Part 6 : Trick Or Treat?

My Elysium part 6

cerita sebelumnya ada di sini

Untunglah Fatih bukan anak picky eater, apapun yang diberikan ia tak pernah menolak tapi kalau makan lamaaaaaa……. Karena makanannya diemut. Terkadang sampai ketiduran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan jadi terpaksa makanan itu harus dikolokin dari mulutnya agar tak merusak giginya. Tapi tetap saja, kerusakan giginya semakin parah. Kadang tak tega melihatnya ketika menguyah, ingin sekali bisa membantunya tapi apa yang bisa kulakukan, selain untuk sementara memberikan makanan yang agak lunak, tapi dokter gigi menganjurkan ia harus makan makanan orang dewasa pada umumnya agar giginya terangsang untuk cepat tumbuh.

“Fatih kamu apain Bund?…..” Tanya Si Ayah kepo.

“Ini,…ngorek-ngorek makanan yang masih penuh di mulutnya. Gimana giginya ga rusak ya Yah, kalau kebiasaan ngemut makanannya ini tak berubah.” Aku menyeringai, agak putus asa. Lalu tiba-tiba ide gila itu muncul ya…. Aku tahu sepertinya apa yang harus aku lakukan. Hm…. Semoga berhasil!

Esok paginya, ketika Fatih mau makan pagi, aku perlihatkan permen.

Permen???? Ya permen!!

Continue Reading

Part 5 : Kau Yang Terindah

pantai

Suara riuh di luar, tapi di dalam ruang terapi sepiiii sekali. Ibu merengut tak jauh dari tempatku. Aku tahu ia kuatir dengan perkembanganku. Putus asa mungkin tepatnya. Aku memilih diam tak bergerak, seperti boneka tanpa batere. Bosaaaan…. Kenapa aku harus terperangkap pada kursi pesakitan ini? Tak bisa bergerak, Huh! Huuuh…!!!

“Fatiiih…. Katakan  m-e-r-a-h…!”

Bu Marni memonyongkan bibirnya lima senti demi membentuk kata itu sambil tangannya menyentuh daguku agar mau menghadapnya.

Aku hanya menyeringai seperti anak singa baru bangun di pagi hari. Biarpun yang ini singa ompong hehe..

“F-a-t-i-h….katakan… m-e-r-a-h…. “ , sambil tangannya menggenggam sebuah bangun segitiga sekarang. Aku tahu itu warnanya m-e-r-a-h. Dan aku tahu harus memasukkan ke mana bangun itu. Mencocokkan kan? Keciil..!

Tapi aku tak bisa mengucapkan kata merah! Lidahku kaku!

Bu Marni putus asa. “Ok..sekarang masukkan bangun ini ke tempat yang sesuai.

Aku bergerak cepat. Kusambar segitiga merah itu dan memasukkannya ke rumahnya. Begitupun bangun yang lain, segi empat, limas, belah ketupat…

“Fatih…satu..satu sambil kita berlatih bicara….” Mulai naik intonasi suaranya. “Ibu tahu,…Fatih pintar tapi …ibu ingin dengar Fatih bicara. Bisa kan?”

Eh…kenapa papan menyamakan ini tak ada lingkarannya ya? Aku ingin lingkaran! Mereka juga tak memberiku bola untuk dipantukan. Huh..bosan..bosan..aku ingin ke pinggir jalan lagi melihat roda-roda mobil berputar di jalanan. Sekarang Bunda menjagaku dengan ketat kalau di rumah. Aku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan karena pintu pagar selalu terkunci. Kata Bunda berbahaya kalau aku bisa menelusup sendiri. Huh… Menyebalkan! Dan semua sesi terapi ini terasa melelahkan.  Aku lelaaaah…!

Brak…!

Kakiku menendang meja dari kayu tebak ini, meninggalkan rasa lega di dada. Aku tak mau dikurung. Aku ingin mencari lingkaran. Tempat ini membosankan! Aku tak melihat lingkaran, bola atau sesutu dengan gerakan berulang-ulang.  Aku benci tempat ini….!!!

Aarrghh….!

Aku bergulung-gulung di lantai, membuat gerakan berputar-putar, bergulung-gulung dalam ritme yang aneh. Dan aku merasa lepas,…menyenangkan sekali. Dadaku terasa berlubang, membuat seluruh udara masuk memenuhinya dengan keriangan. Aku tertawa lepas. Bangkit berdiri membuat gerakan flapping sambil berlari mengelilingi ruangan tanpa gambar apapun ini. Bu Marni berusaha mengejarku. Tapi aku selau lebih geasit menghindar darinya. Badannya yang berat mengurangi kelincahannya bergerak. Dalam waktu singkat saja ia telah menyerah. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bukan Bunda yang langsing dan bisa bermanuver untuk menangkapku. Meski ada Bunda di ruangan ini tapi ia tak berusaha mengejarku. Aku tak tahu mengapa. Biasanya ia akan berteriak-teriak mengejarku dan aku akan semakin bersemangat untuk berlari, tapi ia memilih mematung. Ada kabut di matanya.

Bunda menghela nafas dari pojok ruangan. Ia sebenarnya tak boleh ikut masuk ruang terapi karena kata Bu Marni bisa merusak konsentrasiku. Tapi bukan Bunda kalau tak bisa melakukan apa yang diyakininya benar. Itulah sebabnya Fatih juga keras kepala.

Sesi terapi itu akhirnya berakhir sudah dengan hasil nihil! Nol besar! Tak satupun yang aku sukai dari tempat belajar ini. Untunglah. Dan Bu Marni tak terlihat penasaran untuk terus mengejarku. Ia memilih diam duduk bersama Bunda membiarkankku jadi burung yang sedang terbang. Mama juga tetap diam. Dan dialog panjang lebar di antara dua perempuan terjadi sambil terus memandangiku bergantian. Yah,..begitulah orang deasa pembicaraannya membosankan.

Pintu diketuk pelan dari luar. Bocah pemilik gasing dan ibunya masuk ke dalam. Rupanya sesi terapiku sudah habis. Yess!

Bunda menggamit tanganku untuk keluar setelah sebelumnya memaksaku untuk bersalaman dengan Bu Marni. Aku pernah melihat adegan seperti ini yang dilakukan di sebuah film. Tapi yang kuingat di film itu, yang dipaksa salaman itu seekor anjing. Aku bukan anjing.

Aku yang tadinya ingin cepat-cepat keluar, jadi mogok membatu di ruangan itu. Tahu penyebabnya? Melisa!

Ya,..aku suka Melisa. Maksudku,… aku sukaaa pada gasing Melissa, begitu Bunda selalu memanggilnya sambil tersenyum ramah pada si bocah. Kata Bunda Melissa imut dan cantik. Aku rasa gasingnya yang warna-warni itulah yang membuatnya disebut cantik. Tak semua anak perempuan punya mainan hebat begitu.

Dan seperti aku, Melissa pun tak peduli jika ada orang yang bilang ia cantik. Ia terus sibuk memainkan gasingnya yang berbunyi wer…wer…setiap kali diputar. Aku ingiiin sekali memainkannya. Tapi aku tahu, Bunda pasti takkan mengijinkanku memainkannya meskipun aku menangis keras. Bunda memang payah. Ia mendekapku yang bau keringat di pojok ruangan sambil membiarkanku memainkan bola kecil yang disimpannya dalam tas.  Tak lama kemudian, lelaki berkaki panjang yang kupanggil ayah  mendekati kami. Merengkuhku dalam pelukannya dan kami keluar dari tempat menyebalkan itu.

___________+++___________

Tidak banyak perkembangan yang dialami faith selama sesi terapi. Ia lebih banyak diam dan bersikap tak peduli, kadang sibuk mengoceh sendiri dalam kalimat-kalimat ngawur tanpa arti. Susah payah kami membawanya ke tempat terapi tapi hasilnya mengecewakan.

Aku rasa ini abad pertengahan atau mungkin abad terbelakang. Tak banyak yang kudapat tentang  informasi seputar autis. Buku-buku tentang itu belum ada di pasaran, jikalau ada kami harus menitip membeli bukunya ke luar negeri tentu saja dalam bentuk dollar bersamaan dengan titipan suplemen-suplemen bagi perkembangan otaknya. Tapi satu artikel di majalah kesehatan Indonesia membuatku terusik. Di situ diceritakan banyak anak-anak penderita penyakit-penyakit seperti faith yang mengalami kemajuan pesat setelah diet casein dan gluten. Apalagi bagi orang Asia, yang memang secara alamiah system pencernaannya lebih tidak toleran terhadap susu sapi.

Sepertinya aku harus mencoba cara self healing ini untuk membantu faith keluar dari dunia gelembung sabun itu. Rupanya susu sapi yang dikonsumsinya telah menjadi racun dalam otaknya, karena ketakmampan saluran cernanya menguraikan protein whey dari susu sapi. Aku paham kini, mengapa Richard, yang suka main bowling tembok tak bisa diam. Kata mamanya dalam sehari ia menghabiskan satu kotak susu bubuk 400 gram! Rupanya otaknya kecanduan mengkonsumsi casein. Jadi…Fatih juga harus berhenti mengkonsumsi susu sapi.

Kuniatkan dengan bulat untuk memberikan diet makanan casein-gluten free pada Fatih dan seluruh penghuni rumah termasuk aku dan ayahnya. Tak boleh lagi ada susu di rumah ini. Aku hanya bisa memberi tajin atau membuat susu kedelai sendiri untuknya. Tak boleh lagi ada konsumsi ayam ras, roti, karena mengandung gluten, protein yang terdapat dalam tepung terigu yang tak bisa dicerna ususnya dan juga karena faktor yeast sebagai pengembang roti. Yeast mengandung jamur, yang akan menyerang system pencernaannya yang sudah lemah. Segala macam tape tentu saja dilarang keras.

Mulai sekarang kami cuma makan nasi, tempe, tahu, rumput laut, susu kedelai yang dibuat sendiri, kalau ingin ayam, ya harus menyembelih ayam kampong yang beli di desa dan hidupnya lepas itu, bukan pejantan. Daging boleh, tapi kami tak bisa terlalu sering mengkonsumsinya karena harganya mahal. Hampir semua sayuran hijau taka da pantangannya, kecuali jagung manis. Untuk buah pun terbatas, hanya buah-buah tertentu yang tak merangsang pengeluaran asam lambung atau yang membuat kondisi ususnya yang berjamur menjadi makin parah.

Buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi Fatih  itu papaya, bengkuang, pisang, salak, sirsak, atau timun. Buah-buahan yang bergetah dilarang dikonsumsi seperti nangka, sawo, cempedak. Atau buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti mangga, jeruk, stroberi, nanas, peach, pear, apel, kiwi masuk daftar larangan keras tapi segala macam berry diperbolehkan.  Untuk makanan ringan faith, harus segala makanan yang berbahan dasar beras atau ubi, singkong dan sagu. Segala tepung terigu dan tepung maizena dilarang.  Jadilah segala stok makanan kecil Fatih adalah makanan tradisional Indonesia yang murah dan gampang didapat seperti membuat bubur sumsum sendiri harus dengan gula palem atau gula nira kelapa, tidak boleh gula pasir, karena manis ternyata merangsang pertumbuhan jamur dan meningkatkan tingkat asam dalam tubuhnya. Untunglah kita tinggal di Indonesia yang mudah mendapatkan bahan-bahan local seperti itu. Ubi diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti direbus, dibakar tapi mengurangi segala goreng2an karena ia dilarang memakai minyak goreng dari minyak sawit dan jagung, jadi kami beralih ke minyak kedelai, karena mahal jadi tidak sering-sering memakainya. Lagipula kukus lebih sehat buat perut Fatih, karena minyak membuat saluran pencernaannya bekerja lebih keras. Sebenarnya anak autis bagus juga sih,..membuat kita jadi hidup sederhana dan biasa hidup lebih murah jadinya hehe…

Continue Reading

II. Puzzle Yang Berlubang

elysium-bab-2

Ketinggalan bagian pertama? Klik saja di sini.

Gedung ini juga banyak yang pakai baju putih-putih, tapi aku tak mencium bau aneh menusuk. Banyak bunga di mana-mana. Aku suka warnanya yang ungu magenta dan mawar merah di vas besar menebar harum. Aku suka mengendus-endus bau baru dari apa saja. Juga saat Ayah dan Bunda menggandengku melalui sebuah lorong yang penuh kartun binatang warna-warni. Suasana lebih sepi. Hingga sampai di suatu ruangan. Perempuan berbaju hijau pupus dengan kepala memakai topi kertas persegi membukakan pintu. Seorang perempuan lainnya tapi berambut putih semua, dengan wajah ramah tersenyum menyambut. Ia juga memakai baju putih sebagai luaran dan bermata empat! Kenapa banyak orang berbaju putih bermata empat? Tapi aku suka melihatnya. Aku bisa merasakan hatinya hangat. Ia berjongkok di depanku, tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku. Seperti terhipnotis, aku menyambut tangannya.

“Siapa namanya?” suaranya empuk.

“Fatih..” kata Bunda mewakili. Tapi ia menunggu aku mau membuka mulut dan menengoknya dengan menyentuh tanganku berkali-kali. Aku menengok. “Pinternya…..Fatih mau main puzzle? Coba lihat….Ibu punya apa ya….?”

Diraihnya sekotak besar mainan dari sudut ruangan. Aku antusias mendekat melihat warnanya yang warna warni. Ada satu yang sangat menarik perhatianku.

“Ibu Melly bicara dulu sama Ayah dan Bunda ya….” Tangannya membimbingku menuju karpet plastik empuk dan sekotak mainan itu. Ada banyak benda menarik di sana. Dan aku,…menemukan roda yang berputar dengan gambar abstrak lima gumpalan dan di permukaannya ada tulisan kecil-kecil.  Dan aku bisa memutarnya berkali-kali. Wow….!!!

_______________====_____________________

“Saya sudah baca semua hasil laborat Fatih yang sudah dikirimkan dari Amerika kemarin. Dari analisis rambut dan kuku, memang mengandung banyak toxin. Tak ada cara lain, kita harus kuras racunnya dengan cara detoksifikasi. Dia juga mengalami leaky gut…”

“Apa itu leaky gut dokter?”

“Menurut penelitian, leaky gut itu disebabkan oleh tidak tercernanya makanan yang dikonsumsi si anak akibat alergi makanan. Salah satu cirinya membentuk mosaic feses pada anak berspektru autis. Ibu pernah perhatikan kalau feses Fatih berwarna-warni, bukan?”

“Seperti apa Dok?”

“Kalau ia makan wortel, ada bagian fesesnya yang berwarna oranye dan masih utuh dalam bentuk wortel. Kalau ia makan bayam pun,  ada bagian fesesnya yang tetap hijau segar..”

“Betul dok…” Keduanya membentuk O di mulutnya secara lucu.

Dokter Melly mengambil gambar besar lalu menerangkan dengan gambar itu proses pencernaan yang rumit. Ayah dan Bunda begitu serius mendengarkannya.

“Dan bahan makanan yang tak tercerna itu berubah menjadi racun yang menyebabkan jamur di usus yang menimbulkan luka dan menyebabkan usus si anak mengalami kebocoran. Sayangnya..zat-zat sisa tak tercerna ini mengalir melalui usus yang bocor itu lalu diserap pembuluh darah lalu dibawa ke otak. Zat sisa itu memberi efek seperti si bocah menggunakan narkoba. Itu sebabnya anak-anak seperti Fatih kadang punya tenaga luar biasa yang membuat mereka tak pernah merasa lelah dan tak bisa berhenti bergerak. Efek yang sama dari dopamine, zat yang merangsang syaraf dan otak untuk aktif bergerak jika jumlahnya berlebihan maka syaraf pun terangsang terus bergerak tanpa henti.”

“jadi….otak Fatih teracuni zat sejenis narkoba?” Aku tak sabar mendengar lengkap seluruh penjelasannya.

“Betul Bu. Karena adanya racun seperti narkoba yang tertimbun bertahun-tahun itu membuat Fatih semakin terasing dari dunia luar, ia berasa punya dunia sendiri. Efek ini memang berbeda-beda bagi tiap anak. Bagi sebagian anak yang lain, zat beracun ini membuatnya tak punya semangat hidup dan sangat pasif dalam keseharian. Hanya tidur terus menerus pekerjaannya. Kita menganggapnya malas,…. padahal itu bukan kemauan si anak sendiri.”

“Apa seperti narkoba, zat ini juga menimbulkan efek mati rasa?”

“Batul Pak,..pada banyak kasus memang membuat anak tak memiliki rasa sakit meskipun ia jatuh sampai memar atau berdarah-darah, karena ketika terluka ia tak punya rasa sakit sama sekali. syarafnya tak bisa membaca rasa sakit itu…”

“Oh…itu sebabnya Fatih tak pernah menangis saat ia jatuh, terluka, berdarah dan kemarin saat disuntik waktu imunisasi..” Aku terbayang kejadian kemarin.

“Bisa jadi Bu..”

Ayah dan aku berpandangan. Kulihat kabut di mata Ayah yang berusaha tegar dan berusaha menjalankan tugasnya sebagai suami, menguatkan sang istri, dengan mengusap punggungku. tapi itu tak menimbulkan efek menenangkan kini. Rasanya ribuan jarum ditembakkan ke dadaku menimbulkan sensasi jutaan rasa nyeri yang mematikan. Menyedot seluruh energiku.

“Maaf…apa Fatih suka menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti mau terbang dengan gerakan berputar-putar?”

Ayah dan aku mengangguk cepat, hampir bersamaan.

“Juga tak mau menengok saat dipanggil namanya tapi kalau mendengar suara tertentu, yang bukan suara manusia ia menoleh dan bereaksi dengan cepat?”

“Betul Dok,…..” Jawaban Ayah singkat dan bergetar.

“Dia tak mau menoleh kalau kami panggil dan ajak bicara meski dari jarak pendek. Saya pikir ia punya gangguan telinga. Tapi ketika ia mendengar suara mesin mobil, meski jaraknya masih jauh ia bisa mendengar dan langsung berusaha lari mendekat.”

“Fatih juga sering mengalami konstipasi?”

“Iya Dok,..dia BAB dua hari sampai tiga hari sekali. Karenanya keras sekali. Saya sering kasihan saat melihatnya berusaha mengeluarkan feses, kadang sampai berdarah-darah. Meskipun sudah saya beri buah,..tetap sering seperti itu kejadiannya.”

“Maaf,….apakah fesesnya berbau sangat menyengat?”

“Betul..”

Kami berdua menganga, saling berpandangan dengan wajah menyimpan banyak teka-teki. Apakah Fatih sakit parah? Tapi sakit apa? Kami memang merasa ada misteri besar yang menyelimutinya yang membuat kami tak tahu apa itu. Ia memberi teka-teki yang tak mampu dijawab.

“Dia susah tidur?”

“Iya… dia selalu tidur larut. Apalagi kalau siangnya ketiduran, pasti malamnya jam 2 sampai 3 pagi baru tertidur dan mudah sekali terbangun pada suara yang pelan sekalipun. Dokter ada apa ini…anak kami sakit apa?” Aku tak sabar lagi. Ingin segera menerima jawaban dari semua teka-teki.

“Dia juga kadang mengalami gangguan telinga?”

Ayah mengangguk cepat. Baru dua minggu yang lalu kami ke THT karena telinganya sangat berbau. Dokter bilang fatih terserang infeksi. Dokter Melly menghela nafas panjang. Belum ingin menjawab teka-teki. waktu menjadi sangat lambat dan aku bisa mendengar detak persekonnya. Please…dokter..katakan sekarang juga.

“Apa Fatih menyukai satu benda tertentu, padahal itu bahkan tak bisa disebut mainan anak-anak?”

“Roda dokter…roda…., lingkaran dan segala benda yang bergerak teratur. Bund…biar aku yang jawab”.kata Ayah melihatku yang sudah mulai membuka mulut merasa tak sabar.

“Dia suka semua benda yang berputar dan berbentuk lingkaran……?” Dokter Melly mengulangi kalimat itu.

Kali ini Ayah yang menerangkan melihatku makin gugup. “Ia bisa larut memutar-mutar roda sepedanya berlama-lama. bahkan kadang lebih dari sejam jika tak kami alihkan perhatiannya. Ia, juga suka berjongkok mengamati roda mobil saya.”

Aku tak mau kalah semangat. “Ia juga suka semua yang berbentuk lingkaran lalu memutarnya. Dia bisa main pantul bola berjam-jam. Atau memutar piring makanannya saat makan siang sambil terkekeh-kekeh sendiri. Tapi ia tak pernah tertawa begitu riangnya kalau diajak bercanda, Dok.”

Dokter Melly manggut-manggut. Lama ia diam. Tik..tok..tik…tok…

“Ayah…Ibu….ini memang berat. Tapi saya berharap anda berdua tabah ya,…menurut diagnosis saya, Fatih adalah penyandang autis….”

“Autis?”….. Kedua wajah kami mengandung kalimat tanya yang sangat jelas. Mahluk apa itu, AUTIS?

Suasana hening. Tiba-tiba pertahananku runtuh, tak tahan untuk tak menangis. Jadi … itulah kenapa Fatih aneh selama ini. Ayah memelukku.

“Autis memang bukan penyakit yang ada obatnya, Bapak..Ibu. Dan mungkin seumur hidup takkan pernah bisa hilang dari si anak. Ini tidak seperti sakit disentri atau DB. Tidak juga seperti kanker atau tumor.”

kami berdua berpegangan tangan saling menguatkan.

“Bahkan kalangan kedokteran tak berani menyebutnya sebagai penyakit, tapi syndrome. Tapi berita baiknya Bapak Ibu…Fatih jika saya amati bukan penyandang autis tingkat berat,…masih ada harapan Fatih menjadi normal dan bisa menjalani hidup dengan baik. Saya rasa Fatih masuk kategori Asperger Syndrom, yang kadarnya lebih ringan.”

“Apakah benar-benar tak bisa disembuhkan, Dok?” Suara Ayah terdengar lirih.

“Kita usahakan Pak, bersama-sama, ini akan berat buat Bapak dan Ibu, tapi saya akan berikan semua hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mengeluarkan Fatih dari dunia sendirinya. Tapi harus sabar dan sungguh-sungguh. Sanggup?”

Aku berhenti menangis, kalah oleh rasa penasaran. “Kami akan lakukan apa saja Dok untuk kesembuhan Fatih. Tolong bantu kami.”

“Mau tahu hal pertama yang harus Bapak dan Ibu lakukan untuk proses kesembuhan Fatih?”

“Iya..iya..”

mata kami berdua berbinar penuh harapan. Ada harapan untuk sembuh!

“Pertama…terima kenyataan kalau Fatih autis, itu dulu. Orang tua dimanapun…pasti punya harapan besar terhadap anaknya. Begitupun Bapak dan Ibu. Betul bukan? Ingin punya anak yang hebat?”

Tentu saja, siapa yang takkan bangga punya anak hebat?

“Tapi kenyataannya ada satu hal besar yang membuat impian kita kadang…tak mudah menjadi kenyataan.…bukannya tak bisa ya….”

Suasana hening. hatiku membatu, dingin. Kenyataan pahit sepertinya baru mulai dari sini….

“Bukan tak mungkin Bunda….” Dokter Melly melihat hilangnya sinar harapan di mataku.

Ini adalah bagian yang sama sulitnya buat saya selain menolong si anak. Membantu orang tua menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin harus direvisi….”

Pandanganku mengabur….air bening itu kembali bergulir tanpa putus dari sudut mata. Berasa bongkahan batu besar dipaksa masuk ke rongga dada. menyayat daging di antara tulang rusuk dan mengucurkan darah segar. Aku terguncang. Ayah berusaha menenangkan.

“Biarkan Pak,… biarkan Ibu menangis. Ini memang berat diterima…..dan memang bukan berita bahagia.”

Suasana menjadi semakin hening hingga isakku makin terdengar jelas di ruangan dingin yang kurasa makin dingin. Kutoleh Fatih yang masih terlihat bahagia bermain globe.  Aku bahkan bisa mendengar tarikan nafasnya dari tempatku duduk. Anakku sayang, misteri apa yang kamu bawa?

Penasaran? Part 3 ada di sini

Continue Reading

Kamu Elysiumku Fatih….! Emang Elysium Apaan Sih?

 

 

Elysium adalah sebuah novel yang menceritakan perjalanan hidup seorang anak autis yang sering menjadi korban bully teman=temannya. Yah…kau tahu kan bagaimana rasanya dibully? Kalau kamu pernah kena bully walau sekali saja seumur hidupmu, kamu pasti bisa merasakan betapa sakitnya dibully. Direndahkan dihina-hina. Atau jangan-jangan justru kamu yang menjadi pelaku pembulian? Ckckck…Haduuuh jangan sampai ya..

Nah nanti di cerita ini Si Fatih yang dianggap teman-temannya aneh sejak ia kecil karena ia pengidap Asperger syndrome (masuk spectrum autis tapi masih bisa sembuh)  ini sering jadi korban bully teman-temannya. Ia dejek, dipermalukan diumpetin barang-barangnya biar ngamuk, karena anak autis sangat tertib, jika ada satu saja  barangnya yang hilang, ia bisa panic dan jadi tantrum. Tantrum adalah gejala kemarahan yang bisa membuat anak tersebut berteriak-teriak di luar kendali, terserang panic dan kebingungan yang akan membuat lingkungan di sekitarnya jadi memperhatikan kelakuannya dan ia akan semakin dianggap aneh. Itulah yang diinginkan para pembully.

Elysium dalam bahasa latin mirip dengan istilah shangrilla (opo meneh ikiiii…..) yang diambil dari legenda-legenda Yunani kuno yang artinya surga…..klu anak alay bilangnya Syulga…..kikikik… Sebuah tempat yang indah buat siapa saja, membuat siapapun yang hidup di dalamnya merasa bahagia. Bukankah saat kita merasa sedih atau galau selalu butuh sebuah  tempat memulihkan diri, untuk bersandar melepas penat dan beban berat?

Karena selalu  jadi korban bully, Fatih jadi bersemangat untuk membuktikan pada dunia, kalau dia jauuuh lebih baik dari para pembullynya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa seorang anak autis juga berharga, punya cita-cita yang mulia dan ingin menjadi bagian terhormat dari masyarakat. (soundtrack genderang perang bertalu-talu…Fatih pakai baju besi di depan siap memberi komando…ups salah,..itu film Gladiator)

Karena itu Fatih jadi bersemangat melakukan langkah-langkah perbaikan diri. Dimulai dari menata konsentrasinya agar bisa lebih focus, olah raga untuk memperbaiki system syaraf limbycnya agar ia tak mudah jatuh atau terantuk sesuatu biar jalannya lebih gagah juga, ga asik kan kalau tokoh utama jalannya kayak orang habis diputusin pacarnya atau malah melambayyy…?, ga cucok deh bow!

Ia juga memperbaiki cara bicaranya yang sering mengulang-ulang dan dibantu Bunda Miranti, Fatih melakukan diet ketat gluten dan casein free (opo meneh ikii jilid 2), menjaga makanan yang masuk ke tubuhnya dengan menghindari makanan instant dan yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti coloring food, pengawet atau penyedap rasa. Fatih juga tekun belajar dan selalu ikut berbagai lomba (bahkan lomba panjat pinang sampai bunda tereak-tereak nyuruh Fatih turun) meski ia selalu yakin ia akan kalah tapi ia mencoba terus supaya punya banyak pengalaman. Ia ingin menjadi anak yang membanggakan bagi bundanya, karena ayah Fatih pergi meninggalkan keluarga karena malu punya anak autis dan menyalahkan bunda Fatih lalu menikah dengan perempuan lain. Ini menjadi dendam bagi Fatih, untuk membuktikan pada ayahnya kalau ia anak yang berharga. Kalu ia juga hebat. Yes! Fatih terus berusaha ya.

Yang aku ingat beberapa hari kemudian, Ayah tak pernah lagi pulang ke rumah. Dan kulihat Bunda yang hanya mengurung di dalam kamar.Terbaring menghadap jendela selama berjam-jam. Tak bergerak. Kadang saat aku mengintip, tubuhnya membeku dan tiba-tiba roda-roda yang sedang kuputar dalam spectrum warna-warni pelangi itu menjadi tak menarik lagi. Ada kekuatan yang menuntunku ke sana, ke tempat Bunda.  Itu bukan bundaku, yang biasanya setiap pagi bangun dan menyiapkan sarapan di meja dengan setangkai bunga rumput sebagai penghiasnya.

Bukan bunda yang diam tak bergerak seperti rongsokan tua yang sering kulihat di tempat kuburan mobil di mana kutemukan banyak sekali roda.

Aku mendekat, mengelus-elus  punggung bunda pelan. Itu yang selalu dilakukan Bunda saat aku sakit, atau saat ia melihatku duduk sendiri sementara anak-anak lain berkejaran dengan riangnya. Ia akan datang mendekat lalu mengelus punggungku lembut dan menciumku. Rasanya nyamaaan sekali dan rasa sakitku perlahan jadi hilang. Ajaib ya?  Semoga elusanku juga bermantera ajaib buat Bunda.

Nah,..tokoh bunda Miranti d sini, karena ia seorang ibu, ia sangat mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati. Ia tak peduli bahwa Fatih Autis. Ia ingin Fatih dapat hidup normal seperti adiknya, seperti anak-anak lainnya. Maka Bunda dengan segala upaya berusaha membuat Fatih keluar dari jeratan autism. Bunda memprioritaskan biaya bulanan terbesar untuk Fatih agar ia bisa selalu bisa kontrol pada dokter ahli, melakukan terapi yang diperlukan, minum suplemen obat-obatan yang akan membantu memperbaiki kerusakan di otaknya, melakukan detoksifikasi yaitu pengeluaran racun dari tubuh Fatih dan selalu menyemangati Fatih dengan kata-kata yang menggugah semangat Fatih untuk sembuh, untuk menjadi anak yang sehat, menjadi anak yang “normal”. Sambil mengelus punggung anak kesayangannya di teras kayu mereka yang teduh dengan rimbun daun mangga, Bunda bicara lirih,

“Sayang…tugasmu bukan untuk menjadi hebat! Tapi cukup bagi Bunda jika Fatih bisa merasa hebat! Bunda tak butuh Fatih rangking berapa, berapa nilai yang Fatih dapat, tapi Bunda akan bahagia kalau Fatih mau berusaha sekuat yang Fatih bisa. Bunda tak menuntut Fatih buat jadi yang terbaik, tapi cukuplah Fatih beri usaha yang terbaik. Itu sudah cukup, Nak. “ …

Aku masih menggenggap erat raport yang ingin kusobek karena malu dengan nilai yang tertera. Tapi demi melihat Bunda yang tak marah melihat angka-angka memalukan itu, begitu tenangnya ketika ia bicara, batu besar yang dari kemarin memenuhi rongga dadaku mendadak remuk menjadi serpihan dan jatuh satu persatu.

Karena Bunda menyakini kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya bahagia, melihat anaknya sukses. Bunda bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, karena itu ia sering tidak ada di rumah. Bunda meminta Fatih menjaga adiknya, untuk melatih rasa tanggung jawab, untuk belajar bersosialisasi, untuk belajar mengenal perasaan, hal yang buat Fatih di awal, menjadi sesuatu yang asing baginya. Tapi Ibu bisa melihat Fatih tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, penuh empati, jujur dan punya cita-cita besar untuk melihat ibu dan adiknya bahagia.

Nah kalau si cantik Kinasih ini memang dididik orang tuanya untuk bersikap manis pada siapa saja. Tumbuh dalam keluarga yang harmonis, meskipun tak kaya raya tapi berkecukupan.  Kinasih tak suka melihat ketidak adilan di sekitarnya. Begitu ia melihat Fatih selalu jadi korban bully hatinya tak terima. Bukankah manusia diciptakan sama? Punya hak apa sampai memperlakukan orang lain dengan seenaknya? Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu! Ya…begitulah pembaca, si cantik ini sangat terobsesi dengan berbagai komik dan ia mengumpamakan dirinya sebagai si Sailormoon pahlawan (yang sebenarnya cewe galau) yang nanti akan bertemu Pangeran Tuxedo bertopeng yang ternyata….menurut Kinas adalah Batman yang sedang menyamar. Kok?

Yah begitulah dia. Kinasih suka kalau bisa membuat Faith tertawa, karena Fatih jarang tertawa, kadang kalau tertawa suaranya agak aneh. Pertama ia merasa itu ga bener tapi lama-lama jadi terbiasa. Fatih terlihat bahagia kalau sudah melihat pelangi, menelusuri bintang di malam hari, dan memutar roda dan lingkaran. Lingkaran apa saja. Roda sepeda, roda mobil, roda motor, piring, baju polkadot Kinas, sampai tutup gelas dan dream catcer yang bergerak-gerak di tiup angin pada kaca jendela.  Lalu ia tuliskan angka-angka dari tiap gerakan roda dan lingkaran yang diputarnya. Entahlah apa itu. Menurut Kinas itu pekerjaan membosankan. Tapi Fatih suka. Apalagi kalau ia ada di sampingnya sambil membacakan buku atau majalah apa saja. Fatih memang tak terlihat mendengarkan, sibuk sendiri tapi saat Kinas ngambek merasa diabaikan dan menghentikan buku yang dibaca.

“Ooooh jadi gitu aku dicuekin setelah baca buku sampai berbusa-busa begini? Bahkan air minum segelaspun tak diberi. Sungguh t-e-r-l-a-l-u!”

Sudah kumiripkan dengan suara dan mimic penyanyi dangdut itu tapi ia tak tertawa. Matanya masih jelalatan mengikuti gerak roda dan menulis angka-angka yang sama tak jelasnya. Mending kalau nulis jumlah duit aku pasti paham. Lah ini? Tulisan ruwet macam cacing kepanasan begitu?

“Oke aku pergi…!”

“”Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada. Dan setiap orang terhangati karenanya. Meskipun begitu karena matahari tak selalu terlihat, manusia tak mengetahui bahwa kehangatan dan kehidupannya berasal darinya.” ①

Ia menyerocos dengan tangan masih mencoret-coret seperti sandi yang ingin dipecahkan. Kinas tertegun. “Coba ulang!” tantangnya.

Fatih mengulang sekali lagi. Sama persis seperti yang di buku!!! Siapa sebenarnya anak ini? Mahluk apa dia? Tapi dia pasti mahluk ajaib yang kalau tak kujaga baik-baik bisa rusak oleh tangan-tangan bodoh yang cuma bisa bicara dengan tangan dan mulut bukan pakai isi kepala. Ibu benar, bocah aneh ini punya entah apalah itu namanya,yang aku harus ikut menjaganya, menjadi pahlawannya. ya, Sailormoon harus siap beraksi!

Jadi pesan dari cerita ini banyaaaak sekali tapi semoga nanti bisa dimasukkan nilai-nilainya tanpa terkesan nyinyir ya, maklum guru gitu loh pasti kebawa mulu bawaannya mau ngajar, lihat siapa saja berasa lihat murid.

Satu hal yang kuinginkan ketika menulis buku ini adalah, seperti kalau kita nonton bioskop dan lihat film yang bagus, kau pulang dengan kepala penuh dengan inspirasi atau pemahaman baru. Atau kau jadi tertarik untuk membaca buku dan tahu asiknya membaca, kau jadi suka puisi Rumi, atau apapun itu.

Semoga nanti begitu. Jadi bantulah aku dengan support kalian supaya otakku ini mau diajak kerjasama menulis cerita, ide mengalir dengan lancarnya, punya alur yang enak buat diikuti dan harus menarik, jadi kalian akan selalu menunggu episode berikutnya, seperti menunggu-nunggu gebetan terlihat melangkah dari gerbang sekolah eaaaaa. dan dadamu mengembang bagai sekoci saking bahagianya. “Terima kasih ya Allah dia masuk hari ini…(lagak ebay ya).

Yah apalagi sih yang diinginkan seorang penulis selain tulisannya bermanfaat bagi pembaca dan laku di pasaran # eh…..  hehehe.

①dicuplik dari “Renungan Kearifan Cinta Rumi, kumpulan puisi Jalaludin Rumi.

Continue Reading

Dimatamu Kutemukan Surga

“Eh awas ada alien mau lewat! Kasih jalan…kalian tahu ga cara dia ngomong gimana?”

Seorang bocah mendelik sambil mangap-mangap seperti ikan keluar dari kolam, tak bisa bernafas, “blup..blup…”

Kelompok bocah lelaki itu tertawa. sayangnya aku tak tahu apa yang mereka tertawakan. Hamster yang berlari di roda putar lebih menarik minatku. Kandang hamster itu terletak di atas laci buku kelas. Aku melangkah mendekat. Dan mereka makin tertawa. “Tuuh kan aku bilang juga apa? Bocah kurang setengah!”

Roda itu masih terus berputar di kandang hamster, bagian tengahnya yang dicat warna-warni membuatnya terlihat warna-warni seperti kumparan pelangi. Aku makin mendekati hamster. “Lihat doong ekspresinya!” Tawa masih riuh sampai kudengar suara nyaring yang takkan pernah kulupakan seumur hidup.

“Reno..!  Jangan gangguin Fatih! Kasihan lah. Apa sih untungnya?”

Ia menyebut namaku. Namaku yang tertulis di rapor, Fatih. Bukan Uus, bukan si setengah, bukan alien apalagi orang aneh.

Continue Reading