Bab I : Keganjilan Edisi Revisi

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Spektrum warna berputar-putar di seluruh tempat. Sinar matahari yang memaksa masuk menerobos celah jendela mobil membuat cahyanya makin cemerlang. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di tiap warnanya yang berpendar. Merah, oranye, biru, magenta……berputar dan berlari, mengerling dan memburai. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang lagi ke kiri, sebentar kemudian hinggap di sebelah kanan lalu membumbung tinggi lagi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di hari yang cerah. 1,2,3,4,5,6,7,15,36,49,50…….102…Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipi, memaksa menoleh ke arah suara.

“Faith sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Bergerak +1..mundur..-1, berputar 360◦…..melompat X₂…

Matanya berlari menjalari pandang mataku yang liar bergerak-gerak. Memeriksa dengan seksama adakah yang salah pada mata ini. Ok..ok…aku tahu maumu!

Terpaksa menetap mata Bunda meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku. Kata dokter ke bunda harus sering-sering membuat kontak mata . Ketika aku sudah mau meleng lagi karena lingkaran yang melayang beberapa pergi, Bunda masih memaksaku menatapnya.

“Sayang,..kalau bunda panggil harus nengok ya. Cape dong bundanya kalau harus mencari wajah Fatih terus. Kita sudah sampai rumah sakit nih! Yuk..jalan!”

Suuaranya lembut, seperti biasa. Tak ada suara keras hardikan atau ungkapan kekecewaan. Ih..dia memang baik banget. Digamit paksa tanganku, memegang kaki telanjangku lalu memakaikan sandalku yang sudah kucel jelek bau, tapi Bunda tahu aku tak mau sandal yang lain. Baunya beda, ketebalannya beda, lembutnya juga beda. Aku tak suka sandal lain. Apalagi kalau baru. Ih….bikin geli!

Bunda mengeluarkanku dari mobil. Aku…? terpaksalah membawa kaki-kaki kecil ini terseret mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan. Apalah yang bisa dilakukan bocah berbadan seuprit begini? Sepanjang jalan sampai ke suatu ruang yang banyak kursi berjejer dan orang-orang duduk di sana. Aku benci keraian. Aku tak suka banyak orang lalu lalang. Mereka membuat gerakan lingkaran tak teratur yang membingungkan! Aku benci.

Bunda menerima kartu dari perempuan berbaju putih da nada angkan di situ. Aku suka angkanya. Besar..tebal..hitam penuh pada sebuah kertas berbentuk segi empat. Lalu membawaku duduk di sudut yang tak banyak orang. Ah…untunglah.  Lalu ia mulai melanjutkan bicara yang membingungkan itu. Menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. Aku tahu ia ingin aku meniru ucapannya. Tapi aku kesal, ia buat aku menjauhi lingkaran-lingkaranku di kaca jendela mobil tadi. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Sebuah papan lumayan tebal bergambar mahluk berkaki empat berjanggut tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi di padang rumput hijau. Juga gambar sikat dan pasta gigi. Apa kambing juga harus sikat gigi? Aku benci iklan sikat gigi karena gigiku habis. Entah kenapa tapi Cuma menyisakan sisa-sisa yang kalau aku tersenyum beberapa orang lalu berkomentar, Ih Fatih ..ompong. Dan mereka tertawa. Apanya yang lucu?? Aku tidak suka!

Aku tahu padang rumput tempat kambing itu seperti di rumah teletubbies. Aku suka teletubbies, mereka tak perlu mengucapkan kata-kata untuk saling bicara. Cukup bunyi-bunyi aneh dan mereka saling tertawa. Terlihat bahagia. Meski aku juga tak suka acara berpelukannya. Ih…jijik! Aneh! Rasanya kulitku jadi meremang kalau ada yang memelukku. Jangan dekat-dekat kaliaaan! Aku benci sentuhan!

Tapi….kecuali pelukan bunda, yang selalu bikin aku nyaman. Tangannya yang halus mengelus-elus punggungku saat aku demam, tak mau makan, ingin muntah, ingin ngamuk tapi tak tahu kenapa. Bunda akan datang, memelukku erat dan mengusap punggungku dalam gerakan memutar yang lembut berulang-ulang. Nyaman sekali rasanya. Bisa kudengar detak jantungnya seperti lullaby, membuatku ngantuk dan tertidur di dadanya. Deg..1…deg..2…deg… 3…deg…8…deg..37….deg..115…

“Fatih…”

Ah, kau membuyarkan lamunanku!

“Kambing…..apa sayang? Kambing…K-a-m-b-i-n-g… “

Mulutnya komat kamit aneh. Kadang bibir monyong ke kiri atau ke kanan sambil mata membuka lebar. Alisnya bergerak ke sana ke mari tak beraturan. Bundaku lucu. Aku tertawa.

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu.

K-a-m-b-i-n-g…..

Kata yang aneh itu dirapalnya sekali lagi. Dan lidahku kenapa kelu? Aku memilih diam. Ah,..kaku banget sih buka mulut saja aku tak bisa! Melihatku diam saja, ia mengganti kata yang sepertinya lebih enak didengar dan diucapkan.

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan kata aneh sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Lebih gampang sih. Mata melotot dan jarinya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, anak-anak seusiaku melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka. Mengajak bocah-bocah itu  menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya bersama. Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku. Aku tak mauuuuuuu…!!

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeh….”

Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah………. sekali aja,aku Cuma ingin kau berhenti menggangguku!  Aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Bocah-bocah itu mengangguk penuh harap.  Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Tapi suaraku aneh. Beda…..Parau seperti suara gagak yang katanya menjadi pertanda ada kematian. Bunda mengajak mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a….”

Aku berusaha lepas, ingin lari,  melihat cahaya terpantul di sudut jendela kaca yang bertekstur abstrak. Ada pantulan warna-warni di sana. Berusaha melepaskan diri dari pegangan Bunda. Tapi ia lebih gesit. Ditangkapnya aku lagi. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Aku diam.

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku diam. Ogah mengulang. Bukan permainan yang menarik.

Sampai perempuan berbaju putih menyebutkan angka dan Bunda menggendongku masuk ke ruangan itu. Bau menusuk, tak tahu apa itu. Bau aneh yang menyebalkan. Selalu bau ini yang menyergap kalau bertemu laki-laki bermata empat berbaju putih. Tapi aku suka benda-benda logam di mejanya yang berkilau. Semua memendarkan cahaya tertimpa nyala lampu listrik di atasnya dan mengeluarkan bunyi “ting….yang jernih saat bergesekan satu sama lain ketika lelaki baju putih itu menyentuh benda-bendanya dalam gerakan tak beraturan.

“Hallo..Fatih. Ih lama tak kelihatan ya…sekarang waktunya imunisasi..”

Aku dengar Bunda bicara padanya tapi aku tak tahu apa. Pembicaraan orang tua selalu membosankan bukan?

Cuma bingung, aku melihat bocah-bocah seusiaku keluar satu persatu dari ruangan dengan gambar balon dan badut berhidung merah tapi berbau tajam aneh itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung.

Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala anak di TV yang suka bawa ransel dan Map dan selalu bilang, “Kemana kita?”…. Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh lelaki setengah baya berbaju putih itu. “Cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih itu memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda bangkit dari duduknya, menggendongku lalu kembali duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Mau diapain sih? Lelaki paruh baya itu tersenyum mendekatiku. Ia membawa benda pipih yang sama, dan berkilat terpantul cahaya. Aih..spektrum warna. Merah..hijau…bitu…magenta.. makin lama benda itu makin mendekat, juga matanya yang ada empat aku melihat lingkaran bertumpuk-tumpuk di matanya. Bagaimana caranya ia punya mata keren begitu ya?

Ia mengusap lenganku dengan kapas bercairan yang terasa dingin di kulit. Lalu menancapkan jarum pipih itu ke lengan. Setitik darah keluar dari lengan. Bunda menahan nafas. Kulihat ia menunjukkan wajah ngeri. Memangnya ada apa? Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu ketika jarum bersinar itu menusuk lengannya?

Perempuan berbaju putih ternganga menatapku tapi tak lama bicara,“Anak pinter,..jagoan sekali….kok ngga nangis ya? Bunda Jagoannya hebat deh”…? Pujinya. Bunda tersenyum tipis mengambang, tapi tak kelihatan happy. Ia melihatku seksama, mencari-cari seolah ada yang salah. Kenapa Bunda?

Apa Bunda bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Meraung-raung seperti bocah beransel dan bawa map? Tapi kenapa aku harus menangis? Aku tak suka meraung-raung jika tak perlu? Aku lega Bunda membawaku keluar dari ruangan bau aneh menusuk itu.

Dua orang orang ibu-ibu yang sepertinya dari tadi duduk di kursi paling depan menunggu giliran, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat. Lalu saling berbisik. Aku bisa mendengar suaranya.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi dan tak melihatku lagi. Hush…hush….Aku baik-baik saja…!

Bunda maju, mendekati keduanya dengan tatapan tak suka, memandang tajam seperti melihat setan yang harus dimusnahkan. Mereka kikuk lalu menjaga jarak satu sama lain. Uh Bundaku memang hebat!

Bunda menggendongku dan duduk lagi di kursi. Ia menelpon Ayah. Sementara aku asik melihat bocah lain sedang bermain bola warna-warni. Bolanya memantul ke lantai berkali-kali dalam gerakan yang zig zag. Ia lari ke sana ke mari mengejar bola dan memantulkannya lagi. 1…, 0,5…, 0,75….1,02….

“Ah..itu Ayah datang! Ayo Nak!”

 

Continue Reading

Tiga Karakter Utama “Elysium”

Tiga karakter utama di novel ini adalah

blogtobook8Fatih

umur : 16 tahun

ciri badan :tinggi, kurus, suka slebor sama penampilan sering salah mengancingkan baju, rambut ikal awut-awutan, tapi tak pernah lupa pakai parfum karena wangi itu kebutuhan.

hobby : mempelajari astronomi, mengerjakan TTS, suka makan apapun, semua enak menurutnya, juga membuat lego dan menjawab soal-soal latihan matematika di buku pelajaran dan suka lagu-lagu lama seperti penampilannya yang kuno

Continue Reading

Pengalaman Makan Bersama di Italia

Makanan dan acara makan bersama menempati posisi penting dalam masyarakat Italia. Mereka suka berkumpul bersama untuk melakukan perjamuan. Saling berbincang dan menanyakan kabar adalah hal yang tiap hari mereka lakukan saat bertemu teman, apalagi jika sudah lama tak bersua. Bahan perbincangan sih tentang hal-hal ringan seperti anak si anu sudah mulai besar, atau X cerita kalau baru saja membeli lukisan baru untuk dipajang di rumah atau bercerita tentang perjalanan yang mereka lakukan di masa liburan.

budaya-makan-bersama-di-italy-shita

Continue Reading

Anak Yang bahagia dari Ibu Yang Bahagia

pertama mendengar kalimat ini dari Oprah Winfrey saat masih aktif mengelola Oprah Winfrey Show. Saat itu ditayangkan seorang ibu yang membunuh tiga anaknya karena ia depresi, merasa tak mampu memenuhi harapannya sendiri sebagai seorang ibu. karena merasa gagal itu ia membunuh anak-anaknya. Kejadiannya di Amerika. Si Ibu perempuan baik-baik. Serasa tak percaya. Tapi ternyata beberapa tahun kemudian tragedi ini terjadi di Indonesia. Karena hal yang sama. Ibu merasa gagal mencetak anak-anaknya menjadi teladan maka diputuskanlah untuk “menghapus” proyeknya yang gagal itu.

Continue Reading