Joglo, Lambang Kemapanan Masyarakat Jawa

Joglo cantik ini terletak di Jakarta lo

Bayangkanlah, saat  bangun tidur di pagi hari, kita bisa buka jendela lebar-lebar, merasakan segarnya udara pagi yang bersih dan sejuk, lalu suara gemericik air di kolam ditingkahi berkecipaknya puluhan ikan mas koi cantik yang berenang dengan riang. Tanaman dan rumput hijau memanja mata, dan bunga-bunga anggrek mengerling dengan genitnya. Bagaimana rasanya? Ya,..nyaman sekali di hati.

Itulah juga yang kurasakan tiap kali berkesempatan bertandang di rumah tradisional cantik ini. Sambil leyeh-leyeh menyandarkan badan di kursi malas (apalagi kalau kursi goyang wah..lebih enak lagi) sambil kaki merasakan halusnya teras marmer yang dingin. Pagi Minggu itu dilengkapi pisang goreng  kapok yang mak nyus dan segelas the hangat yang mengaliri tenggorokan.

Meskipun matahari kemudian digantikan titik hujan tetap tak mengurangi kenikmatan. Tempias kucuran talang mengalir masuk kolam menggoda para ikan koi yang sibuk mencari makanan.  Mulutnya yang megap-megap itu antusias melumat jari-jari tangan yang dipikirnya makanan. Kalau mereka tambah besar, betapa riuhnya nanti kolam batu ini.

Nah, joglo sendiri adalah rumah tradisional Jawa yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu di Jawa, biasanya keluarga bangsawan dan para pengusaha. Karena joglo membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatan hingga pendiriannya. Jenis joglo sendiri banyak. Ada Joglo Mangkurat, Hageng, Sinom, Semar Tinandhu, Pangrawit, Jompongan yang sebagian besar merupakan tipikal Jawa selatan da nada juga Joglo Kudus, Jepara, Pati,dan Rembang. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Namun pada perkembangan selanjutnya, Joglo kontemporer yang merupakan gabungan banyak aliran banyak diminati karena ia menggabungkan keindahan berbagai aliran.

Namun, biasanya joglo selalu memiliki pembagian tempat yang hampir sama. Biasanya terdapat pendopo, tempat terbuka tanpa sekat yang digunakan untuk mengadakan acara besar. Di Kesultanan Yogyakarta, Siti Hinggil merupakan tempat pisowanan agung, ketika Sultan bersama para nayaka praja mengadakan pertemuan dan membahas masalah penting negara.

Pringgitan adalah tempat menerima tamu yang dianggap lebih akrab hubungannya dengan keluarga, dan penghubung bagian wilayah yang lebih pribadi yaitu gandok kiwa dan gandok tengen. Gandok kiwa dulu merupakan area servis, tempat padusan (kamar mandi), pawon (dapur), dll. Gandok tengen menjadi area privasi, barisan kamar pemilik rumah yang disebut Sentong. Penjaga area privasi yang membatasi pendopo, dan pringgitan biasanya sketsel, sedangkan pembatas pringgitan dan ruangan yang lebih privasi digunakan gebyok.

Pernah mendengar ungkapan soko guru? Nah…soko guru merupakan empat tiang utama penyangga bangunan joglo agar bangunan stabil dan kokoh. Jadi generasi muda yang berkualitas adalah soko guru pembangunan bangsa Indonesia. Lak njih ngoten poro sedherek?

Seperti rumah tradisional Indonesia pada umumnya, joglo juga tak menggunakan paku dalam pembangunannya. Semua bagian rumah Joglo biasanya terbuat dari kayu, karena memiliki sifat kelenturan dibanding bahan solid seperti batu atau semen. Joglo juga menggunakan teknologi precast dalam istilah teknik sipil, yang kini banyak digunakan dalam dunia konstruksi.

Selain itu, Joglo menggunakan pasak, dan teknik penggabungan masing-masing  bagian rumah dari tiang penyangga, blandar, reng, usuk serta dinding-dinding rumah. Kenapa? Karena memberi ruang kelenturan gerak bagi bagian-bagian rumah saat menghadapi guncangan gempa, untuk meminimalisir kerusakan. Ingat! Pulau Jawa merupakan bagian dari barisan “Ring Of Fire” yang memiliki banyak gunung api aktif, titik pertemuan lempeng Pasifik dan Mediterania sehingga rawan terjadinya gempa . Canggih kan teknologi nenek moyang kita?

Nah dalam proses pembuatan joglo tidak main-main. Biasanya sang pembuat akan melakukan lelaku atau tirakat  terlebih dahulu, seperti berpuasa selama 40 hari agar diberi petunjuk Yang Kuasa agar pengerjaan bangunannya berjalan lancar. Proses pendirian bangunan joglo pun tak main-main. Harus dihitung hari weton pasangan suami istri pemilik dan dasar hitungan tersebut digunakan untuk menentukan hari pendirian soko guru, bagian pertama dari Joglo. Dalam hitungan kosmik Jawa, penentuan hari pendirian rumah menentukan nasib pemilik rumah. Rumit, ya? Banget!

Di jaman dahulu, pemilik Joglo akan menanggung seluruh biaya hidup sang maestro pembuat joglo beserta keluarganya, meliputi bahan makanan dan sandang dari awal pengerjaan hingga selesainya bangunan. Dan pengerjaan joglo bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. Lah,…kalau tidak kaya, tak mungkin kan bisa melaksanakannya?

Ada sebuah keyakinan dalam masyarakat Jawa tradisional jika pengerjaan joglo tak boleh main-main. Konon, jika salah tanggal pendirian bangunan atau terjadi salah pasang bagian bangunan dapat menimbulkan memolo (musibah) seperti ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia. Tentang kebenarannya wallahualam bissawab. Karena itulah masyarakat Jawa masih berhati-hati saat ini ketika menentukan kapan waktu yang tepat untuk membangun rumah, pindah rumah, dll.

Ruang pringgitan yang terlihat dramatis di malam hari karena dihiasi lampu gantung yang dipesan khusus dari perajin. Photo by Shita R

Rumah joglo itu penuh dengan falsafah Jawa. Lihat pada bagian tumpang sari yang berbentuk segi empat berundak-undak, makin ke atas semakin kecil yang artinya semakin dirimu mendekatkan diri pada Tuhan, maka sudah semstinya jika harta benda mejadi semakin kecil nilainya dalam kehidupan. Bukan berarti kita jadi menolak hidup yang sejahtera, tetapi semakin banyak bagian harta kita yang disumbangkan pada yang membutuhkan karena memandang harta bukan lagi bagian terpenting dalam hidup. Bentuk bubugan yang makin mengecil itu juga dapat kita lihat pada bentuk Piramid Mesir yang berbentuk limas, yang menunjukkan ketinggian merupakan lambang komunikasi untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Dhodog Wesi merupakan kayu besar yang menghubungkan empat bagian soko guru. Semakin besar ukuran dhodog wesi semakin besar pula rumah yang dibangun artinya juga menentukan semakin mahalnya harga rumah. Bagian ukiran yang menjadi hiasan sketsel dan yang membingkai pinggir jendela yang berbentuk seperti tirai disebut kleweran. Sebagian besar motif kleweran yang digunakan adalah motif flora, dedaunan, bunga dan sulur-suluran. Ini tak lepas dari pengaruh agama Islam, yang tidak menyarankan penggambaran manusia dan binatang sebagai hiasan. Bahkan Sunan Kudus sendiri menciptakan satu motif ukiran joglo yang didasarkan pada bentuk bunga melati. Pernah melihat hiasan pada masjid At Tiin TMII? Nah itulah motif bunga melati yang diciptakan Sunan Kudus.

Sehingga tak heran jika saat ini nilai joglo bisa mencapai ratusan hingga milyaran rupiah, apalagi jika joglo tersebut merupakan warisan turun temurun dan memiliki sejarah penting, seperti dari keluarga terpandang atau karena memiliki nilai sejarah juga akan membuatnya diburu para kolektor.

Nilai  suatu joglo bisa ditentukan oleh banyak variable, diantaranya umur bangunan. Semakin tua umur sebuah joglo semakin tinggi harganya. Begitupun kualitas kayu turut menentukan harga. Joglo kayu jati yang berkualitas Grade A tentu saja beda harga dengan joglo yang terbuat dari jati kualitas grade B atau joglo yang terbuat dari kayu nangka. Kayu jati terbaik berasal dari daerah Blora, karena komposisi tanahnya yang kaya akan kapur dan kering membuat kayu jati dari daerah ini bernilai tinggi. Kerumitan ukiran tentu saja juga menentukan nilai tambah bangunan. Semakin banyak ukiran yang digunakan dan semakin rumit dan detail hiasan yang dipakai tentu saja, berkorelasi positif pada harga joglo. Kayu jati juga bukan kayu yang gampang dikonsumsi rayap dan sudah terbukti mampu bertahan ratusan tahun tanpa rusak asalkan kita mampu merawatnya dengan baik, terutama menghindari kelembapan karena bisa membuatnya berjamur dan mengurangi daya tahan dan kelenturan kayu jati.

pak-tumiyana-dan-ibu

Karena harganya yang mahal dan perawatannya yang rumit, serta syarat tanah yang harus cukup luas membuat joglo hanya dimiliki kalangan elite, sehingga sejak dulu hingga kini joglo merupakan bagian dari supremasi kemakmuran seseorang. Ingat, di Jawa ada 5 hal yang biasanya digunakan sebagai parameter kesuksesan seorang laki-laki. Wanito atau perempuan, istri merupakan salah satu tanda kedewasaan lelaki untuk berani berkeluarga, jika pada jaman dahulu banyak lelaki sukses beristri lebih dari satu, tetapi kini di masa modern justru menilai lelaki sukses itu lelaki yang merasa cukup dengan satu istri dan mampu membuktikan mengelola keluarganya dengan baik. Wisma adalah rumah yang besar dan bagus, tentu saja orang berhasil jaman dulu pasti rumahnya joglo atau limasan yang besar. Turangga , kuda yang bagus sangat dibanggakan di jaman dulu, kini kendaraan roda empat yang mewah atau motor roda dua yang ccnya besar. Curigo  adalah senjata, para raja dan bangsawan biasanya memiliki senjata andalan yang terkenal kesaktiannya. Danang Sutawijaya, Raja pertama Mataram islam memiliki senjata tombak Kyai Plered. Buat orang modern, gadget tercanggihlah kini yang menjadi senjata.  Smartphone yang bisa mengakses pergerakan saham di bursa secara update misalnya. Tolok ukur terakhir adalah Kukilo, yang artinya secara harafiah adalah burung, tetapi yang dimaksud adalah hobby. Burung yang pandai berkicau seperti murai batu, jalak, perkutut menjadi kesenangan lelaki Jawa sukses masa lalu. Nah lelaki sukses masa kini punya hobby yang beragam. Dari traveling, mengoleksi barang antik, koleksi mobil atau jam tangan mewah misalnya, atau memiliki satwa unik yang harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta seperti burung, kuda atau anjing ras tertentu.

Rumah joglo milik Bapak Ir.Tumiyana M.T , seorang pengusaha sukses ini, memiliki rumah joglo yang sangat cantik dan megah di Jakarta loh,bukan luar kota. Sebagai seorang yang menginginkan segala hal harus prima, beliau selalu menekankan hasil terbaik dari pengerjaan rumah joglonya. Joglo yang dibuat pada tahun 1861 dan dibuat ulang dalam versi yang lebih indah dari aslinya. Seluruh bangunan full dengan ukiran Jepara yang terkenal keindahannya. Seluruh bagian rumah dari pintu depan, jendela, gandokan, dhodog wesi full ukiran yang rumit dan halus.

trawangan jenis ukiran yang rumit dalam pengerjaannya. Photo by Shita R

Rumah ini juga memiliki kleweran jenis trawangan, ragam hias yang paling rumit tingkat pengerjaannya karena berbentuk tiga dimensi. Perlu pengukir yang memiliki pengalaman dan keahlian tinggi yang bisa mengerjakannya. Lihatlah cantiknya klewer di jendela saat terkena sinar matahari, membentuk shilloute terawang yang indah bukan?

joglo5

Bangunan semakin cantik dengan lampu susun raksasa di ruang tengah yang dibuat secara khusus oleh para perajin dari Jawa. Begitupun patung Raja Hayam Wuruk, Patih Gadjah Mada dan para punggawa raja yang dipesan dari Muntilan, dekat Magelang dengan material batu gunung Merapi yang terkenal berkualitas. Begitupun burung-burung yang ditempatkan pada kandang raksasa dan sebagian tergantung di teras belakang dan setiap hari mengeluarkan suara merdunya. Favorit saya, memberi makan ikan mas koi yang bagi kepercayaan Tionghoa sebagai lambang kemakmuran dan keberhasilan. Ikan koi yang cantik-cantik itu berada di kolam berkecipak riang saat kita beri makan dan jinak saat kita mengggoda dan mengelus badannya yang licin.

musholla mungil yang full ukiran kaligrafi ayat suci. Photo by Shita R

Di halaman belakang dilengkapi dengan musholla mungil yang penuh dengan ukiran kaligrafi yang indah. Bayangkanlah,..betapa nyamannya salat di ruangan terbuka di antara semilir angin yang membawa kesejukan, di antara cantiknya bunga anggrek dan rumput yang menghampar hijau.Dijamin betah berlama-lama di rumah joglo begini.

Para pembaca pasti pernah melihat Pak SBY beberapa kali berpidato di depan rumah joglo beliau di daerah Cikeas, salah satunya saat terjadi reshuffle cabinet, pak SBY tidak melakukan pidatonya di istana Negara, justru di depan rumah joglo beliau. Begitupun Pak Prabowo Subianto, sering menerima tamu-tamunya di rumah joglonya yang besar dan mewah di daerah pertaniannya di pinggiran Kota Bogor. Pak Anies Baswedan juga dikenal kecintaannya pada budaya Jawa dan memilih rumah joglo sebagai tempat tinggal. Ibu Tien Soeharto juga menempatkan rumah joglo, di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Mereka adalah orang-orang yang punya kedudukan penting di masyarakat. Nah,…jelas bukan jika joglo adalah salah satu supremasi kalangan atas masyarakat Jawa?

anda dapat baca artikel ini juga di http://www.kompasiana.com/amatamorgana/joglo-lambang-supremasi-kemapanan-masyarakat-jawa_582922950123bdbf06617766

 

Baca juga yang ini....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *