II. Puzzle Yang Berlubang

elysium-bab-2

Ketinggalan bagian pertama? Klik saja di sini.

Gedung ini juga banyak yang pakai baju putih-putih, tapi aku tak mencium bau aneh menusuk. Banyak bunga di mana-mana. Aku suka warnanya yang ungu magenta dan mawar merah di vas besar menebar harum. Aku suka mengendus-endus bau baru dari apa saja. Juga saat Ayah dan Bunda menggandengku melalui sebuah lorong yang penuh kartun binatang warna-warni. Suasana lebih sepi. Hingga sampai di suatu ruangan. Perempuan berbaju hijau pupus dengan kepala memakai topi kertas persegi membukakan pintu. Seorang perempuan lainnya tapi berambut putih semua, dengan wajah ramah tersenyum menyambut. Ia juga memakai baju putih sebagai luaran dan bermata empat! Kenapa banyak orang berbaju putih bermata empat? Tapi aku suka melihatnya. Aku bisa merasakan hatinya hangat. Ia berjongkok di depanku, tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku. Seperti terhipnotis, aku menyambut tangannya.

“Siapa namanya?” suaranya empuk.

“Fatih..” kata Bunda mewakili. Tapi ia menunggu aku mau membuka mulut dan menengoknya dengan menyentuh tanganku berkali-kali. Aku menengok. “Pinternya…..Fatih mau main puzzle? Coba lihat….Ibu punya apa ya….?”

Diraihnya sekotak besar mainan dari sudut ruangan. Aku antusias mendekat melihat warnanya yang warna warni. Ada satu yang sangat menarik perhatianku.

“Ibu Melly bicara dulu sama Ayah dan Bunda ya….” Tangannya membimbingku menuju karpet plastik empuk dan sekotak mainan itu. Ada banyak benda menarik di sana. Dan aku,…menemukan roda yang berputar dengan gambar abstrak lima gumpalan dan di permukaannya ada tulisan kecil-kecil.  Dan aku bisa memutarnya berkali-kali. Wow….!!!

_______________====_____________________

“Saya sudah baca semua hasil laborat Fatih yang sudah dikirimkan dari Amerika kemarin. Dari analisis rambut dan kuku, memang mengandung banyak toxin. Tak ada cara lain, kita harus kuras racunnya dengan cara detoksifikasi. Dia juga mengalami leaky gut…”

“Apa itu leaky gut dokter?”

“Menurut penelitian, leaky gut itu disebabkan oleh tidak tercernanya makanan yang dikonsumsi si anak akibat alergi makanan. Salah satu cirinya membentuk mosaic feses pada anak berspektru autis. Ibu pernah perhatikan kalau feses Fatih berwarna-warni, bukan?”

“Seperti apa Dok?”

“Kalau ia makan wortel, ada bagian fesesnya yang berwarna oranye dan masih utuh dalam bentuk wortel. Kalau ia makan bayam pun,  ada bagian fesesnya yang tetap hijau segar..”

“Betul dok…” Keduanya membentuk O di mulutnya secara lucu.

Dokter Melly mengambil gambar besar lalu menerangkan dengan gambar itu proses pencernaan yang rumit. Ayah dan Bunda begitu serius mendengarkannya.

“Dan bahan makanan yang tak tercerna itu berubah menjadi racun yang menyebabkan jamur di usus yang menimbulkan luka dan menyebabkan usus si anak mengalami kebocoran. Sayangnya..zat-zat sisa tak tercerna ini mengalir melalui usus yang bocor itu lalu diserap pembuluh darah lalu dibawa ke otak. Zat sisa itu memberi efek seperti si bocah menggunakan narkoba. Itu sebabnya anak-anak seperti Fatih kadang punya tenaga luar biasa yang membuat mereka tak pernah merasa lelah dan tak bisa berhenti bergerak. Efek yang sama dari dopamine, zat yang merangsang syaraf dan otak untuk aktif bergerak jika jumlahnya berlebihan maka syaraf pun terangsang terus bergerak tanpa henti.”

“jadi….otak Fatih teracuni zat sejenis narkoba?” Aku tak sabar mendengar lengkap seluruh penjelasannya.

“Betul Bu. Karena adanya racun seperti narkoba yang tertimbun bertahun-tahun itu membuat Fatih semakin terasing dari dunia luar, ia berasa punya dunia sendiri. Efek ini memang berbeda-beda bagi tiap anak. Bagi sebagian anak yang lain, zat beracun ini membuatnya tak punya semangat hidup dan sangat pasif dalam keseharian. Hanya tidur terus menerus pekerjaannya. Kita menganggapnya malas,…. padahal itu bukan kemauan si anak sendiri.”

“Apa seperti narkoba, zat ini juga menimbulkan efek mati rasa?”

“Batul Pak,..pada banyak kasus memang membuat anak tak memiliki rasa sakit meskipun ia jatuh sampai memar atau berdarah-darah, karena ketika terluka ia tak punya rasa sakit sama sekali. syarafnya tak bisa membaca rasa sakit itu…”

“Oh…itu sebabnya Fatih tak pernah menangis saat ia jatuh, terluka, berdarah dan kemarin saat disuntik waktu imunisasi..” Aku terbayang kejadian kemarin.

“Bisa jadi Bu..”

Ayah dan aku berpandangan. Kulihat kabut di mata Ayah yang berusaha tegar dan berusaha menjalankan tugasnya sebagai suami, menguatkan sang istri, dengan mengusap punggungku. tapi itu tak menimbulkan efek menenangkan kini. Rasanya ribuan jarum ditembakkan ke dadaku menimbulkan sensasi jutaan rasa nyeri yang mematikan. Menyedot seluruh energiku.

“Maaf…apa Fatih suka menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti mau terbang dengan gerakan berputar-putar?”

Ayah dan aku mengangguk cepat, hampir bersamaan.

“Juga tak mau menengok saat dipanggil namanya tapi kalau mendengar suara tertentu, yang bukan suara manusia ia menoleh dan bereaksi dengan cepat?”

“Betul Dok,…..” Jawaban Ayah singkat dan bergetar.

“Dia tak mau menoleh kalau kami panggil dan ajak bicara meski dari jarak pendek. Saya pikir ia punya gangguan telinga. Tapi ketika ia mendengar suara mesin mobil, meski jaraknya masih jauh ia bisa mendengar dan langsung berusaha lari mendekat.”

“Fatih juga sering mengalami konstipasi?”

“Iya Dok,..dia BAB dua hari sampai tiga hari sekali. Karenanya keras sekali. Saya sering kasihan saat melihatnya berusaha mengeluarkan feses, kadang sampai berdarah-darah. Meskipun sudah saya beri buah,..tetap sering seperti itu kejadiannya.”

“Maaf,….apakah fesesnya berbau sangat menyengat?”

“Betul..”

Kami berdua menganga, saling berpandangan dengan wajah menyimpan banyak teka-teki. Apakah Fatih sakit parah? Tapi sakit apa? Kami memang merasa ada misteri besar yang menyelimutinya yang membuat kami tak tahu apa itu. Ia memberi teka-teki yang tak mampu dijawab.

“Dia susah tidur?”

“Iya… dia selalu tidur larut. Apalagi kalau siangnya ketiduran, pasti malamnya jam 2 sampai 3 pagi baru tertidur dan mudah sekali terbangun pada suara yang pelan sekalipun. Dokter ada apa ini…anak kami sakit apa?” Aku tak sabar lagi. Ingin segera menerima jawaban dari semua teka-teki.

“Dia juga kadang mengalami gangguan telinga?”

Ayah mengangguk cepat. Baru dua minggu yang lalu kami ke THT karena telinganya sangat berbau. Dokter bilang fatih terserang infeksi. Dokter Melly menghela nafas panjang. Belum ingin menjawab teka-teki. waktu menjadi sangat lambat dan aku bisa mendengar detak persekonnya. Please…dokter..katakan sekarang juga.

“Apa Fatih menyukai satu benda tertentu, padahal itu bahkan tak bisa disebut mainan anak-anak?”

“Roda dokter…roda…., lingkaran dan segala benda yang bergerak teratur. Bund…biar aku yang jawab”.kata Ayah melihatku yang sudah mulai membuka mulut merasa tak sabar.

“Dia suka semua benda yang berputar dan berbentuk lingkaran……?” Dokter Melly mengulangi kalimat itu.

Kali ini Ayah yang menerangkan melihatku makin gugup. “Ia bisa larut memutar-mutar roda sepedanya berlama-lama. bahkan kadang lebih dari sejam jika tak kami alihkan perhatiannya. Ia, juga suka berjongkok mengamati roda mobil saya.”

Aku tak mau kalah semangat. “Ia juga suka semua yang berbentuk lingkaran lalu memutarnya. Dia bisa main pantul bola berjam-jam. Atau memutar piring makanannya saat makan siang sambil terkekeh-kekeh sendiri. Tapi ia tak pernah tertawa begitu riangnya kalau diajak bercanda, Dok.”

Dokter Melly manggut-manggut. Lama ia diam. Tik..tok..tik…tok…

“Ayah…Ibu….ini memang berat. Tapi saya berharap anda berdua tabah ya,…menurut diagnosis saya, Fatih adalah penyandang autis….”

“Autis?”….. Kedua wajah kami mengandung kalimat tanya yang sangat jelas. Mahluk apa itu, AUTIS?

Suasana hening. Tiba-tiba pertahananku runtuh, tak tahan untuk tak menangis. Jadi … itulah kenapa Fatih aneh selama ini. Ayah memelukku.

“Autis memang bukan penyakit yang ada obatnya, Bapak..Ibu. Dan mungkin seumur hidup takkan pernah bisa hilang dari si anak. Ini tidak seperti sakit disentri atau DB. Tidak juga seperti kanker atau tumor.”

kami berdua berpegangan tangan saling menguatkan.

“Bahkan kalangan kedokteran tak berani menyebutnya sebagai penyakit, tapi syndrome. Tapi berita baiknya Bapak Ibu…Fatih jika saya amati bukan penyandang autis tingkat berat,…masih ada harapan Fatih menjadi normal dan bisa menjalani hidup dengan baik. Saya rasa Fatih masuk kategori Asperger Syndrom, yang kadarnya lebih ringan.”

“Apakah benar-benar tak bisa disembuhkan, Dok?” Suara Ayah terdengar lirih.

“Kita usahakan Pak, bersama-sama, ini akan berat buat Bapak dan Ibu, tapi saya akan berikan semua hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mengeluarkan Fatih dari dunia sendirinya. Tapi harus sabar dan sungguh-sungguh. Sanggup?”

Aku berhenti menangis, kalah oleh rasa penasaran. “Kami akan lakukan apa saja Dok untuk kesembuhan Fatih. Tolong bantu kami.”

“Mau tahu hal pertama yang harus Bapak dan Ibu lakukan untuk proses kesembuhan Fatih?”

“Iya..iya..”

mata kami berdua berbinar penuh harapan. Ada harapan untuk sembuh!

“Pertama…terima kenyataan kalau Fatih autis, itu dulu. Orang tua dimanapun…pasti punya harapan besar terhadap anaknya. Begitupun Bapak dan Ibu. Betul bukan? Ingin punya anak yang hebat?”

Tentu saja, siapa yang takkan bangga punya anak hebat?

“Tapi kenyataannya ada satu hal besar yang membuat impian kita kadang…tak mudah menjadi kenyataan.…bukannya tak bisa ya….”

Suasana hening. hatiku membatu, dingin. Kenyataan pahit sepertinya baru mulai dari sini….

“Bukan tak mungkin Bunda….” Dokter Melly melihat hilangnya sinar harapan di mataku.

Ini adalah bagian yang sama sulitnya buat saya selain menolong si anak. Membantu orang tua menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin harus direvisi….”

Pandanganku mengabur….air bening itu kembali bergulir tanpa putus dari sudut mata. Berasa bongkahan batu besar dipaksa masuk ke rongga dada. menyayat daging di antara tulang rusuk dan mengucurkan darah segar. Aku terguncang. Ayah berusaha menenangkan.

“Biarkan Pak,… biarkan Ibu menangis. Ini memang berat diterima…..dan memang bukan berita bahagia.”

Suasana menjadi semakin hening hingga isakku makin terdengar jelas di ruangan dingin yang kurasa makin dingin. Kutoleh Fatih yang masih terlihat bahagia bermain globe.  Aku bahkan bisa mendengar tarikan nafasnya dari tempatku duduk. Anakku sayang, misteri apa yang kamu bawa?

Penasaran? Part 3 ada di sini

Baca juga yang ini....

3 Comments

  1. Di bagian cerita yang Fatih sering kontipasi, feses kadang warna-warni, mendadak aku jadi khawatir sama anakku sendiri, Mbak. Dia nggak autis, sih. Tapi pas baca tulisan ini yang ngejelasin efeknya, aku kok jadi mikir berat. TFS, Mbak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *