Part 4. My Oxygen

quote cinta by Shita Rahutomo
quote cinta by Shita Rahutomo

Cerita sebelumnya ada di sini

Ruang tunggu itu penuh sesak dengan beragam bocah dan para pengantar. Dari usia balita sampai remaja, dengan wajah bertanda “tolooong….ada puzzle yang hilang dariku…!!” tergambar jelas di tiap anak. Aku bisa melihat raut wajah dengan pancaran mata yang sama, ekspresi yang hampir mirip satu dan lainnya, seperti kumpulan boneka matroska dari Rusia, yang dijajar rapi, dengan bentuk yang mirip hanya berbeda di ukuran. Dengan cepat aku bisa mengenali benang merah itu.

Membayangkan seperti saat proses penciptaan manusia, ketika semua bagian tubuh sudah lengkap, tinggal proses wrapping, agar mudah dipantau, dilengkapi dengan program operasi yang disimpan dalam microchip. Tertulis dalam bentuk  barcode di tengkuk tiap orang untuk memantau kadar kebaikan, keburukan, apapun itu selama masa expirenya belum berakhir.  Tapi bocah-bocah dengan tanda “Ada puzzle yang hilang dariku” ini mengalami satu kegagalan system yang membuat satu nomer seri  menghilang atau terselip entah di mana dan system computer menggantikannya dengan satu karakter acak dan ganjil, yang ditempelnya begitu saja.  Itu membuat ada bagian yang hilang dari binar mata mereka karena proses pengkodean yang sembrono itu. Dan Fatih, sayangnya,… termasuk dalam bagian acak itu.

Meskipun kalau diperhatikan dengan seksama, aku malah bisa melihat jiwa-jiwa yang lugu dan murni. Terpancar dari sinar wajahnya. Hati yang bersih,…yang tak pernah ingin menyakiti orang lain. Karena mereka memiliki sayap-sayap malaikat tak terlihat, yang menghapus segala rasa iri, pangkal dari segala kejahatan di hati manusia. Yang juga menjerumuskan setan dari tempat keagungan, turun derajat jauh dari Adam. Tapi mereka terjebak, bukan dalam neraka tapi dalam penjara gelembung raksasa yang transparan namun sunyi, yang memisahkan mereka dari orang-orang yang mencintainya. Seperti Fatihku, yang menunggu kami memecahkan gelembung raksasa itu.

Para pengantar sebagian duduk tenang di kursi tunggu. Tenang dalam penglihatan, sibuk dan kacau dengan pikiran masing-masing. Sementara sang anak sebagian besar lebih banyak diawasi para baby sitter yang kewalahan harus bermanuver dengan segala tindakan ajaib para bocah. Wajah yang putus asa, lelah, bingung dan entah apalagi. Mereka sama seperti kami, memiliki teka-teki rumit yang susah dipahami.

Teriakan peringatan berkali-kali terdengar dari berbagai sudut ruangan, tapi mentah di tembok menjadi tanpa arti. Karena bocah-bocah yang sibuk dengan dunianya sendiri. Berlari mengelilingi ruangan tanpa peduli menabrak meja kursi atau orang, diam sediam-diamnya, bisu bagai tak bernyawa, memilih tiduran dan pikiran menerawang seolah besok hari terakhir di dunia, memilin-milin rambut kuat0kuat tanpa rasa sakit, berputar ke sana ke mari, flapping[1]tanpa henti, berteriak-teriak dalam oktaf tinggi memekakkan telinga, memainkan ludah tanpa rasa jijik, bersuara aneh, terobsesi menyakiti diri sendiri, atau benda tertentu. Ada yang sibuk menguliti kulit di tangannya, tak mau berhenti meski telah berdarah. Sebagian mematung dalam kebekuan. Ada juga yang khusyu memegang sebuah benda dan mengamatinya penuh kekaguman, seolah itu benda penemuan terbaru dan tercanggih abad ini yang harus dipelajarinya dengan seksama sebagai tugas keberadaannya sebagai manusia.

Tak ada yang berbaur. Mencoba mengenal satu sama lain. Atau bermain bersama. Tak ada… Semua terperangkap dalam gelembung sabun raksasanya sendiri-sendiri.

Seorang bocah seumur Fatih sedang mondar-mandir berjalan membentuk lingkaran tak beraturan dan mulutnya tak henti nyerocos kata-kata bahasa Inggris, seperti mendengar cuplikan sebuah adegan film dan ia harus mengisi suara para tokohnya, sama persis seperti dalam cuplikan film, lengkap dengan aksen yang khas yang membedakan satu tokoh dengan yang lainnya.

“what kind of meat do you like?”

“hmmm lamb please..”

“Madame..you don’t want to try ham? I will give you big discount today..”

“No… Butcher,..thank you very much..but I just need lamb, please…”

…….

Braak…!!!

Di sudut yang lain, seorang bocah lelaki umur 6 tahun terus berlari penuh energy ke arah tembok dan menubrukkan tubuhnya sekeras-kerasnya.

Brakkk……….!

Dan lihatlah, tiap kali badannya menggempur tembok, ia menjadi begitu riang. Diulang-ulangnya aktivitas itu. Dan ia terlihat bahagia. Aku bergidik ngeri. Kebahagiaan macam apa itu, nak? Apakah badanmu tidak lebam biru saat melakukan itu semua? Sinar mata yang sama.

Braakkkk…..!!!

Seorang  lelaki, sepertinya ayah si bocah, berusaha keras mengalihkan perhatiannya agar ia tak terus melakukan adegan tabrak tembok itu. Dicobanya memeluk kuat-kuat, si bocah berontak dengan tenaga raksasa yang entah didapatnya dari mana, lalu berteriak kencang,” AArrrgh…….!!!”  Ia terlepas dari pelukan. Berlari pada obsesinya.

Braa…kkkk…!!

Meninggalkan Sang Ayah dalam wajah putus asa.

…….

Di sudut lain, seorang bocah perempuan membawa gasing warna-warni, ia terus memutar berkali-kali dan terlihat terpesona dengan gerakan yang dibuat gasing itu, menciptakan warna-warni pelangi, yang berputar mengabur. Sama seperti Fatih. Dan lihatlah, Fatih mulai berontak dari gendonganku begitu melihat gasing ajaib itu. Bukan karena pesona bocah perempuan mungil berkulit putih bersih cantik dengan hiasan bando bunga besar itu, tapi pada gasingnya yang berputar mempesona. Dan aku yakin  gadis bermata oriental itu takkan mau berbagi.

Hatiku mencelos. Bisa kulihat ia terduduk di sudut ruangan tak berdaya. Kucari Ayah yang menghilang entah kemana. Aku sungguh tak ingin sendiri dalam kondisi ini. Buatlah aku tetap waras, Tuhanku.

“Fatih Al Hambra…..!”

Saved by the bell. Panggilan menuju ruangan konsultasi serta terapi apa saja yang perlu dilakukan Fatih membuatku meninggalkan inferno kecil ini. Ayahnya menyusul tak berapa lama kemudian.

Ok… tugas itu begitu banyak, dan untuk mengerjakannya kami butuh tetap waras dan punya pohon uang. Pohon uang? Tentu saja,… tak murah membesarkan anak istimewa ini!

Obat suplemen untuk otak,baiklah.  Obat penenang untuk mengurangi hiperaktifnya. Tapi perlukah? Karena kulihat Fatih bukan type hiperaktif yang butuh diredakan energinya. Tapi dokternya bilang, coba dulu kita lihat perkembangannya. Tapi ini racun dokter…batinku protes. Melihat wajah tak rela ini dokter akhirnya bilang, “Kita lihat perkembangannya dalam dua minggu ya Bu. Kalau ini tidak membuat Fatih lebih baik, kita stop! Ok?” Aku mengangguk puas.

“Fatih juga butuh terapi bicara, terapi okupasi untuk meningkatkan konsentrasi, dan terapi fisik untuk meningkatkan sensorik halus dan kasarnya yang tertinggal di anak seusianya. Jadi,…dalam seminggu dia harus menghadiri tiga kali terapi. Nanti jadwalnya akan diatur oleh bagian administrasi. Saya rasa sudah cukup.”

Ia berdiri menyodorkan tangannya, tanda kami harus keluar karena pasien lainnya mengular menunggu di luar. Entah aku tak tertarik pada dokter satu ini. Aku tak melihatnya memiliki sayap malaikat di balik jas putih bersihnya. Ia tak menyentuh jiwa Fatih, hanya melihat pada analisa angka dan data. Wajahnya penuh dengan hitungan matematika. Seperti kalkulator. Terapi tiga kali seminggu untuk anak berumur tiga tahun dengan jarak tempuh dua jam dari rumah karena melalui daerah-daerah simpul kemacetan. Entahlah… ia begitu berbeda dengan Dokter Melly yang hangat dan ramah, yang menyediakan waktu panjang untuk menanyakan apa saja. “Jangan sungkan untuk bertanya, karena itu hak pasien. Saya menghargai hak itu…”

Aku selalu suka kalimat-kalimatnya yang adem. Tapi begitu lama untuk menunggu antrian berikutnya. Padahal aku sedang berpacu dengan waktu, untuk segera memperbaiki apa yang harus diperbaiki dari Fatih.

“Kita coba dulu, Bunda,…siapa tahu ada hasilnya.”

Si Ayah tahu, dari perubahan wajahku, aku tak suka. Ia mengambil Fatih dari gendonganku karena anak itu ingin mengejar gasing magic milik Si Dora cantik. Aku kepayahan menenangkan.

“Tapi terapinya Yah,…itu akan menghabiskan sebagian besar dari gajimu, padahal kita juga harus bayar cicilan rumah tiap bulan, belum obatnya dan pengeluaran harian. Apa kita akan mampu?”

“Bunda lupa apa,…. kalau kita ada yang nolong di atas sana. Percayalah, lagipula kamu kan pinter,..pasti bisa curi ilmunya si terapis buat diterapin di rumah. Jadi kita ga perlu sering-sering ke sini.” Ia mengusap kepalaku dengan lembut. Ia tahu aku selalu meleleh dengan perlakuannya itu.

“…Aku akan bekerja lebih keras lagi supaya Fatih kita dapat perawatan terbaik. Lihat….”

Ia mengeluarkan kertas lusuh dari saku celananya, berisi garis-garis, kumpulan angka dan design. “Ketika kamu shock lihat bocah main bowling tembok tadi, aku bahkan sudah mengukur meja kursi yang mereka pakai buat terapi. Mereka memang pintar, membuat meja kursi yang membuat si bocah terkunci tanpa bisa kabur. Kita bisa membuatnya sendiri di rumah..”

Tidakkah lelakiku ini cerdas? Ia bahkan sudah berpikir sejauh itu bahkan ketika aku baru shock tertatih menerima kenyataan. Tak ada yang berlebihan dari nada suaranya. Tak ada kata-kata manis sebagai penghiburan, coba memberitahu hal logis yang harus segera kami lakukan. Kata sederhana yang menghasilkan jutaan oxytocin yang memabukkan.

My man, my hero. Aku memandangnya dengan seribu lampion cinta yang berpendar di malam gulita. Tersenyum, tangan besarnya terulur, mengusap lagi kepalaku dengan lembut, memasukkan anak rambut yang genit keluar dari jilbab yang sedikit longgar. I am the lucky wife, right?

Lalu digandengnya tanganku erat dan tangan kokohnya yang lain menggendong Fatih dalam satu genggaman mantap. Aku tersenyum kecil. Terpesona. Dulu ia begitu seksi saat serius mengerjakan rumus dan angka. Tapi kini…ia terlihat begitu seksi saat mencengkeram Fatih dalam dekapannya.  He’s so manly! Ada dendang kencang Can’t Take My Eyes Of You dalam dadaku.  Apa yang lebih indah dari saat kau harus menghadapi tsunami maha dahsyat selain bersama seseorang yang paling menyumbang oksigen dalam nafasmu?

_____________________ +++ __________________

[1] Tindakan mengepak-ngepakkan tangan berputar, berulang, seperti gerakan sayang anak burung belajar terbang

 

Baca juga yang ini....

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *