Part 5 : Kau Yang Terindah

pantai

Suara riuh di luar, tapi di dalam ruang terapi sepiiii sekali. Ibu merengut tak jauh dari tempatku. Aku tahu ia kuatir dengan perkembanganku. Putus asa mungkin tepatnya. Aku memilih diam tak bergerak, seperti boneka tanpa batere. Bosaaaan…. Kenapa aku harus terperangkap pada kursi pesakitan ini? Tak bisa bergerak, Huh! Huuuh…!!!

“Fatiiih…. Katakan  m-e-r-a-h…!”

Bu Marni memonyongkan bibirnya lima senti demi membentuk kata itu sambil tangannya menyentuh daguku agar mau menghadapnya.

Aku hanya menyeringai seperti anak singa baru bangun di pagi hari. Biarpun yang ini singa ompong hehe..

“F-a-t-i-h….katakan… m-e-r-a-h…. “ , sambil tangannya menggenggam sebuah bangun segitiga sekarang. Aku tahu itu warnanya m-e-r-a-h. Dan aku tahu harus memasukkan ke mana bangun itu. Mencocokkan kan? Keciil..!

Tapi aku tak bisa mengucapkan kata merah! Lidahku kaku!

Bu Marni putus asa. “Ok..sekarang masukkan bangun ini ke tempat yang sesuai.

Aku bergerak cepat. Kusambar segitiga merah itu dan memasukkannya ke rumahnya. Begitupun bangun yang lain, segi empat, limas, belah ketupat…

“Fatih…satu..satu sambil kita berlatih bicara….” Mulai naik intonasi suaranya. “Ibu tahu,…Fatih pintar tapi …ibu ingin dengar Fatih bicara. Bisa kan?”

Eh…kenapa papan menyamakan ini tak ada lingkarannya ya? Aku ingin lingkaran! Mereka juga tak memberiku bola untuk dipantukan. Huh..bosan..bosan..aku ingin ke pinggir jalan lagi melihat roda-roda mobil berputar di jalanan. Sekarang Bunda menjagaku dengan ketat kalau di rumah. Aku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan karena pintu pagar selalu terkunci. Kata Bunda berbahaya kalau aku bisa menelusup sendiri. Huh… Menyebalkan! Dan semua sesi terapi ini terasa melelahkan.  Aku lelaaaah…!

Brak…!

Kakiku menendang meja dari kayu tebak ini, meninggalkan rasa lega di dada. Aku tak mau dikurung. Aku ingin mencari lingkaran. Tempat ini membosankan! Aku tak melihat lingkaran, bola atau sesutu dengan gerakan berulang-ulang.  Aku benci tempat ini….!!!

Aarrghh….!

Aku bergulung-gulung di lantai, membuat gerakan berputar-putar, bergulung-gulung dalam ritme yang aneh. Dan aku merasa lepas,…menyenangkan sekali. Dadaku terasa berlubang, membuat seluruh udara masuk memenuhinya dengan keriangan. Aku tertawa lepas. Bangkit berdiri membuat gerakan flapping sambil berlari mengelilingi ruangan tanpa gambar apapun ini. Bu Marni berusaha mengejarku. Tapi aku selau lebih geasit menghindar darinya. Badannya yang berat mengurangi kelincahannya bergerak. Dalam waktu singkat saja ia telah menyerah. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia bukan Bunda yang langsing dan bisa bermanuver untuk menangkapku. Meski ada Bunda di ruangan ini tapi ia tak berusaha mengejarku. Aku tak tahu mengapa. Biasanya ia akan berteriak-teriak mengejarku dan aku akan semakin bersemangat untuk berlari, tapi ia memilih mematung. Ada kabut di matanya.

Bunda menghela nafas dari pojok ruangan. Ia sebenarnya tak boleh ikut masuk ruang terapi karena kata Bu Marni bisa merusak konsentrasiku. Tapi bukan Bunda kalau tak bisa melakukan apa yang diyakininya benar. Itulah sebabnya Fatih juga keras kepala.

Sesi terapi itu akhirnya berakhir sudah dengan hasil nihil! Nol besar! Tak satupun yang aku sukai dari tempat belajar ini. Untunglah. Dan Bu Marni tak terlihat penasaran untuk terus mengejarku. Ia memilih diam duduk bersama Bunda membiarkankku jadi burung yang sedang terbang. Mama juga tetap diam. Dan dialog panjang lebar di antara dua perempuan terjadi sambil terus memandangiku bergantian. Yah,..begitulah orang deasa pembicaraannya membosankan.

Pintu diketuk pelan dari luar. Bocah pemilik gasing dan ibunya masuk ke dalam. Rupanya sesi terapiku sudah habis. Yess!

Bunda menggamit tanganku untuk keluar setelah sebelumnya memaksaku untuk bersalaman dengan Bu Marni. Aku pernah melihat adegan seperti ini yang dilakukan di sebuah film. Tapi yang kuingat di film itu, yang dipaksa salaman itu seekor anjing. Aku bukan anjing.

Aku yang tadinya ingin cepat-cepat keluar, jadi mogok membatu di ruangan itu. Tahu penyebabnya? Melisa!

Ya,..aku suka Melisa. Maksudku,… aku sukaaa pada gasing Melissa, begitu Bunda selalu memanggilnya sambil tersenyum ramah pada si bocah. Kata Bunda Melissa imut dan cantik. Aku rasa gasingnya yang warna-warni itulah yang membuatnya disebut cantik. Tak semua anak perempuan punya mainan hebat begitu.

Dan seperti aku, Melissa pun tak peduli jika ada orang yang bilang ia cantik. Ia terus sibuk memainkan gasingnya yang berbunyi wer…wer…setiap kali diputar. Aku ingiiin sekali memainkannya. Tapi aku tahu, Bunda pasti takkan mengijinkanku memainkannya meskipun aku menangis keras. Bunda memang payah. Ia mendekapku yang bau keringat di pojok ruangan sambil membiarkanku memainkan bola kecil yang disimpannya dalam tas.  Tak lama kemudian, lelaki berkaki panjang yang kupanggil ayah  mendekati kami. Merengkuhku dalam pelukannya dan kami keluar dari tempat menyebalkan itu.

___________+++___________

Tidak banyak perkembangan yang dialami faith selama sesi terapi. Ia lebih banyak diam dan bersikap tak peduli, kadang sibuk mengoceh sendiri dalam kalimat-kalimat ngawur tanpa arti. Susah payah kami membawanya ke tempat terapi tapi hasilnya mengecewakan.

Aku rasa ini abad pertengahan atau mungkin abad terbelakang. Tak banyak yang kudapat tentang  informasi seputar autis. Buku-buku tentang itu belum ada di pasaran, jikalau ada kami harus menitip membeli bukunya ke luar negeri tentu saja dalam bentuk dollar bersamaan dengan titipan suplemen-suplemen bagi perkembangan otaknya. Tapi satu artikel di majalah kesehatan Indonesia membuatku terusik. Di situ diceritakan banyak anak-anak penderita penyakit-penyakit seperti faith yang mengalami kemajuan pesat setelah diet casein dan gluten. Apalagi bagi orang Asia, yang memang secara alamiah system pencernaannya lebih tidak toleran terhadap susu sapi.

Sepertinya aku harus mencoba cara self healing ini untuk membantu faith keluar dari dunia gelembung sabun itu. Rupanya susu sapi yang dikonsumsinya telah menjadi racun dalam otaknya, karena ketakmampan saluran cernanya menguraikan protein whey dari susu sapi. Aku paham kini, mengapa Richard, yang suka main bowling tembok tak bisa diam. Kata mamanya dalam sehari ia menghabiskan satu kotak susu bubuk 400 gram! Rupanya otaknya kecanduan mengkonsumsi casein. Jadi…Fatih juga harus berhenti mengkonsumsi susu sapi.

Kuniatkan dengan bulat untuk memberikan diet makanan casein-gluten free pada Fatih dan seluruh penghuni rumah termasuk aku dan ayahnya. Tak boleh lagi ada susu di rumah ini. Aku hanya bisa memberi tajin atau membuat susu kedelai sendiri untuknya. Tak boleh lagi ada konsumsi ayam ras, roti, karena mengandung gluten, protein yang terdapat dalam tepung terigu yang tak bisa dicerna ususnya dan juga karena faktor yeast sebagai pengembang roti. Yeast mengandung jamur, yang akan menyerang system pencernaannya yang sudah lemah. Segala macam tape tentu saja dilarang keras.

Mulai sekarang kami cuma makan nasi, tempe, tahu, rumput laut, susu kedelai yang dibuat sendiri, kalau ingin ayam, ya harus menyembelih ayam kampong yang beli di desa dan hidupnya lepas itu, bukan pejantan. Daging boleh, tapi kami tak bisa terlalu sering mengkonsumsinya karena harganya mahal. Hampir semua sayuran hijau taka da pantangannya, kecuali jagung manis. Untuk buah pun terbatas, hanya buah-buah tertentu yang tak merangsang pengeluaran asam lambung atau yang membuat kondisi ususnya yang berjamur menjadi makin parah.

Buah-buahan yang aman untuk dikonsumsi Fatih  itu papaya, bengkuang, pisang, salak, sirsak, atau timun. Buah-buahan yang bergetah dilarang dikonsumsi seperti nangka, sawo, cempedak. Atau buah-buahan yang mengandung asam tinggi seperti mangga, jeruk, stroberi, nanas, peach, pear, apel, kiwi masuk daftar larangan keras tapi segala macam berry diperbolehkan.  Untuk makanan ringan faith, harus segala makanan yang berbahan dasar beras atau ubi, singkong dan sagu. Segala tepung terigu dan tepung maizena dilarang.  Jadilah segala stok makanan kecil Fatih adalah makanan tradisional Indonesia yang murah dan gampang didapat seperti membuat bubur sumsum sendiri harus dengan gula palem atau gula nira kelapa, tidak boleh gula pasir, karena manis ternyata merangsang pertumbuhan jamur dan meningkatkan tingkat asam dalam tubuhnya. Untunglah kita tinggal di Indonesia yang mudah mendapatkan bahan-bahan local seperti itu. Ubi diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti direbus, dibakar tapi mengurangi segala goreng2an karena ia dilarang memakai minyak goreng dari minyak sawit dan jagung, jadi kami beralih ke minyak kedelai, karena mahal jadi tidak sering-sering memakainya. Lagipula kukus lebih sehat buat perut Fatih, karena minyak membuat saluran pencernaannya bekerja lebih keras. Sebenarnya anak autis bagus juga sih,..membuat kita jadi hidup sederhana dan biasa hidup lebih murah jadinya hehe…

Continue Reading

Part 4. My Oxygen

quote cinta by Shita Rahutomo
quote cinta by Shita Rahutomo

Cerita sebelumnya ada di sini

Ruang tunggu itu penuh sesak dengan beragam bocah dan para pengantar. Dari usia balita sampai remaja, dengan wajah bertanda “tolooong….ada puzzle yang hilang dariku…!!” tergambar jelas di tiap anak. Aku bisa melihat raut wajah dengan pancaran mata yang sama, ekspresi yang hampir mirip satu dan lainnya, seperti kumpulan boneka matroska dari Rusia, yang dijajar rapi, dengan bentuk yang mirip hanya berbeda di ukuran. Dengan cepat aku bisa mengenali benang merah itu.

Membayangkan seperti saat proses penciptaan manusia, ketika semua bagian tubuh sudah lengkap, tinggal proses wrapping, agar mudah dipantau, dilengkapi dengan program operasi yang disimpan dalam microchip. Tertulis dalam bentuk  barcode di tengkuk tiap orang untuk memantau kadar kebaikan, keburukan, apapun itu selama masa expirenya belum berakhir.  Tapi bocah-bocah dengan tanda “Ada puzzle yang hilang dariku” ini mengalami satu kegagalan system yang membuat satu nomer seri  menghilang atau terselip entah di mana dan system computer menggantikannya dengan satu karakter acak dan ganjil, yang ditempelnya begitu saja.  Itu membuat ada bagian yang hilang dari binar mata mereka karena proses pengkodean yang sembrono itu. Dan Fatih, sayangnya,… termasuk dalam bagian acak itu.

Continue Reading

II. Puzzle Yang Berlubang

elysium-bab-2

Ketinggalan bagian pertama? Klik saja di sini.

Gedung ini juga banyak yang pakai baju putih-putih, tapi aku tak mencium bau aneh menusuk. Banyak bunga di mana-mana. Aku suka warnanya yang ungu magenta dan mawar merah di vas besar menebar harum. Aku suka mengendus-endus bau baru dari apa saja. Juga saat Ayah dan Bunda menggandengku melalui sebuah lorong yang penuh kartun binatang warna-warni. Suasana lebih sepi. Hingga sampai di suatu ruangan. Perempuan berbaju hijau pupus dengan kepala memakai topi kertas persegi membukakan pintu. Seorang perempuan lainnya tapi berambut putih semua, dengan wajah ramah tersenyum menyambut. Ia juga memakai baju putih sebagai luaran dan bermata empat! Kenapa banyak orang berbaju putih bermata empat? Tapi aku suka melihatnya. Aku bisa merasakan hatinya hangat. Ia berjongkok di depanku, tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku. Seperti terhipnotis, aku menyambut tangannya.

“Siapa namanya?” suaranya empuk.

“Fatih..” kata Bunda mewakili. Tapi ia menunggu aku mau membuka mulut dan menengoknya dengan menyentuh tanganku berkali-kali. Aku menengok. “Pinternya…..Fatih mau main puzzle? Coba lihat….Ibu punya apa ya….?”

Diraihnya sekotak besar mainan dari sudut ruangan. Aku antusias mendekat melihat warnanya yang warna warni. Ada satu yang sangat menarik perhatianku.

“Ibu Melly bicara dulu sama Ayah dan Bunda ya….” Tangannya membimbingku menuju karpet plastik empuk dan sekotak mainan itu. Ada banyak benda menarik di sana. Dan aku,…menemukan roda yang berputar dengan gambar abstrak lima gumpalan dan di permukaannya ada tulisan kecil-kecil.  Dan aku bisa memutarnya berkali-kali. Wow….!!!

_______________====_____________________

“Saya sudah baca semua hasil laborat Fatih yang sudah dikirimkan dari Amerika kemarin. Dari analisis rambut dan kuku, memang mengandung banyak toxin. Tak ada cara lain, kita harus kuras racunnya dengan cara detoksifikasi. Dia juga mengalami leaky gut…”

“Apa itu leaky gut dokter?”

“Menurut penelitian, leaky gut itu disebabkan oleh tidak tercernanya makanan yang dikonsumsi si anak akibat alergi makanan. Salah satu cirinya membentuk mosaic feses pada anak berspektru autis. Ibu pernah perhatikan kalau feses Fatih berwarna-warni, bukan?”

“Seperti apa Dok?”

“Kalau ia makan wortel, ada bagian fesesnya yang berwarna oranye dan masih utuh dalam bentuk wortel. Kalau ia makan bayam pun,  ada bagian fesesnya yang tetap hijau segar..”

“Betul dok…” Keduanya membentuk O di mulutnya secara lucu.

Dokter Melly mengambil gambar besar lalu menerangkan dengan gambar itu proses pencernaan yang rumit. Ayah dan Bunda begitu serius mendengarkannya.

“Dan bahan makanan yang tak tercerna itu berubah menjadi racun yang menyebabkan jamur di usus yang menimbulkan luka dan menyebabkan usus si anak mengalami kebocoran. Sayangnya..zat-zat sisa tak tercerna ini mengalir melalui usus yang bocor itu lalu diserap pembuluh darah lalu dibawa ke otak. Zat sisa itu memberi efek seperti si bocah menggunakan narkoba. Itu sebabnya anak-anak seperti Fatih kadang punya tenaga luar biasa yang membuat mereka tak pernah merasa lelah dan tak bisa berhenti bergerak. Efek yang sama dari dopamine, zat yang merangsang syaraf dan otak untuk aktif bergerak jika jumlahnya berlebihan maka syaraf pun terangsang terus bergerak tanpa henti.”

“jadi….otak Fatih teracuni zat sejenis narkoba?” Aku tak sabar mendengar lengkap seluruh penjelasannya.

“Betul Bu. Karena adanya racun seperti narkoba yang tertimbun bertahun-tahun itu membuat Fatih semakin terasing dari dunia luar, ia berasa punya dunia sendiri. Efek ini memang berbeda-beda bagi tiap anak. Bagi sebagian anak yang lain, zat beracun ini membuatnya tak punya semangat hidup dan sangat pasif dalam keseharian. Hanya tidur terus menerus pekerjaannya. Kita menganggapnya malas,…. padahal itu bukan kemauan si anak sendiri.”

“Apa seperti narkoba, zat ini juga menimbulkan efek mati rasa?”

“Batul Pak,..pada banyak kasus memang membuat anak tak memiliki rasa sakit meskipun ia jatuh sampai memar atau berdarah-darah, karena ketika terluka ia tak punya rasa sakit sama sekali. syarafnya tak bisa membaca rasa sakit itu…”

“Oh…itu sebabnya Fatih tak pernah menangis saat ia jatuh, terluka, berdarah dan kemarin saat disuntik waktu imunisasi..” Aku terbayang kejadian kemarin.

“Bisa jadi Bu..”

Ayah dan aku berpandangan. Kulihat kabut di mata Ayah yang berusaha tegar dan berusaha menjalankan tugasnya sebagai suami, menguatkan sang istri, dengan mengusap punggungku. tapi itu tak menimbulkan efek menenangkan kini. Rasanya ribuan jarum ditembakkan ke dadaku menimbulkan sensasi jutaan rasa nyeri yang mematikan. Menyedot seluruh energiku.

“Maaf…apa Fatih suka menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti mau terbang dengan gerakan berputar-putar?”

Ayah dan aku mengangguk cepat, hampir bersamaan.

“Juga tak mau menengok saat dipanggil namanya tapi kalau mendengar suara tertentu, yang bukan suara manusia ia menoleh dan bereaksi dengan cepat?”

“Betul Dok,…..” Jawaban Ayah singkat dan bergetar.

“Dia tak mau menoleh kalau kami panggil dan ajak bicara meski dari jarak pendek. Saya pikir ia punya gangguan telinga. Tapi ketika ia mendengar suara mesin mobil, meski jaraknya masih jauh ia bisa mendengar dan langsung berusaha lari mendekat.”

“Fatih juga sering mengalami konstipasi?”

“Iya Dok,..dia BAB dua hari sampai tiga hari sekali. Karenanya keras sekali. Saya sering kasihan saat melihatnya berusaha mengeluarkan feses, kadang sampai berdarah-darah. Meskipun sudah saya beri buah,..tetap sering seperti itu kejadiannya.”

“Maaf,….apakah fesesnya berbau sangat menyengat?”

“Betul..”

Kami berdua menganga, saling berpandangan dengan wajah menyimpan banyak teka-teki. Apakah Fatih sakit parah? Tapi sakit apa? Kami memang merasa ada misteri besar yang menyelimutinya yang membuat kami tak tahu apa itu. Ia memberi teka-teki yang tak mampu dijawab.

“Dia susah tidur?”

“Iya… dia selalu tidur larut. Apalagi kalau siangnya ketiduran, pasti malamnya jam 2 sampai 3 pagi baru tertidur dan mudah sekali terbangun pada suara yang pelan sekalipun. Dokter ada apa ini…anak kami sakit apa?” Aku tak sabar lagi. Ingin segera menerima jawaban dari semua teka-teki.

“Dia juga kadang mengalami gangguan telinga?”

Ayah mengangguk cepat. Baru dua minggu yang lalu kami ke THT karena telinganya sangat berbau. Dokter bilang fatih terserang infeksi. Dokter Melly menghela nafas panjang. Belum ingin menjawab teka-teki. waktu menjadi sangat lambat dan aku bisa mendengar detak persekonnya. Please…dokter..katakan sekarang juga.

“Apa Fatih menyukai satu benda tertentu, padahal itu bahkan tak bisa disebut mainan anak-anak?”

“Roda dokter…roda…., lingkaran dan segala benda yang bergerak teratur. Bund…biar aku yang jawab”.kata Ayah melihatku yang sudah mulai membuka mulut merasa tak sabar.

“Dia suka semua benda yang berputar dan berbentuk lingkaran……?” Dokter Melly mengulangi kalimat itu.

Kali ini Ayah yang menerangkan melihatku makin gugup. “Ia bisa larut memutar-mutar roda sepedanya berlama-lama. bahkan kadang lebih dari sejam jika tak kami alihkan perhatiannya. Ia, juga suka berjongkok mengamati roda mobil saya.”

Aku tak mau kalah semangat. “Ia juga suka semua yang berbentuk lingkaran lalu memutarnya. Dia bisa main pantul bola berjam-jam. Atau memutar piring makanannya saat makan siang sambil terkekeh-kekeh sendiri. Tapi ia tak pernah tertawa begitu riangnya kalau diajak bercanda, Dok.”

Dokter Melly manggut-manggut. Lama ia diam. Tik..tok..tik…tok…

“Ayah…Ibu….ini memang berat. Tapi saya berharap anda berdua tabah ya,…menurut diagnosis saya, Fatih adalah penyandang autis….”

“Autis?”….. Kedua wajah kami mengandung kalimat tanya yang sangat jelas. Mahluk apa itu, AUTIS?

Suasana hening. Tiba-tiba pertahananku runtuh, tak tahan untuk tak menangis. Jadi … itulah kenapa Fatih aneh selama ini. Ayah memelukku.

“Autis memang bukan penyakit yang ada obatnya, Bapak..Ibu. Dan mungkin seumur hidup takkan pernah bisa hilang dari si anak. Ini tidak seperti sakit disentri atau DB. Tidak juga seperti kanker atau tumor.”

kami berdua berpegangan tangan saling menguatkan.

“Bahkan kalangan kedokteran tak berani menyebutnya sebagai penyakit, tapi syndrome. Tapi berita baiknya Bapak Ibu…Fatih jika saya amati bukan penyandang autis tingkat berat,…masih ada harapan Fatih menjadi normal dan bisa menjalani hidup dengan baik. Saya rasa Fatih masuk kategori Asperger Syndrom, yang kadarnya lebih ringan.”

“Apakah benar-benar tak bisa disembuhkan, Dok?” Suara Ayah terdengar lirih.

“Kita usahakan Pak, bersama-sama, ini akan berat buat Bapak dan Ibu, tapi saya akan berikan semua hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mengeluarkan Fatih dari dunia sendirinya. Tapi harus sabar dan sungguh-sungguh. Sanggup?”

Aku berhenti menangis, kalah oleh rasa penasaran. “Kami akan lakukan apa saja Dok untuk kesembuhan Fatih. Tolong bantu kami.”

“Mau tahu hal pertama yang harus Bapak dan Ibu lakukan untuk proses kesembuhan Fatih?”

“Iya..iya..”

mata kami berdua berbinar penuh harapan. Ada harapan untuk sembuh!

“Pertama…terima kenyataan kalau Fatih autis, itu dulu. Orang tua dimanapun…pasti punya harapan besar terhadap anaknya. Begitupun Bapak dan Ibu. Betul bukan? Ingin punya anak yang hebat?”

Tentu saja, siapa yang takkan bangga punya anak hebat?

“Tapi kenyataannya ada satu hal besar yang membuat impian kita kadang…tak mudah menjadi kenyataan.…bukannya tak bisa ya….”

Suasana hening. hatiku membatu, dingin. Kenyataan pahit sepertinya baru mulai dari sini….

“Bukan tak mungkin Bunda….” Dokter Melly melihat hilangnya sinar harapan di mataku.

Ini adalah bagian yang sama sulitnya buat saya selain menolong si anak. Membantu orang tua menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin harus direvisi….”

Pandanganku mengabur….air bening itu kembali bergulir tanpa putus dari sudut mata. Berasa bongkahan batu besar dipaksa masuk ke rongga dada. menyayat daging di antara tulang rusuk dan mengucurkan darah segar. Aku terguncang. Ayah berusaha menenangkan.

“Biarkan Pak,… biarkan Ibu menangis. Ini memang berat diterima…..dan memang bukan berita bahagia.”

Suasana menjadi semakin hening hingga isakku makin terdengar jelas di ruangan dingin yang kurasa makin dingin. Kutoleh Fatih yang masih terlihat bahagia bermain globe.  Aku bahkan bisa mendengar tarikan nafasnya dari tempatku duduk. Anakku sayang, misteri apa yang kamu bawa?

Penasaran? Part 3 ada di sini

Continue Reading

Bab I : Keganjilan Edisi Revisi

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Spektrum warna berputar-putar di seluruh tempat. Sinar matahari yang memaksa masuk menerobos celah jendela mobil membuat cahyanya makin cemerlang. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di tiap warnanya yang berpendar. Merah, oranye, biru, magenta……berputar dan berlari, mengerling dan memburai. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang lagi ke kiri, sebentar kemudian hinggap di sebelah kanan lalu membumbung tinggi lagi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di hari yang cerah. 1,2,3,4,5,6,7,15,36,49,50…….102…Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipi, memaksa menoleh ke arah suara.

“Faith sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Bergerak +1..mundur..-1, berputar 360◦…..melompat X₂…

Matanya berlari menjalari pandang mataku yang liar bergerak-gerak. Memeriksa dengan seksama adakah yang salah pada mata ini. Ok..ok…aku tahu maumu!

Terpaksa menetap mata Bunda meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku. Kata dokter ke bunda harus sering-sering membuat kontak mata . Ketika aku sudah mau meleng lagi karena lingkaran yang melayang beberapa pergi, Bunda masih memaksaku menatapnya.

“Sayang,..kalau bunda panggil harus nengok ya. Cape dong bundanya kalau harus mencari wajah Fatih terus. Kita sudah sampai rumah sakit nih! Yuk..jalan!”

Suuaranya lembut, seperti biasa. Tak ada suara keras hardikan atau ungkapan kekecewaan. Ih..dia memang baik banget. Digamit paksa tanganku, memegang kaki telanjangku lalu memakaikan sandalku yang sudah kucel jelek bau, tapi Bunda tahu aku tak mau sandal yang lain. Baunya beda, ketebalannya beda, lembutnya juga beda. Aku tak suka sandal lain. Apalagi kalau baru. Ih….bikin geli!

Bunda mengeluarkanku dari mobil. Aku…? terpaksalah membawa kaki-kaki kecil ini terseret mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan. Apalah yang bisa dilakukan bocah berbadan seuprit begini? Sepanjang jalan sampai ke suatu ruang yang banyak kursi berjejer dan orang-orang duduk di sana. Aku benci keraian. Aku tak suka banyak orang lalu lalang. Mereka membuat gerakan lingkaran tak teratur yang membingungkan! Aku benci.

Bunda menerima kartu dari perempuan berbaju putih da nada angkan di situ. Aku suka angkanya. Besar..tebal..hitam penuh pada sebuah kertas berbentuk segi empat. Lalu membawaku duduk di sudut yang tak banyak orang. Ah…untunglah.  Lalu ia mulai melanjutkan bicara yang membingungkan itu. Menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. Aku tahu ia ingin aku meniru ucapannya. Tapi aku kesal, ia buat aku menjauhi lingkaran-lingkaranku di kaca jendela mobil tadi. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Sebuah papan lumayan tebal bergambar mahluk berkaki empat berjanggut tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi di padang rumput hijau. Juga gambar sikat dan pasta gigi. Apa kambing juga harus sikat gigi? Aku benci iklan sikat gigi karena gigiku habis. Entah kenapa tapi Cuma menyisakan sisa-sisa yang kalau aku tersenyum beberapa orang lalu berkomentar, Ih Fatih ..ompong. Dan mereka tertawa. Apanya yang lucu?? Aku tidak suka!

Aku tahu padang rumput tempat kambing itu seperti di rumah teletubbies. Aku suka teletubbies, mereka tak perlu mengucapkan kata-kata untuk saling bicara. Cukup bunyi-bunyi aneh dan mereka saling tertawa. Terlihat bahagia. Meski aku juga tak suka acara berpelukannya. Ih…jijik! Aneh! Rasanya kulitku jadi meremang kalau ada yang memelukku. Jangan dekat-dekat kaliaaan! Aku benci sentuhan!

Tapi….kecuali pelukan bunda, yang selalu bikin aku nyaman. Tangannya yang halus mengelus-elus punggungku saat aku demam, tak mau makan, ingin muntah, ingin ngamuk tapi tak tahu kenapa. Bunda akan datang, memelukku erat dan mengusap punggungku dalam gerakan memutar yang lembut berulang-ulang. Nyaman sekali rasanya. Bisa kudengar detak jantungnya seperti lullaby, membuatku ngantuk dan tertidur di dadanya. Deg..1…deg..2…deg… 3…deg…8…deg..37….deg..115…

“Fatih…”

Ah, kau membuyarkan lamunanku!

“Kambing…..apa sayang? Kambing…K-a-m-b-i-n-g… “

Mulutnya komat kamit aneh. Kadang bibir monyong ke kiri atau ke kanan sambil mata membuka lebar. Alisnya bergerak ke sana ke mari tak beraturan. Bundaku lucu. Aku tertawa.

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu.

K-a-m-b-i-n-g…..

Kata yang aneh itu dirapalnya sekali lagi. Dan lidahku kenapa kelu? Aku memilih diam. Ah,..kaku banget sih buka mulut saja aku tak bisa! Melihatku diam saja, ia mengganti kata yang sepertinya lebih enak didengar dan diucapkan.

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan kata aneh sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Lebih gampang sih. Mata melotot dan jarinya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, anak-anak seusiaku melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka. Mengajak bocah-bocah itu  menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya bersama. Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku. Aku tak mauuuuuuu…!!

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeh….”

Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah………. sekali aja,aku Cuma ingin kau berhenti menggangguku!  Aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Bocah-bocah itu mengangguk penuh harap.  Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Tapi suaraku aneh. Beda…..Parau seperti suara gagak yang katanya menjadi pertanda ada kematian. Bunda mengajak mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a….”

Aku berusaha lepas, ingin lari,  melihat cahaya terpantul di sudut jendela kaca yang bertekstur abstrak. Ada pantulan warna-warni di sana. Berusaha melepaskan diri dari pegangan Bunda. Tapi ia lebih gesit. Ditangkapnya aku lagi. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Aku diam.

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku diam. Ogah mengulang. Bukan permainan yang menarik.

Sampai perempuan berbaju putih menyebutkan angka dan Bunda menggendongku masuk ke ruangan itu. Bau menusuk, tak tahu apa itu. Bau aneh yang menyebalkan. Selalu bau ini yang menyergap kalau bertemu laki-laki bermata empat berbaju putih. Tapi aku suka benda-benda logam di mejanya yang berkilau. Semua memendarkan cahaya tertimpa nyala lampu listrik di atasnya dan mengeluarkan bunyi “ting….yang jernih saat bergesekan satu sama lain ketika lelaki baju putih itu menyentuh benda-bendanya dalam gerakan tak beraturan.

“Hallo..Fatih. Ih lama tak kelihatan ya…sekarang waktunya imunisasi..”

Aku dengar Bunda bicara padanya tapi aku tak tahu apa. Pembicaraan orang tua selalu membosankan bukan?

Cuma bingung, aku melihat bocah-bocah seusiaku keluar satu persatu dari ruangan dengan gambar balon dan badut berhidung merah tapi berbau tajam aneh itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung.

Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala anak di TV yang suka bawa ransel dan Map dan selalu bilang, “Kemana kita?”…. Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh lelaki setengah baya berbaju putih itu. “Cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih itu memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda bangkit dari duduknya, menggendongku lalu kembali duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Mau diapain sih? Lelaki paruh baya itu tersenyum mendekatiku. Ia membawa benda pipih yang sama, dan berkilat terpantul cahaya. Aih..spektrum warna. Merah..hijau…bitu…magenta.. makin lama benda itu makin mendekat, juga matanya yang ada empat aku melihat lingkaran bertumpuk-tumpuk di matanya. Bagaimana caranya ia punya mata keren begitu ya?

Ia mengusap lenganku dengan kapas bercairan yang terasa dingin di kulit. Lalu menancapkan jarum pipih itu ke lengan. Setitik darah keluar dari lengan. Bunda menahan nafas. Kulihat ia menunjukkan wajah ngeri. Memangnya ada apa? Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu ketika jarum bersinar itu menusuk lengannya?

Perempuan berbaju putih ternganga menatapku tapi tak lama bicara,“Anak pinter,..jagoan sekali….kok ngga nangis ya? Bunda Jagoannya hebat deh”…? Pujinya. Bunda tersenyum tipis mengambang, tapi tak kelihatan happy. Ia melihatku seksama, mencari-cari seolah ada yang salah. Kenapa Bunda?

Apa Bunda bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Meraung-raung seperti bocah beransel dan bawa map? Tapi kenapa aku harus menangis? Aku tak suka meraung-raung jika tak perlu? Aku lega Bunda membawaku keluar dari ruangan bau aneh menusuk itu.

Dua orang orang ibu-ibu yang sepertinya dari tadi duduk di kursi paling depan menunggu giliran, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat. Lalu saling berbisik. Aku bisa mendengar suaranya.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi dan tak melihatku lagi. Hush…hush….Aku baik-baik saja…!

Bunda maju, mendekati keduanya dengan tatapan tak suka, memandang tajam seperti melihat setan yang harus dimusnahkan. Mereka kikuk lalu menjaga jarak satu sama lain. Uh Bundaku memang hebat!

Bunda menggendongku dan duduk lagi di kursi. Ia menelpon Ayah. Sementara aku asik melihat bocah lain sedang bermain bola warna-warni. Bolanya memantul ke lantai berkali-kali dalam gerakan yang zig zag. Ia lari ke sana ke mari mengejar bola dan memantulkannya lagi. 1…, 0,5…, 0,75….1,02….

“Ah..itu Ayah datang! Ayo Nak!”

 

Continue Reading

Bab I Keganjilan

spektrum cahaya yang menari-novel Elysium

Aku melihat bocah-bocah keluar satu persatu dari ruangan sempit itu. Yang mengherankan semua menangis meraung-raung. Juga yang terakhir ini, bocah perempuan gempal dengan rambut ala ank di TV yang suka bawa ransel dan Map.

Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya sambil menangis histeris ketika lengannya yang bulat menggemaskan baru saja ditusuk benda pipih panjang oleh seorang lelaki setengah baya berbaju putih. “cup..cup…paling sakitnya sebentar.”

Perempuan berbaju putih membawa buku memanggil namaku. “Fatih Al Hambra..”

Bunda menggendongku lalu duduk mengapit kedua kaki agar tak bergerak liar nanti. Lalu ia berbasa-basi dengan lelaki yang dipanggilnya, Dok. Ketika lelaki itu melakukan hal yang sama padaku, aku tak tahu apa rasanya. Terus…kenapa bocah tadi meraung-raung begitu?

“Anak pinter,..ngga nangis ya/ Jagoan banget sih…? Puji si baju putih.

Tapi…kenapa bunda sepertinya bingung karena aku tak menangis ya? Atau aku harus menangis seperti anak-anak tadi? Tapi kenapa aku harus menangis?

Sore itu sinar matahari sore menerobos kaca jendela. Spektrum warna-warni berputar-putar di seluruh tempat dekat jendela rumah sakit.ini. Bau aneh sih, orang bilang itu bau obat, tajam menyergap hidung, tapi tak ada artinya buatku. Sinar matahari yang masuk menerobos melewati celah jendela membuat lingkaran-lingkaran maya itu makin cemerlang, membuatnya terdegradasi. Tanganku menggapai-gapai menemukan keajaiban-keajaiban di udara dari tiap warnanya yang berpendar. Kadang mereka seperti menggodaku. Melayang ke kiri, ke kanan lalu membumbung tinggi ke angkasa seperti bocah bermain ribuan layang-layang di pantai berpasir putih pada hari yang cerah. Aku terpesona.

“Fatih..”

Spektrum warna-warni yang bergerak dalam keteraturan. Pasti ada jarak di antaranya yang dengan ajaib membuat mereka terus bergerak dan berput…

“Fatih…” Suara yang sangat kukenal. Tapi aku tak tertarik untuk menengok. Lagi asik.

“Fatiih,…” Lalu kedua tangan lembut itu menyentuh ke dua pipiku, memaksa untuk menoleh ke arah suara.

“Fatih sayang sedang main apa? Jawab Bunda dong Nak…”

Mataku tak jua beralih dari lingkaran yang kulihat makin bergerak liar, kesana kemari. Dipaksanya aku menengok dalam gerakan pelan Matanya berlari menjalari pandang mataku. Terpaksa kami beradu pandang meski sejenak, agar ia mulai berhenti mengganggu keasikanku.

“Sayang,..kalau Bunda panggil harus nengok ya. Cape dong sayang bundanya kalau harus selalu mencari wajah Fatih dulu. Kamu pinter ya ngga menangis diimunisasi. Bunda tak sabar ingin cerita kalau Ayah nanti datang menjemput!”

Suara lembutnya. Ia gamit paksa tanganku, memakaikan sepatuku dan aku terpaksa membawa kaki-kaki kecil ini mengikuti langkahnya yang panjang sambil bersenandung ringan di sepanjang koridor rumah sakit berbau aneh. Sepanjang jalan ia menyebutkan berbagai macam benda yang dilihat dengan penuh semangat. “Fatih lihat deh Nak! Ini gambar kambing..! Bunyinya mbeeeee….!”

Aku tahu ia ingin aku mengulang entah kata apa itu. Kata yang aneh. Dan lidahku kenapa kelu? Susah sekali digerakkan?  Ya udah, diam sajalah. Ah,..kaku banget siiiiih buka mulut saja aku tak bisa!

“Mbeeeee….!” Kali ini ia membunyikan lebih keras sambil membuat ekspresi muka yang lucu. Mata melotot dan kedua jari kiri dan kanannya dilengkungkan sambil kepala bergoyang-goyang. “Mbeeee….!”

Beberapa entah apa itu, bocah-bocah seusiaku yang barusan lewat melihat Bunda sambil tertawa. Mereka melihatnya lucu. Bunda tersenyum dan menoleh ke mereka sambil melambaikan tangan. Ih..sok imut bocah deh! Ia mengajak mereka menirukan gerakan bodohnya. “Mbbeee…! Dan ajaib! Mereka melakukannya serempak. “Mbeee……” Lalu tertawa merasa seolah itu lucu.

Tapi aku tak bisa! Lidahku kaku.

“Gimana Fatih? Mbeee…” tak juga ia putus asa. Lalu bocah-bocah cilik itu turut melakukannya lagi sambil berseru riang. Oke..oke kalian lucu!  “Eeeaaah….”

“Pinter!” Bunda senang sekali diberinya aku hadiah ciuman bertubi-tubi sampai pipi rasanya basah. “Lagi-lagi..!”

Ah sudahlah sekali aja, aku tak suka melakukannya. Terlalu sulit!

“Ayo dong Fatiih. Ditunggu teman-teman nih! Ya kan?” Aku melihat kok ia memberi kode mereka agar mengikuti gerakannya. Lalu mereka sepakat melakukannya lagi bersama. “1, 2,…3!”

“Embbeeeeee…..!” Berbarengan mereka mengeluarkan suara aneh itu dan demi kerja keras ibuku, aku berusaha lagi.

“Beeeeeh….!” Suaraku aneh tak enak didengar. Parau seperti suara gagak yang kata Yangti menjadi pertanda ada berita kematian. Mereka bertepuk tangan dengan hebohnya seakan aku melakukan sesuatu yang luar biasa.

Aku pikir selesai bicara aneh itu siksaan akan berhenti. “Kalau ini b-u-n-g-a! Cantik kan? Namanya b-u-n-g-a  m-a-t-a-h-a-r-i!”

Aku lari, menggeleng. Spektrum warna-warni melayang menjauh dari pandanganku. Uh sebel! Mereka lari! Hey tunggu!”

“B-u-n-g-a!”

Ih apaan sih. Aku kesal, kusibak tangannya. Dua orang orang ibu-ibu lewat, saling berpandangan lalu memandangku lekat-lekat.

“Bocah aneh….” aku tak suka tapi tak bisa bereaksi padahal ingin menyuruh mereka pergi.Hush…hush…. “Aku baik-baik saja…!” jeritku dalam hati.

Bunda maju, mendekati keduanya. “Maaf anak saya bukan tontonan.”

Digamitnya tanganku, menggendongku menciumiku sambil melangkah pergi terburu-buru sambil berbisik, “Tak usah dilihat ya, Sayang. Eh…ayah sudah datang. Yuk!”

Continue Reading

Resensi Bagian Pertama 3 Novel

novel elysium

Saatnya mengerjakan peer di hari ke 4 (bacanya ala Doraemon bacain judul film)

Oke, aku bersemangat sekali mengerjakan peer ini, berasa jadi anak sekolah lagi. Jadi bener kata Renee Soehardono, kalau kamu memgerjakan sesuatu karena passion kamu di situ ya udah jadinya menggebu-gebu kayak gini. Tapi sayangnya ada keterbatasan waktu. Pengennya kasih hasil yang terbaik apalah daya…ga bisa ke toko buku karena kemarin hujan badai melanda susah ke toko bukunya. Akhirnya bongkar-bongkar koleksi sendiri yang sudah banyak dipack dan memilih tiga novel dari genre berbeda untuk dibahas.

Yang tersisa di rak buku tak banyak ternyata (pada pinjem ga balik, sebagian dudah disumbangkan) padahal pinginnya bahas satu triller novelnya Stephen King Carrie yang difilmkan dengan artis Chloe Grace Moretz, satu romans yang aku suka  dari Tere Liye Daun Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin (judulnya aja puitis gitu kan), satu yang lucu ala Raditya Dika gitu. Tapi aku tak menemukannya yah akhirnya dapat tiga buku yang memiliki pembukaan yang menarik. Cekidot di bawah ….!!

elyx1

Petir ( Dewi Lestari)

Genre : science Fiction, alur campuran maju mundur.

Trilogy Supernova, Dewi Lestari,280 halaman, Bentang Pustaka, 2012, best seller juga.

Petir merupakan novel tetralogy Dewi Lestari sejak Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, disambung Partikel dan Intelegensi Embun Pagi.

Aku suka novel Dee karena ia menumbuhkan imajinasi para pembaca, kelihatan kalau penulis ini banyak membaca dan punya pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga karyanya membuat kita sebagai pembaca mendapat sesuatu yang baru.  Bisa belajar hal yang asing kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyisipkan puisi di awal novel (mungkin untuk seseorang yang sangat dicintai), karena kalau dilihat dari isi puisi itu terjadi pergulatan batin antara keinginan bertahan dalam satu hubungan karena orang itu sangat berarti dalam hidupnya tapi ada hal-hal yang tak bisa mereka satukan yang akhirnya membuatnya seseorang ini pergi darinya. Padahal ia ingin bersamanya hingga akhir.

..Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi

Bersiap diri untuk selamanya lelap

Andai kau sadar arti pelitamu

Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu…..

Setelah ini Dee memulainya dengan Bab I.  Dee memakai resep yang sama dengan Shidney Sheldon di If Tomorrow Comes , yaitu menerbitkan rasa curiosity pembacanya. Cerita dimulai ketika Dimas si tokoh kebingungan mencari hadiah ulang tahun untuk kekasihnya. Di awal sempat berpikir kalau seseorang yang dimaksud Dimas adalah perempuan meskipun tak suka bunga tapi suka bunga bank. Tipikal cewe kan?  Hingga ke bagian pisau Swiss aku baru ‘ngeh” kalau ini jenis cinta terlarang. (Please simpan komen itu kan dosa….kita bahas isi buku ya..)

Pisau. Kekasihnya berpendapat kalau pisau Swiss termasuk salah satu temuan paling jenius sepanjang peradaban manusia dan sudah punya sedikitnya dua belas.

Ini clue-nya. Seorang cewe backpacker super macam Trinity sekalipun paling punya satu bukan 12.

Bab satu ini juga langsung menggambarkan karakter tokoh Dimas yang hidupnya mapan, menyukai rutinitas yang sama, pecinta buku, gay pastinya (maaf ya agak risih sebenarnya nulis ini..tapi kenyataannya begitu) setia pada pasangannya, nerimo tapi juga ngambekan ala perempuan. Bab I ini juga berfungsi sebagai penaut kisah Diva Anastasia, tokoh misteri  di novel Dee yang sebelumnya. Karena fungsi Dimas dan Ruben sampai buku ke tiga ini (saya belum baca 2 buku setelahnya) lebih sebagai penyambung, narrator sebuah cerita panjang, bukan tokoh utama di dalam novel.  Penggalan kalimat yang kusuka sih ini …akan lebih mudah bagi mereka jika punya cincin emas tanda pengikat, yang merangkap fungsi sebagai stiker “Awas Anjing galak!”  dan ini ..Barangkali Cuma cinta, dan cinta tak butuh aksara. Dee selalu punya bahasa yang khas dirinya, bukan bahasa pasaran dalam banyak novel. Dia punya imajinasi tinggi juga selera humor yang sama baiknya. Dan kosa kata eskapisme,melatonin dan Rio Tampobata di bab I ini sukses membuat saya googling, apa sih itu?

elyx2

Pulang

Genre : roman mungkin. Ada yang bisa bantu?

Tere Liye, 400 halaman, Republika, cetakan I pada Sept 2015

Tere Liye juga penulis fiksi jempolan. Kalimat-kalimatnya sering membuat pembaca hanyut dalam rasa yang dialami tokoh-tokohnya, dan aku yang memang sentimental dan mata yuyu ini (istilah Jawa buat orang yang gampang terharu untuk hal-hal kecil sekalipun) sukses dibuatnya berhidung merah mengembang seperti tomat dan berlendir (hehe..sorry) plus mata dipaksa mengeluarkan cairannya berliter-liter, coba kalau sama mahalnya dengan air mata duyung yang katanya berkhasiat itu, bisa kaya rayalah aku dari baca novelnya saja. Tapi berhubung novel-novel Tere Liyeku yang lain raib entah kemana  jadi ya pilih Pulang, buku terbaru Tere Liye yang kubeli.

Tere Liye juga punya bahasa yang khas mendayu-dayu tapi tak terkesan cengeng. Membaca karyanya itu seperti membaca dongeng ajaib untuk kita yang kadang sudah apatis menghadapi hidup dan rutinitas. Ceritanya kebanyakan seperti telenovela dan drama korea, membuat kita punya kesempatan bermimpi. Too perfect to be true sih. Kehidupan si tokoh sering selalu mengalami kebetulan-kebetulan yang menakjubkan jadi jalan untuk punya kehidupan yang teramat sempurna,  yang kayaknya cuma 1% manusia bumi bisa mengalaminya. Jadi otakku kadang sudah memberi warning begini, awas anda berada di kawasan surealis, silahkan tetap di aliran realis, padahal aku lebih suka aliran ekspresionis hehe…  jadi berasa lihat rokok dan baca tulisan peringatan, awas merokok bisa menimbulkan kanker, serangan jantung, lemah syahwat dan keguguran. Udah ngeri duluan padahal juga ga doyan rokok. Nah mungkin buat para penduduk 1% dunia itu, karya Tere Liye ya berasa kaya pecandu rokok saja, setelah baca tulisan peringatan cuma bilang halah cemen..…

Nah di bab I buku ini Tere Liye punya resep yang berbeda dengan penulis di atas. Ia mulai dengan mengenalkan karakter tokoh utama secara terperinci dan menjadi dasar dari semua jalinan cerita yang akan terjadi kemudian. Ia menceritakannya ala pendongeng, dengan bahasanya yang imajinatif , deskriptif tapi terkadang terkesan hiperbola juga jalinan ceritanya. Kok berasa aku ini temannya si statusisasi kemakmuran Vicky ya? Wes embuh lah, tapi buku ini kalau secara pribadi kumasukkan buku motivasi, sebelahan sama Anthony Robbins To build A Giant Within, Biografi Steve Jobs dan Merry Riana, Mimpi Sejuta Dollar hehe….

Kalimat-kalimatnya sederhana, dengan kata-kata biasa, tapi mengalir lancar membuat pembaca tak bisa berhenti menghabiskannya dalam sekali baca. Begitulah aku kalau pegang novelnya si pendongeng Tere Liye ini. Harus langsung selesai. Ia menceritakan Si Bujang dengan alur flash back bagaimana ibu bapaknya bertemu, menghadapi tentangan keluarga ibunya yang religious  karena ia memilih seorang centeng yang lekat dengan tindakan kriminalitas, dan sebagai lelaki sejati yang telah menetapkan pilihan, bapaknya Bujang akhirnya memilih keluar dari dunia hitam karena ingin menentramkan hati istrinya, berdua mereka menjauhi hiruk pikuk dunia, tinggal di ladang terpencil dekat hutan dan membesarkan Bujang dalam kesunyian. Ibunya yang pintar dan religious sendirilah yang mendidiknya (homeschooling ala-ala gitu deh). Ibu dan ayahnya yang bagaikan minyak dan air itu karakternya bisa bersanding harmonis karena komitmen mereka terhadap pernikahan. So sweet bukan? Kadang lelaki yang kelihatan keras malah berhati lembut, loh kok curhat,…haha abaikan ini.

Nah,..penggalan kalimat yang kusuka dari novel ini adalah  Semua masa lalu ditutup. Mereka memulai kehidupan baru. Berapa orang yang bisa ekstrim bersikap begini? Karena manusia pada dasarnya suka mengenang sejarah hidupnya. Juga totalitas Bujang saat berhadapan dengan raja babi hutan,  Maka jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik . quote ini menggugah adrenalin kan? Juga ini. Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Kok tidak romantis? Memang. Ini kan roman tanpa kisah percintaan!

novel elysium
novel elysium

If Tomorrow Comes,

genre romance misteri

Shidney Sheldon,689 halaman, terbit pertama 1991, Gramedia, cetakan ke 12 (di tahun 2012)

Kita semua tahulah karya Shidney Sheldon itu sudah mendunia dan jadi best seller beberapa kali. Seperti Mira W nya Indonesia. Karyanya masih laris dan masih diterima pasar hingga sekarang. Novel ini menceritakan perjalanan hidup Tracey Whitney, seorang gadis muda dari kelas bawah yang bekerja di sebuah bank dan mengurus penyaluran uang antar cabang bank. Ia yang betanggungjawab memeriksa apakah uang yang telah ditransfernya  sudah akurat kebenarannya. Tanggung jawab yang berat karena jika ia salah maka jutaan dolar Amerika bisa salah masuk rekening atau beda jumlah dsb. Tracy Whitney melaksanakan tugasnya dengan baik. Sampai akhirnya ia bertemu Charles Stanhope, dari keluarga terkemuka, dan memutuskan untuk menikah. Ternyata pernikahan itu hanya sebuah jebakan (batman?) bagi Tracy. Ia dimanfaatkan Charles untuk kepentingan keluarganya dan akhirnya Tracy yang menjadi kambing hitam. Menjalani kehidupan pahit, Tracy tersadar bahwa untuk tak diabaikan dan diinjak-injak bahkan oleh orang yang dicintainya begitu saja, ia harus menjadi perempuan yang kuat dalam hal apapun. Dan bagaimana caranya, sudah bukan masalah buatnya. Tracy yang manis dan lugu dapat dilihat dari penggalan kalimat …” Aku merasa seperti seorang putri dalam dongeng, Ma”. Kau tak tahu kejamnya dunia di luar sana Tracy (bisikku sebagai pembaca hihi).  Akhirnya ia bertransformasi menjadi Tracy yang ambisius dan penuh taktik. Pelaku kriminal kelas satu demi kekayaan dan kekuasaan.

Alur yang digunakan novel ini merupakan alur gabungan maju mundur. Sidney mengolah novel ini dengan cermat. Terlihat jika ia melakukan riset terlebih dahulu, ia paham bagaimana kinerja perbankan, hingga kode-kode rahasia intern bank yang menyatakan bank aman, dan ia menurut saya riset ke tempat-tempat yang menjadi lokasi cerita.  Sidney membuat pembukaan cerita yang apik di Bab I. Ia langsung meluncurkan cerita seorang ibu yang putus asa, ibu Tracy, Doris melakukan bunuh diri. Sebelum bunuh diri ia menelpon Tracy untuk terakhir kalinya, memastikan bahwa putrinya akan hidup bahagia karena akan menikah dengan keluarga terpandang. Bab I itu singkat, hanya berisi kisah bunuh diri itu akan terjadi dan rasa sedih Doris karena akan meneinggalkan Tracy. Tapi tak dijelaskan apa alasan Doris bunuh diri. Ini yang membuat pembaca jadi penasaran karena di Bab II cerita langsung flashback, tak berkaitan dengan kisah Doris. Mulai memperkenalkan kehidupan Tracy yang sedang bahagia karena akan menikah. Bab I itu digambarkan dengan detail, meskipun singkat membuat pembaca bertanya-tanya motif apa yang membuat Doris bunuh diri?

Nah itulah perbandingan tiga novel yang kubaca kemarin dan baru bisa upload sekarang.

Continue Reading