Theragran M, Teman Perjalanan Menjelajah Benua Eropa

photo by Shita Rahutomo
photo by Shita Rahutomo

Dari SD aku sudah bercita-cita menjelajahi benua biru, Eropa. Dongeng HC Andersen yang dibuat dalam bentuk film kartun di televise banyak menggambarkan keindahan Eropa seperti kisah Ariel (ga pakai Tatum) putri duyung yang menjelma jadi manusia dengan menukar suara merdunya agar bisa bertemu pangeran impiannya. Meski berakhir sedih, tapi aku tak bosan melihatnya, dengan latar kota penuh bangunan tua dan kastil-kastil cantiknya.

Continue Reading

Begini Caranya Mendapatkan Visa Schengen

amsterdam, melancong sendiri
amsterdam, melancong sendiri

Anda ingin mengadakan perjalanan ke Eropa? Menikmati sunset di depan menara Eiffel? Atau mengelilingi Trocadero sambil bergenggaman tangan dengan orang yang anda sayangi? Atau ingin melihat kincir angina di Volendam sambil menikmati indahnya wilayah pedesaan di Volendam yang dinobatkan UNESCO sebagai salah satu world”s heritage?
Atau menikmati berbagai koleksi Rijks Museum, yang takkan habis anda kelilingi dalam sehai saking besarnya musem dan banyaknya koleksi yang dimiliki. Atau ingin menikmati indahnya alam pedesaan Italia seperti yang digambarkan novel “Sunset in Tuscany” yang legendaris itu?
Semua bisa… tergantung besarnya dana yang anda miliki. Dan tentu saja persiapan perjalanan yang matang. Menentukan itinerary secara rinci dan berurutan akan sangat membantu kelancaran perjalanan anda.
Lupakan biro perjalanan jika anda punya jiwa petualang. Dengan memakai biro perjalanan, anda harus membayar lebih mahal dan percayalah perjalanan yang anda buat sendiri akan lebih memuaskan. Pergi sendiri hayu…k! Pergi berdua,… dengan pasangan? Atau sekeluarga seru-seruan bersama anak-anak? Jelas ini impian semua orang meski tak semua orang beruntung bisa melaksanakannnya.
Apa saja sih yang harus dipersiapakan sebelum mengajukan visa ke Uni Eropa?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia bukanlah Negara yang dipermudah dalam mendapatkan visa Schengen seperti Negara tetangga kita Malaysia atau Singapura. Karena banyaknya kasus terorisme, Negara Indonesia termasuk yang “diperhatikan” dalam mendapatkan visa Schengen ini.
Empat senjata andalan yang bisa anda persiapkan jauh-jauh hari sebelum mengurus visa adalah …
1. Pasport
Buatlah paspor jauh-jauh hari atau jika anda telah punya paspor maka perhatikan masa validnya. Minimal 6 bulan sebelum paspor berakhir masih bisa digunakan untuk mengajukan visa Schengen. Pengalaman banyak orang, jika visa anda sudah pernah dicap di banyak negara, apalagi Amerika Serikat (yang terkenal labil dalam memberikan visa) biasanya akan menjadi pertimbangan bagi negara yang anda ajukan visa Schengen untuk mengabulkan keinginan anda mengunjungi negara mereka. Pastikan nama di paspor sama dengan nama di KTP dan akta lahir anda. Jika tidak bisa bermasalah. Jadi lebih baik anda kalibrasi dulu nama anda sesaui dengan ketiga dokumen identitas yang saya sebutkan. Begitupun dengan alamat paspor anda harus sama dengan nama di KTP dan Kartu Keluarga. Jika tidak sama? Ya…anda harus perbaiki dulu. Ingat ini perjalanan ke Eropa. Bukan ke Papua yang masih wilayah Indonesia (stop berpikir yang bukan-bukan, saya tidak bermaksud mendeskreditkan daerah manapun. Cuma sebuah perumpamaan). Jangan sampai terlibat masalah dokumen di Negara Uni Eropa yang terkenal strict ini.

Anda belum punya paspor?
Segeralah buat paspor. Caranya? Jika anda tinggal di Jakarta ada 5 kantor imigrasi yang siap membuat paspor atau memperpanjang paspor anda. Jika anda tinggal di wilayah Jakarta Selatan, Kantor Imigrasi ada di Warung Buncit Jakarta Selatan. Dan ini imigrasi kelasI, jadi lebih tinggi nilai akurasinya daripada yang di daerah. Kata petugasnya sih…

Apakah kantor imigrasi yang dimaksud harus sesuai alamat KTP yang mengajukan passport?
Jangan kuatir,..semua kantor imigrasi bisa memproses pengajuan passport anda dari daerah manapun. Yang penting syaratnya lengkap. Syarat pengajuan passport ada di sini.
Anda bisa datang langsung ke kantor imigrasi atau mengajukan via online. Tapi dari pengalaman saya sih, via online kadang bermasalah, harus mengulang-ngulang berkali-kali baru tembus, jadi saya memilih pakai cara manual.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat paspor?
Butuh dua hari kerja untuk memproses passport anda. Hari pertama anda mendaftar dulu. Disediakan formulir yang harus anda isi dan membeli amplop serta materei di kantor imigrasi. Pengaju online akan dibedakan antriannya dengan yang manual. Tentu saja yang online lebih cepat. Perlu diingat, datanglah pagi-pagi! Jam 5.30 pastikan sudah sampai dan anda mengambil tiket antrian. Karena kantor imigrasi membatasi jumlah pengaju paspor setiap harinya. Anda kesiangan dipastikan tak dapat antrian. Kadang bukan hanya satu orang mengambil satu nomer antrian melainkan beberapa nomer sekaligus, bisa jadi ia dari agen perjalanan atau orang yang memang profesinya membantu membuatkan passport. Begitu anda antri untuk menyerahkan dokumen, petugas akan memeriksanya dan memberi info apa yang harus diperbaiki atau ditambahkan. Juga memberikan nomer rekening bank BNI untuk membayar biaya paspor. Bank BNI yang dimaksud tak jauh dari kantor imigrasi, hanya berseberangan jalan, satu lokasi dengan toko bakery Seven Grain. Langsung ke lantai 2 dan form pembayaran telah tersedia. Setelah itu anda bisa pulang dan besok datang lagi setelah dokumen sudah dimaksukkan dalam bank data dan anda tinggal menunggu foto passport dibuat. Oh ya, kalau anda termasuk orang yang stylish, dandanlah terlebih dahulu dan bagus juga kalau pakai alas bedak yang bagus untuk mendapattkan foto paspor yang terkesan terang dan cantik hehe… dan anda boleh minta foto diulang lalu pilih yang terbaik dari pose anda. Ingat…tanpa senyum.
Nanti anda akan diberitahu kapan paspor bisa diambil dan anda harus membawa bukti pembayaran saat pengambilan paspor.

2. Rekening Tabungan Yang Menyakinkan
Buat pengajuan paspor Schengen, kondisi keuangan anda harus terlihat menyakinkan. Untuk perjalanan seminggu atau dua minggu, Rp 30 juta sudah cukup menyakinkan. Jika hingga sebulan anda harus siapkan minimal Rp 50 juta yang harus standbye dalam rekening. Dan jumlah uang tersebut tak boleh tiba-tiba ada. Harus menjadi saldo mengendap selama tiga bulan, karena salah satu syarat pengajuan visa Schengen adalah rekening Koran tabungan anda selama 3 bulan terakhir. Pastikan anda beberapa kali melakukan transaksi dalam tiga bulan itu agar tampak lebih menyakinkan menjadi rekening tabungan yang anda pakai setiap hari. Mereka akan mengasumsikan anda menghabiskan Rp 1 juta perhari selama di Uni Eropa. Karena Uni Eropa memang biaya hidupnya mahal. Kita bisa menekan dengan membawa bahan makanan dari Indonesia seperti mie gelasdan cereal tapi tetap dalam keseharian anda minimal akan menghabiskan Rp 500 ribu perhari itu diasumsikan menginap di hostel kisaran rp 300 ribuan, kalau di motel atau hotel biaya yang anda keluarkan akan lebih besar lagi. Oh ya… andalan makanan saya adalah kebab. Terjangkau, pilih yang mencantumkan sertifikat halal untuk rasa aman (buat yang muslim) dan rasanya enak.

Kalau ada lembaga resmi yang menyeponsori keberangkatan anda, yang memberikan jaminan menanggung seluruh biaya hidup selama anda tinggal di Uni Eropa dan menyediakan tiket pesawat pulang pergi maka masalah rekening menjadi bukan masalah besar. Tetapi jika yang menanggung biaya hidup anda selama di Uni Eropa perorangan, entah sebagai pasangan hidup anda atau mungkin kerabat yang tinggal di Uni Eropa maka biasanya prosesnya lebih ribet karena Kedutaan Besar tempat anda mengajukan visa akan mengajukan beberapa syarat seperti meminta rekening koran pihak yang bersangkutan, keterangan domisili, pekerjaan, hubungan dengan anda sebagai pengaju visa. Jika keluarga, biasanya akan dimintakan keterangan seperti kartu keluarga. Tapi jikapun ada pengundang pribadi, masalah rekening pribadi anda akan tetap menjadi bahan acuan untuk lolosnya visa. Karena saat ini issue imigran mnjadi masalah serius bagi Negara-negara Eropa, jadi pengajuan visa menjadi hal yang serius.

Saat ini, sebagian besar Negara Uni Eropa sudah tidak menerima pengajuan aplikasi visa di kedutaan besar mereka, tapi dialihkan ke beberapa lembaga perwakilan seperti VFS yang bertempat di Kuningan City, Jakarta. Untuk lebih lengkapnya lihat di sini.

Durasi dari pengajuan sampai pemberitahuan visa anda diterima biasanya makan waktu 2-3 minggu karena diproses di Kuala Lumpur. Ga tahu juga alasannya apa. Apa Indonesia kurang menyakinkan kejujurannya? Entahlah….

Jika semua dokumen yang anda berikan menyakinkan, sekitar dua minggu tapi jika dokumen anda kurang lengkap anda harus menunggu sekitar 3 minggu. Untuk lebih lengkapnya tentang proses pengajuan visa Schengen silahkan baca link ini.

3. Kartu Kredit
Kartu kredit memegang peranan penting untuk kenyamanan dan kelancaran perjalanan anda selama di Eropa. Untuk membeli tiket pesawat, booking hotel melalui booking.com , hostelworld.com , airbnb dan lain-lain biasanya mereka akan minta kartu kredit anda sebagai jaminan. Seperti Booking.com walaupun sistemnya baru bayar saat anda benar-benar datang tapi mereka meminta jaminan anda punya kartu kredit yang masih berlaku. Maka punyailah kartu kredit, tapi pergunakanlah dengan bijak. Gunakan bertransaksi untuk situs-situs yang menurut anda terpercaya. Kalau bisa milikilah dua kartu kredit. Satu dengan limit minimal sekitar Rp5 jutaan dan anda bisa punya satu lagi untuk pagu kredit yang lebih besar. Untuk tranaksi via internet lebih baik gunakan kartu kredit yang pagu kreditnya kecil, untuk menghindari penyalahgunaan kartu kredit anda. Pagu kredit lebih besar untuk transasksi langsung. Ketika membeli tiket pesawat, kereta lebih praktis memakai kartu kredit. Di Belanda bahkan beli buah, makanan dan kopi pun kebanyakan bayarnya harus pake kartu kredit. Tiket kereta subway di loket otomatis Perancis wajib pakai kartu kredit. Kartu debit tak lazim di Eropa. Bahkan saat akan transfer ke tanah air untuk suatu keperluan, ATM Cuma mau mengeluarkan uang cash, taka da fasilitas transfer. Alamaak…

4. Smartphone
Ini senjata andalan anda selama jalan-jalan di Uni Eropa. Keemanapun anda pergi, Google Map akan memberi petunjuk melalui 3 opsi pilihan, mengendarai mobil, public transport yang dilambangkan kereta, atau jlan kaki. Dia akan memandu anda harus naik trem atau subway nomer berapa, berapa perhentian dan harus jalan kaki berapa lama. Sangat membantu. Tapi kartu sim card perdana buat saya sih cukup mahal. Kalau hanya untuk satu atau dua hari tinggal seperti Belanda, memiliki banyak sekali hot spot gratis sehingga anda tak perlu bayar.

Dan asiknya colokan charger di Belanda lubang dua, persis di Indonesia jadi tak perlu repot pake traveler charger yang berbagai macam lubangnya itu. Kalau Perancis, Swiss dan Itali memakai lubang tiga sejajar, masih bisa masuk sih charger Indonesia, kecuali yang ukuran khusus ya. Baru butuh traveler adapter.

Smartphone akan sangat membantu sebagai penunjuk arah, memandu lokasi wisata mana yang baiknya anda kunjungi, perkiraan waktu menuju lokasi, informasi harga tiket, membeli tiket seperti di Rijks Museum, jika anda membeli tiket via internet akan lebih praktis dan tak perlu antri panjang yang melelahkan. Navigasi Google juga akan membantu anda agar tidak tersesat di jalan. Dengan fasilitas Google Earth anda bisa melihat dulu di smartphone, penampakan sekitar obyeknya seperti apa sih tempat yang akan anda tuju.

Smartphone dengan google translatenya juga akan sangat membantu saat anda ingin berkomunikasi dengan penduduk yang tak bisa berbahasa Inggris untuk menyapa atau bertanya. Di Belanda hampir semua orang bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan mereka sangat membantu saat kita menanyakan suatu arah. Tapi di Perancis dan Italia jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan semua acara televise di Italia wajib diterjemahkan dalam bahasa Italia. Jadi semua tayangan film dari Asia, Amerika dan berbagai belahan dunia manapun, semua pemainnya tiba-tiba fasih berbahasa Italia hehehe..

Sampai jumpa di info selanjutnya tentang apa saja dokumen yang harus disiapkan untuk mengajukan visa Schengen . Ciao……!

Continue Reading

Menyusuri Air Terjun Sikulikap, Taman Nasional Leuser dan Wihara Lumbini Dalam Sehari (2)

 photo IMG20160116151018_zpsyavqvuo6.jpg

Setelah kenyang ngopi dan ngemil di Sikulikap, kami menunggu angkutan Sutra (Sumatra Utara) lewat. Kebanyakan penuh bawa penumpang dari bawah. Berapa pemuda bahkan memilih duduk di atas atap mobil. Buat saya sih ngeri lihatnya sperti tak sayang nyawa saja. Mungkin karena anak muda jadi mereka tak punya banyak tanggungan beda sama emak-emak hehe kalau pergi langsung mikir “kalau ada apa-apa anakku gimana ya?” Tapi pergi sih tetap pergi karena jiwanya memang petualang tapi anak itu jadi rem buat kita hati-hati bertindak.

Tak berapa lama, Sutra yang tak terlalu penuh melintas, kulambaikan tangan Sutra berhenti di depan mata. Saya terselip di depan samping sopir berdesakan dengan ibu-ibu yang membawa dua anak kecil sementara teman duduk di belakang. Mobil melaju cukup kencang berkelak-kelok mengikuti jalanan yang sebelah kirinya penuh pohon-pohon besar rindang bagian dari Taman Nasional Bukit Leuser. Kabut mengambang di antara pepohonan. Udara segar dan terasa dingin, terlihat magis, saya jadi ingat film yang ceritanya absurd tapi pemainnya necis ganteng, si mamas Lara Flynn Boyle di film “The Peak” . Scoring musiknya itu loh unforgettable banget.
Lamunan buyar karena tiba-tiba suara berisik memekak telinga menusuk tanpa permisi. Pak Sopir menyalakan radio dan ikut berdendang dangdut dari radio yang menggema kencang. Ah sudahlah,..nikmati saja. Mo protes gimana wong ini mobil angkutannya. Mau diturunin tengah jalan? Ogaaah… Sepanjang jalan, lapak-lapak jagung bakar, kedai kopi dan indomie berjajar sepanjang jalan. Semoga saja sampahnya dimanange dengan baik ya.

Butuh 20 an menit kami tiba di pertigaan jalan yang kami tuju. Kami hanya membayar Rp 5000,00 perorang sampai di pertigaan jalan berhias gapura dengan buah jeruk raksasa di atasnya untuk menuju Wihara Lumbini. “Cuma 15 meenit kok menuju lokasi. Bisa jalan kaki Cuma sekitar 1 KM an lah…tapi kalau males ya panggil saja ojek atau tunggu angkot yang ke sana tapi agak lama ya adanya bisa setengah jam an.” kata penduduk yang kami tanya. Lah, aripada menunggu jadi patung mending jalan kaki lah. Satu kilo? ..kecillah itu. Let’s go babe!

Si teman agak males jalan, tapi melihat saya bersemangat melangkah sambil memakai kaca mata cengdem ala Rayban kw-kwan, jadilah kami berjalan berdua menyusuri jalan berdua. Sok romantic banget dah. Untuk ga pake acara gendong-gendongan ala drama korea gitu hehe..
Sepanjang jalan lading di kiri kanan jalan menarik mata dan kamera untuk berhenti dan mengabadikannya. Ah salah satu tempat pengembangan penelitian pertanian ada di Brastagi ini dan tempatnya bersih. Senangnya punya kantor di tempat sejuk yang hening begini. Kami terus berjalan. Beberapa pasangan melintas mengendarai motor bergandengan erat seolah mau jatuh. Haduuuh,..anak muda seperti taka da tempat saja buat bermesra-mesraan begitu. Sepertinya tujuan kami sama.

Tapi sudah jalan lebih dari 15 menit kenapa tak ada tanda-tanda keramaian atau pucuk sebuah bangunan dari kejauhan ya? Ketika seorang gadis manis penduduk setempat melintas,saya Tanya dan dia bilang kami keblanjur alias kelewat.”balik lagi Mbak,… nanti di sebelah kiri jalan ada plangnya kecil dari kayu, nah belok saja di situ, ikuti terus jalannya pasti sampai.”
Yah,..terpaksalah balik lagi. Tapi liburan ya gitu, ada adegan ersesatnya segala. Ga asik dong kalau semua sesuai rencana. Akhirnya plang kecil bertulis wihara Lumbini itu terlihat juga. Kecil kaleee…pantesan tak terlihat dari seberang jalan tadi. Kami mengikuti jalan batu itu. Di sisi kiri kanan jalan beberapa kebun buah terhampar. Dua pasang muda-mudi sedang memetik stroberi segar dari ladangnya tinggal ditimbang pada pemilik yang menunggu di pinggir pematang. Ada juga kebun buah apel. Sayang sedang tak buah. Pasti cantik sekali melihat pohon apel berbuah lebat. Beberapa ibu sedang menyiangi ladang agar bebas gulma. Begitupun pohon jeruk. Brastagi terkenal dengan jeruk medannya yang manis dan penuh air. Sebagian dai sinilah jeruk-jeruk itu berasal.

Sekitar sepuluh menitan kemudian sampailah kami ke Wihara Lumbini. Dan Wihara ini melebihi ekspektasi saya. Cantiiik sekali menjelang indah dengan latar langit bitu cerah dan awan putih bergumpal-gumpal. Jadilah saya langsung selfie sementara si teman yang ga hobby foto Cuma geleng-geleng kepala mencoba maklum pada kenarsisan tingkat dewa. “Perjalanan itu untuk disimpan di hati, dipajang dalam kenangan dan diceritakan pada yang bermakna saja dalam hidupku..” begitu katanya pernah bicara. Yo weslah,..saya saja yang jadi banci foto.

http:// photo IMG20160116144921_1_zpsrl6zxlrf.jpg

Wihara berwarna kuning emas ini merupakan tempat ibadah agama Budha yang masih aktif digunakan setiap hari Minggu. Untuk masuk ke wihara ini kita tak dipungut biaya sama sekali. Tapi para pak satpam yang ramah-ramah di pintu masuk meminta kami meninggalkan semua makanan dan bawaaan, kecuali yang berharga untuk ditinggal di pos satpam dan nanti diambil kalau sudah keluar. Okelaah. Dan mengingatkan untuk menempatkan alas kaki di tempat yang disediakan karena dilarang beralas kaki di dalam wihara.

Dalam wihara terasa sejuk dan hening. Empat patung Budha dari batu marmer duduk bersila dan amsing-masing menghadap satu arah mata angina. Sayang taka da guide yang bisakita mintai keterangan di sini. Di dalam kita harus hening, untuk menghormati tempat ibadah ini. Empat menara yang cantik, saya tak tahu namanya berdiri dengan cantik. Bulatan-bulatan kuning yang ditemplkan ternyata berbentuk koin yang berukir patung Budha secara timbul. Mengkilap sekali. Apa mungkin dari emas ya? Entahlah,..tapi memang bersinar kuning emas sih. Indah. Bayangkan jika ini benar-benar terbuat dari emas, wow kayanya kita.

menitipkan doa di pohon willow
menitipkan doa di pohon willow

Keempat pintu wihara sangat tinggi dan besar terbuat dari pohon jati kualitas super dengan urat kayu yang indah dan dipahat dengan cantik. Saya lihat langgam ukirannya dari Jepara. Di depan semua pintu besar itu ada patung Budha berwarna kuning emas (benar-benar mengkilap) dan di sebelahnya terdapat pohon bunga willow berwarna pink yang digantungi beberapa amplop merah untuk uang. Ternyata amplop itu diisi doa lalu digantungkan di ranting-ranting pohon bunga willow agar mimpi dan cita-citanya terwujud. Saya suka sekali melihat interior di dalamnya. Lantainya granit berpola bunga, empat tiang besar berlapis marmer. Beberapa relief dinding dari kayu jati terpahat indah menceritakan Rayana, kisah Hanoman dan perjalanan Sidharta Gautama menjadi Sang Budha.

http:// photo IMG20160116144830_1_zpsd6w2avfq.jpg

Puas berkeliling, kami keluar. Terdapat taman yang mengelilingi bangunan Wihara yang merupakan replica dari Wihara ….di Burma. Semakin siang pengunjung semakin ramai.
Matahari terik di atas kepala, tak lagi asik untuk berjalan kaki. Untung ada angkot ngetem. Dalam perjalanan pulang, perut mulai keroncongan. Angkot berjalan pelan melewati depan kebun cabai setan yang lebat sekali buahnya, siap panen. Beberapa sudah mulai berwarna merah menyala. Terbayang pedasnya.

Sampai di pertigaan jalan sebelumnya, kami berhenti mencari warung. Beberapa warung yang kami datangi dengan jujur mengatakan makanan mereka bercampur juga dengan lauk daging babi, karena melihat tampilan saya yang berjilbab. Seorang pemilik warung terakhir malah memberi petunjuk, “Ke depan saja bu, yang di depan jalan besar. Itu warung yang punya muslim, orang Jawa namanya Pak X (Saya lupa namanya). Lihatlah kami, orang Indonesia itu saling menghargai dan toleransi. Mereka yang mengaku terpelajar dan sering perang keyakinan di media social harusnya malu dengan para rakyat kecil yang berbesar hati menerima perbedaan dan hidup dengan damai.
Sampai di warung yang dituju, segala macam makanan terhidang di meja tinggal pilih. Makanan khas Medan. Saya memilih arsik ikan mas dan sayur gulai daun singkong bertabur cabai utuh. Makan dengan lahap sampai nambah nasi setengah porsi. Si bapak pemilik warung melayani kami dengan ramah. Kami ngobrol cukup lama di warung beliau sambil menunggu nasi turun dari kerongkongan. Puas sekali makan siang kali ini.

Kami hanya sebentar di Pasar Brastagi. Berbagai macam buah dijajakan dalam partai besar dan eceran. Manggis, jeruk, dan markisa berjejalan dengan manis di dalam karung.Tak terasa sore menjelang. Lama menunggu Sutra yang tak datang-datang, sebuah Avanza menghampiri menawarkan tumpangan. Tentu saja kami harus bayar. Setiap orang 15 ribu. Taka pa yang penting sampai Medan sebelum gelap karena saya masih ngeri dengan rute Brastagi Medan yang berkelok-kelok tajam. Eh beneran. Sopir Avanza ngebut tak kepalang. Dua penumpang omprengan yang lain dari tadi “misuh-misuh” menyuruh pelan-pelan. Kepala saya berputar dan keringat dingin mulai bermunculan karena tikungan-tikungan tajam dilalap sopir dengan kasar. Perut yang masih kenyang berasa diaduk-aduk. Kalau sudah begini pasrah sajalah. Jika kita tegang, tidak rileks akan semakin menyiksa. Ikuti saja alurnya goyangan mobil sambil merem. Jurus yang sama kalau saya terpaksa naik roller coaster hehe…

Continue Reading