Part 6 : Trick Or Treat?

My Elysium part 6

cerita sebelumnya ada di sini

Untunglah Fatih bukan anak picky eater, apapun yang diberikan ia tak pernah menolak tapi kalau makan lamaaaaaa……. Karena makanannya diemut. Terkadang sampai ketiduran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan jadi terpaksa makanan itu harus dikolokin dari mulutnya agar tak merusak giginya. Tapi tetap saja, kerusakan giginya semakin parah. Kadang tak tega melihatnya ketika menguyah, ingin sekali bisa membantunya tapi apa yang bisa kulakukan, selain untuk sementara memberikan makanan yang agak lunak, tapi dokter gigi menganjurkan ia harus makan makanan orang dewasa pada umumnya agar giginya terangsang untuk cepat tumbuh.

“Fatih kamu apain Bund?…..” Tanya Si Ayah kepo.

“Ini,…ngorek-ngorek makanan yang masih penuh di mulutnya. Gimana giginya ga rusak ya Yah, kalau kebiasaan ngemut makanannya ini tak berubah.” Aku menyeringai, agak putus asa. Lalu tiba-tiba ide gila itu muncul ya…. Aku tahu sepertinya apa yang harus aku lakukan. Hm…. Semoga berhasil!

Esok paginya, ketika Fatih mau makan pagi, aku perlihatkan permen.

Permen???? Ya permen!!

Sudah lama Fatih diet gula dan segala makanan turunan dari gula, terutama gula rantai pendek seperti coklat, permen, gulali, syrup dan lain-lain. Hampir semua makanan Fatih Cuma mengandalkan sedikit garam dan lebih sedikiiiit lagi gula, agar ia belajar mengenali rasa asli dari makanan. Jadi ketika terkadang aku tambahi sedikit makanan yang berasa macam abon daging dalam makanannya, ia makan dengan lahap. Dan permen? Sudah berbulan-bulan ia puasa makan makanan manis sejak diet casein gluten free dilaksanakan tapi pagi ini,…tarraaa…….. biarlah ia sedikit berbahagia.

Pagi ini menu makanannya nasi tim Hainam dengan isi ayam kampong yang sembelih sendiri, dibuluin sendiri dan dimasak sendiri. Kalau beli mungkin lebih enak, tapi tentu saja banyak bahan preservative yang disertakan agar rasanya lebih enak. Kalau Bunda Fatih ya paling pakai garam, sedikit gula, bawang putih geprek plus merica bubuk, sedikit kecap dan kaldu biar sedap. Buat Fatih, bumbu seperti itu sudah ukuran mewah buatnya.

Nasi pun datang, harumnya menyeruak…hmmm……. Walaupun aku yakin baunya lebih menggida dari rasanya, tak apalah. Sesi makan dimulai. Jangan piker Fatih akan makan dalam diam, atau sambil membaca buku. No way! Menaruh makanan di depan mejanya dan menyuruhnya makan sendiri? Bisa-bisa lantai penuh jadi kanvas lukisan ala Picasso. Jadi,..memang harus disuapi. Kami berdua mengambil sandal. Lihatlah betapa riang wajahnya!

Fatiiih,,,,! Tunggu Bunda belum siap….!”

Itu anak sudah tak sabar melesat jauh ke depan pagar, menggoyang-goyangkan grendelnya agar membuka dan enimbulkan suara kegaduhan glontang…glontang…..

“Fatih…. Kalem. Taka da suara rebut…sst…nanti tetangga terganggu ok? “

Ia mengangguk? Tentu saja tidak! Matanya tetap tak berkedip berada di depan gerendel pintu. Aku ikat tubuhnya dengan tambang. Aku kejam? Yah,..kadang-kadang harus begitu karena dalam hitungan detik ia bisa melesat ke manapun tanpa bisa kucegah. Pernah ia menyeberang jalan dengan sembrono sementara ada motor dari jauh sedang melaju cukup kencang. Hampir tertabrak! Aku sport jantung menenangkan diri.

Jadi kalau sekarang aku mengikatnya itu semata-mata buat keselamatan Fatih. Bagaimana dengan pandangan orang-orang di jalan terhadap kami? Bodo amat! Memang kalau Fatih dengan kesembronoannya tertabrak mobil mereka ikut panic? Ikut repot? Ikut sedih? Ikut bayarin? Enggak kan. Ya sudah lakum diinukum waliyadiin. Ya sudah bagiku agamaku bagimu agamamu. Eh maksudku…bagiku ya hidupku…bagimu ya hidupmu sendiri. Urusan masing-masing. Gosip? Aduh ga punya waktu saya!

Di awal Fatih makan dengan lahap. Nom..nom…sambil kita berkeliling mengamati keadaan sekitar. Ia suka menikmati cahaya matahari pagi yang menerobos kerimbunan pohon-pohon. Aku tahu, ia membayangkan spectrum cahaya. Lalu tangannya akan bergerak-gerak seolah sedang menuliskan rumus-rumus rumit dan penting di ataspapan tulis kaca. Atau matanya akan membulat riang ketika melihat mobil melintas dan ia melihat roda-roda yang berputar. Terkadang ia sampai tertawa cekikikan kesenangan.  Atau bersemangat bertepuk tangan macam  melihat Lewis Hamilton sedang  mengebut dengan kecepatan tinggi melintasi balap sirkuit F1 saja.

“Ehmm……!” Ia menunjuk satu mobil yang sedag melaju dengan velg racing yang bersinar. Lihatlah matanya berbinar memandang hingga mobil itu menjauh.

Aku tersenyum padanya. Meski belum mau bicara, setidaknya ia sudah mau ngomong padaku kalau ia suka lihat mobil. Ah biarkan saja.  Buatku yang penting ia enjoy di dalam hidupnya, menikmatinya sepenuh hati tanpa lupa untuk mengunyah makanannya. Ya..itu yangpenting buatku sekarang.

Fatih terus berjalan. Anak ini entah kenapa memang seperti punya cadangan batere di tubuhnya. Tak pernah soak. Aku sudah ngos-ngosan, kami sudah terlalu jauh dari rumah tapi ia terus ingin bereksploarasi. Kebiasaan buruknya muncul kembali. Ia mengemut makanan setelah 8 suapan yang lancar masuk mulut. Bagaimana badannya bisa tumbuh besar kalau makan saja ogah-ogahan? Acara jalan-jalan masih berlanjut tapi makanan di mulutnya kuhitung sudah lima menit di mulutnya dan belum ada tanda-tanda ditelannya. Kacau! Kalau satu suapanminimal  5 menit padahal ini masih ada kurang lebih 10 suapan lagi, apa harus menghabiskan 50 menit untuk sekali makan? Tidaaaak…..! Oke saatnya menggunakan jurus baru. Ini sifatnya agak cheating, tapi ya sudahlah. Mau apalagi.

“Fatih,…lihat!” Kukeluarkan sesuatu berwarna merah yang bersinar terkena cahaya pagi. Fatih yang semula cuek lalu menatapnya penuh minat. Tangannya ingin meraih benda itu. Cuma seupil, secuil, tapi karena sudah berbulan-bulan ia tak pernah mendapatkannya, ia seperti menemukan harta karun.

“Telan dulu makanannya!” Kataku tegas sambil memberi contoh mengunyah makanan. Ia mau nangis.

“Bunda gam au tahu, telan dulu makanannya…!” Aku pegang erat benda kecil itu di depan matanya. Dan ia akhirnya menurut juga! Dengan terpaksan ditelannya juga nasi  tim hainam yang sudah dingin itu. Yah,..salah sendiri ga cepat habis jadinya ya dingin. Seperti hati bundamu saat ini yang takkan mau mendengar rengekanmu hihi..

Fatih langsung menelan nasinya lalu dengan cepat tangannya merenggut  secuil permen rasa stroberi dari tanganku. Ia melumatnya dengan cepat. Tak sempat menikmati rasanya karena ia sudah terlalu bernafsu ingin menelannya.  Seperti pecandu rokok yang dipaksa berhenti merokok dan tiba-tiba di suatu hari yang cerah, menemukan punting rokok yang masih menyala. Entah punya siapa, otak pasti dengan rakus segera menyuruh menikmatinya. Itu yang terjadi padanya.

“Enak? “

Fatih tak menjawab tapi matanya sibuk menelususri tanganku dan kantong baju berharap ada sisa permen di situ. Ketika tangannya terulur ke kantong baju, aku cegah. “Eit…habiskan dulu makanannya baru permen…”

Meski tak bicara ia tahu inti pembicaraanku. Ia merengut tapi disendoknya sendiri makanannya. Ha! Ajaib kan? Demi seupil permen. Ya , benar-benar seupil permen. Susah payah ditelannya nasi timnya yang sudah dingin.

“Nak,…sayangnya Bunda, kunyah dulu sebelum ditelan biar tak tersedak. Ok? Gini caranya …nyam,..nyam..nyam…” seperti orang gila, ya ..aku harus mengajarinya  dengan tingkah laku yang lebay,…untuk menarik perhatiannya.

Fatih tertawa. Ha….hahaha…..!

Dia tertawa…… Dan giginya yang ompong itu membuka sempurna. Tapi aku melihatnya dengan indah.

Hal yang tak kudapat selama bertahun-tahun ini. Ia tertawa karena melihat tingkah konyol bundanya! Buatku ini kemajuan buesarrrrr!  Dia tertawa pada hal yang kumengerti. Bukan tertawa pada hal absurd yang tak kupahami. Makanannya tandas dengan cepat hari itu karena sogokan “racun” permen.  Ampuni aku ya Tuhan telah merusak dietnya. Tapi Cuma cara ini yang bisa kulakukan sekarang. Aku akan cari cara lainnya. Ini hanya untuk sementara sampai ia punya kebutuhan untuk makan dan merasa lapar. Seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya bukan? Pasti nanti ada cara baru untuk mengatasi kebiasaan buruknya.

Tapi aku sudah bisa membaca, diet gluten casein free yang kuterapkan pada Fatih ternyata ada pengaruhnya. Meski ia masih punya energy yang sangat melimpah untuk hal-hal yang disukainya tapi ia sudah mulai kalem dan mulai terkoneksi dengan sekeliling. Seperti poter film ET ketika si bocah kecil bersentuhan jari dengan mahluk luar angkasa itu. Rupanya gelembung sabun faith mulai mengkerut. Dan akan makin mengkerut setelah ini.

Kugendong dengan riang Fatih karena telah menyelesaikan makanannya. Ini amazing! Satu hal yang kemudian jadi anugerah besar untuk kemajuan Fatih.

Seorang Bapak datang mendekat.

“Perkenalkan nama saya Pak Rahmat. Kita bertetangga tapi saya belum pernah bertemu Ibu. Tapi saya sudah pernah bertemu Fatih satu kali di tempat ini ketika sedang jalan-jalan dengan mbaknya. Itu anak saya di sana, sedang bermain perosotan, seumuran sama Fatih. Namanya Walid. Maaf sebelumnya, saya perhatikan Fatih berbeda dari anak-anak sekitar lingkungan sini. Apakah Fatih anak special needs Bu?”

Ia bertanya dengan sopan. Taka da nada merendahkan dari suaranya. Aku mengangguk.

“Kok,..Bapak bisa tahu?”

“Saya therapist Bu, perkenalkan nama saya Pak rahmat. Saya biasa menangani anak-anak special needs. Kalau menurut saya sih Fatih perlu ditangani secara intensif, sebelum terlambat. Saya lihat anaknya ini bakalan gampang diatur. Kok, Cuma terlalu dekat dengan Ibu, padahal anak laki-laki.”

“Fatih sudah ikut terapi Pak, di Jakarta tapi memang hasilnya tidak maksimal. Entahlah,..salah di apanya. Mungkin jaraknya terlalu jauh dari rumah sehingga sampai tempat terapi ia sudah kelelahan. Atau mungkin metodenya yang tak sesuai diterapkan pada Fatih.”

Pak rahmat mengamati Fatih, lama. Lalu mencoba memanggilnya dengan isyarat tangan sambil mengatakan nama Fatih dalam nada yang tegas, “Faith…sini!”

Ajaib! Itu bocah manut saja menuju Pak Rahmad. Aku seperti melihat seorang pawing yang sedang menjinakkan hewan liar.

“Ayo kenalan. Pak Rahmat. Siapa?” sambil tangan Pak rahmat membawa tangan Faith ke dadanya sambil mengucap Rahmat. Tangan satunya mengangkat dagu Fatih memakasanya mengadakan kontak mata dengan Pak Rahmat.

“Pak R-a-h-m-a-t…,” mulutnya komat-kamit dengan artikulasi yang sangat jelas. Siapa Fatih?”

Fatih diam tak mau menjawab, sok sibuk. Pak Rahmat mencari mata Fatih dan menatap langsung pada wajah Fatih yang membuatnya tak bisa melarikan diri.

“Pak R-a-h-m-a-t..”

“Mattt…” kata Faith. Huwaaaaa…..senangnya saya.

“Bapak,…please,..Bapak bersedia ya,…jadi terapisnya Fatih?” Aku begitu bersemangat untuk mendapatkannya sebagai therapist.

“Waktu saya tidak banyak tapi Bu. Kalau Ibu mau, bawa Fatih ke rumah saya setiap habis salat Maghrib, selama satu jam saya akan sediakan waktu buat Fatih tapi karena ia sangat tergantung pada Ibu, Fatih harus belajar mandiri dan percaya diri. Jadi selama sesi terapi ia tidak boleh ditunggui. Deal?”

Aku mengangguk mantap. Aku tahu itu semua untuk kebaikan Fatih. Satu malaikat tanpa sayap lagi, selain Dokter Melly telah datang untuk membantu Fatih keluar dari gelembung sabunnya. Sebentar lagi Fatih…. Sebentar lagi Nak, sebentar lagi, bersabarlah……dan kau akan temukan dunia indah yang hangat. Bukan lagi dunia sunyi yang kamu miliki sekarang.

Kucium Fatih penuh cinta. Aku tak peduli ia tahu artinya atau tidak, tapi aku yakin ia merasakan betapa besar rasa sayangku padanya. Tangannya mencengkeramku erat saat aku elus punggungnya.

Ia tahu, kalau ia sangat berharga bagiku. Ya kan Fatih?

 

 

 

 

Baca juga yang ini....

1 Comment

  1. Setiap anak selalu mempunyai tantangan tersendiri utk orang tuanya.. baca tulisan tentang Faith ini bikin inget Raya, betapa mudahnya kesel sama Raya kalau saya capek padahal Raya udah jadi anak yg pinter banget dan selalu punya gaya2 kocak untuk menyenangkan hati saya 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *