Part 3. Keping Puzzle Yang Hilang

Novel elysium part 3

Part 2 ada di sini

Derum mobil berhenti. Ayah turun membuka pintu mobil dan membantuku turun yang menggendong Fatih. Badan lunglai dan pikiran..sepertinya lari entah ke mana menjauhi tubuh. Seluruh tubuh berasa dilolosi. Aku lelah. Entahlah….

Aku turun dengan hati-hati. Memegangi Fatih erat-erat karena merasa kuatir dan berjaga-jaga takut Fatih berlari ke luar ke jalan raya di depan sana yang padat. Ia tak tahu bahaya. Tak paham bahwa benda keras dalam kecepatan tinggi bisa melukai tubuh dan membuat hancur cerai berai. Ayah menggenggam tanganku…memutuskan lamunan panjang, membuatku kembali fokus mengapa kami harus ke sini.

Autis…. Terbayang lagi kata-kata itu.

Tuhan,…autis…mahluk apa ini? Ia bahkan tak  ada obatnya. Ia bahkan bukan organisme tapi merenggut hatiku tanpa sisa. Merenggut masa depan Fatihku tanpa bicara terlebih dulu. Tanpa memberiku tanda supaya bersiap-siap dulu. Autis….??

Aku sudah lelah menangis berhari-hari selama beberapa malam ini. Sajadah sudah basah oleh air mata. Terendam rasa putus asa yang mengaliri tiap serat kainnya.  Ada kemarahan pada Tuhan yang ingin kutumpahkan. Aku ingin protes keras! Kalau saja ada TOA yang bisa membuat suaraku lantang membelah langit.

WHY?….. WHY me?…… WHY???!!!

Kenapa harus aku?

Apa aku punya dosa begitu besar hingga harus menerima peer begitu besar? Mao Zedong yang membunuh 30 juta rakyatnya saja pasti tak kauhadiahi anak autis! Kenapa aku! Kenapa….

Kenapa bukan anak para penjahat yang mengidap keanehan seperti ini? Kenapa Fatih? Fatihku? Fatihku yang manis…..Yang tak pernah merepotkanku sejak lahir? Yang tak pernah menangis merepotkan di masa bayinya? Yang tak pernah bersuara saat ia jatuh atau terluka? Hingga kadang harus kugelitik dia karena aku merindukan suara tangis bayi dulu di rumah kami.

Jadi ternyata ini penyebabnya…anakku AUTIS! Ya,…ia dihukum dengan menjadi AUTIS! Ia dipaksa hidup di alamnya tersendiri. Hidup di akuarium. Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya. Itu sebabnya semua buku teori memaksimalkan potensi anak yang kubeli jauh-jauh hari hanya menumpuk di pojok kamar tak terpakai. Aku putus asa!  Segala teori yang kubaca dan ingin kupraktekkan untuk menjadikan Fatih menjadi hebat sebagai penerus nama kami mentah semua. Tak ada yang terpakai!!!

Golden age yang harusnya membuatku bisa membentuk karakter Fatih sebagai calon khalifah terhebat di muka bumi sirna. Itulah sebabnya aku begitu bersemangat memberinya nama Fatih begitu dokter kandungan mengintipnya lewat USG. Anak lelakiku yang harusnya hebat. Anak lelakiki yang harusnya menjadi manusia hebat yang mencetak sejarah emas seperti Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia belasan tahun!

Ya,..aku yakin bisa mencetak Fatih al mehmet ke dua. Dengan bekal pendidikan terbaik yang diberikan oleh guru terbaik. Dan aku…. telah siap menjadi guru terbaik Fatihku! Dengan merelakan karier cemerlang begitu ia lahir. Aku siap menjadi guru terhebat anakku. Tapi rencana-rencana hebat itu sirna seketika oleh satu organisme abstrak tanpa nama, bahkan tanpa nyawa, dan tanpa rupa bernama AUTIS! Ia mencabik-cabik mimpi besarku.

Autis ternyata yang membuat Fatih terputus dari dunia kami. Ia terperangkap dalam gelembung sabun raksasa. Gelembung raksasa yang tak bisa dipecahkan jarum setajam apapun. Taka da satu senjata pun yang bisa merobeknya untuk mengeluarkan anakku dari penjara gelembung itu. Ia nyata, ia dekat tapi begitu jauh dariku. Aku bahkan tak bisa bicara padanya! Aku bisa melihatnya, tapi tak bisa menyentuh hati dan pikirannya. Autis sialan……! Autis kurang ajar! Pengecut tanpa rupa, menyerang diam-diam tanpa berai menampakkan diri.

Kudekap ia, kuciumi berkali-kali. Kutatap lama sosoknya yang tak pernah menatap mataku penuh cinta sambil bilang “Bunda….” Seperti bocah-bocah lainnya. Jadi  AUTIS sialan itu telah mengunci mulutnya rapat-rapat untuk tak membuat hatiku dan hati ayahnya berbunga oleh kata pertama.

Ah……Fatih pasti lebih menderita di dunia sunyinya dibanding aku dan ayahnya. Bocah yang tak pernah merengek minta beli apapun kecuali suka secara sembrono berlari ke jalan raya untuk melihat mobil berlalu lalang. Sedikit lengah saja ia sudah keluar ke jalan dengan dua kaki mungilnya yang lincah, membuat jantungku hampir copot meski akhirnya selalu menemukannya hanya berdiri di pinggir jalan sambil memperhatikan roda-roda berputar dalam aneka rupa. Dan ia terlihat sangat bahagia saat-saat seperti itu.  Ia terpesona. Terperangkap dalam magisnya gerakan putaran roda. Ia terkesima, seperti jejaka lugu bertemu bidadari khayangan nan jelita. Ya,..anakku terpana pada setiap bentuk roda, lingkaran dan gerakan memutar yang teratur. Apa itu….kerja si AUTIS juga ternyata….

Mataku masih bengkak. Seluruh airmata terperas berliter-liter selama berhari-hari ini setelah keterangan tanpa basa-basi dokter Melly beberapa hari lalu. Aku ingin marah…marah yang sebesar-besarnya. Murka yang sedalam-dalamnya. Teriak yang sekencang-kencangnya. Menangis, meraung  sehebat-hebatnya hingga aku ingin mati. Mati kelelahan karena menangis. Tapi jika aku mati,…lalu Fatihku.. siapa yang akan menemani? Adakah orang yang akan lebih mengerti betapa tak berdayanya anakku selain aku sendiri?

Jadi,…setelah berhari-hari diam di atas pembaringan, melalaikan semua kewajibanku sebagai ibu dan istri….tidur dengan gelisah untuk melarikan diri, kelelahan berharap segera mati tanpa harus bunuh diri,…… akhirnya semalam aku bangkit, merasa lapar setelah berhari-hari hanya minum air putih.

Pelan ke luar kamar, mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut yang sudah berhari-hari kuabaikan alarm biologisnya. Lalu membuat secangkir teh hangat dan ke kamar mandi membasuh diri bersuci,  dan kembali larut dalam sujud panjang yang penuh derai air mata. Kali ini tanpa kemarahan lagi. Mungkin sudah terlalu lelah untuk marah.  Pintu kamar berwarna putih itu sedikit membuka membuat cahaya temaram di dalamnya terlihat samar. Fatih selalu suka cahaya yang menerobos celah-celah sempit begitu. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu pada matanya yang kadang bersinar aneh itu.

Pelan aku melangkah, tergerak ke kamar Fatih karena aku ingin menciumnya. Ingin menghirup bau badannya. Mendekati tempat tidur dan kulihat ia tertidur di samping ayahnya yang bahkan tak sempat mengganti baju seragam kantor karena kelelahan. Biasanya aku yang mengurus lelaki ini. Mengambilkan baju ganti dan menyiapkan makan malam. Tapi beberapa hari ini ia tahu, aku butuh sendiri. Membiarkanku terkubur dalam gelap di kamar,…hanya sendiri. Ia tahu aku tak butuh kata-kata hiburan. Ia tahu aku tak butuh diajak bicara data dan fakta. Ia tahu aku butuh waktu untuk pulih dengan kekuatanku sendiri.

Melihat wajah damai keduanya saat tertidur. Dengkuran halus ayahnya dan deru nafas Fatih yang teratur. Segala perjuangan yang kami lakukan agar ia mau makan, segala hal yang kami bisa untuk menyembuhkan saat ia sakit tapi tak merengek seperti bocah lainnya, hanya diam terkulai lemas. Wajahnya yang damai. Ia begitu mempesona dalam tidurnya yang lelap. Bocah yang dulu sangat kurindukan kehadirannya siang malam itu, yang kuminta dalam pinta sepenuh hati di atas sajadah panjang dulu. Apa aku akan menyia-nyiakan karuniaNya meski pada kenyataannya hadiah yang kuinginkan bunga mawar tapi ia berikan aku bunga lily. Apa bedanya? Keduanya bunga. Sama-sama cantik. Meski orang lebih banyak melihat mawar, dan tahu mawar punya banyak warna, tapi lily tak kalah cantik mesti lebih butuh perawatan. Cuma itu mungkin.

“Ya Allah…ampuni aku….”

Sesak dada karena gemuruh. Tak ada lagi air mata yang mengalir. Sudah habis terkuras. Kupandangi wajah Fatih lebih seksama. Matanya yang terpejam, alisnya yang lebat, hidung mungilnya dan mulutnya yang kadang menyeringai aneh… tapi dia anakku. Anak autis ini anakku…. Dan ia lebih butuh aku sekarang daripada sebelumnya.

…….Aku tak boleh mati. Tak boleh…

Aku harus hidup, aku harus waras, aku harus realistis. Membuang semua impian tentang mencetak anak ideal. Aku harus menerima kenyataan ia tak sempurna. Tapi ia tetap anakku. Dan ia,..sangat pantas untuk dicintai sepenuh hati…

“Tuuh kan Fatih,…Bunda melamun lagi…” kata si Ayah membuyarkan lamunan. Kupaksa tersenyum meski lelakiku pasti tahu itu bukan senyuman lebih pada seringai.

Fatih anteng dalam gendonganku. Aku memeluknya erat dan terus mengelus punggungnya agar ia tenang memasuki tempat baru ini. Biasanya ia gelisah. Kulirik Ayah yang menggenggam erat tanganku.

Dari jauh pintu besarnya terbuka lebar, menandakan siap menerima siapa saja untuk datang. Gedung bercat putih bersih dari luar yang sangat terawat dan dihiasi pohon-pohons buah seperti sawo kecik, belimbing dan rambutan yang membuatnya rindang dan terasa menenangkan.

Dari luar sudah terdengar betapa riuhnya keributan yang ada di dalam. Dan benar saja. Begitu kami masuk menuju ruangan kecil di pojokan yang di depannya tertulis kata pendaftaran, aku langsung shock. Bukan hanya pada berapa besarnya biaya yang harus kami bayarkan untuk terapi-terapi panjang yang harus dialaui Fatih nanti, tapi lebih pada suasana di ruang lobby yang menyesakkan.  Ayah memilih diam dan berusaha tenang. Tapi aku merasa tempat ini seperti melemparkanku pada malam-malam penggugatan, membuatku bertanya apakah aku akan sanggup menghadapi kepingan-kepingan puzzle yang lebih rumit lagi.

Apa aku akan bisa?

Baca juga yang ini....

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *