerita sebelumnya ada di sini

Untunglah Fatih bukan anak picky eater, apapun yang diberikan ia tak pernah menolak tapi kalau makan lamaaaaaa……. Karena makanannya diemut. Terkadang sampai ketiduran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan jadi terpaksa makanan itu harus dikolokin dari mulutnya agar tak merusak giginya. Tapi tetap saja, kerusakan giginya semakin parah. Kadang tak tega melihatnya ketika menguyah, ingin sekali bisa membantunya tapi apa yang bisa kulakukan, selain untuk sementara memberikan makanan yang agak lunak, tapi dokter gigi menganjurkan ia harus makan makanan orang dewasa pada umumnya agar giginya terangsang untuk cepat tumbuh.

“Fatih kamu apain Bund?…..” Tanya Si Ayah kepo.

“Ini,…ngorek-ngorek makanan yang masih penuh di mulutnya. Gimana giginya ga rusak ya Yah, kalau kebiasaan ngemut makanannya ini tak berubah.” Aku menyeringai, agak putus asa. Lalu tiba-tiba ide gila itu muncul ya…. Aku tahu sepertinya apa yang harus aku lakukan. Hm…. Semoga berhasil!

Esok paginya, ketika Fatih mau makan pagi, aku perlihatkan permen.

Permen???? Ya permen!!

Continue Reading

Part 5 : Kau Yang Terindah

pantai

Suara riuh di luar, tapi di dalam ruang terapi sepiiii sekali. Ibu merengut tak jauh dari tempatku. Aku tahu ia kuatir dengan perkembanganku. Putus asa mungkin tepatnya. Aku memilih diam tak bergerak, seperti boneka tanpa batere. Bosaaaan…. Kenapa aku harus terperangkap pada kursi pesakitan ini? Tak bisa bergerak, Huh! Huuuh…!!!

“Fatiiih…. Katakan  m-e-r-a-h…!”

Bu Marni memonyongkan bibirnya lima senti demi membentuk kata itu sambil tangannya menyentuh daguku agar mau menghadapnya.

Aku hanya menyeringai seperti anak singa baru bangun di pagi hari. Biarpun yang ini singa ompong hehe..

“F-a-t-i-h….katakan… m-e-r-a-h…. “ , sambil tangannya menggenggam sebuah bangun segitiga sekarang. Aku tahu itu warnanya m-e-r-a-h. Dan aku tahu harus memasukkan ke mana bangun itu. Mencocokkan kan? Keciil..!

Tapi aku tak bisa mengucapkan kata merah! Lidahku kaku!

Bu Marni putus asa. “Ok..sekarang masukkan bangun ini ke tempat yang sesuai.

Aku bergerak cepat. Kusambar segitiga merah itu dan memasukkannya ke rumahnya. Begitupun bangun yang lain, segi empat, limas, belah ketupat…

“Fatih…satu..satu sambil kita berlatih bicara….” Mulai naik intonasi suaranya. “Ibu tahu,…Fatih pintar tapi …ibu ingin dengar Fatih bicara. Bisa kan?”

Eh…kenapa papan menyamakan ini tak ada lingkarannya ya? Aku ingin lingkaran! Mereka juga tak memberiku bola untuk dipantukan. Huh..bosan..bosan..aku ingin ke pinggir jalan lagi melihat roda-roda mobil berputar di jalanan. Sekarang Bunda menjagaku dengan ketat kalau di rumah. Aku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan karena pintu pagar selalu terkunci. Kata Bunda berbahaya kalau aku bisa menelusup sendiri. Huh… Menyebalkan! Dan semua sesi terapi ini terasa melelahkan.  Aku lelaaaah…!

Brak…!

Kakiku menendang meja dari kayu tebak ini, meninggalkan rasa lega di dada. Aku tak mau dikurung. Aku ingin mencari lingkaran. Tempat ini membosankan! Aku tak melihat lingkaran, bola atau sesutu dengan gerakan berulang-ulang.  Aku benci tempat ini….!!!

Aarrghh….!

Aku bergulung-gulung di lantai, membuat gerakan berputar-putar, bergulung-gulung dalam ritme yang aneh. Dan aku merasa lepas,…menyenangkan sekali. Dadaku terasa berlubang, membuat seluruh udara masuk memenuhinya dengan keriangan. Aku tertawa lepas. Bangkit berdiri membuat gerakan flapping sambil berlari mengelilingi ruangan tanpa gambar apapun ini. Bu Marni berusaha mengejarku. Tapi aku selau lebih geasit menghindar darinya. Badannya yang berat mengurangi kelincahannya bergerak. Dalam waktu singkat saja ia telah menyerah. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bukan Bunda yang langsing dan bisa bermanuver untuk menangkapku. Meski ada Bunda di ruangan ini tapi ia tak berusaha mengejarku. Aku tak tahu mengapa. Biasanya ia akan berteriak-teriak mengejarku dan aku akan semakin bersemangat untuk berlari, tapi ia memilih mematung. Ada kabut di matanya.

Bunda menghela nafas dari pojok ruangan. Ia sebenarnya tak boleh ikut masuk ruang terapi karena kata Bu Marni bisa merusak konsentrasiku. Tapi bukan Bunda kalau tak bisa melakukan apa yang diyakininya benar. Itulah sebabnya Fatih juga keras kepala.

Sesi terapi itu akhirnya berakhir sudah dengan hasil nihil! Nol besar! Tak satupun yang aku sukai dari tempat belajar ini. Untunglah. Dan Bu Marni tak terlihat penasaran untuk terus mengejarku. Ia memilih diam duduk bersama Bunda membiarkankku jadi burung yang sedang terbang. Mama juga tetap diam. Dan dialog panjang lebar di antara dua perempuan terjadi sambil terus memandangiku bergantian. Yah,..begitulah orang deasa pembicaraannya membosankan.

Pintu diketuk pelan dari luar. Bocah pemilik gasing dan ibunya masuk ke dalam. Rupanya sesi terapiku sudah habis. Yess!

Bunda menggamit tanganku untuk keluar setelah sebelumnya memaksaku untuk bersalaman dengan Bu Marni. Aku pernah melihat adegan seperti ini yang dilakukan di sebuah film. Tapi yang kuingat di film itu, yang dipaksa salaman itu seekor anjing. Aku bukan anjing.

Aku yang tadinya ingin cepat-cepat keluar, jadi mogok membatu di ruangan itu. Tahu penyebabnya? Melisa!

Ya,..aku suka Melisa. Maksudku,… aku sukaaa pada gasing Melissa, begitu Bunda selalu memanggilnya sambil tersenyum ramah pada si bocah. Kata Bunda Melissa imut dan cantik. Aku rasa gasingnya yang warna-warni itulah yang membuatnya disebut cantik. Tak semua anak perempuan punya mainan hebat begitu.

Dan seperti aku, Melissa pun tak peduli jika ada orang yang bilang ia cantik. Ia terus sibuk memainkan gasingnya yang berbunyi wer…wer…setiap kali diputar. Aku ingiiin sekali memainkannya. Tapi aku tahu, Bunda pasti takkan mengijinkanku memainkannya meskipun aku menangis keras. Bunda memang payah. Ia mendekapku yang bau keringat di pojok ruangan sambil membiarkanku memainkan bola kecil yang disimpannya dalam tas.  Tak lama kemudian, lelaki berkaki panjang yang kupanggil ayah  mendekati kami. Merengkuhku dalam pelukannya dan kami keluar dari tempat menyebalkan itu.

___________+++___________

Tidak banyak perkembangan yang dialami faith selama sesi terapi. Ia lebih banyak diam dan bersikap tak peduli, kadang sibuk mengoceh sendiri dalam kalimat-kalimat ngawur tanpa arti. Susah payah kami membawanya ke tempat terapi tapi hasilnya mengecewakan.

Aku rasa ini abad pertengahan atau mungkin abad terbelakang. Tak banyak yang kudapat tentang  informasi seputar autis. Buku-buku tentang itu belum ada di pasaran, jikalau ada kami harus menitip membeli bukunya ke luar negeri tentu saja dalam bentuk dollar bersamaan dengan titipan suplemen-suplemen bagi perkembangan otaknya. Tapi satu artikel di majalah kesehatan Indonesia membuatku terusik. Di situ diceritakan banyak anak-anak penderita penyakit-penyakit seperti faith yang mengalami kemajuan pesat setelah diet casein dan gluten. Apalagi bagi orang Asia, yang memang secara alamiah system pencernaannya lebih tidak toleran terhadap susu sapi.

Sepertinya aku harus mencoba cara self healing ini untuk membantu faith keluar dari dunia gelembung sabun itu. Rupanya susu sapi yang dikonsumsinya telah menjadi racun dalam otaknya, karena ketakmampan saluran cernanya menguraikan protein whey dari susu sapi. Aku paham kini, mengapa Richard, yang suka main bowling tembok tak bisa diam. Kata mamanya dalam sehari ia menghabiskan satu kotak susu bubuk 400 gram! Rupanya otaknya kecanduan mengkonsumsi casein. Jadi…Fatih juga harus berhenti mengkonsumsi susu sapi.

Kuniatkan dengan bulat untuk memberikan diet makanan casein-gluten free pada Fatih dan seluruh penghuni rumah termasuk aku dan ayahnya. Tak boleh lagi ada susu di rumah ini. Aku hanya bisa memberi tajin atau membuat susu kedelai sendiri untuknya. Tak boleh lagi ada konsumsi ayam ras, roti, karena mengandung gluten, protein yang terdapat dalam tepung terigu yang tak bisa dicerna ususnya dan juga karena faktor yeast sebagai pengembang roti. Yeast mengandung jamur, yang akan menyerang system pencernaannya yang sudah lemah. Segala macam tape tentu saja dilarang keras.

Mulai sekarang kami cuma makan nasi, tempe, tahu, rumput laut, susu kedelai yang dibuat sendiri, kalau ingin ayam, ya harus menyembelih ayam kampong yang beli di desa dan hidupnya lepas itu, bukan pejantan. Daging boleh, tapi kami tak bisa terlalu sering mengkonsumsinya karena harganya mahal. Hampir semua sayuran hijau taka da pantangannya, kecuali jagung manis. Untuk buah pun terbatas, hanya buah-buah tertentu yang tak merangsang pengeluaran asam lambung atau yang membuat kondisi ususnya yang berjamur menjadi makin parah.

Buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi Fatih  itu papaya, bengkuang, pisang, salak, sirsak, atau timun. Buah-buahan yang bergetah dilarang dikonsumsi seperti nangka, sawo, cempedak. Atau buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti mangga, jeruk, stroberi, nanas, peach, pear, apel, kiwi masuk daftar larangan keras tapi segala macam berry diperbolehkan.  Untuk makanan ringan faith, harus segala makanan yang berbahan dasar beras atau ubi, singkong dan sagu. Segala tepung terigu dan tepung maizena dilarang.  Jadilah segala stok makanan kecil Fatih adalah makanan tradisional Indonesia yang murah dan gampang didapat seperti membuat bubur sumsum sendiri harus dengan gula palem atau gula nira kelapa, tidak boleh gula pasir, karena manis ternyata merangsang pertumbuhan jamur dan meningkatkan tingkat asam dalam tubuhnya. Untunglah kita tinggal di Indonesia yang mudah mendapatkan bahan-bahan local seperti itu. Ubi diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti direbus, dibakar tapi mengurangi segala goreng2an karena ia dilarang memakai minyak goreng dari minyak sawit dan jagung, jadi kami beralih ke minyak kedelai, karena mahal jadi tidak sering-sering memakainya. Lagipula kukus lebih sehat buat perut Fatih, karena minyak membuat saluran pencernaannya bekerja lebih keras. Sebenarnya anak autis bagus juga sih,..membuat kita jadi hidup sederhana dan biasa hidup lebih murah jadinya hehe…

Continue Reading

Part 4. My Oxygen

quote cinta by Shita Rahutomo
quote cinta by Shita Rahutomo

Cerita sebelumnya ada di sini

Ruang tunggu itu penuh sesak dengan beragam bocah dan para pengantar. Dari usia balita sampai remaja, dengan wajah bertanda “tolooong….ada puzzle yang hilang dariku…!!” tergambar jelas di tiap anak. Aku bisa melihat raut wajah dengan pancaran mata yang sama, ekspresi yang hampir mirip satu dan lainnya, seperti kumpulan boneka matroska dari Rusia, yang dijajar rapi, dengan bentuk yang mirip hanya berbeda di ukuran. Dengan cepat aku bisa mengenali benang merah itu.

Membayangkan seperti saat proses penciptaan manusia, ketika semua bagian tubuh sudah lengkap, tinggal proses wrapping, agar mudah dipantau, dilengkapi dengan program operasi yang disimpan dalam microchip. Tertulis dalam bentuk  barcode di tengkuk tiap orang untuk memantau kadar kebaikan, keburukan, apapun itu selama masa expirenya belum berakhir.  Tapi bocah-bocah dengan tanda “Ada puzzle yang hilang dariku” ini mengalami satu kegagalan system yang membuat satu nomer seri  menghilang atau terselip entah di mana dan system computer menggantikannya dengan satu karakter acak dan ganjil, yang ditempelnya begitu saja.  Itu membuat ada bagian yang hilang dari binar mata mereka karena proses pengkodean yang sembrono itu. Dan Fatih, sayangnya,… termasuk dalam bagian acak itu.

Continue Reading

Part 3. Keping Puzzle Yang Hilang

Novel elysium part 3

Part 2 ada di sini

Derum mobil berhenti. Ayah turun membuka pintu mobil dan membantuku turun yang menggendong Fatih. Badan lunglai dan pikiran..sepertinya lari entah ke mana menjauhi tubuh. Seluruh tubuh berasa dilolosi. Aku lelah. Entahlah….

Aku turun dengan hati-hati. Memegangi Fatih erat-erat karena merasa kuatir dan berjaga-jaga takut Fatih berlari ke luar ke jalan raya di depan sana yang padat. Ia tak tahu bahaya. Tak paham bahwa benda keras dalam kecepatan tinggi bisa melukai tubuh dan membuat hancur cerai berai. Ayah menggenggam tanganku…memutuskan lamunan panjang, membuatku kembali fokus mengapa kami harus ke sini.

Autis…. Terbayang lagi kata-kata itu.

Tuhan,…autis…mahluk apa ini? Ia bahkan tak  ada obatnya. Ia bahkan bukan organisme tapi merenggut hatiku tanpa sisa. Merenggut masa depan Fatihku tanpa bicara terlebih dulu. Tanpa memberiku tanda supaya bersiap-siap dulu. Autis….??

Aku sudah lelah menangis berhari-hari selama beberapa malam ini. Sajadah sudah basah oleh air mata. Terendam rasa putus asa yang mengaliri tiap serat kainnya.  Ada kemarahan pada Tuhan yang ingin kutumpahkan. Aku ingin protes keras! Kalau saja ada TOA yang bisa membuat suaraku lantang membelah langit.

WHY?….. WHY me?…… WHY???!!!

Kenapa harus aku?

Apa aku punya dosa begitu besar hingga harus menerima peer begitu besar? Mao Zedong yang membunuh 30 juta rakyatnya saja pasti tak kauhadiahi anak autis! Kenapa aku! Kenapa….

Kenapa bukan anak para penjahat yang mengidap keanehan seperti ini? Kenapa Fatih? Fatihku? Fatihku yang manis…..Yang tak pernah merepotkanku sejak lahir? Yang tak pernah menangis merepotkan di masa bayinya? Yang tak pernah bersuara saat ia jatuh atau terluka? Hingga kadang harus kugelitik dia karena aku merindukan suara tangis bayi dulu di rumah kami.

Jadi ternyata ini penyebabnya…anakku AUTIS! Ya,…ia dihukum dengan menjadi AUTIS! Ia dipaksa hidup di alamnya tersendiri. Hidup di akuarium. Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya. Itu sebabnya semua buku teori memaksimalkan potensi anak yang kubeli jauh-jauh hari hanya menumpuk di pojok kamar tak terpakai. Aku putus asa!  Segala teori yang kubaca dan ingin kupraktekkan untuk menjadikan Fatih menjadi hebat sebagai penerus nama kami mentah semua. Tak ada yang terpakai!!!

Golden age yang harusnya membuatku bisa membentuk karakter Fatih sebagai calon khalifah terhebat di muka bumi sirna. Itulah sebabnya aku begitu bersemangat memberinya nama Fatih begitu dokter kandungan mengintipnya lewat USG. Anak lelakiku yang harusnya hebat. Anak lelakiki yang harusnya menjadi manusia hebat yang mencetak sejarah emas seperti Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia belasan tahun!

Ya,..aku yakin bisa mencetak Fatih al mehmet ke dua. Dengan bekal pendidikan terbaik yang diberikan oleh guru terbaik. Dan aku…. telah siap menjadi guru terbaik Fatihku! Dengan merelakan karier cemerlang begitu ia lahir. Aku siap menjadi guru terhebat anakku. Tapi rencana-rencana hebat itu sirna seketika oleh satu organisme abstrak tanpa nama, bahkan tanpa nyawa, dan tanpa rupa bernama AUTIS! Ia mencabik-cabik mimpi besarku.

Autis ternyata yang membuat Fatih terputus dari dunia kami. Ia terperangkap dalam gelembung sabun raksasa. Gelembung raksasa yang tak bisa dipecahkan jarum setajam apapun. Taka da satu senjata pun yang bisa merobeknya untuk mengeluarkan anakku dari penjara gelembung itu. Ia nyata, ia dekat tapi begitu jauh dariku. Aku bahkan tak bisa bicara padanya! Aku bisa melihatnya, tapi tak bisa menyentuh hati dan pikirannya. Autis sialan……! Autis kurang ajar! Pengecut tanpa rupa, menyerang diam-diam tanpa berai menampakkan diri.

Kudekap ia, kuciumi berkali-kali. Kutatap lama sosoknya yang tak pernah menatap mataku penuh cinta sambil bilang “Bunda….” Seperti bocah-bocah lainnya. Jadi  AUTIS sialan itu telah mengunci mulutnya rapat-rapat untuk tak membuat hatiku dan hati ayahnya berbunga oleh kata pertama.

Ah……Fatih pasti lebih menderita di dunia sunyinya dibanding aku dan ayahnya. Bocah yang tak pernah merengek minta beli apapun kecuali suka secara sembrono berlari ke jalan raya untuk melihat mobil berlalu lalang. Sedikit lengah saja ia sudah keluar ke jalan dengan dua kaki mungilnya yang lincah, membuat jantungku hampir copot meski akhirnya selalu menemukannya hanya berdiri di pinggir jalan sambil memperhatikan roda-roda berputar dalam aneka rupa. Dan ia terlihat sangat bahagia saat-saat seperti itu.  Ia terpesona. Terperangkap dalam magisnya gerakan putaran roda. Ia terkesima, seperti jejaka lugu bertemu bidadari khayangan nan jelita. Ya,..anakku terpana pada setiap bentuk roda, lingkaran dan gerakan memutar yang teratur. Apa itu….kerja si AUTIS juga ternyata….

Mataku masih bengkak. Seluruh airmata terperas berliter-liter selama berhari-hari ini setelah keterangan tanpa basa-basi dokter Melly beberapa hari lalu. Aku ingin marah…marah yang sebesar-besarnya. Murka yang sedalam-dalamnya. Teriak yang sekencang-kencangnya. Menangis, meraung  sehebat-hebatnya hingga aku ingin mati. Mati kelelahan karena menangis. Tapi jika aku mati,…lalu Fatihku.. siapa yang akan menemani? Adakah orang yang akan lebih mengerti betapa tak berdayanya anakku selain aku sendiri?

Jadi,…setelah berhari-hari diam di atas pembaringan, melalaikan semua kewajibanku sebagai ibu dan istri….tidur dengan gelisah untuk melarikan diri, kelelahan berharap segera mati tanpa harus bunuh diri,…… akhirnya semalam aku bangkit, merasa lapar setelah berhari-hari hanya minum air putih.

Pelan ke luar kamar, mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut yang sudah berhari-hari kuabaikan alarm biologisnya. Lalu membuat secangkir teh hangat dan ke kamar mandi membasuh diri bersuci,  dan kembali larut dalam sujud panjang yang penuh derai air mata. Kali ini tanpa kemarahan lagi. Mungkin sudah terlalu lelah untuk marah.  Pintu kamar berwarna putih itu sedikit membuka membuat cahaya temaram di dalamnya terlihat samar. Fatih selalu suka cahaya yang menerobos celah-celah sempit begitu. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu pada matanya yang kadang bersinar aneh itu.

Pelan aku melangkah, tergerak ke kamar Fatih karena aku ingin menciumnya. Ingin menghirup bau badannya. Mendekati tempat tidur dan kulihat ia tertidur di samping ayahnya yang bahkan tak sempat mengganti baju seragam kantor karena kelelahan. Biasanya aku yang mengurus lelaki ini. Mengambilkan baju ganti dan menyiapkan makan malam. Tapi beberapa hari ini ia tahu, aku butuh sendiri. Membiarkanku terkubur dalam gelap di kamar,…hanya sendiri. Ia tahu aku tak butuh kata-kata hiburan. Ia tahu aku tak butuh diajak bicara data dan fakta. Ia tahu aku butuh waktu untuk pulih dengan kekuatanku sendiri.

Melihat wajah damai keduanya saat tertidur. Dengkuran halus ayahnya dan deru nafas Fatih yang teratur. Segala perjuangan yang kami lakukan agar ia mau makan, segala hal yang kami bisa untuk menyembuhkan saat ia sakit tapi tak merengek seperti bocah lainnya, hanya diam terkulai lemas. Wajahnya yang damai. Ia begitu mempesona dalam tidurnya yang lelap. Bocah yang dulu sangat kurindukan kehadirannya siang malam itu, yang kuminta dalam pinta sepenuh hati di atas sajadah panjang dulu. Apa aku akan menyia-nyiakan karuniaNya meski pada kenyataannya hadiah yang kuinginkan bunga mawar tapi ia berikan aku bunga lily. Apa bedanya? Keduanya bunga. Sama-sama cantik. Meski orang lebih banyak melihat mawar, dan tahu mawar punya banyak warna, tapi lily tak kalah cantik mesti lebih butuh perawatan. Cuma itu mungkin.

“Ya Allah…ampuni aku….”

Sesak dada karena gemuruh. Tak ada lagi air mata yang mengalir. Sudah habis terkuras. Kupandangi wajah Fatih lebih seksama. Matanya yang terpejam, alisnya yang lebat, hidung mungilnya dan mulutnya yang kadang menyeringai aneh… tapi dia anakku. Anak autis ini anakku…. Dan ia lebih butuh aku sekarang daripada sebelumnya.

…….Aku tak boleh mati. Tak boleh…

Aku harus hidup, aku harus waras, aku harus realistis. Membuang semua impian tentang mencetak anak ideal. Aku harus menerima kenyataan ia tak sempurna. Tapi ia tetap anakku. Dan ia,..sangat pantas untuk dicintai sepenuh hati…

“Tuuh kan Fatih,…Bunda melamun lagi…” kata si Ayah membuyarkan lamunan. Kupaksa tersenyum meski lelakiku pasti tahu itu bukan senyuman lebih pada seringai.

Fatih anteng dalam gendonganku. Aku memeluknya erat dan terus mengelus punggungnya agar ia tenang memasuki tempat baru ini. Biasanya ia gelisah. Kulirik Ayah yang menggenggam erat tanganku.

Dari jauh pintu besarnya terbuka lebar, menandakan siap menerima siapa saja untuk datang. Gedung bercat putih bersih dari luar yang sangat terawat dan dihiasi pohon-pohons buah seperti sawo kecik, belimbing dan rambutan yang membuatnya rindang dan terasa menenangkan.

Dari luar sudah terdengar betapa riuhnya keributan yang ada di dalam. Dan benar saja. Begitu kami masuk menuju ruangan kecil di pojokan yang di depannya tertulis kata pendaftaran, aku langsung shock. Bukan hanya pada berapa besarnya biaya yang harus kami bayarkan untuk terapi-terapi panjang yang harus dialaui Fatih nanti, tapi lebih pada suasana di ruang lobby yang menyesakkan.  Ayah memilih diam dan berusaha tenang. Tapi aku merasa tempat ini seperti melemparkanku pada malam-malam penggugatan, membuatku bertanya apakah aku akan sanggup menghadapi kepingan-kepingan puzzle yang lebih rumit lagi.

Apa aku akan bisa?

Continue Reading

II. Puzzle Yang Berlubang

elysium-bab-2

Ketinggalan bagian pertama? Klik saja di sini.

Gedung ini juga banyak yang pakai baju putih-putih, tapi aku tak mencium bau aneh menusuk. Banyak bunga di mana-mana. Aku suka warnanya yang ungu magenta dan mawar merah di vas besar menebar harum. Aku suka mengendus-endus bau baru dari apa saja. Juga saat Ayah dan Bunda menggandengku melalui sebuah lorong yang penuh kartun binatang warna-warni. Suasana lebih sepi. Hingga sampai di suatu ruangan. Perempuan berbaju hijau pupus dengan kepala memakai topi kertas persegi membukakan pintu. Seorang perempuan lainnya tapi berambut putih semua, dengan wajah ramah tersenyum menyambut. Ia juga memakai baju putih sebagai luaran dan bermata empat! Kenapa banyak orang berbaju putih bermata empat? Tapi aku suka melihatnya. Aku bisa merasakan hatinya hangat. Ia berjongkok di depanku, tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku. Seperti terhipnotis, aku menyambut tangannya.

“Siapa namanya?” suaranya empuk.

“Fatih..” kata Bunda mewakili. Tapi ia menunggu aku mau membuka mulut dan menengoknya dengan menyentuh tanganku berkali-kali. Aku menengok. “Pinternya…..Fatih mau main puzzle? Coba lihat….Ibu punya apa ya….?”

Diraihnya sekotak besar mainan dari sudut ruangan. Aku antusias mendekat melihat warnanya yang warna warni. Ada satu yang sangat menarik perhatianku.

“Ibu Melly bicara dulu sama Ayah dan Bunda ya….” Tangannya membimbingku menuju karpet plastik empuk dan sekotak mainan itu. Ada banyak benda menarik di sana. Dan aku,…menemukan roda yang berputar dengan gambar abstrak lima gumpalan dan di permukaannya ada tulisan kecil-kecil.  Dan aku bisa memutarnya berkali-kali. Wow….!!!

_______________====_____________________

“Saya sudah baca semua hasil laborat Fatih yang sudah dikirimkan dari Amerika kemarin. Dari analisis rambut dan kuku, memang mengandung banyak toxin. Tak ada cara lain, kita harus kuras racunnya dengan cara detoksifikasi. Dia juga mengalami leaky gut…”

“Apa itu leaky gut dokter?”

“Menurut penelitian, leaky gut itu disebabkan oleh tidak tercernanya makanan yang dikonsumsi si anak akibat alergi makanan. Salah satu cirinya membentuk mosaic feses pada anak berspektru autis. Ibu pernah perhatikan kalau feses Fatih berwarna-warni, bukan?”

“Seperti apa Dok?”

“Kalau ia makan wortel, ada bagian fesesnya yang berwarna oranye dan masih utuh dalam bentuk wortel. Kalau ia makan bayam pun,  ada bagian fesesnya yang tetap hijau segar..”

“Betul dok…” Keduanya membentuk O di mulutnya secara lucu.

Dokter Melly mengambil gambar besar lalu menerangkan dengan gambar itu proses pencernaan yang rumit. Ayah dan Bunda begitu serius mendengarkannya.

“Dan bahan makanan yang tak tercerna itu berubah menjadi racun yang menyebabkan jamur di usus yang menimbulkan luka dan menyebabkan usus si anak mengalami kebocoran. Sayangnya..zat-zat sisa tak tercerna ini mengalir melalui usus yang bocor itu lalu diserap pembuluh darah lalu dibawa ke otak. Zat sisa itu memberi efek seperti si bocah menggunakan narkoba. Itu sebabnya anak-anak seperti Fatih kadang punya tenaga luar biasa yang membuat mereka tak pernah merasa lelah dan tak bisa berhenti bergerak. Efek yang sama dari dopamine, zat yang merangsang syaraf dan otak untuk aktif bergerak jika jumlahnya berlebihan maka syaraf pun terangsang terus bergerak tanpa henti.”

“jadi….otak Fatih teracuni zat sejenis narkoba?” Aku tak sabar mendengar lengkap seluruh penjelasannya.

“Betul Bu. Karena adanya racun seperti narkoba yang tertimbun bertahun-tahun itu membuat Fatih semakin terasing dari dunia luar, ia berasa punya dunia sendiri. Efek ini memang berbeda-beda bagi tiap anak. Bagi sebagian anak yang lain, zat beracun ini membuatnya tak punya semangat hidup dan sangat pasif dalam keseharian. Hanya tidur terus menerus pekerjaannya. Kita menganggapnya malas,…. padahal itu bukan kemauan si anak sendiri.”

“Apa seperti narkoba, zat ini juga menimbulkan efek mati rasa?”

“Batul Pak,..pada banyak kasus memang membuat anak tak memiliki rasa sakit meskipun ia jatuh sampai memar atau berdarah-darah, karena ketika terluka ia tak punya rasa sakit sama sekali. syarafnya tak bisa membaca rasa sakit itu…”

“Oh…itu sebabnya Fatih tak pernah menangis saat ia jatuh, terluka, berdarah dan kemarin saat disuntik waktu imunisasi..” Aku terbayang kejadian kemarin.

“Bisa jadi Bu..”

Ayah dan aku berpandangan. Kulihat kabut di mata Ayah yang berusaha tegar dan berusaha menjalankan tugasnya sebagai suami, menguatkan sang istri, dengan mengusap punggungku. tapi itu tak menimbulkan efek menenangkan kini. Rasanya ribuan jarum ditembakkan ke dadaku menimbulkan sensasi jutaan rasa nyeri yang mematikan. Menyedot seluruh energiku.

“Maaf…apa Fatih suka menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti mau terbang dengan gerakan berputar-putar?”

Ayah dan aku mengangguk cepat, hampir bersamaan.

“Juga tak mau menengok saat dipanggil namanya tapi kalau mendengar suara tertentu, yang bukan suara manusia ia menoleh dan bereaksi dengan cepat?”

“Betul Dok,…..” Jawaban Ayah singkat dan bergetar.

“Dia tak mau menoleh kalau kami panggil dan ajak bicara meski dari jarak pendek. Saya pikir ia punya gangguan telinga. Tapi ketika ia mendengar suara mesin mobil, meski jaraknya masih jauh ia bisa mendengar dan langsung berusaha lari mendekat.”

“Fatih juga sering mengalami konstipasi?”

“Iya Dok,..dia BAB dua hari sampai tiga hari sekali. Karenanya keras sekali. Saya sering kasihan saat melihatnya berusaha mengeluarkan feses, kadang sampai berdarah-darah. Meskipun sudah saya beri buah,..tetap sering seperti itu kejadiannya.”

“Maaf,….apakah fesesnya berbau sangat menyengat?”

“Betul..”

Kami berdua menganga, saling berpandangan dengan wajah menyimpan banyak teka-teki. Apakah Fatih sakit parah? Tapi sakit apa? Kami memang merasa ada misteri besar yang menyelimutinya yang membuat kami tak tahu apa itu. Ia memberi teka-teki yang tak mampu dijawab.

“Dia susah tidur?”

“Iya… dia selalu tidur larut. Apalagi kalau siangnya ketiduran, pasti malamnya jam 2 sampai 3 pagi baru tertidur dan mudah sekali terbangun pada suara yang pelan sekalipun. Dokter ada apa ini…anak kami sakit apa?” Aku tak sabar lagi. Ingin segera menerima jawaban dari semua teka-teki.

“Dia juga kadang mengalami gangguan telinga?”

Ayah mengangguk cepat. Baru dua minggu yang lalu kami ke THT karena telinganya sangat berbau. Dokter bilang fatih terserang infeksi. Dokter Melly menghela nafas panjang. Belum ingin menjawab teka-teki. waktu menjadi sangat lambat dan aku bisa mendengar detak persekonnya. Please…dokter..katakan sekarang juga.

“Apa Fatih menyukai satu benda tertentu, padahal itu bahkan tak bisa disebut mainan anak-anak?”

“Roda dokter…roda…., lingkaran dan segala benda yang bergerak teratur. Bund…biar aku yang jawab”.kata Ayah melihatku yang sudah mulai membuka mulut merasa tak sabar.

“Dia suka semua benda yang berputar dan berbentuk lingkaran……?” Dokter Melly mengulangi kalimat itu.

Kali ini Ayah yang menerangkan melihatku makin gugup. “Ia bisa larut memutar-mutar roda sepedanya berlama-lama. bahkan kadang lebih dari sejam jika tak kami alihkan perhatiannya. Ia, juga suka berjongkok mengamati roda mobil saya.”

Aku tak mau kalah semangat. “Ia juga suka semua yang berbentuk lingkaran lalu memutarnya. Dia bisa main pantul bola berjam-jam. Atau memutar piring makanannya saat makan siang sambil terkekeh-kekeh sendiri. Tapi ia tak pernah tertawa begitu riangnya kalau diajak bercanda, Dok.”

Dokter Melly manggut-manggut. Lama ia diam. Tik..tok..tik…tok…

“Ayah…Ibu….ini memang berat. Tapi saya berharap anda berdua tabah ya,…menurut diagnosis saya, Fatih adalah penyandang autis….”

“Autis?”….. Kedua wajah kami mengandung kalimat tanya yang sangat jelas. Mahluk apa itu, AUTIS?

Suasana hening. Tiba-tiba pertahananku runtuh, tak tahan untuk tak menangis. Jadi … itulah kenapa Fatih aneh selama ini. Ayah memelukku.

“Autis memang bukan penyakit yang ada obatnya, Bapak..Ibu. Dan mungkin seumur hidup takkan pernah bisa hilang dari si anak. Ini tidak seperti sakit disentri atau DB. Tidak juga seperti kanker atau tumor.”

kami berdua berpegangan tangan saling menguatkan.

“Bahkan kalangan kedokteran tak berani menyebutnya sebagai penyakit, tapi syndrome. Tapi berita baiknya Bapak Ibu…Fatih jika saya amati bukan penyandang autis tingkat berat,…masih ada harapan Fatih menjadi normal dan bisa menjalani hidup dengan baik. Saya rasa Fatih masuk kategori Asperger Syndrom, yang kadarnya lebih ringan.”

“Apakah benar-benar tak bisa disembuhkan, Dok?” Suara Ayah terdengar lirih.

“Kita usahakan Pak, bersama-sama, ini akan berat buat Bapak dan Ibu, tapi saya akan berikan semua hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mengeluarkan Fatih dari dunia sendirinya. Tapi harus sabar dan sungguh-sungguh. Sanggup?”

Aku berhenti menangis, kalah oleh rasa penasaran. “Kami akan lakukan apa saja Dok untuk kesembuhan Fatih. Tolong bantu kami.”

“Mau tahu hal pertama yang harus Bapak dan Ibu lakukan untuk proses kesembuhan Fatih?”

“Iya..iya..”

mata kami berdua berbinar penuh harapan. Ada harapan untuk sembuh!

“Pertama…terima kenyataan kalau Fatih autis, itu dulu. Orang tua dimanapun…pasti punya harapan besar terhadap anaknya. Begitupun Bapak dan Ibu. Betul bukan? Ingin punya anak yang hebat?”

Tentu saja, siapa yang takkan bangga punya anak hebat?

“Tapi kenyataannya ada satu hal besar yang membuat impian kita kadang…tak mudah menjadi kenyataan.…bukannya tak bisa ya….”

Suasana hening. hatiku membatu, dingin. Kenyataan pahit sepertinya baru mulai dari sini….

“Bukan tak mungkin Bunda….” Dokter Melly melihat hilangnya sinar harapan di mataku.

Ini adalah bagian yang sama sulitnya buat saya selain menolong si anak. Membantu orang tua menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin harus direvisi….”

Pandanganku mengabur….air bening itu kembali bergulir tanpa putus dari sudut mata. Berasa bongkahan batu besar dipaksa masuk ke rongga dada. menyayat daging di antara tulang rusuk dan mengucurkan darah segar. Aku terguncang. Ayah berusaha menenangkan.

“Biarkan Pak,… biarkan Ibu menangis. Ini memang berat diterima…..dan memang bukan berita bahagia.”

Suasana menjadi semakin hening hingga isakku makin terdengar jelas di ruangan dingin yang kurasa makin dingin. Kutoleh Fatih yang masih terlihat bahagia bermain globe.  Aku bahkan bisa mendengar tarikan nafasnya dari tempatku duduk. Anakku sayang, misteri apa yang kamu bawa?

Penasaran? Part 3 ada di sini

Continue Reading

Bab I Keganjilan

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Aku melihat bocah-bocah keluar satu persatu dari ruangan sempit itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung. Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala ank di TV yang suka bawa ransel dan Map.

Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh seorang lelaki setengah baya berbaju putih. “cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih membawa buku memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda menggendongku lalu duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Lalu ia berbasa-basi dengan lelaki yang dipanggilnya, Dok. Ketika lelaki itu melakukan hal yang sama padaku, aku tak tahu apa rasanya. Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu?

“Anak pinter,..ngga nangis ya/ Jagoan banget sih…? Puji si baju putih.

Tapi…kenapa bunda sepertinya bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Tapi kenapa aku harus menangis?

Sore itu sinar matahari sore menerobos kaca jendela. Spektrum warna-warni berputar-putar di seluruh tempat dekat jendela rumah sakit.ini. Bau aneh sih, orang bilang itu bau obat, tajam menyergap hidung, tapi tak ada artinya buatku. Sinar matahari yang masuk menerobos melewati celah jendela membuat lingkaran-lingkaran maya itu makin cemerlang, membuatnya terdegradasi. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di udara dari tiap warnanya yang berpendar. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang ke kiri, ke kanan lalu membumbung tinggi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di pantai berpasir putih pada hari yang cerah. Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok. Lagi asik.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipiku, memaksa untuk menoleh ke arah suara.

“Fatih sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong Nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Dipaksanya aku menengok dalam gerakan pelan Matanya berlari menjalari pandang mataku. Terpaksa kami beradu pandang meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku.

“Sayang,..kalau Bunda panggil harus nengok ya. Cape dong sayang bundanya kalau harus selalu mencari wajah Fatih dulu. Kamu pinter ya ngga menangis diimunisasi. Bunda tak sabar ingin cerita kalau Ayah nanti datang menjemput!”

Suara lembutnya. Ia gamit paksa tanganku, memakaikan sepatuku dan aku terpaksa membawa kaki-kaki kecil ini mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan di sepanjang koridor rumah sakit berbau aneh. Sepanjang jalan ia menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu. Kata yang aneh. Dan lidahku kenapa kelu? Susah sekali digerakkan?  Ya udah, diam sajalah. Ah,..kaku banget siiiiih buka mulut saja aku tak bisa!

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan lebih keras sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Mata melotot dan kedua jari kiri dan kanannya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, bocah-bocah seusiaku yang barusan lewat melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka sambil melambaikan tangan. Ih..sok imut bocah deh! Ia mengajak mereka menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya serempak. “Mbeee……” Lalu tertawa merasa seolah itu lucu.

Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku.

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya lagi sambil berseru riang. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeaaah….”

“Pinter!” Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi sampai pipi rasanya basah. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah sekali aja, aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya lagi bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Suaraku aneh tak enak didengar. Parau seperti suara gagak yang kata Yangti menjadi pertanda ada berita kematian. Mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a  m-a-t-a-h-a-r-i!”

Aku lari, menggeleng. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Mereka lari! Hey tunggu!”

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku kesal, kusibak tangannya. Dua orang orang ibu-ibu lewat, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi.Hush…hush…. “Aku baik-baik saja…!” jeritku dalam hati.

Bunda maju, mendekati keduanya. “Maaf anak saya bukan tontonan.”

Digamitnya tanganku, menggendongku menciumiku sambil melangkah pergi terburu-buru sambil berbisik, “Tak usah dilihat ya, Sayang. Eh…ayah sudah datang. Yuk!”

Continue Reading

Resensi Bagian Pertama 3 Novel

novel elysium

Saatnya mengerjakan peer di hari ke 4 (bacanya ala Doraemon bacain judul film)

Oke, aku bersemangat sekali mengerjakan peer ini, berasa jadi anak sekolah lagi. Jadi bener kata Renee Soehardono, kalau kamu memgerjakan sesuatu karena passion kamu di situ ya udah jadinya menggebu-gebu kayak gini. Tapi sayangnya ada keterbatasan waktu. Pengennya kasih hasil yang terbaik apalah daya…ga bisa ke toko buku karena kemarin hujan badai melanda susah ke toko bukunya. Akhirnya bongkar-bongkar koleksi sendiri yang sudah banyak dipack dan memilih tiga novel dari genre berbeda untuk dibahas.

Yang tersisa di rak buku tak banyak ternyata (pada pinjem ga balik, sebagian dudah disumbangkan) padahal pinginnya bahas satu triller novelnya Stephen King Carrie yang difilmkan dengan artis Chloe Grace Moretz, satu romans yang aku suka  dari Tere Liye Daun Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin (judulnya aja puitis gitu kan), satu yang lucu ala Raditya Dika gitu. Tapi aku tak menemukannya yah akhirnya dapat tiga buku yang memiliki pembukaan yang menarik. Cekidot di bawah ….!!

elyx1

Petir ( Dewi Lestari)

Genre : science Fiction, alur campuran maju mundur.

Trilogy Supernova, Dewi Lestari,280 halaman, Bentang Pustaka, 2012, best seller juga.

Petir merupakan novel tetralogy Dewi Lestari sejak Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, disambung Partikel dan Intelegensi Embun Pagi.

Aku suka novel Dee karena ia menumbuhkan imajinasi para pembaca, kelihatan kalau penulis ini banyak membaca dan punya pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga karyanya membuat kita sebagai pembaca mendapat sesuatu yang baru.  Bisa belajar hal yang asing kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyisipkan puisi di awal novel (mungkin untuk seseorang yang sangat dicintai), karena kalau dilihat dari isi puisi itu terjadi pergulatan batin antara keinginan bertahan dalam satu hubungan karena orang itu sangat berarti dalam hidupnya tapi ada hal-hal yang tak bisa mereka satukan yang akhirnya membuatnya seseorang ini pergi darinya. Padahal ia ingin bersamanya hingga akhir.

..Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi

Bersiap diri untuk selamanya lelap

Andai kau sadar arti pelitamu

Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu…..

Setelah ini Dee memulainya dengan Bab I.  Dee memakai resep yang sama dengan Shidney Sheldon di If Tomorrow Comes , yaitu menerbitkan rasa curiosity pembacanya. Cerita dimulai ketika Dimas si tokoh kebingungan mencari hadiah ulang tahun untuk kekasihnya. Di awal sempat berpikir kalau seseorang yang dimaksud Dimas adalah perempuan meskipun tak suka bunga tapi suka bunga bank. Tipikal cewe kan?  Hingga ke bagian pisau Swiss aku baru ‘ngeh” kalau ini jenis cinta terlarang. (Please simpan komen itu kan dosa….kita bahas isi buku ya..)

Pisau. Kekasihnya berpendapat kalau pisau Swiss termasuk salah satu temuan paling jenius sepanjang peradaban manusia dan sudah punya sedikitnya dua belas.

Ini clue-nya. Seorang cewe backpacker super macam Trinity sekalipun paling punya satu bukan 12.

Bab satu ini juga langsung menggambarkan karakter tokoh Dimas yang hidupnya mapan, menyukai rutinitas yang sama, pecinta buku, gay pastinya (maaf ya agak risih sebenarnya nulis ini..tapi kenyataannya begitu) setia pada pasangannya, nerimo tapi juga ngambekan ala perempuan. Bab I ini juga berfungsi sebagai penaut kisah Diva Anastasia, tokoh misteri  di novel Dee yang sebelumnya. Karena fungsi Dimas dan Ruben sampai buku ke tiga ini (saya belum baca 2 buku setelahnya) lebih sebagai penyambung, narrator sebuah cerita panjang, bukan tokoh utama di dalam novel.  Penggalan kalimat yang kusuka sih ini …akan lebih mudah bagi mereka jika punya cincin emas tanda pengikat, yang merangkap fungsi sebagai stiker “Awas Anjing galak!”  dan ini ..Barangkali Cuma cinta, dan cinta tak butuh aksara. Dee selalu punya bahasa yang khas dirinya, bukan bahasa pasaran dalam banyak novel. Dia punya imajinasi tinggi juga selera humor yang sama baiknya. Dan kosa kata eskapisme,melatonin dan Rio Tampobata di bab I ini sukses membuat saya googling, apa sih itu?

elyx2

Pulang

Genre : roman mungkin. Ada yang bisa bantu?

Tere Liye, 400 halaman, Republika, cetakan I pada Sept 2015

Tere Liye juga penulis fiksi jempolan. Kalimat-kalimatnya sering membuat pembaca hanyut dalam rasa yang dialami tokoh-tokohnya, dan aku yang memang sentimental dan mata yuyu ini (istilah Jawa buat orang yang gampang terharu untuk hal-hal kecil sekalipun) sukses dibuatnya berhidung merah mengembang seperti tomat dan berlendir (hehe..sorry) plus mata dipaksa mengeluarkan cairannya berliter-liter, coba kalau sama mahalnya dengan air mata duyung yang katanya berkhasiat itu, bisa kaya rayalah aku dari baca novelnya saja. Tapi berhubung novel-novel Tere Liyeku yang lain raib entah kemana  jadi ya pilih Pulang, buku terbaru Tere Liye yang kubeli.

Tere Liye juga punya bahasa yang khas mendayu-dayu tapi tak terkesan cengeng. Membaca karyanya itu seperti membaca dongeng ajaib untuk kita yang kadang sudah apatis menghadapi hidup dan rutinitas. Ceritanya kebanyakan seperti telenovela dan drama korea, membuat kita punya kesempatan bermimpi. Too perfect to be true sih. Kehidupan si tokoh sering selalu mengalami kebetulan-kebetulan yang menakjubkan jadi jalan untuk punya kehidupan yang teramat sempurna,  yang kayaknya cuma 1% manusia bumi bisa mengalaminya. Jadi otakku kadang sudah memberi warning begini, awas anda berada di kawasan surealis, silahkan tetap di aliran realis, padahal aku lebih suka aliran ekspresionis hehe…  jadi berasa lihat rokok dan baca tulisan peringatan, awas merokok bisa menimbulkan kanker, serangan jantung, lemah syahwat dan keguguran. Udah ngeri duluan padahal juga ga doyan rokok. Nah mungkin buat para penduduk 1% dunia itu, karya Tere Liye ya berasa kaya pecandu rokok saja, setelah baca tulisan peringatan cuma bilang halah cemen..…

Nah di bab I buku ini Tere Liye punya resep yang berbeda dengan penulis di atas. Ia mulai dengan mengenalkan karakter tokoh utama secara terperinci dan menjadi dasar dari semua jalinan cerita yang akan terjadi kemudian. Ia menceritakannya ala pendongeng, dengan bahasanya yang imajinatif , deskriptif tapi terkadang terkesan hiperbola juga jalinan ceritanya. Kok berasa aku ini temannya si statusisasi kemakmuran Vicky ya? Wes embuh lah, tapi buku ini kalau secara pribadi kumasukkan buku motivasi, sebelahan sama Anthony Robbins To build A Giant Within, Biografi Steve Jobs dan Merry Riana, Mimpi Sejuta Dollar hehe….

Kalimat-kalimatnya sederhana, dengan kata-kata biasa, tapi mengalir lancar membuat pembaca tak bisa berhenti menghabiskannya dalam sekali baca. Begitulah aku kalau pegang novelnya si pendongeng Tere Liye ini. Harus langsung selesai. Ia menceritakan Si Bujang dengan alur flash back bagaimana ibu bapaknya bertemu, menghadapi tentangan keluarga ibunya yang religious  karena ia memilih seorang centeng yang lekat dengan tindakan kriminalitas, dan sebagai lelaki sejati yang telah menetapkan pilihan, bapaknya Bujang akhirnya memilih keluar dari dunia hitam karena ingin menentramkan hati istrinya, berdua mereka menjauhi hiruk pikuk dunia, tinggal di ladang terpencil dekat hutan dan membesarkan Bujang dalam kesunyian. Ibunya yang pintar dan religious sendirilah yang mendidiknya (homeschooling ala-ala gitu deh). Ibu dan ayahnya yang bagaikan minyak dan air itu karakternya bisa bersanding harmonis karena komitmen mereka terhadap pernikahan. So sweet bukan? Kadang lelaki yang kelihatan keras malah berhati lembut, loh kok curhat,…haha abaikan ini.

Nah,..penggalan kalimat yang kusuka dari novel ini adalah  Semua masa lalu ditutup. Mereka memulai kehidupan baru. Berapa orang yang bisa ekstrim bersikap begini? Karena manusia pada dasarnya suka mengenang sejarah hidupnya. Juga totalitas Bujang saat berhadapan dengan raja babi hutan,  Maka jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik . quote ini menggugah adrenalin kan? Juga ini. Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Kok tidak romantis? Memang. Ini kan roman tanpa kisah percintaan!

novel elysium
novel elysium

If Tomorrow Comes,

genre romance misteri

Shidney Sheldon,689 halaman, terbit pertama 1991, Gramedia, cetakan ke 12 (di tahun 2012)

Kita semua tahulah karya Shidney Sheldon itu sudah mendunia dan jadi best seller beberapa kali. Seperti Mira W nya Indonesia. Karyanya masih laris dan masih diterima pasar hingga sekarang. Novel ini menceritakan perjalanan hidup Tracey Whitney, seorang gadis muda dari kelas bawah yang bekerja di sebuah bank dan mengurus penyaluran uang antar cabang bank. Ia yang betanggungjawab memeriksa apakah uang yang telah ditransfernya  sudah akurat kebenarannya. Tanggung jawab yang berat karena jika ia salah maka jutaan dolar Amerika bisa salah masuk rekening atau beda jumlah dsb. Tracy Whitney melaksanakan tugasnya dengan baik. Sampai akhirnya ia bertemu Charles Stanhope, dari keluarga terkemuka, dan memutuskan untuk menikah. Ternyata pernikahan itu hanya sebuah jebakan (batman?) bagi Tracy. Ia dimanfaatkan Charles untuk kepentingan keluarganya dan akhirnya Tracy yang menjadi kambing hitam. Menjalani kehidupan pahit, Tracy tersadar bahwa untuk tak diabaikan dan diinjak-injak bahkan oleh orang yang dicintainya begitu saja, ia harus menjadi perempuan yang kuat dalam hal apapun. Dan bagaimana caranya, sudah bukan masalah buatnya. Tracy yang manis dan lugu dapat dilihat dari penggalan kalimat …” Aku merasa seperti seorang putri dalam dongeng, Ma”. Kau tak tahu kejamnya dunia di luar sana Tracy (bisikku sebagai pembaca hihi).  Akhirnya ia bertransformasi menjadi Tracy yang ambisius dan penuh taktik. Pelaku kriminal kelas satu demi kekayaan dan kekuasaan.

Alur yang digunakan novel ini merupakan alur gabungan maju mundur. Sidney mengolah novel ini dengan cermat. Terlihat jika ia melakukan riset terlebih dahulu, ia paham bagaimana kinerja perbankan, hingga kode-kode rahasia intern bank yang menyatakan bank aman, dan ia menurut saya riset ke tempat-tempat yang menjadi lokasi cerita.  Sidney membuat pembukaan cerita yang apik di Bab I. Ia langsung meluncurkan cerita seorang ibu yang putus asa, ibu Tracy, Doris melakukan bunuh diri. Sebelum bunuh diri ia menelpon Tracy untuk terakhir kalinya, memastikan bahwa putrinya akan hidup bahagia karena akan menikah dengan keluarga terpandang. Bab I itu singkat, hanya berisi kisah bunuh diri itu akan terjadi dan rasa sedih Doris karena akan meneinggalkan Tracy. Tapi tak dijelaskan apa alasan Doris bunuh diri. Ini yang membuat pembaca jadi penasaran karena di Bab II cerita langsung flashback, tak berkaitan dengan kisah Doris. Mulai memperkenalkan kehidupan Tracy yang sedang bahagia karena akan menikah. Bab I itu digambarkan dengan detail, meskipun singkat membuat pembaca bertanya-tanya motif apa yang membuat Doris bunuh diri?

Nah itulah perbandingan tiga novel yang kubaca kemarin dan baru bisa upload sekarang.

Continue Reading

Kamu Elysiumku Fatih….! Emang Elysium Apaan Sih?

 

 

Elysium adalah sebuah novel yang menceritakan perjalanan hidup seorang anak autis yang sering menjadi korban bully teman=temannya. Yah…kau tahu kan bagaimana rasanya dibully? Kalau kamu pernah kena bully walau sekali saja seumur hidupmu, kamu pasti bisa merasakan betapa sakitnya dibully. Direndahkan dihina-hina. Atau jangan-jangan justru kamu yang menjadi pelaku pembulian? Ckckck…Haduuuh jangan sampai ya..

Nah nanti di cerita ini Si Fatih yang dianggap teman-temannya aneh sejak ia kecil karena ia pengidap Asperger syndrome (masuk spectrum autis tapi masih bisa sembuh)  ini sering jadi korban bully teman-temannya. Ia dejek, dipermalukan diumpetin barang-barangnya biar ngamuk, karena anak autis sangat tertib, jika ada satu saja  barangnya yang hilang, ia bisa panic dan jadi tantrum. Tantrum adalah gejala kemarahan yang bisa membuat anak tersebut berteriak-teriak di luar kendali, terserang panic dan kebingungan yang akan membuat lingkungan di sekitarnya jadi memperhatikan kelakuannya dan ia akan semakin dianggap aneh. Itulah yang diinginkan para pembully.

Elysium dalam bahasa latin mirip dengan istilah shangrilla (opo meneh ikiiii…..) yang diambil dari legenda-legenda Yunani kuno yang artinya surga…..klu anak alay bilangnya Syulga…..kikikik… Sebuah tempat yang indah buat siapa saja, membuat siapapun yang hidup di dalamnya merasa bahagia. Bukankah saat kita merasa sedih atau galau selalu butuh sebuah  tempat memulihkan diri, untuk bersandar melepas penat dan beban berat?

Karena selalu  jadi korban bully, Fatih jadi bersemangat untuk membuktikan pada dunia, kalau dia jauuuh lebih baik dari para pembullynya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa seorang anak autis juga berharga, punya cita-cita yang mulia dan ingin menjadi bagian terhormat dari masyarakat. (soundtrack genderang perang bertalu-talu…Fatih pakai baju besi di depan siap memberi komando…ups salah,..itu film Gladiator)

Karena itu Fatih jadi bersemangat melakukan langkah-langkah perbaikan diri. Dimulai dari menata konsentrasinya agar bisa lebih focus, olah raga untuk memperbaiki system syaraf limbycnya agar ia tak mudah jatuh atau terantuk sesuatu biar jalannya lebih gagah juga, ga asik kan kalau tokoh utama jalannya kayak orang habis diputusin pacarnya atau malah melambayyy…?, ga cucok deh bow!

Ia juga memperbaiki cara bicaranya yang sering mengulang-ulang dan dibantu Bunda Miranti, Fatih melakukan diet ketat gluten dan casein free (opo meneh ikii jilid 2), menjaga makanan yang masuk ke tubuhnya dengan menghindari makanan instant dan yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti coloring food, pengawet atau penyedap rasa. Fatih juga tekun belajar dan selalu ikut berbagai lomba (bahkan lomba panjat pinang sampai bunda tereak-tereak nyuruh Fatih turun) meski ia selalu yakin ia akan kalah tapi ia mencoba terus supaya punya banyak pengalaman. Ia ingin menjadi anak yang membanggakan bagi bundanya, karena ayah Fatih pergi meninggalkan keluarga karena malu punya anak autis dan menyalahkan bunda Fatih lalu menikah dengan perempuan lain. Ini menjadi dendam bagi Fatih, untuk membuktikan pada ayahnya kalau ia anak yang berharga. Kalu ia juga hebat. Yes! Fatih terus berusaha ya.

Yang aku ingat beberapa hari kemudian, Ayah tak pernah lagi pulang ke rumah. Dan kulihat Bunda yang hanya mengurung di dalam kamar.Terbaring menghadap jendela selama berjam-jam. Tak bergerak. Kadang saat aku mengintip, tubuhnya membeku dan tiba-tiba roda-roda yang sedang kuputar dalam spectrum warna-warni pelangi itu menjadi tak menarik lagi. Ada kekuatan yang menuntunku ke sana, ke tempat Bunda.  Itu bukan bundaku, yang biasanya setiap pagi bangun dan menyiapkan sarapan di meja dengan setangkai bunga rumput sebagai penghiasnya.

Bukan bunda yang diam tak bergerak seperti rongsokan tua yang sering kulihat di tempat kuburan mobil di mana kutemukan banyak sekali roda.

Aku mendekat, mengelus-elus  punggung bunda pelan. Itu yang selalu dilakukan Bunda saat aku sakit, atau saat ia melihatku duduk sendiri sementara anak-anak lain berkejaran dengan riangnya. Ia akan datang mendekat lalu mengelus punggungku lembut dan menciumku. Rasanya nyamaaan sekali dan rasa sakitku perlahan jadi hilang. Ajaib ya?  Semoga elusanku juga bermantera ajaib buat Bunda.

Nah,..tokoh bunda Miranti d sini, karena ia seorang ibu, ia sangat mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati. Ia tak peduli bahwa Fatih Autis. Ia ingin Fatih dapat hidup normal seperti adiknya, seperti anak-anak lainnya. Maka Bunda dengan segala upaya berusaha membuat Fatih keluar dari jeratan autism. Bunda memprioritaskan biaya bulanan terbesar untuk Fatih agar ia bisa selalu bisa kontrol pada dokter ahli, melakukan terapi yang diperlukan, minum suplemen obat-obatan yang akan membantu memperbaiki kerusakan di otaknya, melakukan detoksifikasi yaitu pengeluaran racun dari tubuh Fatih dan selalu menyemangati Fatih dengan kata-kata yang menggugah semangat Fatih untuk sembuh, untuk menjadi anak yang sehat, menjadi anak yang “normal”. Sambil mengelus punggung anak kesayangannya di teras kayu mereka yang teduh dengan rimbun daun mangga, Bunda bicara lirih,

“Sayang…tugasmu bukan untuk menjadi hebat! Tapi cukup bagi Bunda jika Fatih bisa merasa hebat! Bunda tak butuh Fatih rangking berapa, berapa nilai yang Fatih dapat, tapi Bunda akan bahagia kalau Fatih mau berusaha sekuat yang Fatih bisa. Bunda tak menuntut Fatih buat jadi yang terbaik, tapi cukuplah Fatih beri usaha yang terbaik. Itu sudah cukup, Nak. “ …

Aku masih menggenggap erat raport yang ingin kusobek karena malu dengan nilai yang tertera. Tapi demi melihat Bunda yang tak marah melihat angka-angka memalukan itu, begitu tenangnya ketika ia bicara, batu besar yang dari kemarin memenuhi rongga dadaku mendadak remuk menjadi serpihan dan jatuh satu persatu.

Karena Bunda menyakini kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya bahagia, melihat anaknya sukses. Bunda bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, karena itu ia sering tidak ada di rumah. Bunda meminta Fatih menjaga adiknya, untuk melatih rasa tanggung jawab, untuk belajar bersosialisasi, untuk belajar mengenal perasaan, hal yang buat Fatih di awal, menjadi sesuatu yang asing baginya. Tapi Ibu bisa melihat Fatih tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, penuh empati, jujur dan punya cita-cita besar untuk melihat ibu dan adiknya bahagia.

Nah kalau si cantik Kinasih ini memang dididik orang tuanya untuk bersikap manis pada siapa saja. Tumbuh dalam keluarga yang harmonis, meskipun tak kaya raya tapi berkecukupan.  Kinasih tak suka melihat ketidak adilan di sekitarnya. Begitu ia melihat Fatih selalu jadi korban bully hatinya tak terima. Bukankah manusia diciptakan sama? Punya hak apa sampai memperlakukan orang lain dengan seenaknya? Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu! Ya…begitulah pembaca, si cantik ini sangat terobsesi dengan berbagai komik dan ia mengumpamakan dirinya sebagai si Sailormoon pahlawan (yang sebenarnya cewe galau) yang nanti akan bertemu Pangeran Tuxedo bertopeng yang ternyata….menurut Kinas adalah Batman yang sedang menyamar. Kok?

Yah begitulah dia. Kinasih suka kalau bisa membuat Faith tertawa, karena Fatih jarang tertawa, kadang kalau tertawa suaranya agak aneh. Pertama ia merasa itu ga bener tapi lama-lama jadi terbiasa. Fatih terlihat bahagia kalau sudah melihat pelangi, menelusuri bintang di malam hari, dan memutar roda dan lingkaran. Lingkaran apa saja. Roda sepeda, roda mobil, roda motor, piring, baju polkadot Kinas, sampai tutup gelas dan dream catcer yang bergerak-gerak di tiup angin pada kaca jendela.  Lalu ia tuliskan angka-angka dari tiap gerakan roda dan lingkaran yang diputarnya. Entahlah apa itu. Menurut Kinas itu pekerjaan membosankan. Tapi Fatih suka. Apalagi kalau ia ada di sampingnya sambil membacakan buku atau majalah apa saja. Fatih memang tak terlihat mendengarkan, sibuk sendiri tapi saat Kinas ngambek merasa diabaikan dan menghentikan buku yang dibaca.

“Ooooh jadi gitu aku dicuekin setelah baca buku sampai berbusa-busa begini? Bahkan air minum segelaspun tak diberi. Sungguh t-e-r-l-a-l-u!”

Sudah kumiripkan dengan suara dan mimic penyanyi dangdut itu tapi ia tak tertawa. Matanya masih jelalatan mengikuti gerak roda dan menulis angka-angka yang sama tak jelasnya. Mending kalau nulis jumlah duit aku pasti paham. Lah ini? Tulisan ruwet macam cacing kepanasan begitu?

“Oke aku pergi…!”

“”Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada. Dan setiap orang terhangati karenanya. Meskipun begitu karena matahari tak selalu terlihat, manusia tak mengetahui bahwa kehangatan dan kehidupannya berasal darinya.” ①

Ia menyerocos dengan tangan masih mencoret-coret seperti sandi yang ingin dipecahkan. Kinas tertegun. “Coba ulang!” tantangnya.

Fatih mengulang sekali lagi. Sama persis seperti yang di buku!!! Siapa sebenarnya anak ini? Mahluk apa dia? Tapi dia pasti mahluk ajaib yang kalau tak kujaga baik-baik bisa rusak oleh tangan-tangan bodoh yang cuma bisa bicara dengan tangan dan mulut bukan pakai isi kepala. Ibu benar, bocah aneh ini punya entah apalah itu namanya,yang aku harus ikut menjaganya, menjadi pahlawannya. ya, Sailormoon harus siap beraksi!

Jadi pesan dari cerita ini banyaaaak sekali tapi semoga nanti bisa dimasukkan nilai-nilainya tanpa terkesan nyinyir ya, maklum guru gitu loh pasti kebawa mulu bawaannya mau ngajar, lihat siapa saja berasa lihat murid.

Satu hal yang kuinginkan ketika menulis buku ini adalah, seperti kalau kita nonton bioskop dan lihat film yang bagus, kau pulang dengan kepala penuh dengan inspirasi atau pemahaman baru. Atau kau jadi tertarik untuk membaca buku dan tahu asiknya membaca, kau jadi suka puisi Rumi, atau apapun itu.

Semoga nanti begitu. Jadi bantulah aku dengan support kalian supaya otakku ini mau diajak kerjasama menulis cerita, ide mengalir dengan lancarnya, punya alur yang enak buat diikuti dan harus menarik, jadi kalian akan selalu menunggu episode berikutnya, seperti menunggu-nunggu gebetan terlihat melangkah dari gerbang sekolah eaaaaa. dan dadamu mengembang bagai sekoci saking bahagianya. “Terima kasih ya Allah dia masuk hari ini…(lagak ebay ya).

Yah apalagi sih yang diinginkan seorang penulis selain tulisannya bermanfaat bagi pembaca dan laku di pasaran # eh…..  hehehe.

①dicuplik dari “Renungan Kearifan Cinta Rumi, kumpulan puisi Jalaludin Rumi.

Continue Reading

Dimatamu Kutemukan Surga

“Eh awas ada alien mau lewat! Kasih jalan…kalian tahu ga cara dia ngomong gimana?”

Seorang bocah mendelik sambil mangap-mangap seperti ikan keluar dari kolam, tak bisa bernafas, “blup..blup…”

Kelompok bocah lelaki itu tertawa. sayangnya aku tak tahu apa yang mereka tertawakan. Hamster yang berlari di roda putar lebih menarik minatku. Kandang hamster itu terletak di atas laci buku kelas. Aku melangkah mendekat. Dan mereka makin tertawa. “Tuuh kan aku bilang juga apa? Bocah kurang setengah!”

Roda itu masih terus berputar di kandang hamster, bagian tengahnya yang dicat warna-warni membuatnya terlihat warna-warni seperti kumparan pelangi. Aku makin mendekati hamster. “Lihat doong ekspresinya!” Tawa masih riuh sampai kudengar suara nyaring yang takkan pernah kulupakan seumur hidup.

“Reno..!  Jangan gangguin Fatih! Kasihan lah. Apa sih untungnya?”

Ia menyebut namaku. Namaku yang tertulis di rapor, Fatih. Bukan Uus, bukan si setengah, bukan alien apalagi orang aneh.

Continue Reading

HOPE, Kekuatan Menjalani Hidup Para Bravo Madam

Program Bravo Women di Galerries Lafayette Pacific Mall bersama bracelet of Hope dan Real fit
Program Bravo Madam di Galeries Lafayette Pacific Mall bersama bracelet of Hope dan Real fit

“Setelah melakukan meditasi tadi,…saya merasa plong rasanya! Seperti I feel free! Semua beban terangkat semua…jadi terasa lebih ringan…I feel HOPE…”

Survivor kanker sebelahnya memberikan pelukan hangat, mencoba menguatkan si teman karena terlihat sisi emosinya yang meluap mengenang masa-masa penyembuhan.   Aku bisa membayangkan, pastilah berat masa-masa penyembuhan itu. Suasana hening, kami terbawa suasana. Merasa dalam satu ikatan. Tangan saling bergenggaman, menguatkan. Merasa sebagai satu jiwa yang saling berhubungan. Dada..memang betul, berasa sangat ringan. Ada energi meluap yang terhembuskan setelah proses meditsi dan aku pun, kurasa teman-teman yang lain pun merasakannya, menjadi lebih semangat menjalani hidup.

Continue Reading