Pengalaman Makan Bersama di Italia

Makanan dan acara makan bersama menempati posisi penting dalam masyarakat Italia. Mereka suka berkumpul bersama untuk melakukan perjamuan. Saling berbincang dan menanyakan kabar adalah hal yang tiap hari mereka lakukan saat bertemu teman, apalagi jika sudah lama tak bersua. Bahan perbincangan sih tentang hal-hal ringan seperti anak si anu sudah mulai besar, atau X cerita kalau baru saja membeli lukisan baru untuk dipajang di rumah atau bercerita tentang perjalanan yang mereka lakukan di masa liburan.

budaya-makan-bersama-di-italy-shita

Saat makan, semua anggota keluarga hadir secara penuh, artinya handphone untuk sementara harus ditinggalkan di selain meja makan. Saya sempat kena tegur karena membawa smartphone ke meja makan. Dianggap tidak menghargai anggota perjamuan yang lain.

Ah ya,…orang Italia tidak suka makan makanan instant. Buat mereka itu sampah hehe… Jadi ketika saya beli mie instan, karena kangen makan bakso, saya adalah satu-satunya orang yang membeli mie instant dalam antrian hehe… Karena yang beli orang Asia, mereka sih mahfum jadinya.
Benar seperti yang dituliskan oleh Elizabeth … dalam bukunya Eat Pray Love kalau makanan Italia itu memang enak-enak. Rasanya aman untuk semua lidah, tak seperti makanan India yang menurut saya sangat absurd atau makanan Amerika yang “plain” dan tak banyak variasi, makanan Italia sangat kaya rasa. Bisa dipahami karena Italia memiliki semua factor untuk membuat makanan lezat. Gunung yang ditumbuhi pohon-pohon buah yang subur dan berbuah lebat juga sayur-sayuran aneka rupa, juga memiliki laut yang kaya dengan makanan laut juga bumbu-bumbu khas yang sudah menyebar ke seluruh dunia seperti oregano, basil, dll.

Makanan Italia selalu mengedepankan bahan-bahan makanan yang segar dan berkualitas jadi tak heran kalau rasanya pun prima. Seperti jamuan makan kami siang itu di restoran Madda Lena, restoran klasik di daerah pertanian Asti, commune yang terkenal sebagai penghasil anggur domestic di Italia.

restoran-italia-otentik-di-asti-shita

Madda Lena sebuah restoran otentik khas Italia yang dijalankan nenek baik hati Madda Lena, yang dibantu anak perempuannya Rina. Restoran ini berdiri sejak 1978. Buat orang Italia, makan itu sebisa mungkin di restoran teman yang mereka kenal baik. Jadi selain perut kenyang, jalinan pertemanan pun terpelihara dengan baik. Teman dekat sama pentingnya dengan keluarga di sini.
Perjamuan siang itu dibuka dengan salad selada segar dengan irisan salami yang diberi saus balsamic dan merica tapi biarpun sederhana bumbunya, tapi rasanya sedap. Saya memilih yang tanpa irisan salami. Lalu makanan utama dimulai dengan makanan anti pasto, adalah perpaduan tuna yang dilembutkan dibungkus dengan paprika kuning dan merah yang telah dikukus sebentar untuk menghilangkan langu, lalu irisan tipis daging sapi, ayam atau babi asap yang ditaburi parutan kasar keju ricotta dan dibasahi dengan minyak zaitun virgin. Ini pun enaaak sekali. Rasa masing-masing bahan tidak hilang dan berpadu dengan serasi.

rina-di-restoran-maddalena-asti-italy-shita

Setelah anti pasto, irisan tipis daging sapi yang digoreng setengah kering dengan tepung lalu dilengkapi dengan kentang goring. Beberapa orang, memercikkan air jeruk lemon ke atas irisan daging sapi tersebut, hanya saya yang makan pakai mayonnaise dan saus tomat hehe… Setelah itu makanan penutupnya adalah cabe hijau besar yang dibuang bijinya lalu dibelah dua dan dioseng dengan minyak zaitun dan sedikit garam hingga agak gosong sebagai makanan penutup. Mereka sih suka sekali dimakan dengan lahap katanya segar karena pedas lah kalau saya kurang suka lah ga kerasa sama sekali pedasnya karena kalau saya pasti ditambahi irisan cabai rawit segar kalau ada. Tapi cukup enak lah.

pierre-dan-zaluca-yang-imut-shita

Apakah sudah berakhir? Belum. Makanan penutup adalah gelato lampone, gelato rasa stroberri. Stroberrinya benar-benar asli, bukan artifisial flavor karena saya lihat sendiri ketika stroberi merah segar menggiurkana itu dibawa pengantar ke restoran Magdalena. Hmm…manis-manis segar gitu,….

Oh ya,.. kalau anda sedang makan di restoran pastikan tas yang anda bawa digantungkan di bahu kursi anda, jangan ditaruh di atas pangkuan. Tak elok di sini. Dan duduk harus tegak menghadap meja, tak boleh posisi nyante kaki dibuka lebar badab nyandar di kursi. Adduuh… ga boleh banget. Mereka akan piker kalau kita lagi santé di pante. Jadi duduklah yang manis, posisi resmi, ke dua tangan di atas meja. Gantungkan tas anda di sandaran kursi. Lagipula, kebanyakan aman kok, ga bakalan ada copet yang akan menyambar tas anda. Kecuali kalau anda di Milan atau Roma mungkin harus lebih hati-hati karena kedua kota ini terkenal dengan banyak copetnya.Jadi waspadalah…
Selesai makan, masing-masing orang membawa sendiri bekas piringnya untuk dibersihkan sebelum dicuci. Rumah biasanya menyediakan tiga tempat untuk membuang sisa makanan, menaruh garpu dan pisau kotor sera sampah plastikyang telah dipisahkan sejak awal seperti kemasan saus sambel atau mayones. Tapi orang Italia jarang sekali membuang makanan sisa. Jadi mereka akan bertanya dulu, kita mau porsi besar (orang dewasa) atau porsi kecil yang biasanya untuk anak-anak.

Tony, yang membantu menyiapkan makan besar kami bersama-sama tak ikut makan karena sebentar lagi ia pulang untuk makan siang dengan istrinya Erika dan anaknya Maddy. Adduh…nice husband banget kan ya. Selesai makan masing-masing tetap berbincang. Niko pamit, mau pergi main. Riko yang ganteng kiyut usia 14 tahun juga pamitan, pergi untuk urusan bocah ABG. Si Riko ini bermata hijau, murid-murid saya pasti suka lihatnya. Senyumnya itu menawan sekali. Tinggallah yang tua-tua eh yang senior di meja makan hehe.. Don Antonio bercerita panjang lebar. Meskipun tak tahu artinya karena diucapkan dalam bahasa Itali, tapi saya turut mendengarkan dengan takzim karena orang tua sangat dihormati di Italia seperti di Indonesia pada umumnya. Don adalah sebutan untuk lelaki tua yang terhormat. Jadi tahu kan kenapa Corleone di novel Trilogy Godfather tentang kehidupan para mafia karya Mario Puzzo dipanggil Don?

Oke deh,… lain kali sambung lagi dengan cerita menarik lainnya, masih dari Negara indah, Italia.

Baca juga yang ini....

4 Comments

  1. saya pernah sekali menghadiri jamuan makan malam bersama keluarga Italia. Mereka sangat menghargai ketertiban, menghargai orang yang lebih tua, dan memang suka ngobrol… hehehe

    1. iya yoss dan rata-rata ramah ya. Diundang makan artinya kita disukai, ga semua orang dapat kesempatan yang sama. Tq ya sdh berkunjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *